
" Gimana Sa? Perkembangan hubungan loe sama laki loe? Udah buka segel? " tanya Aleta. Siang itu, Selsa mendatangi kantor Aleta.
Semenjak pertengahan Ramadhan, Selsa sudah tidak se lebay di awal. Kini dirinya sudah tidak terlalu merasa lapar dan haus saat siang menjelang. Ia sudah bisa melakukan berbagai aktivitas saat siang hingga sore hari.
Selsa mengendikkan bahunya menanggapi pertanyaan Aleta.
" Kok cuma gitu sih jawabnya? " kesal Aleta. " Jangan-jangan loe nya yang jiper. Takut liat ular pitonnya si pak ustadz. " ledeknya.
" Enak aja. Boro-boro di kasih lihat ular piton. Anakannya aja susah lihatnya. " sahut Selsa.
Dan terbahaklah si Aleta. " Berarti masih tersegel nih ceritanya? Gimana sih? Baju dinasnya udah loe cobain belum? " tanyanya.
" Hisss... Boro-boro makai baju jaring lele itu. Gue baru pakai piyama yang ketutup aja udah dapet mauidhoh. Udah gitu, di suruh ganti baju lagi. " jawab Selsa.
" Wuahhh, hebat banget laki loe. Di kasih ikan premium nggak ngaruh. Hebat ... Hebat ... " Aleta malah bertepuk tangan.
" Ck ! Au' deh. Lama-lama gue perkosa juga tuh laki. " kesal Selsa yang memang sudah gagal berkali-kali.
" Boleh juga tuh ide loe. " sahut Aleta. " Keren tuh. Entar pasti jadi trending topik. Seorang istri memperkosa suaminya. " lanjutnya.
" He em, keren. Harus di coba. " sahut Selsa santai.
" Terus, apa kabarnya tuh sama mantannya pak ustadz? Udah ketemu lagi, loe? " tanya Aleta.
" Nggak. Males banget gue ketemu sama tuh orang. Luarnya sih ketutup, alim gitu. Tapi mulutnya pedes kek cabe se tan. " ujar Selsa sambil bersedekap.
" Iya kah? Bermuka dua dong. "
" Bener banget. Kalau di depan umi, dia sok yang alim, lembut, eh... giliran cuma berdua sama gue, jinnya pada keluar. Kebun binatang pun dia bawa. " sahut Selsa.
" Wow. Loe nggak bilang gitu sama laki loe? " tanya Selsa sambil menyeruput kopi dari dalam gelas.
" Ck ! " Selsa berdecak melihat sahabatnya itu malah meminum kopi. Padahal dirinya saat ini tengah menahan naf sunya.
" Sorry... He he he ... Lupa gue kalau loe lagi puasa. " jawab Aleta sambil nyengir dan mengusap ujung bibirnya dengan jari jempolnya.
" Gimana laki loe soal mantannya? " tanyanya lagi.
" Loe pikir gue tipe cewek yang suka ngadu? " kesal Selsa. " Lagian, kalau misalnya dia dapet ceritanya dari gue, emang dia bakalan percaya? Setahu dia, mantannya itu kan cewek solehah. Nggak kayak gue yang suka ngumbar aurat juga mulut gue yang suka asal nyablak. " lanjutnya.
__ADS_1
" Ya udah, kalau gitu loe lawan lah sekali-sekali. Loe kan jagonya tuh. " ujar Aleta.
" Ck. Gue yang sekarang tuh nggak kayak gue yang dulu ya. Gue udah insaf. Saat ini gue lagi hijrah menuju ke kebaikan dalam hidup. " sahut Selsa.
" Cieee... Bahasa loe, Sa. " Aleta memukul lengan Selsa perlahan.
" Gue sih milih jadi cewek anggun aja. Biarlah dia semaunya. Asal dia nggak nyakitin fisik gue aja. Entar kalau dia sampai nyakitin fisik gue, baru deh gue bales. Lagian kalau di pikir - pikir, kasihan dia juga sih. Calon lakinya nggak jadi ngelamar dia, malah ngelamar cewek lain. Kalau misal gue jadi dia, di posisi dia, gue juga bakalan sakit hati. " ujar Selsa.
" Bener juga sih loe tuh." sahut Aleta.
" Jadi sekarang, gue sih main cantik aja. Allah sudah mengatur semuanya. Kalau emang Yang Di Atas nentuin mas Elyas itu jodoh gue, gue yakin sih, meskipun dia lari sejauh apapun, pasti baliknya ke gue lagi. " ucap Selsa.
" Tapi kalau dia bukan jodohnya gue, gue kejar sampai tenaga gue habis pun, nggak bakalan kekejar. Iya nggak sih ? " lanjutnya.
" Loe bener banget. Eh, sumpah ya, loe banyak banget berubah deh semenjak punya laki. " ucap Aleta sambil memicingkan matanya. " Atau jangan-jangan loe saben hari dengerin tausiyah mulu ya. "
" Nggak lah. Gue cuma belajar aja dari kehidupan. Sambil sesekali umi kasih pandangan ke gue. " Jawab Selsa sambil menunduk sebentar.
" Jujur nih ya. Kalau misal gue sama mas Elyas nggak panjang jodoh, yang bikin gue berat hati tuh umi. Gue udah terlanjur sayang sama umi. Gue ngerasa punya mama. Kalau harus jauh dari beliau, berat deh. " lanjutnya.
" Gue doa'in yang terbaik buat loe, Sa. Semoga loe beneran berjodoh sama pak ustadz dunia dan akhirat. " ucap Aleta sepenuh hati. Ia menggenggam tangan Selsa.
" Amiinnn. " sahut Selsa sambil tersenyum. " Terus, gimana sama loe? "
" Ck. " Selsa berdecak pelan sambil memalingkan wajahnya. " Loe kapan insyaf nya, Aleta? "
" Nunggu dapet hidayah kayak loe lah. " jawab Aleta asal. " Mungkin kalau ada pak ustadz macam laki loe yang mau sama gue. Atau mungkin kalau kakak loe mau ngelamar gue? "
" Ck. Kalau dia mah kayaknya nggak suka sama kaum kita. " jawab Selsa asal.
Dan mereka berdua langsung tergelak bersama.
" Eh, tunggu bentar. " ucap Selsa karena merasa getaran dari dalam tasnya. " Kayaknya ada telepon. " lanjutnya.
" Siapa? Laki loe? " tanya Aleta.
Selsa mengendikkan kedua bahunya. " Nggak tahu gue. Mana mungkin dia nelpon gue." ucapnya seraya merogoh tasnya untuk mengambil ponselnya yang harganya selangit.
" Eh, iya loh. Tumben pas ustadz nelepon. " ucap Selsa setelah ia melihat nama yang menghubunginya. Ia terlihat sangat senang.
__ADS_1
Aleta hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya melihat wajah bahagia sang sahabat.
" Assalamualaikum mas. " sapa Selsa setelah ia menggeser tombol hijau di layar.
" Waalaikum salam. " jawab Elyas.
" Tumben nih, telpon. Kangen ya?? " goda Selsa sambil tersenyum geli.
" Ck. Kamu masih di tempat sahabat kamu? " tanya Elyas.
Selsa mengangguk seolah Elyas sedang melihatnya sambil berucap, " He em. "
" Masih lama? " tanya Elyas.
" Mmm nggak tahu juga sih. " jawab Selsa. " Cie... cie ... cie ... pasti kangen ya??? Khawatir ya ??? Kayak yang waktu itu pas aku tidur di tempat kakak. " goda Selsa.
" Ngomong tuh yang bener . Siapa juga yang kangen. " gumam Elyas.
" Mau balik jam berapa? Langsung pulang, apa balik ke kantor lagi? " tanya Elyas. Mungkin dia sendiri tidak menyadari jika dia terlalu banyak bertanya. Dan hal itu membuat Selsa semakin senang karena merasa di perhatikan.
" Balik ke kantor dulu lah. Kan suaminya aku masih di sana. Berangkatnya barengan, masak iya pulangnya misah. Kayak yang lagi berantem aja. " jawab Selsa.
" Mas Elyas tungguin aja di kantor dulu. Nanti aku kesana. " lanjutnya.
" Hem. " sahut Elyas.
" Sa.. "
" Ya? "
" Kamu masih puasa kan? " tanya Elyas.
" Dih, mas Elyas. Kok tanyanya gitu sih? Ya masih puasa lah. Tamu bulanan aku kan udah minggu kemarin datengnya. " jawab Selsa.
" Ya... siapa tahu aja, kamu jalan sama sahabat kamu, terus ke goda buat buka duluan. " ucap Elyas.
" Enak aja. Insyaa allah, Selsa Istiqomah. Nggak gampang ke goda. Aku tuh cuma bisa ke goda sama satu hal. " ujar Selsa membuat Elyas mengernyit menunggu kelanjutan omongan sang istri.
" Selsa cuma ke goda sama mas Elyas. Pak ustadz 'ku, suamiku, imamku di dunia sampai di akhirat kelak. " lanjutnya sambil tersenyum malu-malu. Begitupun dengan Elyas. Tanpa sadar pipinya merona, dan kedua sudut bibirnya tertarik ke atas.
__ADS_1
bersambung
Sepertinya Elyas si pak ustadz udah mulai baper nih sama gombalan² recehnya Selsa.... Kalian ikut baper nggak??? Yang baper tunjuk jari yuuukkk....