Pak Ustadku

Pak Ustadku
Ide dari otak me sum


__ADS_3

Hari kian berganti. Setelah satu minggu berlalu, Selsa masih belum melakukan ide yang di cetuskan oleh otak me sum sahabatnya. Hubungan antara dirinya dan Elyas masih saja sama. Meskipun semenjak menginap di rumah besar keluarga Rakesh dua minggu yang lalu, sikap Elyas sedikit berubah terhadap Selsa.


Elyas sudah tidak terlalu menghindari Selsa. Beberapa kali ia mengajak Selsa berangkat kerja bersama. Weekend kemarin, ia hanya mengambil lembur di hari Sabtu.


“ Di mana istrimu ? “ tanya umi.


“ Mungkin sudah di kamar umi. Biasanya jam segini kan dia sudah siap – siap tidur. “ jawab Elyas sambil menghenyakkan pan tatnya di sofa di sebelah umi.


“ Umi kadang heran deh. “ ungkap umi.


“ Heran kenapa, umi ? “ tanya Elyas setelah dirinya menyecap teh camomile buatan istrinya tadi sebelum istrinya itu masuk ke dalam kamarnya.


“ Beneran nggak sih, istri kamu itu dulu sering ke club malam ? “ umi menoleh ke arah Elyas.


Elyas mengernyit. Ia bingung dengan pertanyaan uminya. Kenapa umi menanyakan hal ini ? Bukankah dirinya sudah pernah bercerita dulu ?


“ Kok umi nanya hal ini ? “ tanyanya.


“ Biasanya perempuan kalau ke club kan malam hari. Bahkan bisa sampai fajar menjelang. Tapi istri kamu itu, kenapa setelah tinggal di sini, setiap jam 9 malam dia sudah masuk ke kamar dan tidur ? Bukankah kalau sudah terbiasa tidur malam akan susah jika harus tidur sore – sore ? “ ungkap umi kembali.

__ADS_1


“ Entah lah umi. Tapi kenyataannya memang seperti itu. “ jawab Elyas sambil mengendikkan kedua bahunya. Sorot matanya kembali ke layar televisi yang sedang menyala.


“ Terus, beneran dia juga merokok seperti kamu bilang ? Kok umi nggak pernah ngeliat dia menyesap nikotin selama di rumah ini ? “ kembali Elyas mengendikkan bahunya.


Umi menghela nafas panjang. “ Mungkin, kamu harus mengajak istrimu berbicara berdua. Tanyalah dia, kenapa dia seperti itu. Kalau yang umi lihat, sebenarnya Selsa anak yang baik dan penurut. Mungkin ada satu hal yang membuatnya menjadi seperti gadis yang dulu kamu ceritakan ke umi. “ ucap beliau.


Elyas ikut menghela nafas berat. Ia tidak menanggapi omongan umi. Sorot matanya masih tetap pada layar televisi.


“ Yas, apa kamu tidak berniat membuka hatimu untuk istrimu ? “ tanya umi. “ Bagaimanapun masa lalunya, ia tetaplah istrimu. Sudah seharusnya, kamu sebagai seorang suami membimbingnya ke jalan yang benar jika memang selama ini jalannya salah. Bukannya malah kamu selalu menghindarinya. “ lanjut beliau.


“ Elyas tidak menghindarinya umi. “ tolak Elyas.


“ Jangan mengelak kamu. Kamu pikir umi tidak tahu ? Selama Selsa tinggal di rumah ini, kamu jarang di rumah. Kalau tidak menhindarinya, lalu untuk apa ? “ cecar umi. Umi menghela nafas berat.


“ Kamu tahu, nak ? Semua itu pasti berat untuknya yang terbiasa apa – apa di lakukan oleh pembantu. Tapi di sini, di rumah kamu ini, ia melakukannya sendiri. Dan umi, tidak pernah sekalipun melihatnya merasa terpaksa melakukan semuanya. Wajahnya selalu berbinar setiap hari. “ lanjut umi setelah ia menjeda omongannya sebentar.


Kini umi menoleh, menghadap Elyas. “ Umi melihat cinta yang besar di matanya untukmu, nak. Dan cinta itu tulus. Tanpa mengharap apapun. Lupakan perasaanmu terhadap perempuan lain. Dan bukalah hatimu untuk istrimu sendiri. Perempuan yang sudah halal untukmu. Janganlah berbuat dosa dengan menyimpan nama perempuan lain di saat kamu sudah memiliki pendamping, nak. “ umi menggenggam tangan Elyas.


“ Umi yakin, tidak akan sulit untuk mencintai istri kamu. “ imbuhnya penuh keyakinan.

__ADS_1


Elyas menunduk. Ia tidak mampu berucap. Semua yang di katakan umi benar. Tidak seharusnya dia masih menyimpan nama perempuan lain di hatinya di saat dirinya telah beristri. Ia sudah berzina hati.


“ Umi sudah membuktikan sendiri. Awalnya, umi juga merasa pasti sulit untuk menyayangi Selsa. Tapi nyatanya, tidak memakan waktu lama, umi menyayanginya. Bahkan sangat menyayanginya. Umi seperti punya anak perempuan. “ umi tersenyum ketika mengatakannya.


“ Rumah ini terasa makin hidup semenjak ada dia. Dia selalu bisa membuat suasana rumah menjadi ramai. Umi juga memperhatikan, akhir – akhir ini, dia juga sudah menjaga penampilannya. Sepertinya dia sudah menyingkirkan semua baju – bajunya yang memperlihatkan bentuk tubuhnya. Pakaiannya sudah jauh lebih sopan sekarang. “ beliau melanjutkan ucapannya.


Kini beliau menoleh ke arah Elyas dan menatap tajam putra semata wayangnya itu. “ Jangan pernah berpikir melakukan hal yang tidak di sukai Allah. Jangan pernah berpikir untuk bercerai dan menikah lagi. Awas kamu kalau sampai kamu membuat putri umi meninggalkan rumah ini. “ ancam umi. Beliau lalu pergi meninggalkan Elyas dengan wajah terpaku.


Sebegitu sayangnya umi kepada Selsa hingga umi berucap seperti itu ? sebaik itukan Selsa di mata umi ? Elyas bergelut dengan pikirannya. Elyas mengusap wajahnya kasar. Ia pun tak pernah berpikir untuk bercerai. Tapi ia pun belum bisa menerima Selsa seutuhnya. Sisi egoisnya yang menginginkan mempunyai pendamping hidup yang bisa menjaga mahkotanya hanya untuknya, masih menggelayut.


Elyas membuang nafasnya kasar berulangkali. Kala pikiran itu masih saja menghantuinya. Ia termenung, memikirkan semua ucapan sang umi. Sudah hampir tiga bulan dirinya menikah dengan Selsa rakesh. Dan selama itulah ia tidak pernah menganggapnya istri.


Rasa kantuk mulai menyerang. Berkali – kali ia menguap. Akhirnya, ia memutuskan untuk segera masuk ke dalam kamarnya. Seperti biasa, ketika ia masuk ke dalam kamar, istrinya pasti sudah menyiapkan alas tidurnya. Kasur lantai itu sudah terbentang. Selimut, bantal, juga guling pun sudah tertata di sana. Bahkan baju gantinya pun sudah siap di pinggir ranjang.


Hati Elyas sedikit mencelos memandang semua itu. Terlalu kejamkah dirinya memperlakukan sang istri ? Elyas berjalan ke samping ranjang untuk mengambil baju gantinya.


Ketika tangannya hendak meraih baju itu, tak sengaja matanya mengedar ke sang istri yang nampak sudah terlelap. Elyas mendekat, dan duduk di sisi ranjang yang kosong di sebelah sang istri. Ia menatap wajah cantik itu dalam. Istrinya itu memang memiliki kecantikan yang melebihi rata – rata. Bahkan Ratna, gadis yang masih bersemayam di dalam hatinya saat ini, masih kalah jauh. Elyas mengajui hal itu.


Istrinya itu memiliki kulit yang putih bak susu, hidungnya mancung, alisnya tebal, bulu mata yang lentik, juga bibir yang eksotis. Rambutnya hitam legam dan panjang. Tangan Elyas terulur untuk menyingkirkan beberapa anak rambut Selsa yang menutupi wajahnya sambil memikirkan semua ucapan umi tadi.

__ADS_1


Tapi ketika ia menyadari tangannya yang tidak mau diam, Elyas segera menjauh dari ranjang. Ia segera masuk ke dalam kamar mandi untuk mengganti bajunya.


Bersambung


__ADS_2