
Acara honeymoon dadakan versi Elyas telah usai. Kini mereka sudah kembali ke rutinitas awal. Bekerja, pulang ke rumah sama-sama, ngobrol bareng umi, dan kebiasaan - kebiasaan yang lain.
Hubungan keduanya, makin hari makin mesra. Elyas berubah menjadi sosok yang romantis menurut Selsa. Bahkan terkadang teman-teman satu timnya di buat menganga melihat ke-uwuan pasangan itu. Bahkan ke-uwuan mereka melebihi pengantin baru.
Para tetangga juga pada membicarakan mereka. Pergi dan pulang kerja bersama. Ke masjid bersama. Lari pagi bersama sambil bersenda gurau.
" Pagi, mas Elyas. Pagi mbak Selsa. " sapa ibu-ibu yang melintas di depan mereka kala mereka sedang asyik menikmati semangkuk bubur ayam di dekat batas desa.
" Eh, pagi juga bu Salwa. " sapa Selsa balik.
" Habis olahraga pagi ya neng? " tanya bu Siwi yang datang bersama Bu Salwa.
" Iya Bu. " jawab Selsa lembut.
" Duh, asyik ya. Bisa olahraga pagi gitu bareng pasangan. Berasa kayak masih pacaran. " ujar Bu Siwi. " Eh, tapi kenapa baru akhir - akhir ini ya ngeliat mas ustadz sama neng Selsa jalan pagi berdua begini? Padahal nikahnya udah lama kan ya? " Nih, tanda-tanda mulut emak-emak yang bak netijen mulai melipir.
" Oh, baru sempet aja Bu. Kemarin-kemarin masih sibuk sama kerjaan. " lagi-lagi Selsa yang menjawab. Sengaja dirinya yang menjawab, karena ia tahu suaminya bakalan kebingungan harus menjawab apa. Suaminya itu tipe-tipe orang lurus, yang susah buat berbohong meskipun untuk kebaikan bersama.
Elyas hanya tersenyum sembari menikmati bubur ayam dengan nikmat.
Dua ibu-ibu yang roman-romannya bak netijen zulid itu terlihat manggut-manggut.
" Eh iya, mbak Selsa udah isi belum nih? " tanya Bu Salwa.
" Alhamdulillah, udah bu. Nih, mangkoknya udah kosong. Isinya udah pindah tempat ke perut saya. " jawab Selsa sambil tersenyum manis semanis gula tebu.
Jika bukan menghormati orang yang lebih tua, mungkin saat ini Elyas sudah menyemburkan tawanya hingga bubur yang berada di dalam mulutnya juga ikut menyembur keluar.
Elyas dan Selsa bukan tak paham maksud pertanyaan ibu-ibu itu. Tapi mereka sepertinya sengaja pura-pura tidak tahu.
Sebenarnya, pertanyaan ini adalah pertanyaan yang agak sensitif buat seorang perempuan yang sudah menikah, tapi belum di karuniai seorang keturunan.
" Maksud ibu isi tuh mbak, bukan isi perut sang yang ini. " tunjuk Bu Salwa ke mangkok Selsa yang memang telah kosong.
" Maksud saya itu, hamil. Mas Elyas sama mbak Selsa kan nikahnya udah lama kan? Udah setengah tahun lebih. Tapi kok belum isi juga gitu. " jelas bu Salwa.
__ADS_1
Raut wajah Elyas yang awalnya ingin tertawa, kini berubah menjadi datar. Hatinya kesal, tapi ia berucap istighfar untuk meredam panas di hatinya.
Ia melirik ke arah istrinya, lalu ia meraih tangan sang istri yang berada di bawah meja. Menggenggamnya erat untuk menyalurkan kekuatan.
Selsa menunduk ke arah tangannya sebentar, lalu mendongak dan menoleh ke arah suaminya. Ia memberikan senyuman hangatnya yang mengisyaratkan jika dirinya baik-baik saja.
Lalu Selsa kembali menatap ibu-ibu yang berada di depannya. Dan ia juga memberikan senyuman terbaiknya, sambil tangannya ikut meremas tangan suaminya yang sedang menggenggam tangannya di bawah meja.
" Allah pasti punya rencana sendiri untuk setiap hambanya. Dan saya, juga suami saya, bersyukur dengan apa yang di berikan oleh Allah selama ini. Mungkin Allah inginnya, kami menikmati masa-masa pacaran halal kami. Bersenang-senang, jalan-jalan kemanapun sesuai keinginan kami, bermesraan di malam hari, tanpa harus takut jika sedang mode on fire terus tiba-tiba anaknya kebangun. " kekeh Selsa.
Jawaban yang mampu membuat hati Elyas kembali meleleh bak es batu yang suram teh panas.
" Tapi kan, yang namanya berumah tangga, keturunan itu penting loh neng. Apalagi buat seorang laki-laki. Seperti mas ustadz ini misalnya. Iya kan, mas ustadz? " tanya Bu Siwi ke Elyas.
Elyas tersenyum. " Saya sependapat kok sama istri saya. Mungkin jika sekarang kami belum di beri keturunan, karena Allah kepengennya kami pacaran dulu. Maklum lah, kami memang tidak sempat pacaran sebelum menikah. Dan mungkin juga, ini adalah jawaban yang ingin di perlihatkan kepada orang-orang di sekitar kami, jika kami menikah bukan karena kecelakaan. Karena nyatanya, perut istri saya belum melendung padahal usia pernikahan kami sudah 8 bulan. " ucapnya, lalu ia menatap Selsa penuh cinta.
" Jadi masalah keturunan, saya pasrahkan sama Yang Di Atas. Bagaimana baiknya saja. Allah pasti lebih tahu mana yang terbaik di banding umatnya. " lanjutnya.
Ia lalu berdiri dan berjalan menuju ke penjual bubur ayam itu dan membayar bubur ayamnya dan sang istri. Juga sekalian mengambil sebungkus bubur ayam untuk umi.
Elyas meraih tangan kanan Selsa dan di gandengnya. Udah mirip truk gandeng yang kemana-mana selalu gandengan.
" Maaf ibu-ibu, kami permisi dulu. Sudah siang. Harus segera siap-siap buat ngantor. " pamit Elyas.
" Oh iya, mas ustadz. "
" Mari, ibu-ibu. " pamit Selsa yang sudah berdiri dan hendak melangkah. Lalu mereka berdua meninggalkan warung bubur ayam itu sambil bergandengan tangan.
Di sudut taman, dekat warung bubur ayam, ada sepasang mata yang sedang menatap nyalang ke arah pasangan suami istri itu. Ia yang tersenyum smirk kala mendengar ibu-ibu julid tadi memojokkan Selsa, kini ia mengepalkan tangannya erat penuh kebencian.
" Awas saja kamu. Dasar pelakor!! " umpatnya.
.
.
__ADS_1
.
" Mas.. " panggil Selsa. Kini mereka sedang bersiap untuk bekerja. Selsa sudah selesai bersiap. Ia sudah cantik paripurna. Sedangkan Elyas sedang bercermin sambil mengoleskan pomade dan menata asal rambutnya.
" Hem? " sahutnya.
" Maaf. " ucap Selsa sambil menunduk.
Elyas mengernyit heran. Ada apa istrinya tiba-tiba meminta maaf? Ia menghentikan aktivitasnya, lalu berbalik badan dan berjalan mendekati istrinya yang sedang duduk di pinggir ranjang.
" Maaf? Untuk apa ? " tanyanya.
" Maaf. Karena aku, belum bisa kasih kamu keturunan. " lirih Selsa.
Elyas menghela nafasnya kasar. Fix. Ini pasti gara-gara omongan ibu-ibu tadi. Elyas lalu berjongkok di depan Selsa, lalu mengambil kedua tangan Selsa, ia genggam jadi satu.
" Kenapa harus di pikirkan omongan ibu-ibu tadi? Bukankah kamu juga tadi bilang jika mungkin Allah belum memberi kita karena ingin kita pacaran secara halal dulu? " senyum Elyas.
Tapi Selsa masih tetap menunduk. " Aku belum hamil, pasti karena kelakuanku dulu. Aku sering minum minuman keras, merokok juga. Walau cuma kadang-kadang. Tapi Allah mungkin marah, dan nggak mau kasih aku buat hamil. " ucapnya lirih.
" Ssstt!!! " Elyas menempelkan jari telunjuknya ke bibir Selsa. " Tidak boleh bicara seperti itu. Omongan bisa menjadi do'a loh. " ucapnya.
Selsa menggeleng keras sambil menatap Elyas. " Selsa nggak berdoa kok. "
Elyas tersenyum. " Makanya, jangan bicara yang buruk-buruk. Allah sayang terhadap semua ciptaanNya. Apalagi, terhadap umatNya yang mau berubah menjadi lebih baik lagi. Mungkin, masa lalu kamu kurang baik. Tapi kamu sekarang sudah berubah. Bahkan perubahan itu begitu besar. Sekarang, sedikitpun kamu tidak pernah lupa sama Allah. Jadi, Allah pasti sangat menyayangimu. Kita berdoa saja, semoga setelah ini, Allah segera menitipkan si kecil di sini. " Elyas mengelus lembut perut Selsa.
" Lagian, selain berdoa, kita juga sudah berusaha keras kan? Hampir tiap malam kita berusaha menghadirkan si kecil dalam perut kamu. " lanjutnya.
" Kalau itu sih bukan cuma tiap malam. Asalkan kamu pengen juga, kita ngadon. " sahut Selsa sedikit cemberut. Karena semenjak malam pertama itu, suaminya benar-benar berubah menjadi me sum.
" Hahaha.... Gimana nggak pengen terus? Kalau partner sharingnya bohay gini. " sahut Elyas sambil menoel dagu sang istri.
Elyas lalu berdiri dari jongkoknya. Dengan masih menggenggam sebelah tangan Selsa. " Ya udah, berangkat yuk. Nanti terlambat bisa kena SP lah sama papa mertua. " kelakar Elyas.
" Tenang aja. Papa ngeluarinnya bukan SP. Tapi tiket pesawat buat kita bulan madu lagi. Pikirnya yang kemarin masih kurang. " jawab Selsa enteng.
__ADS_1
bersambung