
“ Wah, sue bener – bener tuh si Elyas. Dapet rejeki nomplok dia. Kenapa bukan gue sih yang kejebak di lift barengan sama nona Selsa ? Kan gue bisa deket – deket tuh sama non Selsa. “ ucap seseorang yang berada di ruangan dan devisi yang sama dengan Elyas juga Selsa.
“ Mulai deh. Ngelantur aja elu tong. Ngeres pasti otaknya nih. “ sahut Amir sambil menggeleng – gelengkan kepalanya. “ Perlu di bersihin tuh otak lu pakai Vi xal. “
“ Lantai kali di bersihin pakai Vi xal. Kenapa selalu Elyas yang beruntung. Dulu dia juga sama kayak kita – kita. Masuk ke sini juga barengan. Tapi dia sekarang udah jadi kepala devisi. Selalu aja dia yang beruntung. Kenapa bukan gue ? kalau aja gue yang ada di dalam lift itu …. Duh …. Ah …. Nggak kebayang deh ah. Pasti gue bakalan manfaatin kesempatan emas itu. Beruntung banget si Elyas. “ lanjut Kedi, teman satu devisi Elyas selain Amir juga radith.
“ Beruntung ? “ tiba – tiba Elyas hadir di antara mereka. Mereka berdua sontak memutar kursi mereka dan menoleh ke belakang.
“ Ya ampun Ke, ini tuh musibah namanya. Bukan keberuntungan. Sekarang aku nggak tahu harus ngomong apa saat Pak Manoj atau Pak Roy tanya. Aku Cuma berharap, mereka melihat rekaman cctv itu sebelum mereka salah paham dengan pembicaraan orang – orang. “ Elyas mengusap wajahnya sembari berdoa dalam hati.
“ Yang sabar, bro. ini namanya ujian. Kalau kata kamu kan Allah akan memberikan mahluknya ujian jika ingin meninggikan derajad mereka. Banyakin istiqfar aja. “ sahut Amir berusaha memberikan ketenangan untuk sang sahabat.
“ Ah, udahlah Yas. Lu bawa santai aja. Jangan terlalu di pikirkan. Entar juga damai sendiri. Mereka juga pasti lama – kelamaan capek ngomongan lu sama non Selsa. “ lanjut Kedi.
“ Semoga. “ jawab Elyas.
.
.
.
Tok
Tok
Tok
Pintu ruangan Elyas di ketuk dari luar.
“ Ya, masuk. “ jawab Elyas dari dalam tanpa melihat siapa yang datang.
__ADS_1
“ Yas, lu di panggil sama pak dirut tuh. Di suruh ke ruangannya sekarang. “ ternyata Kedi yang datang dengan membawa informasi yang mampu membuat jantung Elyas berdetak kencang.
Ia sontak mengangkat wajahnya dari kertas – kertas di depannya dan melepas kaca matanya. Ia mengusap wajahnya kasar. Ada apa ini ? tanyanya dalam hati. Ia kini merasa benar – benar galau.
“ Mam pus kamu Yas. Pasti kamu bakalan di tegur pak dirut atas kejadian ini. “ Amir tiba – tiba ikut nyelonong masuk ke ruangan Elyas.
“ Hah! “ Elyas menghembuskan nafas kasar.
“ Lu tuh bukannya doain yang baik – baik sama teman. Malah nakut – nakutin. “ senggol Kedi.
“ Aku yang bakalan di interogasi, kenapa wajah kalian yang tegang ? “ Elyas menatap kedua temannya satu persatu. Jika kedi sudah terlihat tegang dan panik dari tadi, beda dengan Amir. Ia berusaha menyembunyikan ketegangannya dengan bercanda.
“ Bismillah … In syaa Allah aku bisa mengatasi masalah ini. “ lanjut Elyas sambil berdiri dari duduknya. Ia berjalan menjauh dari kursinya menuju pintu keluar. Dua temannya tadi sudah keluar terlebih dahulu.
Sampai di depan pintu, Elyas berhenti sejenak. Ia melirik ke arah Selsa. Gadis itu terlihat begitu tenang dan santai.
Sepertinya Pak Manoj hanya memanggilku. Tidak dengan dia. Batin Elyas.
Selama dalam lift, Elyas tak henti – hentinya memanjatkan doa. Ia berpasrah diri kepada Yang maha Kuasa karena hanya Dia lah yang Maha Tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dan ia juga berpasrah dengan hasil yang akan terjadi nanti. Ia akan tetap menjalani semuanya dengan ikhlas. Meskipun ia di minta untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya saat ini.
Keluar dari lift, Elyas berjalan dengan tenang menuju ruangan Tuan Manoj. Sekelebat pertanyaan mampir di otak Elyas. Sebenarnya ada apa tiba – tiba tuan Manoj ingin bertemu dengannya ? Tumben sekali. Apa benar karena ingin menanyakan kejadian di lift tadi pagi ?
Tangan Elyas berhenti saat sudah memegang handle pintu ruangan dirut. Dadanya naik turun. Meskipun ia sudah mempersiapkan hati serta pikiran, tetap saja jantungnya tidak berhenti berdetak dengan kencang.
Tok
Tok
Tok
“ Masuk. “ suara tegas terdengar dari dalam.
__ADS_1
‘ Bismillahirrohmanirrohim. ‘ Elyas berdoa sebelum akhirnya ia membuka pintu ruangan dirut.
“ Assalamu’alaikum, Pak … Pak Manoj, pak Roy. “ ternyata sudah ada Roy juga di ruangan itu. Lengkap dengan tatapan tajamnya membuat Elyas menelan salivanya dengan susah payah.
“ Duduk. “ kembali suara tegas itu terdengar begitu dingin.
Dengan langkah ragu, Elyas melangkah menuju ke sofa kosong di samping Roy yang duduk. Jantung Elyas semakin tidak aman. Kini ia seolah – olah menjadi seorang tersangka dalam sebuah persidangan. Ia duduk di depan Tuan Manoj dan Roy.
“ Ada yang perlu di bicarakan, pak ? “ Elyas memberanikan diri mengangkat bicara setelah tuan Manoj dan Roy hanya diam dengan tatapan penuh intimidasi ke arahnya.
“ Kau tahu kenapa aku menempatkanmu di posisimu sekarang ? “ Roy angkat bicara.
Elyas hanya diam. Ia bingung harus menjawab apa. Bukankah itu berkat kecerdasannya ? Ah, tapi tidak mungkin Elyas menjawab dengan jawaban seperti itu.
“ Apa kau juga tahu kenapa saya menempatkan Selsa di devisimu ? Bahkan dengan sengaja saya memintamu untuk menjaganya. “ kini suara Roy terlihat begitu putus asa.
Elyas nampak menunduk. Ia tidak tahu harus bagaimana dan harus menjawab apa.
“ Katakan, apa yang sebenarnya terjadi di dalam lift tadi pagi. Kenapa semua karyawan membicarkanmu dan putriku. “ ucap tuan Manoj dengan nada ringan namun tegas.
Elyas mengangkat kepalanya. “ Sebelumnya saya minta maaf, pak. Atas berita miring yang membawa – bawa nama putri bapak. Tapi saya berani bersumpah. Demi Allah, apa yang di katakan orang – orang itu tidak benar. Kami tidak melakukan seperti yang orang pikirkan. Saya hanya membantu nona Selsa melepas rambutnya yang nyangkut di kancing kemeja saya. Jika bapak tidak percaya, bapak bisa mengeceknya langsung rekaman cctv di dalam lift. “ jelas Elyas.
“ Tidak perlu. “ jawab tuan Manoj. Elyas kembali tertunduk. Ia tidak tahu apakah atasannya itu mempercayai ucapannya atau justru malah sama sekali tidak mempercayainya.
Suasana kembali hening selama beberapa saat.
“ Nikahi putriku. “ suara tuan Manoj kembali membuyarkan suasana hening itu.
Spontan Elyas mendongakkan kepalanya terkejut. Apa maksudnya ini ? Kenapa atasannya ini malah memintanya untuk menikahi putrinya ? Apa beliau tidak mempercayai penjelasannya ? Bahkan, Roy pun di buat tak kalah terkejut dengan ucapan papa tirinya itu.
Bersambung
__ADS_1