
Sudah satu bulan usia pernikahan Selsa dan Elyas. Mereka sudah kembali ke rutinitas mereka masing – masing. Tapi mengenai hubungan mereka, tidak ada perkembangan apapun. Mereka masih layaknya dua orang asing yang hanya sekedar mengenal.
Bukan keduanya sih sebenarnya, tapi hanya Elyas yang bersikap seperti itu. Sedangkan Selsa, gadis yang tidak suka mengambil pusing akan suatu hal, memilih diam dan mengikuti apa kemauan suaminya.
Meskipun Elyas seperti tidak menganggapnya istri, tapi Selsa tidak. Ia tetap menyiapkan beberapa kebutuhan Elyas. Seperti menyiapkan baju ganti, baju kerja, minuman.
Semenjak menikah, Selsa sudah tidak pernah menghabiskan malam – malamnya di night club. Pulang kerja, ia akan langsung pulang ke rumah Elyas. Bahkan setelah dirinya di bawa pindah oleh Elyas, Selsa hanya sekali pulang ke kediaman Rakesh.
Setiap weekend, Selsa akan menghabiskan waktunya untuk menemani juga belajar memasak dengan umi. Karena memang Selsa orang yang pintar belajar, hanya dalam waktu beberapa kali belajar memasak, kini ia sudah jago jika hanya untuk membuat soto dan ayam goreng kripi. Soto adalah makanan kesukaan Elyas, sedangkan ayam kripsi adalah makanan kesukaannya.
“ Umi, coba umi cicipi masakan Selsa deh. Ini Selsa nyoba masak cha kangkung. Selsa niru dari You tu__. “ Selsa menyodorkan satu sendok cha kangkung hasil buatannya sendiri tanpa di bantu umi ke umi yang sedang duduk di kursi makan dekat dapur. Umi hanya berdiam diri, karena Selsa sengaja melarang beliau untuk membantunya.
Sedangkan Elyas, laki – laki itu lebih betah menghabiskan weekend nya dengan lembur di kantor. Jika tidak ada kerjaan sama sekali di kantor, maka ia akan menghabiskan weekend nya di kebun, atau di masjid mengajari anak – anak mengaji. Hal itu ia lakukan untuk sekedar menghindari Selsa.
“ Mmmm … Kurang asin sedikit. Coba kamu tambah sama garam sepucuk sendok teh aja. Jangan kebanyakan. “ ucap umi setelah umi mencicipi masakan Selsa.
Selsa mengangguk, lalu ia segera kembali ke meja dapur, mengambil garam, dan membubuhkannya di atas masakannya yang masih berada di atas kompor yang menyala.
Setelah mengaduk – aduk beberapa saat. Ia kembali mengambil sedikit masakannya dan kembali menghampiri umi. “ Coba, kalau yang ini gimana, umi ? Keasinan apa tidak ? “ tanyanya.
Sruupp
Umi mencoba masakan Selsa. “ Nah, ini udah pas banget. Mantul pokoknya. “ jawab umi sembari tersenyum.
Wajah Selsa berbinar. “ Terima kasih umi. “ ucap Selsa lalu mengecup pipi umi. Selsa dan umi sekarang memang sangat dekat. Sudah layaknya ibu dan anak kandung. Umi yang merindukan sosok anak perempuan, dan Selsa yang begitu merindukan sosok seorang ibu.
“ Selsa siapin dulu masakannya ke meja ya umi. Lalu umi, harus segera makan siang. “ ucap Selsa sambil tak lupa ia menyunggingkan senyumannya membuat umi juga tersenyum dan mengangguk ke arahnya.
Selsa berjalan ke arah meja dapur untuk mengangkat masakannya dan memindahkannya ke atas mangkuk. Lalu ia juga menaruh ayam goreng hasil karyanya juga di atas piring. Lalu ia membawa masakannya itu satu persatu ke meja makan. Lalu ia kembali untuk mengambil piring untuk sang ibu mertua.
__ADS_1
“ Loh, kok Cuma satu piringnya, nak ? Kamu nggak makan ? “ tanya umi kala Selsa hanya meletakkan sebuah piring di depan umi.
“ Selsa akan menemani umi makan siang. Tapi Selsa akan makan nanti nunggu mas Elyas pulang. “ jawab Selsa.
“ Apa suamimu akan segera pulang ? “ tanya umi.
“ Iya umi. Karena di kantor, hanya ada sedikit pekerjaan. “ jawab Selsa. “ Segini cukup umi ? “ Selsa mengambil nasi untuk umi dan ia taruh di atas piring umi.
“ Iya, cukup. “ jawab umi. “ Duh, umi jadi manja kalau kayak gini. “ kelakar beliau.
“ Umi bisa aja. Selama ini, umi udah mengerjakan semuanya sendirian. Dan sekarang ada Selsa, yang akan bantuin umi. Apapun itu. “ jawab Selsa sambil menatap sayang ke arah umi.
Selsa duduk di kursi di depan umi. Ia benar – benar menemani umi untuk makan siang.
“ Nanti malam, kamu akan mulai belajar membaca juz amma. “ ucap umi.
“ Beneran umi ? Umi yakin, Selsa bisa bacanya ? “ Selsa nampak begitu senang. Sudah semenjak ia tinggal di rumah Elyas, Selsa belajar membaca Al-qur’an bersama umi.
“ Kamu itu murid umi yang sangat pintar. Umi dulu adalah seorang guru ngaji. Tapi diantara murid – murid umi, kamulah yang paling pintar. Kamu bisa menyelesaikan buku jilid hingga jilid 6. “ puji umi.
“ Umi terlalu memujiku. Selsa bisa besar kepala kalau seperti ini. “ canda Selsa.
“ Kamu bisa aja. “ ujar Umi sambil geleng – geleng kepala. “ Jam berapa suamimu akan pulang ? “ tanya beliau.
“ Selsa belum tahu, umi. “ jawab Selsa.
“ Anak itu. “ keluh umi. “ Apa memang pekerjaannya begitu banyak ? Akhir – akhir ini sangat jarang berlibur. “
“ Entahlah umi. Setahu Selsa sih nggak begitu. Semua pekerjaan sudah di posnya masing – masing. “ jawab Selsa. “ Bahkan mas Elyas menolak tawaran papa untuk mengisi di salah satu jajaran direksi. “
__ADS_1
Umi nampak mengernyit.
“ Kemarin papa meminta mas Elyas menjadi General Manager. Posisi yang sama seperti yang di duduki kak Roy. Tapi mas Elyas menolaknya. “ Selsa mengatakannya dengan cemberut.
Seharusnya, posisi itu adalah posisinya. Tapi karena ia sudah bersuami, maka ia menyuruh papanya untuk memberikan posisi itu untuk suaminya. Tapi malah Elyas menolaknya dengan lantang.
“ Umi juga heran dengan anak itu. Bahkan sudah satu bulan ini, ia tidak ke kebun sama sekali. “ keluh umi. “ Padahal harusnya minggu kemarin, ketela sudah harus di panen. “ lanjut beliau.
Selsa nampak manggut – manggut. “ Mungkin besok mas Elyas bisa libur umi. Karena semua tender sudah masuk dalam bagian produksi semua. “
“ Semoga saja. “ jawab umi.
“ Umi, biar Selsa saja yang membereskan. “ cegah Selsa kala melihat umi hendak bangkit dari duduknya sembari membawa piring kotornya.
“ Kamu sudah capek memasak. Biar umi sendiri yang mencuci piringnya. “ jawab umi.
“ Tidak umi. Biar Selsa saja. Umi siap – siap ke masjid saja. “ tolak Selsa sambil memaksa mengambil piring umi dari tangan umi. “ Tapi maaf, Selsa tidak ikut ke masjid. Selsa lagi dapet umi. “ lanjut umi.
“ Kamu masih ha id nak ? Sudah satu bulan kalian menikah, apa belum ada tanda – tanda ? “ tanya umi dengan sangat hati – hati.
Selsa tersenyum. Lalu ia menggeleng lemah. Bagaimana Sesal bisa hamil umi ? Jika di sentuh saja tidak. Batin Selsa miris.
Umi tersenyum. Sebenarnya beliau paham apa yang terjadi dengan rumah tangga anaknya. Tapi beliau hanya mencoba untuk memastikan. Dan kini, beliau benar – benar yakin jika rumah tangga anaknya tidak beres. Dan itu terletak di diri putranya. Bukan sang menantu.
“ Ya sudah. Tidak usah di pikirkan. Umi akan berbicara sama suami kamu. Kamu yang sabar ya nak ? “ ucap umi lembut sembari mengelus pundak Selsa. Dan Selsa pun mengangguk masih dengan senyuman pahitnya.
“ Yang perlu kamu tahu dan kamu ingat, umi selalu menyayangimu. Seperti putri umi sendiri. “ lanjut umi.
“ Terima kasih, umi. “ Selsa memeluk erat tubuh umi dan tanpa ia mau, air mata menetes di pipinya. Tapi buru – buru ia hapus karena ia tidak ingin umi melihatnya.
__ADS_1
Dasar kamu anak nakal, Yas! Geram umi dalam hati.
Bersambung.