
" Udah aku bilang, kamu nggak usah masak aja. " tegur Elyas. Ia tidak tega melihat sang istri memasak sambil mendesis - desis bak ular sanca. Belum lagi gaya berjalannya yang udah mirip bebek.
" Kalau aku nggak masak, mas Elyas sarapannya gimana? Masak umi aku suruh masak? Terus, nanti umi sarapannya juga gimana? " sahut Selsa sambil wira-wiri menyiapkan semuanya. Wira-wiri sambil sesekali mendesis dan langkah yang mirip bebek.
" Kalau masalah itu gampang. Nanti aku belikan lauk di warung deket balai desa. Di sana masakannya lumayan enak. Kamu tinggal masak nasi aja. " sahut Elyas sambil mengikuti kemanapun langkah Selsa. Ia hanya ingin berjaga-jaga, siapa tahu istrinya tiba-tiba oleng atau gimana.
Berlebihan? Sudah pasti. Laki-laki kalau udah bucin, pasti berlebihan. Kadang ngeselin juga kalau udah keluar over protective nya.
" Kalau beli di warung, terlalu banyak micinnya. Nggak sehat buat kita. " sahut Selsa tanpa mau menghentikan aktivitasnya.
Elyas menghela nafas beratnya. " Ya udah, aku bantuin sini masaknya. " ucapnya pada akhirnya.
" Emang bisa ? " kali ini Selsa menoleh.
" Ck! Kamu meragukan kemampuan memasakku rupanya. " sahut Elyas. Ia lalu berdiri di samping sang istri yang sedang mengupas bumbu.
Dan akhirnya mereka memasak berdua sambil sesekali bercanda. Enak kan Yas, kalau membuka hati buat istri? Adem kan di hati ? Mungkin itu yang akan di bilang para reader. ðŸ¤
" Ssshhh.... " Selsa kembali mendesis.
Elyas menghentikan aktivitasnya, lalu ia menarik tangan Selsa dan membawanya duduk di kursi.
" Sakit banget ya? " Elyas berjongkok di depan Selsa sambil memandang wajah cantik Selsa.
Selsa menjawab dengan senyuman hangat. Seperti inikah rasanya di perhatikan oleh sang pemilik hati?
" Maaf. Aku keterlaluan. Demi Allah, aku tidak tahu jika akibatnya seperti ini. Membuat kamu kesakitan. Aku pikir kamu juga enak. " ucapnya dengan tatapan menyendu dan mengelus pipi Selsa.
" Aku tidak apa-apa. Semua perempuan pasti mengalami hal ini setelah melakukan untuk pertama kalinya. Untuk yang kedua dan seterusnya, pasti tidak akan sakit lagi. " jawab Selsa sembari membalas belaian di pipi suaminya.
" Ya sudah, kamu duduk saja. Biar aku yang meneruskan memasak. " Elyas bangkit dari jongkoknya, dan berjalan menuju ke meja dapur.
Selsa tersenyum sambil memandang punggung suaminya. Ah, kenapa dirinya tidak nekat dari dulu untuk menggoda suaminya lebih dulu. Kalau tahu akan begini rasanya setelah melakukan hal itu, ia rela jika harus merasakan sakit di area bawahnya selama dua hari dua malam.
Selsa terkikik mendapati pikiran mesumnya.
" Sayang, hari ini kamu istirahat saja di rumah. Aku akan bilang sama HRD. " ucap Elyas sambil menoleh ke belakang sesaat.
Mata Selsa membola kala mendengar Elyas memanggilnya sayang. Ah, boleh nggak sih gulung-gulung di lantai sambil koprol? pikir Selsa. Hanya mendengar panggilan sayang saja rasanya se-amazing ini.
" Boleh ? " tanyanya sambil cengar-cengir sendiri.
Elyas mengangguk sambil mengaduk nasi gorengnya. Selsa berdiri, lalu berjalan mendekat ke Elyas. Ia lalu melingkarkan kedua tangannya ke perut Elyas. Memeluk suaminya dari belakang. Menyandarkan kepalanya di tengkuk suaminya. Oh, nyaman sekali rasanya.
__ADS_1
" Hei, kenapa malah berdiri? " Elyas sedikit terkejut saat merasakan pelukan istrinya. Jantungnya sudah bak lari maraton saja.
Tapi tak urung, ia menoleh ke samping, dan mengelus tangan Selsa yang berada di atas perutnya dengan tangan kirinya.
" Pengen gini aja bentar. " ucap Selsa sambil menggosok-gosokkan pipinya ke punggung Elyas.
Elyas tersenyum. Ia pun sebenarnya sangat senang istrinya seperti ini. Mungkin pikiran Elyas dan Selsa sama. Karena Elyas pun berpikir, kenapa hal ini tidak ia lakukan dari dulu? Rasanya sungguh wow.
Akhirnya Elyas menyelesaikan acara memasaknya dengan Selsa yang menempel di punggungnya. Udah seperti cicak cicak di dinding saja.
" Nasi gorengnya udah mateng. Kamu lepas dulu pelukannya. Aku mau ambil mangkuk dulu. " ujar Elyas.
" Hm? Udah mateng ya? Cepet banget. " sahut Selsa sambil mengintip nasi goreng di atas wajan lewat bahu Elyas.
Elyas mengangguk sambil menoleh ke samping hingga kini wajah keduanya begitu dekat. Sungguh tidak bisa jika Elyas tidak menyentuh pipi itu dengan bibirnya.
Cup. Sebuah kecupan Elyas berikan di pipi kanan Selsa dan membuat pipi Selsa merona.
" Mmm mas Elyas mending mandi deh. Siap-siap buat ke kantor. Biar sarapannya aku yang siapin. " ucap Selsa sembari salah tingkah.
" Tapi tinggal mindahin nasi gorengnya aja. Biar aku sekalian. " sahut Elyas.
" Nggak pa-pa mas. Biar aku aja. Nanti kamu bisa terlambat ke kantor. " kekeh Selsa.
" Haiss... Apaan sih? Kayak yang akunya tuh sakit keras aja. " timpal Selsa. " I am oke. " lanjutnya. Ia mengambil mangkuk dari tangan Elyas, dan mendorong Elyas supaya menjauh dari depan kompor.
" Beneran nggak pa-pa? Apa aku ijin juga kali ya? " ujar Elyas.
" Mau ngapain ikutan ijin? Kamu juga sakit? " beo Selsa.
" Mau nemenin kamu di rumah. " jawab Elyas.
" Dih, kayak aku lagi sakit keras aja. Aku tuh nggak pa-pa mas. " jawab Selsa sambil memindahkan nasi goreng dari atas wajan ke mangkuk.
" Mendingan kamu cepetan siap-siap ke kantor, terus sarapan. " lanjut Selsa tanpa mengalihkan pandangannya dari nasi gorengnya.
" Iya deh. " jawab Elyas pada akhirnya. Dan sebelum ia meninggalkan Selsa di dapur sendiri, ia kembali mengecup pipi Selsa dari samping.
" Isshhh... Bikin kaget aja. " gumam Selsa.
" Mau lagi nggak? " goda Elyas.
" Apaan sih! " protes Selsa.
__ADS_1
" Ya kali aja mau minta lagi. Tapi di bibir. " Elyas makin seneng aja godain istrinya.
" Au' deh. " sahut Selsa. Membuat Elyas terkekeh sambil meninggalkan Selsa di dapur yang tengah tersenyum simpul. Ia tidak menyangka jika suaminya bisa bersikap semanis itu.
Sedangkan dari luar jendela, seseorang tengah menangis terharu sambil bersyukur kepada Allah SWT melihat sikap anaknya yang sudah berubah.
Umi memang sedang berada di gazebo belakang kala Selsa dan Elyas sedang memasak. Dan beliau melihat interaksi keduanya meskipun beliau tidak mendengar apa yang anaknya bicarakan hingga bisa seasyik itu.
Tapi apapun itu, beliau tetap bersyukur. Sepertinya hubungan keduanya semakin membaik.
" Umi, sarapan dulu yuk. " panggil Selsa dari ambang pintu belakang. Biasanya ia akan menyambangi umi di manapun umi berada. Tapi rasa pedih dan kebas dari area bawahnya membuatnya terpaksa memanggil umi dari kejauhan.
Umi mengangkat wajahnya, lalu tersenyum dan mengangguk. Beliau berdiri, berjalan menuju ke arah Selsa yang masih menunggunya di ambang pintu.
" Ayo umi. Mas Elyas juga udah nungguin di ruang makan. " ajak Selsa sembari mengamit lengan umi.
Dengan gaya jalan barunya, Selsa berjalan berdampingan dengan umi. Dan hal itu tentu tak lekang dari pengamatan umi. Ah, sepertinya mereka sudah bergerak jauh ke depan. batin umi sambil tersenyum.
" Ayo umi kita sarapan. " ajak Elyas.
Umi mengangguk, lalu duduk di bangkunya. Dan Selsa, juga duduk di kursi di sebelah Elyas.
" Cerah banget muka kamu Yas hari ini. Kayak habis dapet lotre. " canda umi.
Selsa menghentikan aktivitasnya mengambilkan nasi untuk suaminya. Ia cukup malu mendengar ucapan umi.
" Lebih dari lotre umi. Tapi jackpot. " jawab Elyas santai. Dan jawaban Elyas, membuat Selsa makin salah tingkah.
Umi bahagia melihatnya. Ah, sebentar lagi beliau bisa menimang cucu. Bahagianya....
" Yas, istri kamu kenapa jalannya ngangkang gitu ? Kayak kamu pas habis su nat dulu. " canda umi ketika Selsa tengah membereskan piring bekas makan mereka di bawa ke dapur. Mereka telah usai sarapan.
" Umi bisa aja. " jawab Elyas setelah ia melihat ke arah Selsa yang sudah berjalan menjauh.
" Kamu jangan terlalu gahar Yas. Lihat tuh, Selsa jadi kayak bebek gitu jalannya. Nanti pulang dari kerja, kamu belikan salep buat dia. " ujar umi.
" Salep? Salep apa umi ? Bukan salep panu, kadas dan kurap kan? " ujar Elyas. Pengen tepuk jidat nggak sih ? Eh, salah., bukan tepuk jidat. Tapi tepuk tuh bibir si Elyas.
" Ck, kamu itu. Salep buat itunya istri kamu. Biar nggak sakit lagi. Kalau sakitnya nggak hilang-hilang, bisa-bisa dia trauma sama kamu." ujar umi.
" Dih, umi. Kok gitu doanya. " gerutu Elyas. Umi malah tersenyum menjawabnya
bersambung
__ADS_1