Pak Ustadku

Pak Ustadku
Mual


__ADS_3

Sikap Selsa seharian ini sangat berbeda dari biasanya. Dan Elyas sangat merasakan hal itu. Tapi Elyas tidak bisa berbuat apapun. Karena dirinya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dan di kala dirinya ingin bertanya, umi selalu menghalangi.


Sebenarnya umi juga ingin mengatakannya ke Elyas. Tapi beliau menghargai permintaan sang menantu. Apalagi beliau juga merasa kesal dengan putranya.


Pagi menjelang. Biasanya Selsa akan bangun ketika jam di dinding menunjukkan pukul 4 pagi. Ia akan ikut Elyas berjamaah ke masjid. Tapi pagi ini, Selsa masih terlelap ketika adzan subuh berkumandang.


Elyas berhenti di sebelah ranjang sambil menatap istrinya yang tidur miring membelakanginya. Ingin ia bangunkan, tapi Elyas kasihan.


Sebenarnya apa yang sudah terjadi, Sa? Kenapa kamu tidak mau mengatakannya kepadaku? tanya Elyas dalam hati sambil menatap punggung Selsa.


Elyas benar-benar di buat bingung oleh sikap istrinya yang berubah dingin. Dan terkesan cuek. Semalam saja, Selsa tidur dengan posisi di pinggir ranjang, seolah enggan jika sampai kulitnya bersentuhan dengan suaminya itu. Padahal biasanya, mereka tidak pernah tidur jika tidak saling berpelukan. Dan menghabiskan malam panas juga.


Elyas berlalu meninggalkan kamar untuk segera pergi ke masjid.


" Selsa mana Yas? " tanya umi ketika melihat Elyas sampai di dekat kamar umi. Umi baru keluar dari dalam kamar dengan membawa mukena dan sajadah di tangannya.


" Masih tidur umi. Mau Elyas bangunkan tapi kasihan. Biar nanti sholat Subuh di rumah saja. " ujar Elyas.


" Oh! Ya sudah, kalau begitu umi juga sholat di rumah saja. Khawatir anak mantu umi kenapa-napa. Soalnya dia tidak pernah telat bangun ketika subuh. " ucap umi, dan tanpa menunggu jawaban dari Elyas, umi segera pergi keluar rumah, ke bagian belakang rumah menuju gazebo biasanya beliau melaksanakan shalat jika di rumah.


Sedangkan di dalam kamar, Selsa mendudukkan tubuhnya sambil bersandar di headboard ranjang kala Elyas telah keluar dari kamar. Sebenarnya Selsa sudah bangun dari tadi. Tapi karena ia enggan terlibat pembicaraan dengan suaminya, Selsa memilih berpura-pura tidur.


Memang seharusnya tidak boleh mendiamkan seorang suami seperti ini. Tapi tiap kali Selsa berhadapan dengan suaminya, hanya bayangan ucapan Ratna yang terngiang.


Selsa menghela nafasnya berat. Lalu tiba-tiba kepalanya terasa berdenyut dan perutnya terasa begitu mual.


" Sshhh... Mmmphhtt... Huek... " Selsa buru-buru berlalu masuk ke dalam kamar mandi karena perutnya terasa seperti di aduk. Mual, itulah yang Selsa rasakan.


" Huek... Huek ... " Selsa mengeluarkan seluruh isi perutnya.


Ahh!!! Gue kenapa sih ini? Kemarin masih baik-baik aja. Nggak mungkin gue kena asam lambung. Biasanya juga nggak pa-pa. batin Selsa.

__ADS_1


" Pait banget mulut gue. " keluh Selsa setelah ia berkumur untuk menghilangkan bekas muntahan di mulutnya.


" Duh, kepala gue juga pusing banget. Lemes badan gue Ya Allah... " sebutnya. Ia lalu berjalan perlahan menuju ke ranjang kembali. Rebahan, adalah hal paling enak yang sangat ingin Selsa lakukan.


Selsa kembali merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Ia memijat kepalanya yang berdenyut.


" Sshhh... Ini gue kenapa sih? " gumamnya. " Nggak demam kok. " lanjutnya setelah ia mengecek suhu badannya.


Selsa berusaha memejamkan matanya. Ia berharap, setelah tidur sebentar, rasa pusing dan mual di perutnya itu akan hilang.


Tapi nyatanya, rasa mual itu kembali mendera. Perutnya bagai di aduk-aduk. Kembali ia berjalan sempoyongan ke kamar mandi. Tubuhnya masih lemas, hingga untuk berjalan saja, ia harus merambat dengan berpegangan pada dinding.


" Huek... Huek ... " kembali Selsa berusaha meredakan rasa mual di perutnya dengan memuntahkan isian perutnya.


Tapi beberapa kali berusaha, hanya cairan berwarna kuning dan pahit yang keluar. Mungkin perut Selsa sudah kosong waktu muntah yang pertama tadi.


" Astaghfirullah hal adzim... " ucapnya seraya merasai kepalanya yang kian berdenyut.


" Sa... " panggil umi. Ceklek. Beliau membuka pintu kamar karena beliau mendengar seseorang sedang muntah dari dalam.


" Huek... " kembali Selsa ingin memuntahkan sesuatu. Tapi tetap tidak ada yang keluar.


" Perut Selsa mual banget umi. " lirihnya. " Rasanya pengen muntah. Kepala Selsa juga nyut-nyutan." lanjutnya. Ia menengadah, berharap rasa pusing itu agak berkurang.


" Sudah, ayo kembali ke kamar. Umi bantu. Sepertinya percuma juga kamu berdiri di sini. Toh, kamu juga tidak mengeluarkan apapun. Perut kamu udah kosong. " Umi memapah Selsa keluar dari dalam kamar mandi dan berjalan menuju ke ranjang.


" Nggak enak banget rasanya umi. Selsa udah lama nggak pernah sakit gini. " keluhnya.


" Umi buatin teh hangat dulu sebentar. Biar mulut kamu nggak pahit. " ujar umi sambil menyelimuti tubuh Selsa.


Umi lalu keluar dari dalam kamar dan pergi ke dapur untuk membuat teh.

__ADS_1


Tak lama, beliau kembali ke kamar dengan membawa segelas teh hangat untuk Selsa.


" Ini, di minum. Udah umi bawakan sedotan juga. Tinggal di seruput. " umi membantu Selsa untuk minum.


" Udah umi. Makasih. " ucap Selsa setelah menyedot teh hangat itu beberapa kali.


" Maaq kamu kambuh nak? " tanya umi sembari duduk di tepian ranjang.


Selsa menggeleng. " Selsa nggak pernah punya sakit maaq umi. Baru kali ini Selsa mual terus muntah-muntah kayak gini. "


" Umi balur sama minyak kayu putih ya? Siapa tahu kamu masuk angin. " tawar umi, dan Selsa langsung mengangguk.


" Umi, Selsa belum sholat Subuh. Tapi mau bangun badannya lemes banget. " ujar Selsa kala umi beranjak hendak mengambil minyak kayu putih.


" Tayamum saja nak. Sholat sambil tiduran saja. Boleh. " jawab umi dan kembali Selsa mengangguk.


Seraya menunggu umi mengambil minyak kayu putih yang berada di luar, Selsa menjalankan sholat Subuh.


Setelah umi kembali dan Selsa usai sholat, umi membalurkan minyak kayu putih di punggung juga perut Selsa.


" Assalamualaikum.. " ucap Elyas ketika pulang dari masjid. Karena tidak menemukan siapapun di luar, ia langsung masuk ke dalam kamarnya.


" Waalaikum salam. " jawab umi dan Selsa.


" Loh, umi di sini ? " tanyanya. Lalu ia melihat ke arah sang istri yang masih memakai selimut dan sedang di pijat oleh umi kepalanya.


" Loh, sayang... Kamu kenapa ? " Elyas langsung berjalan cepat ke arah istrinya. Ia begitu khawatir. " Kamu sakit ? Kita ke rumah sakit sekarang. " ucapnya.


Tapi Selsa menggelengkan kepalanya. " Nggak usah. Cuma masuk angin biasa aja. Udah di balur minyak kayu putih sama umi. Nanti juga baikan. " ucapnya sambil memejamkan kedua matanya.


Elyas terlihat bingung. Ia menatap umi dan umi mengangguk menandakan supaya dirinya mengiyakan saja. Umi yakin, Selsa seperti ini karena ada pengaruhnya dari kejadian kemarin.

__ADS_1


" Istirahat saja nak. " ucap umi, lalu umi menarik tangan Elyas beliau ajak keluar dari dalam kamar.


bersambung


__ADS_2