
“ Oh, badan gue kenapa rasanya lemes kek gini sihhh ???? “ keluh Selsa. Ia duduk tidak nyaman di kursi kerjanya. Ia memijat tengkuknya, melakukan streching pada badan, leher, juga tangannya berkali – kali. Tapi rasa lemes itu tetap ada, bahkan makin terasa saja.
Ia lalu meletakkan kepalanya ke atas meja. Memiringkannya ke arah Sonya yang ada di sebelahnya. “ Jam berapa sih ini, Nya ? “ tanyanya.
“ Hem ? “ yang di tanya menoleh, lalu melihat ke pergelangan tangannya. “ Jam setengah dua belas. Kenapa ? “ tanyanya heran. Karena Selsa juga mengenakan jam tangan.
Bahkan jam tangan Selsa harganya jauh di atas jam tangan milik Sonya. Bukankah harusnya jamnya lebih akurat ya kalau lebih mahal ? batin Sonya.
“ Masih enam jam setengah lagi. Lamanyaaaa….. “ pekik Selsa.
Ia lalu bangkit dari duduknya, dan mendorong kursi kerjanya ke belakang dengan pan tatnya.
“ Mau kemana loe ? “ tanya Sonya.
“ Mau ke tempat laki gue. “ jawab Selsa asal.
“ Ngapain ? Ingat, puasa loh ini. Jangan berbuat maksiat di bulan puasa. “ ujar Sonya sambil menghentikan gerakan jari jemarinya di atas laptop.
“ Justru karena ini lagi puasa, gue mau ke ruangan laki gue aja. “ sahut Selsa seraya tetap melanjutkan langkahnya menuju ke ruangan sang suami.
Ceklek
Pintu ruangan Elyas terbuka dari luar tanpa ada suara ketukan terlebih dulu. Elyas yang sedang sibuk menatap layar laptopnya, segera mendongak dan melihat siapakah gerangan yang masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dulu.
Selsa terus berjalan gontai menuju sofa yang ada di ruangan Elyas tanpa menghiraukan si pemilik ruangan. Saat sampai di sofa, ia membanting tubuhnya di atas sofa dengan posisi tengkurap. Semua itu tak luput dari pengamatan Elyas. Ada apa lagi dengan istrinya ini ? Makin hari, Elyas merasa makin gemas dengan istrinya.
“ Kenapa ? “ tanya Elyas sambil tetap melihat ke arah Selsa. Ia bahkan sudah melepas kaca mata minus yang nagkring di hidungnya sedari tadi.
Mendengar suara sang suami, Selsa menolehkan wajahnya ke arah Elyas. Sedari tadi, ia mengarahkan kepalanya ke arah sandaran sofa.
“ Hiks … Laperrr !! Ausss juga … “ rengeknya dengan bibir yang ia buat seperti hendak menangis.
Hari ini adalah hari pertama bulan Ramadhan. Yang artinya, hari ini adalah hari pertama Selsa harus menahan lapar dan hausnya.
Selsa mengelus lehernya menandakan jika dirinya sangat haus. “ Badan aku rasanya lemes tak bertulang ini. “ lirihnya. “ Hiks … “
“ Namanya juga puasa, Sa. Ya jelas lapar sama haus. “ sahut Elyas santai. “ Semua orang islam hari ini juga ngerasain hal yang sama kayak kamu. “ lanjutnya.
“ Bisa minta diskon dikit nggak ? Bentar lagi Duhur. Minum air putih dikit gitu. “ rengeknya kembali.
__ADS_1
“ Emangnya kamu masih anak TK ? Kalau kamu belum baligh, boleh tuh minum. Segentong juga boleh. “ jawab Elyas. “ Di kata Allah itu punya online shop yang sering kasih diskonan. “ gumamnya.
“ Tapi kalau nunggu magrib, masih enam jam setengah loh. Lama banget itu. Kalau aku pingsan, gimana ? “ Selsa terus saja merengek.
Elyas menyunggingkan kedua sudut bibirnya sambil menggelengkan kelapanya. “ Mana ada orang puasa pingsan ? Ada – ada aja kamu, Sa. Kalau orang puasa terus pingsan, bisa – bisa pas bulan Ramadhan gini, dunia sepi. Penghuninya pada pingsan. “ jawabnya.
“ Ck ! “ Selsa berdecak kesal. Ia lalu memalingkan wajahnya menghadap ke sandaran sofa.
“ Mas Elyas kalau nggak mau ngasih diskonan mending diem aja deh. Biar makin cakep. Aku mau numpang tidur di sini. Siapa tahu entar pas tidur, mimpi makan di restorant jepang. Sama minum es boba depan kantor. Kenyang dan nggak haus lagi, kan jadinya ? “ seloroh Selsa yang membuat Elyas makin melebarkan senyumannya.
Elyas pun diam dan membiarkan istrinya yang sekarang jadi lebih berisik itu tidur. Dan bermimpi seperti yang istrinya tadi katakan. Ia pun memilih melanjutkan pekerjaannya yang tertunda tadi.
Selang beberapa saat, Elyas kembali menghentikan pekerjaannya karena merasa sedikit terganggu dengan ulah istrinya.
Katanya mau tidur. Tapi kenapa malah hanya membolak – balikkan badannya nggak jelas dan semrawut begitu. Untung saja sekarang Selsa sudah tidak berpakaian minim lagi. Jadi mata Elyas aman karena tidak melihat aurat sang istri yang selalu terlihat bersinar di matanya.
Jika sang istri masih berpakaian minim saat ini, sudah bisa di pastikan, Elyas akan kembali ternodai dengan pemandangan pa ha mulus dan kaki jenjang sang istri yang terus bergerak di atas sofa sana.
“ Kamu kenapa lagi ? Udah mimpi makan ? “ tanya Elyas.
“ Gimana bisa mimpi ? Tidur aja susah ! “ Selsa cemberut. Ia bangkit dari tidurnya, duduk di sofa dengan asal , lalu mengacak rambutnya kesal hingga rambutnya terlihat sangat berantakan.
“ Perutnya kosong. Laper tingkat dewa Zeus. Mana bisa tidur kalau perutnya laper ! “ masih dengan wajah cemberut dan kesal, Selsa menjawab pertanyaan suaminya.
Ia lalu bangkit dari duduknya. Kembali melangkah untuk keluar dari ruangan Elyas.
“ Mau kemana ? “ tanya Elyas kembali. “ Nggak jadi tidur ? “
“ Mau ke kamar mandi. “ sarkas Selsa.
“ Ngapain ? Katanya laper. Nggak mungkin mau pup. “ goda Elyas yang kembali mengingatkan Selsa akan alasan konyol yang ia utarakan ke Elyas beberapa hari yang lalu.
Selsa menoleh ke arah elyas dan mendelik tajam. “ Mau cuci muka. Sekalian minum air kran. Biar nggak haus lagi. “ jawabnya ketus lalu membuka pintu ruangan Elyas dengan kasar.
“ Jangan macam – macam kamu, Sa. “ ucap Elyas menghentikan tangan Selsa yang hendak mendorong pintu itu.
“ Orang Cuma satu macam aja kok. Air tuh nggak bisa di makan. Jadi Cuma bisa di minum buat ngilangin haus, bukan lapar. “ jawab Selsa asal. Lalu ia mendorong pintu ruangan Elyas dan segera keluar dari dalam ruangan.
“ Habis ngapain loe Sa ? Rambut loe berantakan gitu ? “ tanya Radith.
__ADS_1
“ Jangan bilang, kamu sama pak ketua habis ngapa – ngapain di dalam. Ingat, puasa loh ini. “ sahut Amir.
“ Ck “ Selsa hanya berdecak tanpa membalas omongan temannya itu. Ia kembali melanjutkan langkahnya menuju ke toilet yang berada di sudut lantai di mana ruangannya berada.
Selsa membasuh wajahnya dengan air yang ia ambil dari keran wastafel. Ah, rasanya lumayan segar. Ia sudah tidak memikirkan make upnya yang luntur karena terkena air. Yang penting, ia bisa merasa lebih segar.
Tok … tok …. Tok ….
“ Sa ? Selsa ? “ panggil seseorang dari luar pintu toilet.
“ Mas Elyas ? “ gumam Selsa. Ia sangat mengenali suara itu.
“ Apa ? “ teriak Selsa dari dalam kamar mandi.
“ Kamu ngapain lama di dalam ? Jangan bilang kamu beneran minum air kran ya. “ jawab Elyas dari luar.
Ceklek
Pintu toilet terbuka dari dalam. “ Mas Elyas ngapain masuk ke toilet perempuan ? “ tanya Selsa.
“ Aku khawatir. Takutnya kamu beneran minum di dalam. “ sahut Elyas.
“ Ck ! “ Selsa berdecak. “ Aku sudah bukan anak kecil lagi ya mas. Yang mesti sembunyi – sembunyi minum air kran Cuma karena haus pas puasa. “ ketusnya.
“ Sorry. “ ucap Elyas merasa bersalah karena tidak mempercayai istrinya. “ Tunggu sebentar. “ Elyas memegang lengan Selsa ketika Selsa berlalu dari hadapannya.
Langkah Selsa terhenti. Ia berbalik, dan menghadap sang suami sambil menatap suaminya itu mengisyaratkan sebuah pertanyaan, ‘ ada apa ? ‘.
“ Rambut kamu berantakan. “ ucap Elyas sambil merapikan rambut Selsa menyisirnya dengan jari jemarinya. Membuat Selsa mematung dengan jantung yang berdetak lebih kencang. Hal sepele yang di lakukan Elyas mungkin. Tapi Selsa merasa itu sangat istimewa dan luar biasa.
Lalu entah sadar atau tidak, Elyas kembali mengulurkan tangannya setelah tadi menyisir rambut sang istri. Elyas mengusap wajah Selsa yang masih basah karena air kran yang ia pakai untuk membasuh muka juga lehernya.
“ Mas … “ panggil Selsa. “ Jangan bikin Selsa khilaf terus bikin mas Elyas batal puasa ya. “ ucap Selsa dengan jantung yang masih berdetak kencang.
Elyas menghentikan aktivitasnya. Ia menatap mata Selsa yang juga sedang menatapnya.
“ Oh, sorry. Sorry. “ ucap Elyas kala tersadar dan ia segera menjauhkan tangannya dari wajah Selsa. Wajah Elyas terlihat memerah karena hal yang ia lakukan itu. Dan mereka menjadi salah tingkah, lalu sama – sama berjalan keluar dari toilet kembali ke ruangan mereka.
Bersambung
__ADS_1