Pak Ustadku

Pak Ustadku
Honeymoon


__ADS_3

" Seneng, sekarang kamu sudah banyak berubah. " ucap Elyas sambil memegang tangan kanan Selsa dan mencium punggung tangannya.


" Hem ? " beo Selsa.


Saat ini mereka sedang berada di dalam pesawat. Mereka sedang dalam perjalanan menuju ke Australia. Rencananya besok, akan mulai syuting iklan untuk parfum perusahaan Coler.


Mereka terlihat begitu romantis. Elyas tidak membiarkan tangan Selsa menganggur. Ia terus menggenggam tangan itu penuh cinta. Cieeee.... cinta... Baru nyadar loe Yas ?


Dari beberapa bangku di belakang mereka, terlihat sepasang mata yang sedang menatap mereka penuh amarah dan kekesalan. Siapa lagi jika bukan Mike Coller. Salah, dirinya telah mengambil jadwal penerbangan sama dengan Selsa. Ia pikir jika Selsa akan berangkat sendiri. Tak tahunya sang suami pun ikut.


" Ingat nggak, waktu kita pergi ke Ausy dulu? Kamu yang waktu itu mengenakan baju sangat sek sy. " ucap Elyas.


" Hahahah... Iya, dan kamu kasih mauidhoh hasanah yang panjang dan lebar. " sahut Selsa tergelak kala ia ingat saat itu. Memang pakaian yang di kenakan Selsa berbeda saat ini. Ia mengenakan celana jeans belel, dengan kaos lengan pendek yang menutupi tubuhnya juga jaket girly yang melapisinya.


" Ck! Tapi tidak pernah kamu dengar. " ujar Elyas sambil mencebik.


" Iya. Habisnya aku kesel. Kamu seolah yang anti sama aku karena pakaianku yang terlalu minim. Tapi kamu malah seneng-seneng aja duduk dekat sama cewek yang juga minim bajunya. Kelihatan to ket nya meluber kemana-mana. " sengak Selsa.


" Hahahah.... " kini Elyas yang tergelak.


" Mana kamu biarin aku duduk sama si Datuk Maringgih. " imbuh Selsa.


" Maaf. " kembali Elyas mengecup punggung tangan Selsa. " Kalau sekarang, tidak aku biarkan kamu duduk bersama orang lain. " lanjutnya.


Selsa mencebik. " Tau lah yang bucin. Enak kan punya istri? " ledek Elyas.


" Enak. Karena istrinya itu kamu. " jawab Elyas cepat sambil mencolek dagu Selsa. " Apalagi kalau malam sekarang udah nggak kedinginan. Selalu ada yang di ajakin ngangetin ranjang. " imbuhnya sambil menaik turunkan kedua alisnya.


" Dih, apaan sih. Gaje deh. " Selsa memalingkan wajahnya yang sudah memerah ke jendela.


" Kalau bicara jangan suka berpaling. Akunya di sini loh. Bukan di sayap. " ucap Elyas sambil menarik dagu Selsa supaya menghadap kepadanya.


" Dih, pak ustadz ternyata bisa romantis juga. Kita in bisanya cuma mengaji, mauidhoh, sama megangin kitab. "


" Itu dulu. Kalau sekarang, bisa megangin tubuh kamu juga. Bisa romantis juga. Bisa main kuda-kudaan juga sama kamu. " bisiknya di telinga Selsa sambil terkekeh melihat muka Selsa yang kembali memerah.

__ADS_1


" Apaan sih ah! " Selsa mencubit perut Elyas.


" Auw!! " Elyas pura-pura kesakitan. Padahal cubitan itu lebih mirip di gigit semut merah bagi Elyas.


" Sayang... "


Blush.... Pipi Selsa kembali merona. Ia akan selalu merona dengan degub jantung keras kala sang suami memanggilnya sayang. Padahal sekarang bukan hal yang baru lagi.


" Kamu kan sering pergi ke klub malam. Di sana kamu pasti sering lihat pasangan yang belum halal melakukan sesuatu yang berlebih. Apa kamu terinspirasi mereka kala menggodaku dulu ? " tanya Elyas penuh dengan candaan.


Selsa langsung menoleh. " Nggak. " jawabnya. " Naluri aja. Aku merasa tertantang aja kenapa kamu nggak tergoda kepadaku? Padahal aku bela-belain pakai baju minim di depan kamu. Jadinya, aku nekat aja waktu itu menggoda kamu. Sampai bertahan berapa lama gengsi kamu buat nolak aku. "


" Hem. " Elyas mengangguk. " Dan kamu berhasil menggodaku. Padahal sebelum-sebelumnya juga aku tergoda. Tapi masih bisa aku tahan. Entahlah, waktu yang terakhir imanku begitu cetek. "


" Bukan cetek sebenarnya. Tapi karena waktu itu, kamu lagi cemburu. " sahut Selsa sambil terkekeh.


" Mungkin. " Elyas manggut-manggut. " Kesel aja. Aku yang udah menghalalkan kamu aja belum pernah peluk-peluk kamu kayak gitu. Eh, dia yang baru kenal sama kamu, bisa peluk-peluk gitu. " raut wajah Elyas berubah cemberut.


" Ya... mau gimana lagi mas ? Terpaksa juga kan? " sahut Selsa. " Udah, mukanya jangan cemberut gitu. Nanti jadi cepet tua loh. " lanjutnya sembari mengelus rahang sang suami. Lalu ia merebahkan kepalanya di pundak Elyas. Merasai dalam-dalam kebersamaannya dengan suami.


" Apanya yang ngebul? Masak di pesawat ada yang ngerokok ? " sahut Selsa sambil menegakkan kepalanya.


" Tuh, di bangku belakang. Ada yang merhatiin kamu dari tadi. Tapi pandangannya penuh dengan amarah. " jelas Elyas.


Selsa sedikit melongokkan kepalanya dan melirik ke belakang. " Ah, biarin aja tuh si Datuk Maringgih. " sahut Selsa setelah dia melihat siapa yang di maksud suaminya. Ia kembali merebahkan kepalanya di pundak suaminya. Ia juga menelusupkan tangan kanannya melingkar di lengan suaminya. Membuat posisinya begitu terasa nyaman.


" Kamu kenapa menolak dia? Padahal dia berasal dari keluarga yang kaya raya. " tanya Elyas sambil meletakkan kepalanya di kepala Selsa dan mengelus tangan sang istri yang melingkar di lengannya.


" Kaya bukan sebuah pilihan. Apalagi buat pasangan hidup. Dan kekayaan tidak akan membuat kita akan selalu hidup bahagia. "


" Tapi kamu malah lebih memilihku? Yang tidak punya apa-apa? Bahkan cinta saja aku dulu tidak mempunyainya. " sahut Elyas.


" Tak masalah. Toh, akhirnya aku bisa buat kamu jatuh cinta sama aku kan? Jadi bucin malah sekarang. Aku lebih suka hidup dalam kesederhanaan sama kamu, sama umi. Aku merasakan kebahagiaan yang selama ini belum pernah aku rasakan. "


" Terima kasih. " ucap Elyas sambil mengecup puncak kepala Selsa.

__ADS_1


" Hm. " jawab Selsa sambil memejamkan matanya.


.


.


.


" Wuahhhh.... Bagus banget kamarnya... " pekik Selsa kala dirinya memasuki kamar hotel. " Dih, berasa mau honeymoon aja. " matanya menatap ke setiap penjuru ruangan. Dan kedua netra coklatnya jatuh ke ranjang. Ranjang ukuran king size itu tertata rapi, dengan kelopak bunga mawar memenuhi ranjang, dan beberapa kuntum bunga mawar yang di bentuk hati di tengah-tengahnya.


" Suka? " tanya Elyas sembari menelusupkan kedua tangan kekarnya ke pinggang sang istri, dan memeluknya dari belakang.


Selsa mengangguk. " Dalam rangka apa nih? " tanyanya sambil menoleh ke samping dan membuat hidungnya dan hidung Elyas saling menyentuh.


Cup. Elyas mengecup sekilas bibir sang istri. " Anggap aja kita sedang berbulan madu. " jawabnya.


" Cie... cie... cie .... Suamiku.... Kok bisa kepikiran sampai kesitu sih? " Selsa mengusap rahang Elyas lembut.


" Mumpung kita lagi di luar negeri. Pengen menghabiskan hari-hari hanya sama kamu. Apalagi malam-malam yang indah di kamar yang istimewa begini"


" Hem. Mulai deh me sumnya. " canda Selsa.


" Di dekat kamu, bawaannya pengen me sum terus. " jawab Elyas.


" Mahal loh mas, kamar seperti ini. Sayang sama duitnya. " ucap Selsa kembali mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Presiden suite room, apalagi di hotel berbintang lima. Budget nya semalam pasti tidak murah.


Elyas menggeleng. " Sebenarnya, kamar ini di sewakan oleh perusahaan. Aku hanya menambahkan beberapa hari saja. Tidak akan menguras tabunganku, sayang. Aku merasa belum pernah memberikan kamu sesuatu yang spesial aja. " ucap Elyas.


" Terima kasih, mas. " Selsa membalikkan tubuhnya. Ia lalu mengalungkan kedua tangannya ke leher suaminya. " Terima kasih, karena akhirnya kamu melihatku. " lanjutnya lalu ia mencium bibir sang suami yang tentu saja langsung di sambut baik oleh suaminya.


Ciuman yang awalnya hanya sekedar ciuman, kini sudah berubah menjadi pagu tan. Elyas memeluk erat pinggang Selsa.


" Nggak jadi malam-malam yang indah kalau begini. Jadinya sore yang indah. " kekeh Selsa kala pagu tan mereka terlepas.


" Nanti malam kita ulang lagi. Yang penting sekarang, ayo kita buat sore yang indah." jawab Elyas dan setelahnya, sore panas dan berkeringat pun terjadi. Kelopak bunga berhamburan di lantai karena ulah dua anak manusia yang sedang menorehkan sore menjelang senja yang indah.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2