
Semua sudah kembali seperti semula. Selsa dan Elyas kembali bersama. Semua orang turut bahagia melihat kebersamaan mereka. Bahkan umi sampai di buat menangis ketika Elyas membawa Selsa kembali ke rumah. Walau dengan sedikit drama di awal karena Selsa masih betah tinggal di rumah keluarganya.
Waktu terasa cepat berlalu. Kini tak terasa usia kehamilan Selsa sudah menginjak trimester kedua. Perutnya sudah agak membuncit. Baju kerjanya banyak yang sudah tidak muat ia pakai.
" Mas, aku hari ini nggak ikut ngantor aja deh. " ucap Selsa dengan bibir yang cemberut.
" Kenapa? " tanya Elyas sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Ia baru saja keluar dari dalam kamar mandi.
Selsa masih berdiri di depan cermin. Ia memiringkan tubuhnya, lalu melihat pantulan perutnya di sana. Dengan menarik kaos yang ia kenakan, terlihat perutnya yang membuncit.
" Baju kerja aku nggak ada yang muat. Masak kancingnya bagian bawah pada nggak bisa di kancingkan. " adunya. " Lihat nih, perut aku makin begah. Makin melar. " ia mengelus perut buncitnya.
" Namanya juga lagi hamil kan? Nanti kita mampir ke mall, beli baju baru yang gedean buat kamu pakai kerja. " jawab Elyas.
" Badan aku jadi melar gini ya? Semuanya jadi makin gede aja deh. " Selsa memutar tubuhnya ke kiri dan ke kanan.
Selsa memeluk tubuh Selsa dari belakang. " Makin gede, tapi makin sek sy. " ucapnya.
" Cie... cie ... cie ... Pak ustadz udah tahu kata sek sy aja. " goda Selsa.
" Tahu dong. Kan istriku yang ngajarin. Yang kasih lihat cewek sek sy tuh kayak apa. " jawab Elyas.
Selsa menanggapinya dengan tawa ringan. " Iya kah? "
Elyas mengangguk, lalu meletakkan dagunya di atas bahu Selsa. " Ini makin gede. " tangan Elyas berselancar ke pan tat. " Ini juga makin gede. " selanjutnya meraih da da Selsa.
" Kamu nggak pakai br@? " tanya Elyas ketika tangannya merayap ke atas dan dia bisa merasakan puncak gunung kembar sang istri menyembul.
" Hehehe.... " Selsa tertawa sambil menggeleng. " Habisnya semua br@nya aku, nggak ada yang muat. Kalau pakai br@ yang lama, susah nafas jadinya. "
" Ya udah, kita beli br@ aja dulu. Sama baju hamil. Kayaknya kamu udah butuh baju hamil deh. Biar aku ijin datang siangan ke kantor. " ujar Elyas.
" Baju hamil? Daster gitu maksudnya? " Selsa sedikit memiringkan wajahnya menghadap sang suami hingga hidung mancungnya menggesek pipi Elyas.
Elyas tersenyum lalu mengecup ujung hidung Selsa. " Baju hamil bukan hanya daster sayang. Banyak kok sekarang baju hamil dengan model kekinian. "
" Tahu dari mana? Emang pernah beli baju hamil? " tanya Selsa.
" Kemarin habis lihat postingan di medsos. " jawab Elyas.
" Tapi kita pergi, akunya pakai apa? "
" Pakai yang lama aja dulu. Masak iya kita mau ke mall kamu nggak pakai br@? Haiss... Aku nggak rela kalau kesayanganku di minati orang lain. " dengus Elyas.
__ADS_1
" Nggak muat mas. "
" Sedikit di paksa aja dulu. Nanti habis beli, kamu bisa ganti ke toilet. " jawab Elyas. " Aku pilihin deh. Kalau baju, kamu pakai kaos aku aja gimana? " tanya Elyas sambil berjalan menuju almari.
Elyas lalu memilih milih bajunya. Ia tersenyum kala menemukan sebuah kaos yang pastinya pas di tubuh sang istri.
" Ini kayaknya pas buat kamu. " ia menunjukkan sebuah kaos berwarna biru laut ke Selsa.
Selsa menerimanya. " Kayaknya pas ini. " ucapnya sambil menempelkan kaos itu ke tubuhnya dan menelitinya.
" Sekarang, akan aku ambilkan br@ yang tidak terlalu kekecilan. " Elyas kembali mengaduk isi almarinya.
Dahi Elyas mengernyit, karena semua dalaman Selsa berukuran sama. Dan pasti akan kekecilan jika ia paksa untuk di pakai.
Setelah berpikir beberapa saat, ia menemukan sebuah ide. Ia kembali membuka almari bagian pakaiannya, lalu mengambil sebuah syal.
" Sayang, pakai ini saja. Yang penting, puncak da da kamu nggak nongol aja. " usulnya.
" Ih, gerah kalau pakai syal itu. Kan tabel syal nya. " tolak Selsa.
Elyas mengamati syal yang ada di tangannya. Ia membolak-balikkannya. Iya, memang tebal. Pasti panas di pakainya. Ia lalu memutar otaknya kembali. Dan sebuah ide muncul di dalam otaknya kembali.
Ia mengembalikan syal itu ke almari, lalu menutup rapat lemarinya. Ia berjalan menuju meja kerjanya, lalu membuka lacinya. Ia ambil han_saplast dari dalam laci itu. Lalu ia kembali menghampiri sang istri yang sedang duduk cantik di tepian ranjang.
" Maksudnya? " Selsa menautkan kedua alisnya.
Tanpa menjawab, Elyas membuka atasan piyama sang istri.
" Eh,... eh ... mau apa? Jangan mas Elyas pengen. Katanya mau ke mall? " ujarnya.
Tapi Elyas tetap diam. Setelah piyama sang istri terlepas, ia mengamatinya sebentar. Lalu membuka bungkus han_saplast itu. Bohong jika bagian bawahnya tidak berekspresi. Samurai nya sudah keluar dari sarungnya karena terlalu sesak. Apalagi dia saat ini hanya mengenakan handuk yang terbelit di pinggangnya.
' Astaghfirullah hal'adzim...' ucapnya dalam hati.
" Aku nggak ada luka loh. Buat apa pakai itu? " tanya Selsa.
" Buat nutup ini. Jadi meskipun kamu nggak pakai br@, ujungnya nggak nyembul. " jawab Elyas sembari serius memasang han_saplast ke ujung da da Selsa. Selsa hanya memperhatikan dalam diam apa yang di lakukan sang suami.
Senyum Selsa merekah kala hasil karya sang suami memuaskan.
" Suamiku emang hebat. " Selsa mengacungkan kedua jari jempolnya.
.
__ADS_1
.
.
" Perut, apa tanjidor itu? " ledek Roy kala ia melihat Selsa di kantor.
Mereka bertemu di lobi kantor saat Selsa serta Elyas hendak makan siang.
Kini usia kehamilan Selsa sudah menginjak bulan ke enam.
Selsa mencebik. " Makanya, cepetan cari istri. Biar tahu gimana rasanya kalau punya istri lagi hamil. " ledeknya.
" Udah yuk mas. Biarkanlah anjing menggonggong kafilah berlalu. " lanjutnya.
" Kamu ngatain aku anj***!! "
" Ngerasa? " Selsa mengamit lengan sang suami.
" Iri??? Bilang bosss!!!! " ledek Selsa kembali kala mereka mendapati Roy sedang memperhatikan tangannya yang mengamit lengan sang suami.
" Mau kemana kalian? " tanya Roy.
" Makan lah. Ponakan kakak laper. "
" Ponakan aku di jadiin alasan. Bilang aja kamu yang lapar. " sahut Roy. " Sebaiknya makan siang di rumah. Kebetulan kata mama, mama kangen sama kamu. Siang ini masak rendang kesukaan kamu. "
" Oh ya??? Mauuu... " rengek Selsa ke sang istri. Dan Elyas hanya bisa mengangguk tanpa bisa menolak.
" Kita pakai mobil aku aja. Biar barengan. Nggak nambah-nambahin polusi di kota. " sahut Roy.
Dan akhirnya mereka pergi dengan menaiki mobil Roy sama-sama.
Dan semenjak kejadian waktu lalu, kini kehidupan Selsa juga Elyas selalu di liputi kebahagiaan. No pelakor lagi tentunya karena Ratna sudah benar-benar meminta maaf ke Selsa langsung dan kini, Ratna memilih tinggal dengan pamannya diluar kota, dan bekerja di sana selepas ia menyelesaikan pendidikan D3 nya.
🧚🧚🧚
Akhirnya, cerita Elyas sama Selsa berakhir di sini ya guyyyssss....
Untuk cerita Roy, udah othor buatkan lapak tersendiri ya... bersama si kembarnya babang Julio dan neng Andhara...
So, tetep di kepoin akun othor... See you on the next project
THE END
__ADS_1