
Malam ini, Elyas terduduk di kursi di taman belakang rumah mewah tuan Manoj. Atasannya yang kiini sudah berubah menjadi mertuanya.
Sambil menatap sisa – sisa dekorasi yang tadi di gunakan untuk sajian makan para tamu undangan setelah menyaksikan akad nikah yang berlangsung di dalam rumah. Akad nikah antara dirinya dengan Selsa.
Yah, Angeli Selsa Rakesh kini telah resmi menjadi istrinya. Seharusnya, malam ini Elyas dan Selsa menghabiskan malam panjang mereka di hotel mewah. Tapi Selsa menolak tawaran sang papa dan memilih tidur di rumah saja.
Sungguh hal ini masih di luar nalar Elyas. Gadis yang baru di kenalnya beberapa bulan lamanya, gadis yang tidak pernah melintas dalam pikiran apalagi hati Elyas untuk menjadi pendamping hidupnya.
Gadis yang suka menghabiskan malam – malamnya dengan bersenang – senang di club malam. Minum minuman keras, dan entah apalagi yang di lakukan Selsa di sana. Elyas enggan untuk membayangkannya.
Elyas terus termenung. Bukan hanya memikirkan nasib pernikahannya yang berumur beberapa jam. Bagaimana ia harus menjalani kehidupan pernikahannya? Bagaimana ia harus bersikap kepada Selsa.
Jika di tanya masalah menafkahi Selsa secara lahiriah, meskipun masih jauh jika di bandingkan dengan apa yang gadis itu miliki di rumah mewah ini, tapi Elyas masih cukup percaya diri jika dirinya masih mampu menghidupi Selsa.
Tapi bagaimana dengan nafkah batinnya ? Apakah ia akan sanggup memberikannya ke Selsa ? Sedangkan dalam benaknya, ia masih mengharapkan mempunyai seorang istri yang masih bersegel.
Dia masih bersegel, apakah ia harus membuka segelnya dengan seseorang yang bukan lagi tersegel ? Pikir Elyas melalang buana. Wajar jika dirinya yang masih perjaka menginginkan seorang istri yang masih perawan.
Selain memikirkan nafkah batin untuk sang istri, Elyas juga memikirkan tentang bagaimana perasaan Ratna jika mengetahui pernikahannya nanti. Bagaimana ia menjelaskan statusnya yang sekarang kepada Ratna ? Gadis yang telah ia berikan janji untuk di khitbah, namun nyatanya gagal.
“ Melamun saja ? “ Roy membuyarkan lamunan Elyas. Ia menepuk pundak Elyas dari belakang.
“ Ah, maaf pak. Saya tidak tahu anda datang. “ ucap Elyas merasa canggung. Ia langsung berdiri dari duduknya ketika atasannya itu datang menghampirinya.
__ADS_1
“ Kamu ini. Lupa, jika beberapa jam yang lalu, kamu sudah menghalalkan adikku ? “ kekeh Roy. “ Jangan memanggilku pak lagi. Panggil saja aku kak. Karena sekarang aku adalah kakakmu juga. “ lanjut Roy sembari menepuk pundak Elyas dan ia duduk di kursi samping kursi yang di duduki Elyas tadi.
“ Ah .. Oh … Begitu ya ? Maaf, pak. Eh kak. “ Elyas tersenyum canggung. “ Rasanya masih aneh untuk di ucapkan. “
“ Biasakanlah. Sekarang kita bersaudara. Tidak perlu canggung. “ ucap Roy.
“ I-iya. Saya akan coba. “ Elyas kembali duduk di tempatnya tadi.
“ Sudah hampir larut malam. Kenapa kamu masih di sini ? “ tanya Roy.
“ Oh .. “ Elyas melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Ternyata benar, sudah hampir tengah malam. Tapi ia memang sengaja duduk – duduk di sana. Sebenarnya ia bingung harus kemana.
Meskipun jika ia bertanya kepada seluruh dunia sekalipun, maka jawaban yang akan ia dapatkan adalah sama, yaitu pergi ke kamar sang istri. Tapi ia merasa sungkan dan canggung untuk masuk ke dalam kamar istrinya.
“ Mmmm … saya … “ Elyas bingung harus menjawab apa.
“ Aku tahu, malam pertama memang mendebarkan. Aku juga paham, jika pernikahan kalian bukan karena keinginan kalian sendiri. Pasti tidak mudah untuk menghabiskan malam pertama bersama. “ ucap Roy dengan tatapan lurus ke depan.
“ Selsa, meskipun dia terlihat garang di luar, tapi sebenarnya hatinya lembut. Kehidupan malam yang selama ini ia lakukan, itu hanya sebuah aksi protes untuk papa karena papa menikahi mamaku. Meskipun ia sering minum minuman keras, keluar masuk night club, tapi aku yakin ia masih menjaga kehormatannya. Ia tetap gadis baik – baik. “ lanjutnya.
Elyas hanya terdiam. Meskipun Roy mengatakan jika Selsa kemungkinan masih virgin, tapi hati kecilnya tetap menolak. Hati kecilnya tetap yakin jika Selsa pasti sering menghabiskan malam dengan banyak lelaki.
“ Elyas. “ panggil Roy sambil menoleh ke arah Elyas.
__ADS_1
“ Iya, pak. Eh, kak. “ sahut Elyas masih dengan canggung.
Roy tersenyum. “ Aku titip dia kepadamu. Mungkin kemarin akupun pernah menitipkan dia kepadamu. Tapi kali ini, aku menitipkan adikku kepadamu secara utuh. Lahir batin. Fisik juga psikis, dan hatinya. Jangan kau sakiti dia. Jaga dia baik – baik. Jika mampu, tolong, cintai dia. Beri dia kasih sayang dan perhatianmu. Biar dia bisa mempercayai apa itu cinta. Supaya dia bisa membuka hatinya untuk mama, juga untukku. “ ujarnya.
“ Karena aku yakin, rasa akan cinta dalam hatinya telah tertutup oleh kebenciannya terhadap kami. Jadi, kasih sayang dan perhatian yang kami berikan kepadanya, dia anggap palsu. “ lanjut Roy sambil tersenyum miris dengan nasibnya, juga sang ibu.
“ Insyaa allah. “ jawab Elyas ragu dengan ucapannya. Apakah ia bisa memenuhi permintaan kakak iparnya itu ?
Roy tersenyum, lalu ia berdiri dari duduknya. Kembali ia menepuk pundak Elyas.
“ Pergilah ke kamar. Istrimu pasti sudah menunggumu sedari tadi. Kamu juga sepertinya belum mebersihakn diri. “ ucap Roy karena memperhatikan penampilan Elyas yang masih sama seperti tadi siang. Hanya jasnya saja yang ia lepas. Kemeja dan celananya masih sama dengan yang tadi siang. “ Sudah tahu kan, kamar istrimu sebelah mana. “ candanya.
Elyas tersenyum canggung. Lalu ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Jika di tanya yang mana kamar Selsa, maka jawabannya, ia tidak tahu. Semenjak pagi tadi, ia sama sekali belum beranjak dari ruang tamu, ruang tengah, juga taman belakang ini.
“ Ah, sepertinya kamu belum tahu kamar istrimu yang mana. “ ucap Roy kala melihat raut wajah Elyas. “ kebangetan emang si Selsa. Masak suaminya di biarkan di luar begini. “ gumamnya. “ Ayo, aku tunjukkan kamar Selsa. “ ajak Roy yang terus berlalu dari hadapan Elyas tanpa menunggu jawaban dari Elyas.
Dan kini, mau tidak mau, Elyas beranjak mengikuti langkah kaki Roy hingga Roy berhenti di depan sebuah kamar di lantai dua.
“ Yang itu, kamar istri kamu. Masuklah. “ ucapnya menunjuk ke sebuah ruangan dengan pintu yang tertutup rapat.
Elyas mengangguk ragu. Baru saja ia hendak bertanya ke Roy apakah dirinya bisa istirahat di kamar tamu saja, Roy sudah berlalu memasuki sebuah kamar yang berada di ujung lantai dua. Membuat Elyas menghela nafas kasar.
Bersambung
__ADS_1