
Tok
Tok
Tok
Terdengar pintu rumah di ketuk dari luar. Selsa melongokkan kepalanya keluar.
" Umi, sepertinya ada tamu. Selsa lihat dulu ya umi. Siapa tahu itu dokter yang Selsa panggil tadi. " pamit Selsa yang sedang memijat sang mertua. Umi Titin mengangguk.
Selsa lalu segera keluar dari dalam kamar dan menuju ke ruang depan membuka pintu.
" Assalamualaikum... " sapa seorang perempuan paruh baya dari arah luar dengan lengkungan indah dari kedua sudut bibirnya.
Selsa pun menyambutnya dengan senyuman lebar. lalu ia merentangkan kedua tangannya.
" Bener ya ini rumahnya bapak ustadz Elyas, yang mempunyai istri cantik bernama Anjeli Selsa Rakesh? " canda perempuan tadi menggoda Selsa.
" Kangeeennn.... " ucap Selsa sambil menghambur memeluk perempuan tadi.
Perempuan itu pun membalas pelukan Selsa sambil berdecak. " Beneran kangen? Kayaknya kok nggak ya? "
" Ish tante gitu... Selsa beneran kangen loh tante... " sahut Selsa sambil mengecup kedua pipi perempuan paruh baya itu.
" Kangen, soalnya lagi butuh Tante kan? " perempuan tadi pura-pura merajuk.
" Ck ! Beneran tante dokter Fitria.... " sahut Selsa.
" Ck ! Ya udah, siapa nih yang sakit ? Tante buru-buru nih soalnya. "
" Gitu amat tan? "
" Chloe cuma bersama nanni nya saja. Jadi tante nggak bisa ninggalin lama-lama. " jawab perempuan itu. Selsa mengajak perempuan itu untuk masuk sambil mengamit lengannya.
" Kemana Paris tan? " tanya Selsa.
" Biasa... Tuh anak lagi ngintilin lakinya. Perempuan ngidam memang ada-ada aja. " jawab perempuan itu.
" Wuihhh... Tante Pipit mau punya cucu lagi nih... Selamat ya tan... " ucap Selsa.
" Alhamdulillah... " jawab perempuan yang Selsa panggil Tante Pipit itu.
" Sepertinya Agam sama Paris bekerja keras. " celetuk Selsa.
( Ingat dong kalian, siapa dokter Pipit, Agam, sama Paris ? Yang bertanya-tanya siapakah mereka, cus ke cerita othor yang Om Dokter Sarang Hae, sama Cinta Datang Karena Terbiasa )
" Kamu gimana? Udah proses ? " tanya Pipit.
__ADS_1
" Proses ? Tante pikir mau bikin cilok ? " gerutu Selsa.
" Gimana suami kamu? Aman ? Ularnya gede nggak ? " pertanyaan absurb dari seorang Pipit.
" Dih, tante... Emangnya punya uncle Bryan? Kalau uncle jelas gede... "
" Darimana kamu tahu? " Pipit langsung memasang wajah waspada dan menoleh ke Selsa.
" Uncle Bryan kan bule.. Jelas aja gede... Tante pikirannya jangan suka su'udzon deh... " gemas Selsa.
" Ih, kamu sekarang pintar.. Tahu emang apa artinya su'udzon? " ledek Pipit.
" Wah, tante lupa ya... Keluarga nya suami Selsa tuh keluarga kiayi... kalau cuma kata su'udzon aja Selsa nggak tahu, bisa di pecat jadi mantu. Bisa di azab! ". jawab Selsa sambil nyengir.
" Umi... " panggil Selsa kala mereka sudah masuk ke dalam kamar umi.
" Assalamualaikum umi. " sapa Pipit.
" Waalaikum salam... " jawab umi lirih.
Setelah berkenalan dan sedikit berbincang sambil memeriksa kondisi umi, Pipit meresepkan obat tambahan untuk beliau. Selain obat yang Pipit sudah sediakan.
" Umi nggak pa-pa kok. Cuma demam. Kecapekan nih kayaknya. " ucap Pipit sambil tersenyum ke arah umi.
" Menantunya nggak mau ngebantuin umi ya? Kok bisa umi sampai kecapean gini ? " tanya Pipit sambil melirik ke arah Selsa yang sedang cemberut karena pertanyaannya.
" Ya nggak lah umi. " sahut Pipit. " Tapi alhamdulilah... Jika memang Selsa bisa membawa diri. " imbuhnya.
" Dokter sudah lama mengenal mantu saya ? " tanya umi yang melihat kedekatan Selsa dan dokter itu.
Pipit mengangguk. " Sayang, tante haus loh ini. Nggak di bikinin minum ? " ucapnya ke Selsa.
" Oh, Tante mau minum ? Kirain Tante masih demen puasa. Hehehe.... " canda Selsa. Tapi tak urung, ia meninggalkan kamar itu.
Sepeninggal Selsa, Pipit kembali berucap, " Keluarga kami sudah mengenal cukup lama. Memang pada awalnya, suami saya yang mengenal terlebih dahulu. Karena ibu kandung Selsa adalah pasien suami saya. Kami juga tahu bagaimana terpuruknya anak itu ketika harus menerima kenyataan, kehilangan ibunya di usia yang masih kecil. Lalu, ia harus menerima kehadiran ibu baru di saat hatinya belum sempat tertata kembali. Dan di saat itulah Selsa begitu down, kehilangan arah hidup. Bahkan saya sempat tidak mengenali anak itu. Sikapnya berubah 180 derajat. " kilas Pipit.
" Tapi sepertinya anak itu sekarang sudah kembali. Kemarin saya sempat bertemu dengan papanya. Beliau bercerita jika semenjak Selsa menikah, ia mengalami banyak perubahan. Ia menjadi sosok yang jauh lebih baik. Dan kini saya tahu, kenapa dia bisa berubah begitu cepat. Karena dia menemukan keluarga yang tepat. Menemukan umi sebagai sandarannya. " imbuh Pipit.
" Terima kasih atas pujiannya. Tapi apa yang kami lakukan, tidak akan bisa berhasil jika memang Selsa tidak menginginkannya. Anak itu begitu gigih dalam belajar agama. Dia mempunyai keinginan yang sangat besar untuk bisa kembali seperti dulu. Yah, apapun, jika Allah sudah berkehendak, maka itulah yang akan terjadi. " sahut umi.
" Terima kasih umi. Sudah membukakan jalan insyaf buat putri saya. Saya sudah menganggap Selsa seperti anak saya sendiri. Tapi sayang, saat pernikahan Selsa dan nak Elyas, keluarga saya tidak bisa datang. Karena kami sedang pergi keluar kota. " ucap Pipit sambil menggenggam tangan umi.
Umi pun tersenyum dan mengangguk, " Sama - sama dokter. "
.
.
__ADS_1
.
" Kamu bahagia dengan pernikahan kamu Sa ? " tanya Pipit kala mereka sudah berada di luar rumah. Selsa hendak mengantarkan Pipit sampai ke mobilnya.
" Insyaa Allah tan. " jawab Selsa apa adanya.
Pipit mengernyit. " Ada apa ? " tanyanya to the poin kala melihat raut wajah Selsa.
Selsa mengendikkan bahunya.
" Kamu tahu kan? Kamu selalu bisa mengandalkan tante? " Pipit menggenggam erat tangan Selsa.
Selsa mengangguk, lalu menunduk. Kedua sudut matanya mulai basah.
" Apa suami kamu bukan laki-laki yang baik ? Karena Tante yakin, jika kamu tidak bahagia, pasti bukan karena mertua kamu. Beliau terlihat menyayangimu. " ujar Pipit.
" Umi baik tante. " ucap Selsa lirih.
" Berarti suami kamu? Kenapa ? Apa dia sering memukulmu ? Bilang sama tante... Akan Tante balas tiga kali lipat. " ucap Pipit berapi-api.
Selsa menggeleng. " Bukan tan. Mas Elyas nggak pernah mukul atau apapun itu. Tapi dia... Dia sepertinya masih belum bisa menerima Selsa sebagai istrinya. "
Pipit mengernyit. " Maksudnya belum bisa menerima bagaimana? "
" Dia tidak mencintai Selsa tan. Ada nama gadis lain di hatinya. " irih Selsa.
" Sayang... " Pipit menggenggam tangan Selsa. " Tante tahu, kalian menikah karena perjodohan.Tapi tante tanya sama kamu. Jika suami kamu tidak mencintaimu, bagaimana denganmu? Apakah kamu juga tidak mencintainya? "
" Selsa mencintainya tante. Sangat. " jawab Selsa.
" Ya udah. Kamu harus mempertahankannya. Jangan sampai apa yang sudah menjadi milik kamu, di ambil oleh pelakor. Dekati suami kamu. Kasih dia perhatian. Seorang laki-laki akan mudah luluh dengan perhatian dan kasih sayang. Buat dia tahu jika kamu membutuhkan dia. " ucap Pipit.
" Oh, Tante mau tanya sesuatu. Mmmm... Apa ... Kalian belum pernah malam pertama ? " tanya Pipit sambil menyipitkan matanya.
Selsa menggeleng perlahan.
" Ck ! Nah, itu yang bikin rumah tangga kalian terlihat rapuh. "
" Bagaimana bisa kami malam pertama kalau mas Elyas aja terus menghindar. " gumam Selsa.
" Rayu dia, sayang. Kalau perlu kamu telan jang di depan dia. Udah halal ini. Nggak perlu malu. Habis itu, dia pasti langsung menelan jangi tubuhnya sendiri. " saran paling absurb yang pernah Selsa dengar.
" Tante... " pekik Selsa.
" Kenapa sayang ? Wajar seorang istri telan jang di depan suami. Dengar sayang, suami modelan ustadz kayak suami kamu yang alim gitu, emang harus di bikin dia nggak bisa berpaling. Tante yakin, setelah dia merasakan surga dunia sama kamu, dia pasti hanya akan melihat ke kamu. Dia tidak akan pernah menoleh ke seberang lagi. " jawab Pipit sambil menangkup kedua pipi Selsa.
Selsa nampak mengerjab-ngerjabkan matanya berulang - ulang sambil mencerna omongan dokter satu ini.
__ADS_1
bersambung