
Selama tiga malam, kondisi itu terus berlangsung. Elyas akan datang ke kediaman Rakesh di saat jam istirahat Selsa tiba. Lalu dengan mengendap-endap bak pencuri, ia akan masuk ke kamar sang istri dan tidur di sana sambil memeluk istrinya.
Hal itu tidak membuat Selsa tidak sadar. Ada banyak kecurigaan dalam hati dan otak Selsa. Ia merasa, sudah beberapa malam ini, ia selalu tidur dengan nyaman. Calon bayinya yang biasanya sering membuat perutnya kram tiap malam, sudah tiga malam ini tidak.
Morning sickness yang ia rasakan juga sudah tidak terlalu parah. Ia hanya merasakan lemas saja. Ia sudah tidak muntah-muntah setiap pagi.
" Kamu kenapa, sayang? " tanya Ruby kala mereka sedang berkumpul untuk sarapan bersama. " Mama perhatikan, kamu melamun. " lanjutnya.
Selsa mendongak, lalu menggeleng. " Selsa hanya lagi berpikir ma. Selsa bingung. "
" Bingung kenapa, sayang ? " tanya Ruby kembali.
" Sudah tiga malam, perut Selsa nggak kram lagi ma. Lalu, sudah tiga hari ini pula, Selsa nggak ngerasain pengen muntah yang amat sangat kek biasanya. " jelas Selsa.
" Mungkin karena morning sickness yang kamu alami, sudah habis masanya. Alias expired." sahut tuan Manoj.
" Ih, papa. Ada-ada aja. Di kira camilan, bisa expired. " sungut Selsa.
" Tapi mungkin saja loh sayang. Lihat, kamu juga sudah bisa makan nasi meskipun hanya sedikit. " sahut Ruby
" Iya ma. " jawab Selsa. " Tapi tetap saja Selsa merasa ada yang aneh ma. "
" Apanya yang aneh? " kini suara Roy yang terdengar.
" Tiap bangun tidur, aku seperti bisa merasakan bau parfum mas Elyas. Dan itu seperti nempel di baju aku, selimut, juga sprei. Bahkan minyak rambutnya pun seperti menempel di bantal. " ujar Selsa.
Sontak Ruby, Roy, juga tuan Manoj saling lirik.
" Mungkin karena kamu merindukan suamimu, nak. Makanya kamu seperti merasa ada dia di dekatmu. " ucap Ruby.
" Entahlah ma. Selsa masih belum yakin. " jawab Selsa.
" Sayang, jangan terlalu lama mendiamkan suami. Dosa loh. Sebaiknya, kamu bicara baik-baik sama suamimu. Katakan apa saja yang membuatmu merasa ada ganjalan di hati. Berbicaralah dari hati ke hati. Lagian, calon bayi kamu juga pasti merindukan ayahnya. Kamu belum memberitahukannya, kan? " Ruby menggenggam tangan kiri Selsa.
__ADS_1
Selsa menggeleng lalu menunduk. Apa yang di katakan mamanya sepertinya ada benarnya juga. Tapi Selsa merasa harus memastikan sesuatu terlebih dahulu.
" Kapan kamu masuk kantor lagi? " tanya Roy.
" Masih males kak. Sepertinya anakku tidak mau di ajak bekerja. " sahut Selsa.
" Ck! Jangan pakai anak kamu untuk alasan. "
.
.
.
Malam menjelang. Sudah waktunya Selsa beristirahat. Tapi malam ini, ia memutuskan untuk tetap terjaga sementara waktu untuk membuktikan kecurigaannya.
Selsa duduk di tepian ranjang dengan gelisah. Lalu berdiri, mengintip dari balik tirai jendela yang tertutup. Lalu ia berjalan mondar-mandir di samping ranjang sambil menggigit kukunya.
Sampai tiba-tiba ia mendengar suara deru motor masuk ke pekarangan. Buru-buru dirinya menghampiri jendela dan mengintip dari balik tirai.
Selsa menyipitkan matanya guna mempertajam penglihatannya. Dan tidak salah lagi. Yang datang benar-benar suaminya.
" Jadi apa benar beberapa hari ini yang tidur bersamaku adalah mas Elyas? " gumam Selsa masih berpikir keras.
Selsa lalu segera naik ke tempat tidur. Ia memasukkan tubuhnya ke dalam selimut. Jika memang selama beberapa malam yang tidur bersamanya adalah sang suami, pasti sebentar lagi, suaminya itu akan masuk ke dalam kamar.
Ceklek
Dan benar saja kecurigaan Selsa. Tak lama setelah dirinya merebahkan tubuhnya di atas ranjang, pintu kamarnya terbuka dari luar dengan perlahan, lalu tertutup kembali juga dengan perlahan.
Lamat-lamat, Selsa mendengar derap langkah mendekati ranjang. Ia lalu memejamkan matanya cepat. Mungkin lebih baik ia pura-pura tidur saja. Untuk mencari tahu siapa sebenarnya yang masuk ke dalam kamarnya secara diam-diam.
Ranjang kosong di samping Selsa terasa bergerak. Seseorang itu rupanya naik ke atas ranjang. Lalu terasa gerakan menaikkan selimutnya.
__ADS_1
" Sayang, sudah tidur ya? " bisik Elyas. Suara yang selama satu minggu lebih ini sangat di rindukan oleh Selsa. Tapi ia tidak ingin mengakuinya.
Jantung Selsa berdebar dengan kencang. Tapi ia memilih untuk tetap memejamkan matanya. Ia ingin tahu, apa saja yang suaminya itu lakukan di saat dirinya terlelap.
Lalu Selsa merasakan usapan lembut di atas perutnya. Rasanya begitu nyaman. Perutnya yang tadi sedikit terasa kaku, rasa itu tiba-tiba hilang begitu saja. Apa itu artinya sang calon bayi juga merindukan ayahnya?
" Apa kabar kesayangannya ayah? Ayah sangat merindukanmu nak. " ucap Elyas lirih.
Usapan itu terasa lembut. Bahkan mampu membuat hati Selsa menghangat. Lalu ia merasakan sebuah kecupan mendarat di bahunya.
" Aku juga merindukanmu, sayang. Sangat merindukanmu. " ucap Elyas tulus.
Lalu Elyas merebahkan tubuhnya di belakang Selsa. " Tak apa jika malam ini kamu membelakangiku. Aku tak akan marah. " ucapnya sambil menelusupkan tangannya ke pinggang Selsa. Ia memeluk sang istri dari belakang.
Ketika ia hendak memejamkan matanya, ia merasa tubuh sang istri bergetar. Ia juga mendengar suara sesenggukan.
Elyas segera membuka kembali matanya, mengangkat tubuhnya sedikit untuk melihat apa yang terjadi dengan istrinya. Apakah sang istri kembali mengigau? Tapi kenapa bisa sampai sesenggukan?
Elyas sungguh terkejut kala ia melihat istrinya benar-benar menangis. Ia segera menegakkan tubuhnya dan sedikit menjauh dari sang istri.
" Maaf. Maafkan aku, sayang. " ucapnya di liputi oleh rasa bersalah yang amat sangat.
Tapi suara tangisan itu kian mendengar kala ia bergerak menjauh. Selsa menangis semakin kencang.
Dahi Elyas berkerut. " Sungguh, sayang. Aku minta maaf. Aku tidak bermaksud lancang memasuki kamarmu. Aku ... Aku hanya sangat merindukanmu. Itu saja. " ucap Elyas semakin di liputi rasa bersalah. Ia tidak menyangka jika ia akan ketahuan malam ini. Dan hal ini malah membuat istrinya menangis.
" Tolong, jangan menangis. Aku minta maaf. Aku ... Aku akan keluar dari kamar ini sekarang. " ucap Elyas. Ia sudah menurunkan sebelah kakinya hendak pergi keluar dari kamar.
" Huaaa.... " tangis Selsa kian kencang. Elyas semakin di buat serba salah juga bingung. Tangisan istrinya sangat kencang. Elyas menoleh ke arah pintu. Takutnya orang rumah mendengar tangisan sang istri dan masuk ke kamar karena mengira dirinya tengah menyakiti sang istri.
" Selsa... Please jangan menangis, oke? Aku akan keluar. Tapi kamu berhentilah menangis. " ucap Elyas kembali.
" Jahat!!!! Mas Elyas jahat!!!! " pekik Selsa di sela-sela tangisannya.
__ADS_1
bersambung