Pak Ustadku

Pak Ustadku
Lelenya nakal


__ADS_3

Di kantor, pikiran Elyas melayang. Antara mengingat ucapan umi dan memikirkan kesehatan umi. Apa istrinya benar-benar bisa menjaga dan merawat uminya yang sedang sakit? Apa benar, istrinya itu menyayangi umi seperti yang di katakan umi?


Ah, pikiran Elyas bercabang. Antara pekerjaan di kantor, dan keadaan umi. Akhirnya Elyas memutuskan untuk menghubungi umi.


" Assalamualaikum umi. " sapanya ketika sang umi mengangkat panggilannya.


" Waalaikum salam Yas. " sahut umi.


" Bagaimana keadaan umi? Apa masih panas? Umi masih lemes? Masih pusing? Apa Elyas pulang sekarang saja? " tanya Elyas beruntun.


" Ck! Kamu ini. Nanya satu-satu. Umi bingung harus jawab yang mana dulu. " Umi berdecak.


" Maaf umi. Elyas khawatir sama umi. " jawab umi.


" Kamu tenang aja. Umi udah baikan. Ada mantu umi yang subhanallah begitu baik dan begitu memperhatikan umi. " tutur umi lembut.


" Tadi, istri kamu udah manggilin dokter buat umi. Udah bikinin umi bubur. Umi udah minum obat juga. Di pijitin juga sama istri kamu. " jelas umi.


" Alhamdulillah kalau begitu. Apa dia ada di sana umi? " tanya Elyas. Entah mengapa, ada rasa ingin tahu apa yang sedang di lakukan istrinya saat ini.


" Dia lagi nggak ada di sini. Umi menyuruhnya untuk sarapan dulu.


" Jam segini dia belum sarapan umi ? " tanya Elyas. Tiba-tiba saja hatinya kini khawatir dengan istrinya. Sudah siang, bahkan jam dinding sudah menunjukkan pukul 10. Tapi Selsa belum sarapan.


" Iya. Dia bilang mau nungguin umi sampai kondisi umi membaik. Jadi, sedari tadi pagi, dia nemenin umi di kamar terus. Baru setelah demam umi turun, dia mau umi suruh sarapan. " jawab umi.


" Udah, kamu nggak perlu khawatir sama umi. Umi udah berada di tangan yang tepat. Mendingan kamu pikirkan apa yang umi bilang ke kamu tadi pagi. " lanjut umi.


" Iya umi. " jawab Elyas sambil mengangguk. " Assalamualaikum. "


" Waalaikum salam. " jawab umi.


Klek


Hah. Elyas menghembuskan nafas panjang setelah panggilannya dengan umi berakhir. Ia lalu memijit pangkal hidungnya.


Kini ia kembali memikirkan ucapan umi tadi pagi. Ia ingat, bagaimana umi menceritakan segala kebaikan istrinya. Dan ia juga mengingat kembali, merunut kembali, kejadian demi kejadian yang terjadi di rumahnya selama ada Selsa di sana.


Umi menjadi lebih segar. Rumah juga terawat. Istrinya itu terlihat begitu menyayangi umi. Begitu perhatian dengan umi. Bukankah ia dulu punya keinginan untuk mencari istri, di mana istrinya itu kelak akan menyayangi dan ikut menjaga umi bersamanya? Dan sekarang, Tuhan sudah memberikannya.


Lalu, kenapa dirinya malah tidak mensyukuri pemberian Allah ini? Kenapa dia malah selalu seolah-olah menghindari terus?


Bahkan Allah memberikannya bonus. Selsa, istrinya itu juga begitu perhatian terhadapnya. Meskipun dirinya belum menjadi suami yang baik, Selsa selalu berusaha menjadi istri yang baik untuknya.


Selsa selalu memenuhi semua kebutuhannya. Mulai dari menyiapkan masakan, minuman, baju ganti, mencuci baju-bajunya. Semua hal yang selama ini tidak pernah ia lakukan, karena ia sejak lahir sudah terlahir dari keluarga yang kaya raya. Ia ikhlas melakukannya untuk suaminya.


Elyas termenung memikirkan semuanya. Apalagi semalam dirinya melakukan sholat istikharah setelah dirinya bermunajat dengan sholat tahajud di sepertiga malam yang terakhir.


Allah SWT langsung memberikannya petunjuk. Allah menghadirkan sebuah mimpi yang Elyas yakini itulah petunjuk dari Allah sebagai jawaban istikharah nya.


Semalam dirinya bermimpi menggendong seorang bayi lucu dengan wajah yang begitu mirip dengannya, dan Selsa berdiri tak jauh di belakangnya dengan senyuman yang merekah. Selsa mengenakan gamis dengan hijab yang menutupi kepalanya kala itu.


Kini Elyas memberanikan diri untuk memantapkan hatinya untuk membukanya supaya sang istri bisa masuk ke dalamnya. Meskipun tanpa ia sadari, nama Anjeli Selsa Rakesh telah masuk dan tersemat cantik di dalam hatinya.


Kini, ia juga sudah membulatkan tekad untuk menghilangkan nama Ratna Renggalih dari dalam hatinya. Ia sadar, tidak seharusnya dia menyimpan nama perempuan lain di saat dirinya telah mengucap ijab kabul terhadap perempuan lain.

__ADS_1


" Bismillahirrahmanirrahim... " ucap Elyas lirih.


.


.


.


Hari itu, Elyas pulang dari kantor lebih awal. Khawatir dengan umi tentu saja. Juga ia merasa ingin segera bertemu dan melihat sang istri.


" Assalamualaikum... " ucap Elyas kala memasuki dalam rumahnya.


Tidak ada yang menjawab. Elyas lalu masuk ke dalam. Tujuan pertamanya adalah kamar umi. Ia ingin melihat keadaan umi.


Tok... Tok .. Elyas mengetuk pintu kamar umi yang terbuka.


" Assalamualaikum umi... " ucapnya sambil berjalan masuk ke dalam kamar.


" Waalaikum salam... " jawab umi. Beliau melepas kaca mata bacanya dan menutup buku kitab yang sedari tadi beliau baca.


" Kok sudah pulang Yas? " tanyanya sambil menerima uluran tangan Elyas.


" Iya umi. Elyas ijin pulang cepat. Khawatir sama umi. " jawab Elyas.


" Alhamdulillah, umi udah baik-baik saja. Kan umi punya perawat yang istimewa. " kekeh umi mengingat bagaimana sang menantu merawat dan menjaganya hari ini.


Selsa sama sekali tidak membiarkannya melakukan apapun sendiri. Bahkan ke kamar mandi saja, Selsa menunggunya di depan pintu kamar mandi.


" Syukurlah umi. " jawab Elyas.


" Umi... " Elyas menggenggam tangan umi. Umi menoleh. " Elyas minta restu sama umi. Elyas sudah memutuskan untuk menerima Selsa sebagai istri Elyas seutuhnya. " ucapnya.


" Alhamdulillah... " ucap umi berucap syukur dengan keputusan anaknya. " Umi akan selalu mendoakan yang terbaik buat kalian. " lanjutnya. " Ah, umi jadi tidak sabar ingin segera menggendong cucu." candanya.


" Umi apaan sih. " Elyas berucap sambil malu-malu.


" Elyas mau bersih - bersih dulu. Gerah umi. " pamit Elyas yang sengaja menghindari godaan umi.


" Iya. Mandi sana biar wangi... Istri kamu lagi masak buat makan malam tuh di dapur. " umi memberitahukan sembari kembali mengenakan kaca mata bacanya.


Elyas mengangguk, lalu beranjak keluar dari dalam kamar umi. Bukan kamarnya tujuannya. Kini tujuannya beralih ke dapur. Rasa ingin bertemu sang istri kembali membuncah.


Elyas berjalan menuju dapur dengan hati dag dig dug. Tapi ketika dirinya tiba di depan pintu dapur, ia terkejut. Matanya memicing, kedua alisnya saling bertaut.


Siapa itu? tanya Elyas dalam hati.


Ia melihat seseorang sedang berada di depan kompor, memegang spatula, dengan mengenakan helm di kepala, lalu sarung tangan, dan kaos kebesaran berlengan panjang.


Alisnya kembali tertaut. Bukankah itu helm miliknya? Lalu ... Bukankah kaos itu juga kaos miliknya? tanya Elyas dalam hati kembali.


Lalu ia kembali memperhatikan seseorang yang berada di dapur tadi. Postur tubuh itu seperti tidak asing di mata juga hatinya. Ia berjalan mendekat.


" Aaaaa.... " teriak seseorang itu sambil memasukkan ikan ke dalam penggorengan.


" Selsa? " ujar Elyas.

__ADS_1


Seseorang yang merasa namanya di sebutkan, menoleh ke belakang. Ia lalu membuka kaca helm yang di pakainya.


" Astaghfirullah... " ucap Elyas.


" Mas, kok udah pulang? Emang udah mau magrib ya ini? " ucap Selsa. Ia lalu meletakkan spatula di atas meja, mengulurkan tangannya ke Elyas.


Sudah menjadi kebiasaan baginya, jika ia tidak pergi bersama sang suami, ia akan mencium tangan suaminya ketika suaminya itu mau pergi ataupun pulang.


" Kamu ngapain pakai helm segala? Emang ada polisi di dapur? " tanya Elyas.


" Hehehe.... " Selsa memamerkan deretan gigi putihnya. Ia melepas helm yang tersemat di kepalanya.


" Ikan lelenya nakal. " tunjuk Selsa ke atas wajan. " Mau di masak aja baru di masukin ke wajan pakai loncat-loncat. Minyak jadi beterbangan. Meletus-letus mirip kembang api. " adunya.


" Hahahah.... " Elyas tertawa terbahak - bahak mendengar cerita istrinya.


" Ih, kok malah ketawa sih! " Selsa memprotes sambil memanyunkan bibirnya.


" Lelenya kan udah mati. Mana dia bisa loncat-loncat coba? " kekeh Elyas.


" Ih itu nyatanya bisa. Dia loncat-loncat. Kalau nggak percaya, coba aja mas Elyas yang goreng lelenya. "


Elyas langsung menggeleng. " Nggak ah. Aku mau mandi aja. " jawabnya. Ia mana mungkin mau menggoreng lele. Ia tahu betul jika kita menggoreng ikan lele, pasti minyaknya akan meletup-letup.


" Eh, mas Elyas mau kemana? " tanya Selsa seketika sambil menarik kencang lengan Elyas. Hingga membuat Elyas berbalik dan tubuhnya menumbur tubuh Selsa.


Kini posisi mereka saling berhimpitan, berdekatan, bahkan sangat dekat. Wajah mereka saling berhadapan. Mata mereka saling menatap.


Mata bulat Selsa berkedip menggemaskan, membuat bulu mata lentiknya menari-nari. Di tambah lagi, bibir pinky nya yang sedikit terbuka, membuat Elyas mengalihkan tatapannya, dari mata berpindah ke bibir. Jakunnya naik turun menelan saliva kala melihat bibir yang pernah ia rasakan sebanyak dua kali itu.


Kali ini, ingin rasanya Elyas kembali merasakan benda kenyal nan lembut itu. Baru saja ia hendak mendekat, tiba-tiba Selsa berpaling.


" Ikan leleku! " pekik Selsa yang langsung menjauh dari Elyas menuju ke dekat kompor.


" Yah, gosong. Lupa nggak di balik. " keluh Selsa sambil berdecak.


Elyas ikut mendekat dan melongok ke arah wajan. Kini posisinya berada tepat di belakang Selsa. Bahkan tubuhnya menempel di punggung Selsa.


" Kalau yang itu gosong, tinggal goreng lagi. Masih ada kan ikan lelenya? " ucapnya.


" Ck ! Kan mas tahu sendiri gimana tadi perjuanganku goreng tuh ikan lele. Harus pakai alat tempur nih. " Selsa menunjukkan apa saja yang ia kenakan tadi.


" Ya udah, sini aku bantu pake in helmnya. " Elyas mengambil alih helm dari tangan Selsa dan memakaikannya di atas kepala Selsa kembali.


" Nah, udah aman nih. Siap buat bertempur sama ikan lele lagi. " lanjutnya sambil menutup kaca helmnya.


Ia lalu berbalik sambil terkikik melihat penampilan sang istri yang menurutnya sangat menggemaskan.


" Mas Elyas mau kemana? " teriak Selsa dari balik helm. " Nggak mau bantuin goreng lele nih ? " tanyanya.


" Aku mau mandi. Gerah nih. Bau keringat juga. " jawab Elyas sambil terus berjalan meninggalkan Selsa sendirian.


Sedangkan di dapur, Selsa menatap sendu ke arah lele yang gosong tadi. Harusnya, acara bertempur bareng lele usai tadi. Tapi karena gorengan yang terakhir gosong, ia harus kembali bertempur melawan lele dan minyak goreng.


Huft. Selsa menghembuskan nafas berat.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2