
“ Cari siapa bos ? “ tanya Amir yang baru masuk ke dalam ruangan khusus tim kreatif.
Elyas menoleh. “ Ah “
“ Cari nyonya bos ya ? baru juga pisah beberapa jam, udah kangen aja. “ goda Amir. “ Puasa bos. Puasa! “ lanjutnya sambil terkekeh.
“ Ck ! “ Elyas berdecak. Ia malas untuk menjawab dan bertanya pada Amir keberadaan istrinya. yang ada dirinya akan di bully habis – habisan oleh temannya itu. Ia memilih keluar dari ruangan.
Toilet, adalah tujuan utamanya. Siapa tahu istrinya itu sedang berada di toilet, untuk bermain air, membasuh wajahnya supaya rasa hausnya berkurang. Seperti yang istrinya sering lakukan selama bulan puasa ini.
“ Mas Elyas ? “ seru Sonya sedikit terkejut mendapati Elyas sedang berdiri di depan toilet wanita. “ Ini toilet perempuan loh. Toilet laki – laki di sebelah. “ lanjutnya.
“ Oh, iya. Aku tahu. “ jawab Elyas sembari matanya menelisik ke pintu kaca yang menutupi dalam toilet.
Sonya mengernyit. Lalu ia pun membalikkan pandangannya ke eblakang. Mengikuti arah pandang Elyas. Tidak ada apa – apa. Batinnya.
“ Kamu melihat Selsa ? “ tanya Elyas to the point.
“ Bukannya ada di ruangan ya ? Tadi habis dari musholla dia bilang mau balik ke ruangan. Mau tidur katanya. “ jawab Sonya.
“ Dia tidak kembali ke ruangan. “ sahut Elyas. “ Ya sudah, biar aku cari dulu di mana tuh anak. “ lanjutnya lalu pergi meninggalkan Sonya yang masih berdiri di depan pintu toilet.
“ Kemana kamu, Sa ? “ gumam Elyas. Ia lalu mengambil ponselnya dari dalam saku celana. Mendial nomer sang istri. Berdering, tapi tidak di angkat.
“ Kemana dia ? Apa mungkin pulang ? “ gumamnya kembali sambil terus melangkah dan mencoba menghubungi sang istri. “ Tidak mungkin dia pulang. Kan kunci mobilnya ada sama aku. “ bohong jika Elyas tidak cemas saat ini.
Elyas memutuskan kembali ke ruangan. Siapa tahu sang istri sudah kembali. Sampai di ruangan, dirinya mengernyit. Kursi sang istri masih kosong. Lalu ia mendekat ke kursi. Tasnya masih ada di atas meja. Berikut dengan ponselnya. Pantas saja tadi ia menghubungi sampai berkali – kali tidak di angkat.
Kemana sih ? tanyanya dalam hati.
“ Mas Elyas. “ panggil seorang perempuan.
Elyas menoleh. Ia melihat sekretaris manager keuangan memanggilnya.
“ Iya, mbak Eni. “ sahut Elyas.
“ Pak Soni minta mas Elyas ke ruangannya. Katanya mau bahas budget iklan produk perusahaan Coller. “ jawab perempuan itu.
“ Oh, iya. Sebentar, saya ambil berkasnya dulu. “ jawab Elyas. Kini, mau tidak mau, dirinya harus memending untuk mencari keberadaan sang istri.
__ADS_1
Tak terasa, hari berangsur sore. Roy melihat ke pergelangan tangannya. Jam di pergelangan tangannya menunjukkan jam 3 sore. Ia segera menutup laptopnya, menutup map – map berisi berkas – berkas pekerjaannya.
Selama bulan Ramadhan, jam kantor hanya sampai jam 3. Ia meregangkan tubuhnya sebentar, lalu beranjak dari kursinya.
“ Sa … Selsa … “ Roy berusaha membangunkan Selsa sambil menggoncangkan tubuhnya pelan.
“ Hmmm … “ Selsa hanya mengerang. Tapi setelahnya, ia kembali terbuai.
“ Sa… Selsa … Bangun. Jam kantor udah habis. “ panggil Roy kembali.
“ Mmmm … Bentar lagi pa. Lima menit ya. “ suara serak Selsa terdengar.
Roy menghela nafas kasar. Selsa malah menganggapnya sebagai tuan Manoj. “ Kamu pulang, apa mau nginap di sini aja ? “
Tak ada tanggapan dari Selsa. Roy mengusap wajahnya kasar. “ Magrib … Magrib …. Bukaaa …. “ teriak Roy.
Spontan Selsa langsung terbangun. Meskipun matanya masih tertutup, tapi ia sudah duduk. Tak lama terdengar gelak tawa dari Roy dan membuat Selsa membuka matanya walau berat.
“ Ck ! Kau menipuku ? “ sungut Selsa. Ia lalu kembali merebahkan tubuhnya, tapi segera di halangi Roy.
“ Eh, kok malah mau tidur lagi ? “ ujar Roy.
“ Iya. Tapi apa kamu mau tidur di sini ? Sebentar lagi kantor sepi. Udah jam 3, jam pulang kantor. “ jawab Roy.
“ Oh. “ beo Selsa, lalu ia meraih lengan Roy kala Roy selesai mengenakan jasnya. Ia menariknya hingga tubuh Roy jongkok.
“ Gendong. “ rengek Selsa sambil mengalungkan kedua tangannya ke leher Roy.
“ Hei, apa – apaan kamu ini. “ Roy hendak kembali berdiri, tapi kembali di tarik oleh Selsa.
“ Tega kakak sama adiknya ? Aku lemes loh ini. Laper, haus. Nggak kuat jalan. “ keluh Selsa.
“ Tapi nggak enak kalau di lihat pegawai lain. Belum lagi kalau suami kamu lihat. “ kekeh Roy.
“ Ah, masa bodoh lah sama mereka. Kalau mas Elyas mah santai. Dia nggak bakalan marah ini. Udah, nggak usah berisik. Pokoknya gendong. “ ujar Selsa. Tanpa menunggu persetujuan dari Roy, ia langsung nemplok di punggung Roy.
“ Ayo buruan jalan. Keburu magrib. “ ucapnya.
Mau tidak mau, Roy berdiri, lalu memegangi tubuh Selsa dengan kedua tangannya berada di belakang. Selsa langsung mencari posisi paling nyaman di punggung lebar sang kakak. Ia menyandarkan kepalanya di pundak sang kakak.
__ADS_1
“ Bukakan pintunya. “ pinta Roy. Tapi bukannya membuka pintu, Selsa malah menggeleng dan makin membuat dirinya nyaman dalam gendongan sang kakak. Roy hanya bisa menghela nafas berat.
Lalu dengan susah payah, ia meraih handle pintu dan membukanya dengan salah satu kakinya. Sedangkan sang adik, justru tersenyum puas dalam gendongan sang kakak.
Tring
Pintu lift terbuka bahkan sebelum Roy sempat memencet tombol buka. Seseorang terlihat hendak keluar dari dalam dengan raut wajah panik. Tapi rait wajah panik itu berubah menjadi cengo kala melihat siapa yang hendak masuk ke dalam lift.
“ Pak Roy. “ sapanya sambil sedikit menundukkan kepalanya. Bagaimanapun ini masih di lingkungan kantor. Jadi, dirinya harus tetap menjaga sopan santun meskipun dirinya sudah menjadi adik ipar dari laki – laki di depannya ini.
“ Yas. “ sapa Roy balik.
Elyas sedikit menengok ke belakang Roy. Dirinya seperti mengenal perempuan yang berada di gendongan atasan sekaligus kakak iparnya ini. Semenjak siang dirinya panik dan bingung mencari keberadaan sang istri. Eh, ternyata istrinya itu sedang nangkring nyaman di gendongan sang kakak.
“ Kamu mau mencarinya ? “ tanya Roy sambil sedikit melirik ke arah pundaknya.
“ Ah. I-iya, pak. “ jawab Elyas gugup sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“ Tolong, tekan tombol basemen. Tanganku sedang menyangga tubuhnya. “ ucap Roy sambil menunjuk ke tombol – tombol yang ada di dinding lift dengan dagunya. Elyas mengangguk, lalu segera menekan tombol B.
“ Maaf pak, merepotkan. Biar Selsa, saya yang gendong. “ ujar Elyas. Sedari tadi mulutnya sudah gatal ingin mengucapkan hal itu. Entahlah, ada rasa tidak nyaman dan tidak rela melihat sang istri berada di gendongan pria lain. Meskipun itu kakaknya sendiri.
“ Sudah. Biarkan saja saya yang gendong hingga parkiran. Dia lagi tidur. Kasihan kalau ke ganggu. “ jawab Roy yang ternyata juga tidak rela menyerahkan Selsa ke suaminya sendiri.
“ Mmm .. Ba-baik, pak. “ jawabnya ragu. Ia mundur dua langkah ke belakang, hingga kini dirinya berdiri di belakang Roy sambil menatap punggung sang istri yang sedang bersandar nymana di punggung lebar kakaknya. Ada rasa panas menjakar di relung hatinya. Tanpa sadar, tangannya mengepal.
“ Pulang ke rumah papa. Kangen sama papa. “ gumam Selsa yang masih di atas gendongan Roy ketika mereka hendak sampai di parkiran. Gadis itu merengek tanpa membuka matanya. Mungkin saja dirinya juga tidak tahu jika sedari tadi, sang suami berjalan mengikutinya.
“ Hem ? Mau pulang ke rumah ? “ tanya Roy lembut sambil tersenyum.
“ He em. “ Selsa menjawab sambil mengangguk.
“ Maaf, pak. Mobil Selsa saya parkirkan di sebelah sana. “ ucap Elyas menunjuk ke sebuah mobil yang berada di ujung. Saat ia melihat Roy membawa Selsa ke arah lain.
Roy menghentikan jalannya. “ Dia mau buka di rumah katanya. Jadi biar dia pulang sama saya. Kamu ikut aja bawa mobilnya. “ ucap Roy lalu kembali berjalan meninggalkan Elyas.
Mau tidak mau, Elyas berbalik, melangkah menuju mobil Selsa dengan perasaan entah seperti apa. Ada rasa kecewa, ada rasa ingin marah, ada rasa kesal, ada rasa takut, yang tiba – tiba menjalar di hatinya. Ia menyadari, jika Roy bukanlah kakak kandung dari sang istri. Dan hal itulah yang membuatnya semakin sesak. Tapi Elyas belum mengerti, rasa apakah itu. Kenapa menjadi campur baur seperti itu.
bersambung
__ADS_1