
" Sayang... " Elyas mendekati Selsa yang sepertinya sudah terbangun.
Selsa seolah enggan untuk menjawab.
" Kamu kenapa sebenarnya? Bilang sama aku. Jangan diem aja kayak gini. Jika memang aku ada salah, kamu bilang. Biar aku perbaiki. " Elyas masih maju tak gentar. Ia harus mendapatkan jawaban dari sang istri. Ia semakin mendekati Selsa dengan duduk tepat di sebelah Selsa.
" Kenapa jam segini kamu belum siap-siap? " tanya Selsa mengalihkan pertanyaan sang suami.
" Kondisi kamu kayak gini. Mana aku bisa bekerja. " sahut Elyas.
" Aku nggak pa-pa. " jawab Selsa.
" Nggak mungkin nggak pa-pa. Dari kemarin kamu diemin aku terus. Please sayang, jangan kayak gini. " Elyas mengulurkan tangannya untuk membelai pipi Selsa.
Dan ketika tangan Elyas menyentuh pipi Selsa, perut Selsa kembali terasa di aduk-aduk. Rasa mual itu kembali mendera.
Dengan buru-buru, Selsa bangun dari tidurannya, dan menuju ke kamar mandi. Elyas pun mengikutinya.
" Huek... huek... " kembali Selsa berusaha mengeluarkan isi perutnya. Kali ini, hanya teh yang ia minum tadi yang keluar.
Hah! Ia menghela nafas kasar. Setelah muntah, rasanya agak mendingan. Lalu tiba-tiba perutnya terasa mual kembali kala tangan Elyas menyentuh punggungnya.
" Huek... Huek ... " Selsa kembali ingin muntah, tapi tidak ada yang bisa ia keluarkan.
" Jangan sentuh aku. " pintanya sambil menepis tangan Elyas. Kedua dahi Elyas berkerut.
" Kamu mendingan cepetan siap-siap kerja. Udah siang. " ucapnya lirih karena tubuhnya kembali terasa lemas.
" Tapi kamu lagi sakit sayang. " kekeh Elyas.
Selsa tidak menggubris. Ia berjalan perlahan sambil berpegangan ke dinding. Elyas segera akan menggendongnya.
" Jangan sentuh aku mas. Udah aku bilang. Aku udah capek muntah-muntah terus. Tiap kamu sentuh, perutku terasa mual. " keluh Selsa.
" Mendingan kamu cepetan pergi kerja sana." usir Selsa. Rasa enggan di sentuh suaminya terasa makin besar ketimbang kemarin. Bahkan kini pakai mual-mual segala.
Elyas mendesah. Ia bingung. Apa yang harus ia lakukan. Sepertinya apa yang di katakan Selsa benar. Istrinya itu mual ketika dirinya menyentuh.
.
__ADS_1
.
.
" Umi, Selsa mau minta ijin sama umi. " kini kondisi Selsa sudah baikan.
Setelah sang suami berangkat kerja, tubuhnya terasa lebih ringan. Rasa mual di perutnya juga sudah menghilang.
" Mau minta ijin apa nak? " tanya umi sambil mengelus punggung tangan Selsa. Saat ini mereka sedang duduk di kursi makan. Tadi umi memaksa Selsa untuk makan. Karena meskipun badannya sudah enakan, tapi ia masih enggan makan.
Selsa menunduk sambil berucap, " Selsa mau minta ijin pulang ke rumah papa. "
Umi sontak mengernyit dengan tatapan bingung.
" Selsa mohon ijin sama umi buat tinggal di rumah papa. " imbuh Selsa.
" Tapi kenapa nak? Kenapa harus tinggal di sana? Kamu tidak betah tinggal di sini? " tanya umi.
Selsa menggeleng, lalu ia menggenggam tangan umi. " Bukan umi. Bukan masalah betah atau tidak Selsa tinggal di sini. Kalau di tanya, Selsa malah justru lebih betah tinggal di sini sama umi. Tapi ... "
Selsa menarik nafas panjang dan dalam-dalam. " Hanya sementara saja umi. Selsa ... Selsa butuh waktu untuk menenangkan diri umi. Rasanya, hati Selsa terasa berat jika harus bertemu dengan mas Elyas. "
Umi lalu memeluk Selsa erat seolah berat untuk berpisah. " Jangan lama-lama perginya. Cepatlah kembali kemari. "
Lalu umi melepas pelukannya. " Umi minta, jangan pernah punya pikiran buruk ya nak. Jangan sampai ada kata pisah di antara kalian. " umi menatap dalam mata Selsa.
Selsa tersenyum, " In syaa allah, tidak umi. Selsa hanya butuh waktu untuk menenangkan diri. Biar hati Selsa dingin dulu umi. Biar sembuh dulu. "
" Selsa minta sama umi, katakan saja sama mas Elyas, jika Selsa ingin pulang ke rumah papa. Jangan mengatakan alasannya apa umi. Kalau mas Elyas tahu alasannya, mas Elyas pasti akan marah sama Ratna. Dan Selsa tidak mau, mas Elyas bermasalah dengan pak lurah. " pinta Selsa.
Umi mengangguk lalu kembali memeluknya.
.
.
.
" Loe kenapa pulang nggak sama suami kamu? " tanya Aleta. Yah, Aleta lah yang di minta untuk menjemput.
__ADS_1
" Nanti gue ceritain ke loe. Sekarang, anterin gue ke rumah sakit. " jawab Selsa sambil merebahkan tubuhnya di sandaran kursi.
" Loe sakit Sa? " tanya Aleta. Ia mencondongkan tubuhnya sambil memiringkan kepalanya demi melihat wajah sahabatnya. " Wah Sa, muka loe pucet. "
Aleta langsung di Landa kepanikan. Ia meneliti setiap inci tubuh Selsa. Menyentuh dahinya, lehernya, tangannya.
" Nggak usah lebay deh Ta. Gue nggak pa-pa. " decak Selsa.
" Eh, tapi muka loe pucet, sumpah. Lagian kalau loe nggak sakit, kenapa loe mau gue anter ke rumah sakit? " tanya Aleta.
Aleta kembali menyandarkan punggungnya di sandaran jok mobil.
" Gue mau mastiin sesuatu. " sahut Selsa. " Ya udahlah, ayo buru. " ajaknya.
Akhirnya Aleta memasukkan mobilnya ke gigi satu. Ia mulai menjalankan mobilnya perlahan menjauhi pekarangan rumah Elyas. Dan umi juga masih menatap kepergian mobil Aleta.
" Itu, mertua loe kenapa mukanya kayak gitu? Kayak sedih gitu loe pergi. " Aleta masih menatap spionnya. " Kayak yang mau loe tinggalin lama aja. " gumamnya.
" Gue emang bakalan pergi dari rumah itu lama. " sahut Selsa sambil memejamkan matanya dan menyangga pelipisnya.
" Maksud loe ? " Aleta menoleh ke arah Selsa.
" Jangan suka meleng kalau lagi bawa mobil. " ujar Selsa. " Gue mau pulang ke rumah papa entar habis dari rumah sakit. " lanjutnya.
" Eh, apa-apaan sih loe Sa? " Aleta makin di buat bingung.
Ia mengernyitkan dahinya. " Loe berantem sama laki loe? Loe mau cere gitu sama laki loe? " ucapnya frontal.
" Ck? " decak Selsa. " Siapa yang mau cere? Allah tuh emang menghalalkan umatnya bercerai. Tapi Beliau tidak menyukainya. " lanjutnya.
" Terus? Masalah loe apa, sampai-sampai loe mau pulang ke rumah bokap loe? " cecar Aleta.
Hah. Selsa menghela nafas panjang sambil mende sah.
" Gue lagi nggak pengen deket sama laki gue. Kemarin, gue ketemu lagi sama mantan calon istrinya. " Selsa mulai bercerita.
" Oh myyy.... Sumpah, mulut laki loe kek cewek. Lemes! " ucap Aleta ikutan kesal setelah mendengar cerita Selsa. Ia bahkan mencengkeram kemudi erat.
" Makanya, loe diem aja deh. Gue lagi pusing. " sahut Selsa.
__ADS_1
Bersambung