Pak Ustadku

Pak Ustadku
Menghindar


__ADS_3

" Umi, Selsa ganti baju dulu ya. " pamit Selsa ke umi karena bajunya memang kotor akibat terjengkang tadi.


Umi mengangguk sambil mengusap bahu Selsa. " Iya. Habis ganti baju, kamu makan. Kamu belum makan dari pagi. " ucapnya.


Selsa mengangguk, lalu segera berlalu masuk ke dalam rumah setelah menaruh belanjaan di dapur.


Tepat di depan kamar, Selsa bertemu dengan Elyas.


" Sudah pulang? " tanya Elyas menyapa. Selsa hanya mengangguk untuk menjawab. Melihat suaminya, seketika perkataan Ratna tadi seolah seperti gulungan kaset yang terus berulang. Ia pun enggan untuk melihat wajah suaminya.


Selsa lalu buru-buru masuk ke dalam kamar.


" Ba- "


Brak. Belum usai Elyas berucap, Selsa sudah menutup pintu kamarnya. Membuat Elyas mengernyit bingung.


Tidak biasanya istrinya itu bersikap seperti itu terhadapnya. Seburuk-buruk perlakuannya dulu, Selsa tidak pernah membuang muka darinya, atau menutup pintu dengan kasar seperti itu di depannya.


Dan tadi. Baju sang istri terlihat kotor dengan noda lumpur di celananya juga bajunya bagian bawah. Sekotor itukah di pasar tadi ? Tanya Elyas dalam hati.


Ia hendak masuk ke dalam kamar, tapi ia urungkan. Mungkin lebih baik bertanya sama umi saja. Mungkin istrinya tadi buru-buru ingin segera membersihkan diri karena bajunya yang kotor, jadi tidak mendengarkan dirinya berbicara.


Elyas berjalan ke dapur mencari umi. Dan benar saja, uminya ada di sana, sedang menyiapkan bahan makanan dan bersiap untuk memasak.


Aneh. Biasanya istrinya tidak pernah membiarkan umi menyiapkan makanan sendiri.


" Umi. " panggil Elyas.


Umi menoleh ke belakang sebentar, lalu kembali sibuk dengan kegiatannya. Entahlah, rasa kecewa yang beliau rasakan membuatnya enggan melihat putra semata wayangnya lama-lama.


Elyas berjalan mendekat. " Ada apa umi ? " tanyanya. Ia bukanlah lelaki yang tidak peka dengan situasi.


" Ada apa gimana? "


Kres... Kres ... umi bertanya sambil mengiris sayuran. Rencananya, beliau akan membuat capcay. Tadi menantunya sempat bilang kalau ingin makan capcay waktu mereka sedang berbelanja.


" Apa terjadi sesuatu di pasar tadi, umi? " tanya Elyas.

__ADS_1


Umi menghentikan aktivitasnya sebentar, lalu memejamkan matanya sesaat sambil menghirup udara sebanyak-banyaknya. Beliau ingat apa yang di pinta menantunya tadi, supaya tidak mengatakan apa-apa ke Elyas.


" Tidak terjadi apa-apa. Memangnya kenapa? Apa kamu berharap akan terjadi sesuatu? " umi bertanya sembari kembali mengiris sayuran.


" Umi kenapa berucap seperti itu. " Elyas mengernyitkan dahinya.


" Tidak ada apa-apa. "


" Umi, pasti terjadi sesuatu di pasar tadi. Baju Selsa kenapa kotor semua umi? Apa ada yang merampok? "


" Oh, Selsa tadi tidak sengaja jatuh di depan pasar waktu mau pulang. " jawab umi enteng.


Elyas diam. Ia menengok ke belakang ke arah kamarnya. Mungkin juga sih. Toh, tidak mungkin uminya berbohong kan?


" Apa Selsa tidak membantu umi memasak? Kok umi udah masak duluan? Nggak nungguin Selsa. "


" Tidak. Kasihan dia capek. Jadi biar umi saja yang masak. Toh umi juga udah lama nggak masak. " jawab umi sambil memasukkan sayuran yang tadi di iris- iris.


" Oh. " hanya itu yang Elyas ucapkan. Setelah mengambil segelas air putih, ia keluar dari dapur. Ia berjalan menuju ruang tengah. Sesekali ia melongokkan kepalanya ke arah kamarnya yang masih tertutup rapat pintunya.


" Kenapa ganti baju saja lama? " gumamnya.


.


.


.


" Kenapa istrimu belum keluar juga dari kamar? " lama umi menunggu Selsa di ruang makan. Tapi menantunya itu tidak menampakkan batang hidungnya hingga matahari telah berada di atas kepala.


" Selsa belum keluar kamar dari tadi, umi? " tanya Elyas. Ia pun tidak tahu karena setelah ada tamu yang datang tadi, yang adalah ketua karang taruna di tempat tinggalnya, ia ikut keluar orang itu dan baru kembali sekarang.


" Dia belum makan. Hanya makan siomay saja tadi waktu di pasar. " ujar umi.


" Elyas akan melihatnya umi. Dan akan mengajaknya untuk makan. " pamit Elyas, ia segera berjalan menuju ke kamarnya.


Ceklek

__ADS_1


Pintu kamar Elyas nuka dari luar. Tidak ada suara aktifitas di sana. Elyas masuk ke dalam kamar, ia melihat istrinya sedang tertidur meringkuk di atas ranjang.


Perlahan, Elyas duduk di tepian ranjang. Ia melihat dalam wajah istrinya yang terlelap. Tapi ia menemukan sebuah kejanggalan. Di sudut mata sang istri ada bekas air mata yang belum mengering. Dan istrinya itu juga tertidur dalam posisi yang tidak nyaman.


" Kamu menangis? " gumam Elyas sembari menghapus bekas air mata Selsa.


Selsa terbangun hanya dengan belaian lembut sang suami. Padahal biasanya, jika ia lelah, Elyas tidak mudah membangunkannya. Tapi ini, ia bahkan sudah berusaha lembut sang menyentuhnya, Selsa langsung terbangun.


Menyadari tangan suaminya berada di pipinya, Selsa segera menepis tangan itu dan menjauh dari jangkauan Elyas. Membuat tangan Elyas berhenti di udara. Ia bahkan menautkan kedua alisnya penuh tanya.


" Kamu kenapa? " tanya Elyas sambil berusaha meraih tangan Selsa. Tapi lagi-lagi Selsa menepisnya.


Selsa menggeleng. " Tidak ada apa-apa. " jawabnya.


Sebenarnya Elyas tidak mempercayai jawaban Selsa begitu saja. Tapi ia memilih untuk membiarkannya dulu.


Elyas mengangguk. " Umi bilang, kamu belum makan. Umi juga udah buatin capcay spesial buat kamu. Umi bilang, kamu sangat ingin makan capcay. " ucapnya.


Tanpa menjawab, Selsa turun dari atas ranjang, dan segera keluar dari dalam kamar. Fix. Elyas merasa yakin, jika ada sesuatu yang tidak beres dengan istrinya. Tapi apapun yang ia pikirkan, ia tidak menemukan jawaban dari pertanyaannya. Karena seingatnya, tadi pagi sebelum Selsa pergi ke pasar, mereka masih baik-baik saja.


Elyas menatap punggung Selsa yang akhirnya menghilang dari balik pintu. Ia mengusap wajahnya kasar. Ia yakin, umi mengetahuinya. Tapi umi pun enggan menceritakannya.


Elyas keluar dari dalam kamar hendak menyusul istrinya di ruang makan. Melihat suaminya datang, lagi-lagi Selsa pergi. Elyas merasa jika istrinya itu menghindar darinya.


Sedangkan Selsa sendiri memang sangat enggan bertemu dengan Elyas. Selain dirinya sangat amat kecewa dengan suaminya, ada suatu dorongan dari dirinya untuk tidak bertemu dengan suaminya.


Ia malas dan sangat enggan melihat wajah suaminya. Bagi Selsa, mungkin hal itu karena ia merasa sakit hati dengan apa yang di ucapkan Ratna tadi di pasar.


Selsa bahkan tidak menghabiskan capcay nya kala melihat Elyas datang. Sepiring capcay itu baru di makan Selsa setengahnya.


Elyas makin menatap bingung ke Selsa. " Umi, sebenarnya apa yang terjadi ? " tanyanya.


" Memangnya ada apa kamu bertanya seperti itu? " umi balik bertanya.


" Kenapa Selsa seperti menghindari Elyas? Apa terjadi sesuatu waktu di pasar tadi? "


" Biarkan saja dulu. Mungkin dia butuh waktu untuk sendiri. Jangan pernah bertanya kenapa kepadanya. " Umi lalu berlalu dari hadapan Elyas.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2