Orsgadt

Orsgadt
Mata Hati Goenhrad


__ADS_3

Jauh sebelum Elzenthum muncul, terkurung di aula ketika peperangan terjadi di luar sana bukanlah pilihan Goenhrad. Ia merasakan amarahnya yang tertahan di dada karena keputusan Yhourin untuk menahannya di sini. Peperangan besar itu memang tidak seimbang karena ia memiliki Anthura dan Korta namun ia merasa dirinya sangat pengecut karena tidak menunjukkan batang hidung di medan peperangan.


Badannya terasa pegal karena dua wanita yang ia ambil cahaya kehidupannya tadi sangat merepotkan. Mungkin terlalu banyak menghisap asap dupa halusinasi, pikirnya. Wanita ketiga, bukan, ia lebih pantas disebut gadis karena usianya yang memang belia. Ada sesuatu dengan wanita itu yang membuat Goenhrad merasa berbeda hari ini.


Gadis itu sepertinya tidak terpengaruh asap halusinasi yang biasa diberikan oleh anak buahnya sebelum dibawa ke tempatnya. Setelah dua wanita dewasa itu mati, gadis itu meringkuk di sudut ruangan sambil memeluk lututnya. Saat Goenhrad menyambar tangannya, wajah gadis itu menengadah dan mata indah yang berkaca-kaca itu seolah menusuk jantungnya.


Sudah begitu banyak wanita cantik menjadi tumbal mata merahnya namun baru kali ini ada yang membuatnya terpaku cukup lama. Ia membantu gadis itu berdiri. Mendudukkannya di atas meja besar dan menatapnya tanpa berkedip. Goenhrad heran sendiri akan sikapnya saat ini. Ia menjadi terlalu lembek pada mangsanya.


Jari telunjuk Goenhrad menelusuri wajah cantik gadis itu. Terus turun ke bawah, meneliti leher putih yang jenjang dan sampai ke dadanya. Tangan besar Goenhrad yang memegang bagian dada dari gaun sang gadis tiba-tiba berhenti bergerak. Dua tangan kecil yang gemetaran sedang tertangkup di atas punggung tangannya yang siap merobek pakaian gadis itu. Sang raja yang tak pernah bisa dihalangi oleh apa pun seketika menatap wajah gadis itu dengan penuh pertanyaan.


“Yang Mulia, hamba hanya gadis miskin yang sengsara,” ucap gadis itu dengan pelan. Ia sepertinya dengan susah payah mengumpulkan keberaniannya untuk bicara. “Apakah ... apakah hamba akan mati seperti mereka?” tanyanya sedih lalu menelan ludah.


“Ya,” jawab Goenhrad. Ini pertama kali ada mangsanya yang sadar dan berani mengajaknya berbicara.


“Hamba belum pernah disentuh lelaki mana pun. Bolehkah hamba memohon agar diperlakukan dengan lembut?” Gadis itu terisak pelan. “Hanya itu permohonan terakhir hamba, Yang Mulia,” ucapnya lagi dengan lirih.


Goenhrad mengutuk dirinya yang menjadi sangat lembek karena permintaan dan tangis seorang gadis. Bagaimana pun juga gadis itu akan mati setelah ini. Sisi buruknya ingin menertawakan gadis itu dan langsung membunuhnya tapi sisi baik yang selama ini mati suri tiba-tiba muncul dan menyuruhnya mengiyakan keinginan terakhir gadis itu.


“Aku kabulkan,” ucap Goenhrad. Ia hampir tidak mempercayai ucapannya sendiri.


Goenhrad mengangkat tubuh gadis itu dan mendudukkannya di atas meja dengan tumpukan kain yang lembut. Sebelumnya ia tidak pernah menyentuh wanita mana pun seperti ia menyentuh Yhourin tapi kali ini ia memperlakukan gadis di depannya seperti sedang mencumbui kekasihnya.

__ADS_1


Ada perasaan yang berbeda dalam diri Goenhrad saat menyentuh gadis itu. Ia merasa menjadi manusia biasa, bukan raja yang ditakuti maupun durjana yang mengacaukan seluruh negeri. Ia adalah pria yang sedang berbagi cinta dengan gadis yang ia inginkan.


Pekikan dan desah gadis perawan yang baru merasakan kehangatan lelaki dan rasa sesak di dada Goenhrad mencapai puncaknya lalu Goenhrad memeluk gadis itu erat-erat. Ia bisa merasakan air mata yang membasahi dadanya karena wajah sang gadis menempel di sana.


“Siapa namamu?” tanya Goenhrad. Ini pertama kalinya ia peduli pada nama seorang wanita selain Yhourin.


“Felicia,” jawab gadis itu lemah. Badannya serasa remuk diterjang oleh sang raja tapi pelukannya saat ini membuatnya merasa nyaman. “Hamba sudah siap, Yang Mulia,” ucap Felicia, pasrah menanti maut yang akan menjemputnya.


Rahang Goenhrad mengeras, ia mengepalkan satu tangannya yang berada di punggung Felicia. Ia menunduk dan mencium bibir Felicia seolah belum merasa puas. Ini sangat aneh tapi ia tidak mau Felicia mati.


Kedatangan Yhourin dengan kemarahan yang tidak terbendung menghentikannya. Goenhrad masih memeluk Felicia saat Yhourin melempar mereka berdua ke tembok aula. Naluri Goenhrad untuk melindungi gadis itu tiba-tiba saja muncul. Ia melindungi kepala dan tubuh Felicia dengan kedua lengannya yang kekar. Saat melihat gadis itu tidak bergerak, Goenhrad merasa jiwanya separuh telah hilang.


Yhourin memeluk dan menciumnya sebelum ia kembali ke menara utama istana Orsgadt tapi Goenhrad tidak merasakan apa-apa. Hatinya sudah terisi oleh Felicia. Ia berlari menghampiri Felicia yang terkapar di lantai. Ia mengangkat tubuh gadis itu hati-hati dan meletakkannya di pangkuannya. Begitu mata gadis itu terbuka, Goenhrad tanpa sadar meneteskan air mata.


“Kita masih hidup,” ucap Felicia lemah sambil tersenyum lembut.


“Ya, kita masih hidup,” sahut Goenhrad. Ia bersandar di tembok sambil terus mendekap Felicia. Perasaan hangat ini sangat nyaman menurutnya.


Jika bisa, ia akan memohon pengampunan supaya dibiarkan hidup oleh Elizai. Ia ingin membawa Felicia jauh-jauh dari Orsgadat. Ia menyeringai, malu pada harapannya sendiri. Dosa-dosanya sudah terlalu banyak, hanya kematian yang bisa menghapusnya.


Goenhrad dan Felicia minum air dari cawan emas yang sama. Mereka tidak berbicara. Hanya meresapi ketenangan yang menyelimuti mereka berdua. Tiba-tiba Goenhrad merasakan mata kirinya sakit luar biasa. Ia menurunkan Felicia dari gendongannya dan menjauh. Ia tidak mau menyakiti gadis itu.

__ADS_1


Raungan kesakitan Goenhrad membuat Felicia takut. Ia hanya bisa melihat pria itu memegang mata kirinya sementara darah segar mengalir lewat sela-sela jarinya. Tak sanggup menahan diri berlama-lama, Felicia nekat mendekati Goenhrad yang berlutut lalu memeluknya dari depan. Keduanya jatuh ke lantai saat Goenhrad pingsan.


Felicia menghapus air matanya. Ia merobek ujung gaunnya lalu mengusap darah yang mengalir dari mata kiri sang raja. Tadi ia sangat ketakutan saat melihat dua wanita yang bersamanya tewas dicekik sang raja namun ia yakin, pria yang tadi menyentuh dan melindunginya dari benturan dengan tembok bukanlah orang yang sama. Ia merasa kasihan padanya.


Goenhrad duduk, memegang kepalanya yang terasa sakit. Mata kirinya sudah tidak perih lagi. Kelopak matanya terbuka pelan dan ia bisa melihat Felicia di depannya. Seperti dihunjam sebuah pedang, dadanya terasa sakit saat menyadari mata kirinya sudah kembali seperti mata manusia normal.


Itu berarti Yhourin sudah mati. Yhourin ....


Goenhrad memeluk Felicia dan lagi-lagi meneteskan air mata. Belasan tahun bersama Yhourin dan sekarang ia meninggalkannya pergi ke alam keabadian. Seperti dibangunkan dari mimpi, Goenhrad cepat berdiri. Ia menarik lengan Felicia dan membawanya ke kamar di samping kamar raja. Ia lalu mendudukkan gadis itu di tepi tempat tidur.


“Felicia, apa pun yang terjadi, jangan keluar dari ruangan ini. Pasukan Eimersun tidak akan menyakitimu. Katakan bahwa aku belum menyentuhmu dan meninggalkanmu terburu-buru,” ucap Goenhrad.


“Tapi ....” Felicia gugup, takut dan kebingungan.


“Akhirku sudah dekat tapi aku ingin kau hidup.” Goenhrad membelai pipi Felicia. “Jika kau mengandung anak kita dan ia lahir dengan selamat, katakan ayahnya adalah Kesatria Frennel yang tewas saat peperangan ini. Jangan pernah ceritakan tentangku pada siapa pun termasuk kepada anak kita. Semoga ia kelak sebaik ibunya.”


“Kenapa tidak lari saja?” Wajah Felicia seperti memohon.


Goenhrad membelai pipi Felicia. “Kali ini aku tidak bisa lari. Aku harus menebus semua kesalahanku. Dengar, kau harus hidup. Berjanjilah padaku,” pinta Goenhrad.


Felicia mengangguk. Air matanya mulai mengalir. “Aku berjanji.”

__ADS_1


Goenhrad memberi sebuah kantung kecil berisi keping-keping emas dan permata kepada Felicia. “Maaf aku tidak bisa menjagamu. Berbahagialah selalu, Feliciaku,” ucap Goenhrad. Ia mencium bibir dan kening Felicia lalu bergegas keluar dari kamar itu. Telinga Goenhrad bisa mendengar isak tangis Felicia sebelum pintu kamar itu tertutup.


Goenhrad berlari menuju menara Orsgadt di sebelah timur laut. Ia mengutuk dirinya yang terlambat menyadari betapa berharganya perasaan tenang dan damai. Felicia mengubahnya hanya dalam sekejap. Ia tidak bisa mundur lagi. Jika kematiannya memang sudah tiba maka ia tak akan gentar menghadapinya.


__ADS_2