
Ceklek
Handle pintu terbuka, dan daun pintu terdorong dari luar. Selsa membuka pintu kamar Elyas dengan sangat perlahan seolah ia sedang mengendap – endap dan takut ketahuan. Ia berjalan lebih masuk ke dalam kala pintu telah terbuka lebar. Ia juga tidak menutup pintu itu kembali. Ia membiarkannya terbuka lebar.
Selsa mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar. Matanya kini menatap hampa ranjang yang ada di kamar itu.
Ranjang berukuran single bed. Ah, apa ia akan tidur berdua dengan suaminya di sana ? Apa muat ? Ia menggigit bibir bawahnya kala pikiran yang tidak – tidak mampir di otaknya. Ah, tidak mungkin. Selama masih tinggal di rumahnya saja, Elyas bahkan tidak pernah menyentuh ranjangnya sama sekali. Laki – laki itu lebih memilih tidur di atas sofa yang hanya muat pas untuk tubuhnya.
Laki – laki itu seolah – olah menganggap jika mereka belum halal dan ia takut menyentuh Selsa.
Lalu Selsa mengedarkan kembali Pandangannya. Tak ada sofa di sana. Lalu dimana nanti Elyas akan tidur ? Bagaimana bisa ada sofa, jika kamar itu terisi ranjang, kemudian meja kerja juga kursi saja sudah nampak penuh ?
Huft. Selsa menghela nafas berat. Ia sudah berniat menjadi istri yang baik, menerima Elyas dengan segala kekurangan juga kelebihannya. Dan ia pun sadar, berarti hal itu juga termasuk dengan kondisi kamar Elyas.
Lalu ia berjalan menuju sebuah pintu yang ada di pojok ruangan, yang ia yakini adalah kamar mandi. Selsa membuka pintu itu, dan melongokkan separo tubuhnya ke dalam. Benar itu adalah kamar mandi.
Sebuah wastafel yang menempel di dinding dan sebuah meja kecil berikut sebuah kaca yang juga menempel di dinding, sebuah bak mandi, dan sebuah toilet duduk. Tidak ada shower, tidak ada bath up di sana.
Selsa tersenyum dan kembali menutup pintu itu. Itulah kehidupan yang harus ia jalani mulai hari ini.
“ Astaga !!! Umi pasti nungguin gue. “ ucapnya bermonolog. Ia segera membuka kopernya yang tergeletak di dekat ranjang, mengambil mukena yang di berikan oleh Elyas sebagai mahar pernikahan. Ia menaruhnya di atas ranjang, lalu ia kembali membuka pintu kamar mandi untuk mengambil wudhu.
Ia memang sudah lama tidak menjalankan sholat. Tapi jika hanya sekedar wudhu, ia masih ingat meskipun ia harus membuka mbah goo untuk melihat bagaimana niat berwudhu. Selesai wudhu, ia segera mengenakan mukena atasannya, dan membawa mukena bawahannya keluar dan menyusul umi yang pasti sudah menunggunya di gazebo belakang.
“ Maaf, umi. Selsa lama. “ ucapnya sambil tersenyum memamerkan deretan giginya yang putih.
“ Tidak apa – apa. Adzannya juga baru selesai. “ jawab umi.
“ Umi …. Mmmm …. “ selsa nampak ragu untuk berucap. Ia menunduk sambil menggigit bibir bawahnya.
__ADS_1
“ Ada apa ? Hem ? katakan. “ tanya umi.
“ Selsa lupa bacaan sholat. “ ucapnya lirih. “ Selsa … Selsa lama tidak menjalankan sholat. “ lanjutnya.
Umi yang mendengarnya tidak lagi terkejut karena Elyas telah menceritakan tentang kebiasaan buruk Selsa. Tapi umi tidak kecewa, juga tidak marah. Beliau malah justru senang mendengar kejujuran Selsa. Setidaknya, saat ini, menantunya itu ingin berubah menjadi lebih baik.
Umi tersenyum, lalu mengelus puncak kepala Selsa. “ Ikuti gerakan umi. Kita berjamaah. Umi akan menjadi imamnya. Kalau niat sholat, bisa apa tidak ? “ tanya umi lembut.
Selsa menggeleng pelan sambil masih tetap menunduk. Umi kembali tersenyum melihat Selsa menggeleng.
“ Umi ajari, kamu ikuti ya. “ ucap umi lembut dan Selsa langsung mengangguk dengan wajah berbinar.
“ Ushalli fardhazh-zhuhri “ ucap umi.
“ Ushalli fardhazh-zuhri “ Selsa mengikuti.
“ arba’a raka’atim mustaqbilal-qiblati “ lanjut umi.
“ adaa’an ma’muman lillahi ta’aalaa. “ lanjut umi kembali.
“ Adaa’an ma’muman lillahi ta’aalaa. “ Selsa mengikuti.
“ Sekarang, ulangi dari awal. Sudah hafal apa belum. “ titah umi dan Selsa mengangguk.
“ Ushalli … fardhazh-zhuhri arba’a raka’atim mustaqbillal-qiblati adaa’an ma’muman lillahi ta’aalaa. “ ucap Selsa masih dengan terbata. “ Bagaimana umi, apa sudah benar ? “ tanyanya.
Umi tersenyum sambil mengangguk. Beliau senang, ternyata Selsa mudah untuk di ajari.
“ Sekarang, kita langsung praktek sholat ya. Niat dulu, terus kamu ikuti semua gerakan umi. Setelah ini, kalau kamu mau, kita belajar sholat bersama. Mulai dari niatnya, surat al-fatehah, hingga doa tahiyat akhir. Kamu mau ? “ ujar umi.
__ADS_1
“ Mau, umi. Mau banget. “ jawab Selsa cepat dengan nada suara yang sangat terlihat jika ia antusias.
“ Alhamdulillah. Umi bersyukur, jika kamu mau belajar nak. “ ujar umi.
“ Selsa ingin menjadi istri yang baik buat mas Elyas umi. “ ucap Selsa.
“ Jika ingin berubah, berubahlah untuk diri kamu sendiri, dan karena Allah tentunya. Jangan pernah berubah demi orang lain. Karena apabila suatu saat nanti orang tersebut membuat kita kecewa, maka umi yakin. Kita pasti akan berubah menjadi buruk kembali. “ umi menjawab dengan lembut dan tersenyum.
Selsa manggut – manggut mendengar ucapan umi. “ Iya umi. Insyaa allah, Selsa ingin berubah. Selsa ingin mempelajari agama yang lama Selsa lupakan. Umi mau mengajari Selsa kan ? “
“ Tentu saja, nak. “ jawab Umi. “ Ya sudah, ayo kita sholat dzuhur dulu. Keburu waktunya habis. “ lanjutnya.
Lalu mereka menunaikan sholat Dzuhur berjamaah. Setelah sholat, umi mengimami tahlil sebentar. Elyas yang baru datang dari masjid, di buat terkejut kala ia hendak ke dapur untuk mengambil air putih, ia melihat umi sedang berdoa dengan istrinya yang berada di belakang umi.
“ Selsa ? “ monolognya.
Tapi ia memilih tak acuh. Ia yakin, pasti umi yang memaksa Selsa untuk sholat bersama. Ia melanjutkan langkahnya menuju dapur dan mengambil air minum. Ia membuka kulkas, lalu mengambil sebotol air mineral menuangkannya ke dalam gelas dan menenggaknya hingga kosong.
“ Sudah pulang, Yas ? “ tanya umi kala mendapati putra semata wayangnya berada di dapur. Beliau baru masuk dari halaman belakang dengan masih mengenakan mukenanya.
“ Eh, iya umi. “ Elyas menjawab sambil meletakkan gelasnya yang sudah kosong di dalam wastafel.
Umi mengangguk. “ Umi taruh mukena dulu ke kamar. “ beliau beranjak hendak meninggalkan Elyas.
“ Umi. “ panggil Elyas. Umi berhenti, lalu membalikkan badannya.
“ Ada apa ? “ tanya umi.
“ Mmmm.. Selsa …. Umi yang mengajaknya berjamaah ? “ tanyanya ragu.
__ADS_1
Umi tersenyum, lalu menggelengkan kepalanya. “ Bukan. Umi sama sekali tidak mengajaknya. Dia sendiri yang bilang ke umi, jika ia ingin sholat dengan umi. “ jawab beliau, lalu berlalu meninggalkan Elyas yang masih terdiam penuh tanya.
Bersambung