
Tok .... Tok .... Tok ...
Bunyi pintu kamar Selsa di ketuk dari luar. Belum ada sambutan dari dalam. Ruby terlihat khawatir karena Selsa belum keluar dari dalam kamar semenjak datang pagi menjelang siang tadi. Putrinya itu bahkan belum makan siang.
Tok ... Tok ... Tok ...
Pintu kamar kembali di ketuk. Selang beberapa saat, masih belum ada jawaban. Ruby makin khawatir.
" Aku buka aja kali ya. Kok khawatir gini. " gumamnya. " Semoga saja pintunya tidak dikunci dan Selsa tidak marah aku masuk ke kamarnya begitu saja. " lanjutnya.
Meskipun ia tahu Selsa sudah mau menerimanya dengan lapang, tapi terkadang masih ada rasa belum percaya diri dalam diri Ruby untuk menempatkan dirinya benar-benar sebagai mamanya Selsa.
Ceklek
" Syukurlah pintunya tidak di kunci. " gumamnya sembari membuka pintu lebih lebar dengan perlahan supaya tidak menimbulkan suara berisik yang bisa mengganggu sang pemilik kamar.
Ruby masuk ke dalam kamar setelah pintu terbuka setengah. Ia berjalan perlahan mencari si pemilik kamar. Kamar itu terlihat gelap karena Selsa menutup tirainya.
Ketika Ruby sampai di dekat ranjang, ia melihat putri sambungnya itu masih meringkuk di dalam selimut. Ia mendekat, duduk di tepian ranjang. Di sibaknya perlahan rambut Selsa yang berantakan.
" Dia habis menangis? " gumam Ruby ketika melihat air mata yang mengering di sudut mata Selsa.
Ruby membelai lembut puncak kepala Selsa. Lalu ia menghapus bekas air mata di sudut mata Selsa. Perlahan Selsa mulai bangun ketika merasakan sentuhan di wajahnya.
" Mama... " panggilnya dengan suara parau. Ia mengira jika suaminya yang datang. Tapi ternyata sang mama sambung. Selsa bernafas lega.
" Oh, maaf sayang. Mama mengganggu tidurmu " ucap Ruby merasa tidak enak.
" Nggak pa-pa ma. " jawab Selsa. " Jam berapa ini ma? " tanyanya.
" Udah jam 3 sore lebih sayang. " jawab Ruby.
" Uhh, udah sore? Lama banget aku tidurnya. " Selsa menggeliat, lalu ia bangun dari tidurnya dan menyandarkan tubuhnya di head board ranjang.
" Kamu habis menangis? " tanya Ruby perlahan dan hati-hati.
__ADS_1
Selsa menoleh ke arah Ruby, lalu ia menghembuskan nafas lelahnya. Ia lalu memejamkan matanya. Ia akan berterus terang kepada Ruby. Paling tidak, di rumah ini, Ruby adalah orang yang bisa ia percaya meredakan amarah papa juga kakaknya ketika mereka tahu apa yang telah terjadi.
" Ma... Selsa bingung. " ucap Selsa.
" Bingung kenapa nak? " Ruby mengernyit.
Selsa mendekat ke sang mama sambung, lalu meraih tangannya untuk di genggam.
" Selsa hamil ma. " ucap Selsa lirih dengan mata berkaca-kaca.
" Apa?? " Ruby terkejut sekaligus senang mendengar kabar itu. " Kamu hamil sayang? "
Selsa mengangguk, lalu menunduk. Tak ada raut wajah bahagia di sana. Membuat Ruby mengerutkan bibirnya hingga senyuman lebar di bibirnya menghilang.
" Lalu, kenapa kamu sepertinya tidak senang? Hem? Ada yang salah dengan kehamilan kamu? " tanya Ruby kembali mengernyit.
Selsa menggeleng lemah. " Kandungan Selsa baik-baik aja ma. " ucapnya.
" Lalu? " tanya Ruby.
" Hiks... " Selsa kembali menangis mengingat rumah tangganya.
Selsa melepas pelukannya. " Hati Selsa sakit ma. " ucapnya.
Sruuut..
Selsa menarik ingus yang ada di hidungnya. " Mas Elyas... Dia ... Hiks ... Hiks .... " ia merasa tak sanggup berbicara. Rasanya masih sangat sakit bagi Selsa.
Ruby diam. Ia membiarkan Selsa menangis mengeluarkan semua kesedihannya. Ia hanya menggenggam erat tangan Selsa. Menyalurkan kekuatan, dan meyakinkan Selsa jika ia tak sendiri.
" Mas Elyas jahat ma sama Selsa. " ucap Selsa setelah ia sedikit tenang. " Mas Elyas nggak cinta sama Selsa. Dia hanya terpaksa menikahi Selsa. "
" Apa maksud kamu, nak? Bukankah hubungan kalian baik-baik saja? Bahkan mama saja tidak pernah mendengar kalian bertengkar atau apa. " sahut Ruby.
Selsa menggeleng. " Semua tidak seperti yang terlihat di luar ma. Mas Elyas nggak pernah mencintai Selsa. Selsa adalah perempuan kotor di matanya. Buat mas Elyas, mungkin Selsa tak ubah seperti perempuan murahan di luaran sana. Selsa memang salah. Suka keluyuran nggak jelas ke night club tiap malam. Selsa juga suka minum minuman beral kohol. Tapi demi Allah ma, Selsa selalu menjaga kehormatan Selsa sebagai perempuan. Selsa nggak pernah terlibat dalam pergaulan bebas. " ujar Selsa mulai mengeluarkan keluh kesahnya.
__ADS_1
" Selama ini, Selsa selalu berusaha untuk memperbaiki diri. Selsa meninggalkan semuanya setelah menikah. Tapi sepertinya mas Elyas tetap tidak bisa menerima. Baginya, Selsa adalah ja lang. " lanjutnya sambil kembali tersedu.
" Ya Tuhan... Sayang ... " Ruby sungguh terkejut dengan apa yang di dengarnya. Ia lalu memeluk Selsa erat.
" Lalu bagaimana rumah tangga yang kalian jalani selama ini nak ? " tanya Ruby sambil melepas pelukannya.
" Kami hanya tidur satu kamar ma. Tapi tidak pernah di ranjang yang sama. Sampai setelah beberapa bulan usia pernikahan kami, sikap mas Elyas semakin berubah. Dan Selsa... Selsa akui, Selsa bersikap agresif terhadap mas Elyas hingga terjadilah malam pertama kami ma. " lanjut Selsa bercerita.
" Setelah malam itu, sikap mas Elyas benar-benar berubah. Dia mengatakan jika dia mencintai Selsa. Tapi sekarang, Selsa nggak tahu. Harus percaya jika mas Elyas mencintai Selsa atau tidak. "
" Sayang... Bukankah setiap orang itu bisa berubah? Mungkin Elyas benar-benar sudah mencintai kamu. Karena cinta, bisa datang kapanpun seiring berjalannya waktu. Apalagi kalian setiap hari bersama. Tidak menutup kemungkinan kan, jika rasa cinta itu hadir di hati Elyas? " ujar Ruby.
" Selsa sebenarnya tidak begitu mempermasalahkan hal ini ma. Tapi yang membuat Selsa merasa sakit hati dan kecewa, kenapa mas Elyas harus mengatakan kepada orang lain? Mas Elyas mengatakan kepada orang lain, jika ia tidak akan pernah bisa menerima Selsa sebagai istrinya karena buat mas Elyas, Selsa hanya perempuan yang kotor. Mas Elyas mengatakan kepada orang lain kalau Selsa ini sudah tidak suci lagi. Hiks ... hiks .... " Selsa kembali tersedu.
" Astaghfirullah...Dia mengatakan sama umi? " tanya Ruby.
Selsa menggeleng. " Selsa tidak akan sekecewa ini jika hanya umi yang ia beritahu, ma. " Selsa menjeda omongannya.
" Tapi mas Elyas mengatakan hal itu pada calon istrinya yang dia tinggalkan karena harus menikahi Selsa. "
" Apa? Tapi ... Bagaimana kamu bisa tahu hal ini? "
" Perempuan itu yang mengatakannya sendiri ke Selsa ma. Kemarin dia mengatakannya di depan orang banyak. Selsa sungguh seperti perempuan yang tidak ada harganya. Dan yang paling menyesalkan buat Selsa, kenapa mas Elyas harus mengatakan hal itu pada orang lain? Kenapa dia nggak mengatakannya sama Selsa aja ma.... " tangis Selsa kembali pecah.
" Tenang sayang... Sabar... Allah pasti akan memberikan petunjuk yang terbaik buat kamu. Tinggallah di sini sama mama sama papa. Mama akan menjaga kamu, juga bayi kamu. " ujar Ruby menenangkan sambil mengelus punggung Selsa.
" Kamu masih mempunyai kami. Sekarang yang harus kamu pikirkan adalah bayi kamu. Jangan karena kamu stress memikirkan ayahnya, kamu jadi melupakan bayi kamu yang juga butuh ketenangan. " lanjutnya sambil mengelus perut Selsa yang masih rata.
" Selsa juga ingin tinggal di sini aja ma. Dia juga nggak mau deket-deket ayahnya. " Selsa memandang ke bawah, ke arah perutnya . " Selsa selalu merasa mual dan muntah kalau deket-deket sama mas Elyas.
Ruby tersenyum. " Mungkin bayi kamu tahu, jika ibunya sedang tidak ingin bertemu ayahnya. Ibunya butuh waktu untuk sendiri dan berpikir. " ucapnya sembari membelai pipi Selsa.
Selsa tersenyum tapi air matanya masih menetes. " Terima kasih, mama. " ucapnya tulus.
" Sama-sama sayang. Sekarang, tenangkan hati kamu. Setelah hati kamu tenang, hadapilah semuanya dengan keikhlasan. Serahkan semuanya kepada Allah SWT. Mungkin saja, apa yang kalian alami ini hanya sekedar salah paham. Mintalah petunjuk-Nya. " sahut Ruby.
__ADS_1
" Sekarang, lebih baik kamu ambil air wudhu, sholat Ashar dulu sebelum waktunya habis. Lalu turun, makan. Kamu melewatkan waktu makan siangmu. Mama ke bawah dulu untuk menyiapkan makanan buat kamu, juga calon cucu mama. " pamit Ruby yang di jawabi anggukan oleh Selsa.
bersambung