
Ceklek
Pintu ruangan Roy terbuka dari luar tanpa ada ketukan terlebih dulu. Siapa lagi yang bisa seenaknya seperti jika bukan Selsa. Roy mengernyitkan dahinya kala melihat tamu tak di undang yang tidak pernah datang ke ruangannya jika tidak di panggil.
Selsa melangkah gontai ke arah sofa berada tanpa menoleh ke arah pemilik ruangan yang masih mengamati gerak – geriknya. Selsa menghempaskan tubuhnya kasar tengkurap di atas sofa empuk dan lebar itu.
“ Ada apa ? “ suara bariton Roy akhirnya terdengar juga karena rasa penasarannya.
‘ Ada apa dia kesini ? Seingatku, aku tidak memanggilnya. Tumben dia kesini. ‘ batin Roy.
“ Mau numpang tidur. “ jawab Selsa tidak begitu jelas karena dirinya menghadap ke arah sandaran sofa hingga membuat mulutnya agak terhimpit.
Roy kembali mengerutkan dahinya mendengar lamat – lamat jawaban sang adik.
“ Tidur ? “ beonya. “ Apa sudah tidak ada pekerjaan lagi ? “ tanya Roy kembali.
“ Hm. “ Selsa berdehem. “ Orang laper mana bisa mikir kerjaan ? “ lanjutnya.
“ Kalau lapar, kenapa tidak ke restoran aja ? “ ujar Roy.
“ Lagi puasa. Mana boleh ke restoran siang – siang gini. “ jawab Selsa.
“ Puasa ? “ tanya Roy seolah tidak percaya. “ Kamu puasa ? “ tanyanya lagi.
“ Hem. “ Selsa berdehem.
“ Yakin ? Puasa apa ? “ tanya Roy kembali.
__ADS_1
“ Nggak lupa kan, ini bulan apa ? Biasanya kakak juga puasa. “ jawab Selsa.
Roy sedikit terjingkat terkejut mendengar Selsa memanggilnya kakak. Nggak salah dengar kan dirinya ? Roy melihat ke arah keluar lewat kaca besar yang ada di belakangnya.
Nggak mendung. Matahari bersinar dengan cerahnya. Batin Roy. Kini Roy berpikir, ada apa dengan sang adik ? Apa karena sedang puasa jadi otaknya agak konslet?
“ Pu-puasa lah. “ jawab Roy terbata seakan masih tidak percaya. “ Maksudku, biasanya kamu tidak pernah puasa di bulan Ramadhan. “
“ Ck ! Kakak berisik. “ Selsa membalikkan kepalanya hingga kini ia bisa melihat wajah sang kakak. “ Kakak lupa, siapa suamiku ? Siapa mertuaku ? “ lanjut Selsa sambil emnatap sang kakak jengah.
“ Jadi kamu terpaksa berpuasa ? “ tanya Roy kembali.
“ Ya nggak lah. “ Selsa tidak terima. “ Aku tuh lillahi ta’ala ngelakuinnya. Aku tuh saat ini lagi proses berhijrah kalau mertua aku bilang. “ jelas Selsa.
“ Ah, kakak nggak asyik! “ keluhnya. “ Berisik tau nggak. Aku tuh lagi laper, haus juga. Niatnya kesini mau numpang tidur. Katanya tidur pas puasa itu bisa dapet pahala. Eh, kakak malah ngajakin ngomong mulu. Yang ada makin laper sama haus akunya. “ rengeknya manja tapi dengan bibir manyunnya.
“ Maksudnya ? Aku kerasukan gitu ? Kak, di bulan Ramadhan tuh syetan sama jin di borgol sama Allah SWT. Jadi nggak mungkin gangguin manusia. “ kesal Selsa.
“ Ya … Aku agak ngerasa gimana gitu. Kamu beneran, manggil aku kakak ? “ tanya Roy sambil menatap lekat ke arah Selsa. Di dalam hati, ia berharap Selsa tidak menjawabnya dengan jawaban aneh.
“ Gimana sih ? Katanya dulu maunya di panggil kakak. Giliran sekarang aku udah berbaik hati manggil kakak, di kata aneh, gitu ? “ sungut Selsa.
“ Ya .. “
“ Berisik ah. Boleh nggak nih, aku numpang tidur di sini ? “ potong Selsa.
“ Kenapa tidak di ruangan suami kamu ? Di ruangannya juga ada sofa kan ? “ tanya Roy memilih untuk tidak membahas masalah panggilan tadi.
__ADS_1
“ Mas Elyas mah berisik. Kalau di ruangannya dia, bukannya aku tidur, yang ada malah pengen ngajakin khilaf mulu. Dia sekarang aneh. Punya hobi baru godain aku mulu. Kesel kan, jadinya ? “ cerocos Selsa. Ia membalikkan tubuhnya lagi menjadi miring menghadap ke sofa.
“ Kakak jangan ngomong lagi. Aku mau nambah pahala dulu. Entar di banguninnya pas udah mau habis jam kantor. “ imbuh Selsa dan tak lama, terdengar dengkuran halus dari mulutnya.
Roy menatap punggung Selsa sambil tersenyum tipis. Semenjak tuan Manoj menikahkan sang adik, tapi juga pemilik hatinya, Roy sudah berdamai dengan keadaan. Ia perlahan sudah bisa menghilangkan rasa sukanya terhadap sang adik.
Ia kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda kembali. Dengan kedua matanya yang sesekali melirik ke arah sofa. Hanya sekedar untuk melihat apakah sang adik tertidur dengan nyaman atau tidak. Ketika ia melihat sang adik yang tertidur meringkuk seperti sedang merasa kedinginan, ia berdiri sambil membawa jas yang tadi ia sampirkan di sandaran kursinya.
Roy berjalan mendekat ke arah sofa. Ia mengamati wajah cantik sang adik beberapa saat. Wajah yang selama bertahun – tahun selalu menemani hari – harinya meskipun hanya dalam bayangannya, kini benar – benar sudah haram untuk ia miliki. Karena gadis itu sudah halal untuk orang lain.
Roy menyingkirkan beberapa anak rambut yang menutupi pipi kanan Selsa. Ia tersenyum tipis. Rasanya ingin sekali dirinya menyentuh pipi mulus itu. Tapi sayangnya, tangannya terhenti di udara. Ia segera tersadar kembali dari terpesonanya.
Ia lalu menyelimutkan jasnya ke tubuh Selsa bagian atas, dan berjalan kembali menuju ke mejanya, ia mengambil remote AC, lalu membesarkan suhunya. Setelahnya, ia kembali berkutat dengan pekerjaannya dan membiarkan sang adik menikmati tidur siangnya.
Di lantai bawah, Elyas nampak galau. Ia melirik jam di tangan beberapa kali, lalu melongok ke pintu. Sudah hampir jam 1 siang, tapi seseorang yang biasanya selalu mendatanginya ketika jam istirahat tiba, tidak kunjung datang.
Elyas menunggu sang istri, Selsa. Biasanya saat jam menunjukkan pukul setengah 12 siang, istrinya itu pasti akan datang ke ruangannya hanya untuk tidur. Mencari pahala katanya. Tapi siang ini, hingga jarum panjang menunjuk angka 1, ia tidak melihat batang hidung sang istri serta rengekannya.
Ternyata begini rasanya jika tidak mendengar rengekan dan celotehan sang istri. Biasanya jika Selsa memasuki ruangannya, Elyas akan menghirup udara sebanyak – banyaknya dan mengumpulkan tenaga untuk menjawab segala rengekan sang istri. Ia selalu berpikir kenapa istrinya itu harus mendatanganginya setiap siang.
Tapi kini, ketika sang istri tidak menampakkan batang hidungnya, Elyas terlihat gusar. Ada ruang kosong dalam hatinya saat tidak melihat dan mendengar celotehan sang istri.
Daripada di rundung rasa penasaran, Elyas bangkit dari dduduknya, lalu berjalan menuju pintu. Setelah keluar dari dalam ruangan, hal pertama yang ia lakukan adalah melihat meja sang istri. Dan ternyata kosong. Dahi Elyas mengernyit.
Kemana dia ? tanyanya dalam hati.
Bersambung
__ADS_1