Pak Ustadku

Pak Ustadku
Keputusan


__ADS_3

“ Assalamu’alaikum, umi. “ sapa Elyas ketika baru masuk ke dalam rumah.


“ Waalaikum salam warahmatullahi wabarokatuh. “ jawab umi dari dalam dapur. Umi segera mencuci tangannya di wastafel ketika mendengar suara anak satu – satunya terdengar.


Beliau lalu buru – buru keluar dari dapur sambil mengelap tangannya dengan lap kain.


“ Kok udah pulang, nak ? Baru jam berapa ini ? Umi saja belum selesai masak buat makan malam nanti. “ tanya umi sembari mengulurkan tangannya karena Elyas hendak mencium punggung tangannya.


“ Iya umi. Elyas minta ijin pulang lebih awal. “ jawab Elyas dengan wajah lesu.


“ Kenapa minta ijin pulang dulu ? Bukannya kita ke rumah pak kades masih nanti habis isya’ ya ? “ tanya umi. “ Tapi, umi lihat, wajahmu pucat. Kamu sakit Yas ? “ tanya beliau.


“ Iya sih umi. Agak nggak enak badan. “ jawab Elyas sembari mengusap wajahnya.


“ Masyaa Allah … Umi buatin the jahe dulu biar segeran badan kamu. “ Umi buru – buru hendak ke dapur, tapi Elyas mencekal lengan beliau.


“ Nggak usah umi. Elyas mau istirahat aja dulu di kamar. Habis istirahat paling udah baikan. “ ucap Elyas.


“ Oh gitu ? Ya udah terserah kamu aja. Mungkin kamu kecapekan kemarin baru pulang dari luar negeri. “ ujar umi masih dengan tampang bingung dan panik.


“ Elyas masuk ke kamar dulu, umi. “ pamit Elyas. Umi mengangguk, lalu ia segera pergi ke kamar meninggalkan uminya.


Sampai di kamar, Elyas langsung melempar tubuhnya yang lelah di atas ranjang berukuran 160 x 200 miliknya. Bukan tubuh yang pasti yang lelah. Tapi pikiran juga hatinya yang merasa lelah. Ia berusaha memejamkan matanya, berharap bisa terlelap dan bisa melupakan barang sejenak saja apa yang terjadi dalam hidupnya hari ini.


Elyas bergerak tak nyaman di atas ranjang. Memiringkan tubuh, kemudian telentang dengan tangan di taruh di atas wajahnya untuk menutup matanya, kemudian tengkurap. Semua itu ia lakukan selama beberapa waktu. Tapi tetap saja matanya tidak bisa terpejam.


Sinar mentari sudah mulai menyembunyikan penampakannya. Tak lama lagi waktu menunjukkan pukul 5 sore. Elyas melangkahkan kakinya dengan berat masuk ke dalam kamar mandi. Karena kegalauan hatinya, ia jadi terlambat menjalankan salat Ashar nya.


Usai menjalankan salat, tak lupa Elyas berdoa kepada Alla SWT untuk di mudahkan segalanya. Ia tadi sudah bertekad, mau tidak mau, ia harus berbicara dengan uminya. Karena memang ia tidak akan bisa menyembunyikan hal sekecil apapun ke umi. Apalagi ini adalah masalah besar.


“ Umi. “ panggil Elyas ketika tak mendapati umi di dapur dan di ruang makan. Ia masih mengenakan kopyah di kepala, sarung, juga baju koko.


“ Mi … “ panggilnya lagi. Tak lama, umi terlihat berjalan dari ruang luar.

__ADS_1


“ Eh Yas. Gimana, udah enakan ? “ tanya umi sambil memegang tangan Elyas, lalu menyentuh kedua pipi Elyas.


Elyas tersenyum. “ Duduk yuk mi. Elyas mau bicara sama umi. “ ucapnya sambil menuntun umi, mengajaknya duduk di sofa ruang tengah.


“ Ada apa nak ? “ tanya umi sambil mengernyit. Beliau yakin, pasti ada hal penting yang akan di bicarakan oleh anaknya.


“ Umi, sebelumnya Elyas minta maaf sama umi. “ Elyas menggenggam kedua tangan uminya sambil bersimpuh di hadapan beliau.


“ Ada apa ini ? Kenapa kamu minta maaf sama umi ? “ umi mengernyitkan keningnya. “ Duduklah di samping umi. “ beliau menepuk sisi kosong di sampingnya.


Elyas menggeleng. “ Tidak umi. Elyas tidak pantas duduk di sebelah umi. Tempat Elyas di sini. Di kaki umi. “


“ Sebenarnya apa yang kamu lakukan hingga kamu bersikap seperti ini nak ? “


Elyas tidak langsung menjawab. Ia menarik nafas dalam – dalam sambil menunduk.


“ Umi, “ Elyas menengadahkan wajahnya. Ia menatap sendu wajah sang umi yang terlihat mengernyit. “ Maaf, Elyas tidak bisa memenuhi keinginan umi untuk menikah dengan gadis seperti yang umi inginkan. “ ucapnya lirih.


Elyas menggeleng lemah. “ Tidak umi. Kita tidak jadi ke rumah pak kades untuk mengkhitbah Ratna. “


“ Kenapa ? Apa kalian ada masalah ? Kalian bertengkar ? “


Elyas menggeleng. “ Kita tidak sedekat itu umi. Hingga ada hal yang harus di pertengkarkan. “


“ Lalu ? “


“ Elyas tidak bisa menikah dengan Ratna, umi. “ jawab Elyas.


“ Kenapa ? “ umi berusaha untuk tetap tenang dan menyembunyikan keterkejutannya. Beliau sangat paham sebesar apa keinginan sang putra untuk mempunyai istri Ratna Renggalih.


“ Elyas …. “ Elyas nampak memejamkan matanya untuk mengumpulkan semua keberaniannya. “ Elyas akan menikahi putri pemilik perusahaan tempat Elyas bekerja umi. “ ucapnya dalam satu kali tarikan nafas.


“ Apa ?? “ kali ini umi tidak bisa lagi menyembunyikan keterkejutannya.

__ADS_1


“ Maaf, umi. “ ucap Elyas lirih.


“ Kenapa seperti ini ? Elyas, jangan bilang kalau kamu tergiur dengan harta kekayaan mereka, lalu kamu memilih menikahi putri bosmu. “ suara umi terdengar sangat tegas.


Elyas menggeleng. “ Tidak umi. Umi mengenal Elyas lebih dari siapapun. Umi tahu, Elyas tidak akan pernah melakukan hal sekeji itu. “


“ Lalu kenapa ? “ umi masih menunggu penjelasan dari Elyas.


“ Bos Elyas sendiri yang meminta Elyas untuk menikahi putrinya. Dan Elyas … Elyas tidak bisa menolaknya umi. “ jawab Elyas.


“ Kenapa Elyas ? Ada apa sebenarnya ? Jika kamu memang tidak menyukai putri bos kamu, kenapa tidak menolaknya ? “


“ Tidak bisa umi. Elyas tidak bisa menolaknya. “


“ Apa yang sudah kamu lakukan terhadap putrinya hingga bos kamu memaksa kamu menikahi putrinya ? “ cecar umi.


“ Begini ceritanya umi …. “ lalu Elyas menceritakan kejadian sebenarnya yang terjadi di pagi tadi di dalam lift tanpa ada yang terlewat hingga sampai dirinya di panggil oleh tuan Manoj ke ruangannya.


Umi terdengar menghela nafa beratnya. “ Elyas, kamu tidak seharusnya terlalu memikirkan umi. Jika kamu tidak bekerja pun, kita masih bisa hidup. Kebun peninggalan abi kamu cukup luas. Kita masih bisa hidup dari hasil kebun, nak. “


“ Tidak umi. “


“ Elyas, pernikahan itu hanya terjadi sekali seumur hidup. Jadi, menikahlah dengan gadis yang kamu cintai. “ tutur umi.


“ Jika Elyas menikahi Ratna, Elyas pun tidak bisa membahagiakannya umi. Dan Elyas seperti tidak punya harga diri. Karena jika Elyas memilih menikahi Ratna, maka sudah di pastikan Elyas akan kehilangan mata pekerjaan. “


“ Hah. Umi tidak memaksa kamu. Hidup kamu, adalah milikmu. Kamu yang menjalaninya. Apapun yang kamu putuskan untuk hidup kamu, umi akan mendukungnya. “


“ Dan Elyas sudah memutuskan, Elyas akan menerima tawaran tuan Manoj untuk menikahi putrinya. Meskipun putrinya bukanlah seperti gadis idaman Elyas. Dan Elyas minta, umi jangan terkejut saat melihatnya nanti. “


“ Baiklah nak. Umi akan mendukung semua keputusanmu. Hanya satu pesan umi, jangan pernah menyesali keputusan yang sudah kamu ambil. Dan ayo, kita hadapi ini bersama. “ Elyas tersenyum lalu mencium punggung tangan sang umi mendengar penuturan menyejukkan dari sang umi.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2