Pak Ustadku

Pak Ustadku
Ijab Kabul


__ADS_3

...Sebelumnya, othor ngucapin Minal Aidin Wal Faidzin... Mohon Maaf Lahir dan Batin......


________________________________


Elyas sudah duduk di depan penghulu semenjak seperempat jam yang lalu. Ia mengenakan tuksedo putih berkrah koko, celana putih dan kopiah putih pula. Elyas terlihat gagah, berwibawa, dan santun.


Tapi ekspresi wajahnya tidak seperti pengantin pada umumnya, yang terlihat berbinar dan bahagia. Ia terlihat gelisah, gugup, cemas dan panik, juga tidak nyaman. Wajahnya terlihat memikul beban yang cukup berat.


Tubuhnya ada di sana, tapi pikirannya berada di tempat lain. Dia sedang memikirkan bagaimana nanti jika Selsa sudah tinggal di rumahnya, ia akan menjelaskannya ke Ratna. Karena tidak menutup kemungkinan Ratna akan mengetahui sosok Selsa meskipun jarak rumah mereka lumayan jauh.


Apalagi, Elyas sama sekali belum menemui Ratna semenjak ia membatalkan kedatangannya ke rumah Ratna waktu itu. Ia bahkan sama sekali belum mengatakan ke Ratna jika dirinya hendak menikahi perempuan lain. Dan itu akan berlangsung dalam hitungan menit ke depan. Entah apa yang akan di pikirkan oleh Ratna jika mengetahui tentang pernikahannya ini.


Elyas mengusap keringat di dahinya. Bagaimanapun kondisinya, yang pasti sebentar lagi, ia akan menghalalkan seorang gadis meskipun tanpa adanya cinta.


Apalagi gadis yang akan ia sebut namanya dalam ikatan suci itu adalah putri dari pesohor negeri. Terselip ketakutan di hati Elyas jika sampai ia melakukan kesalahan saat mengucap ijab nanti.


Sekilas Elyas menoleh ke samping kala suara ramai tiba – tiba terdengar. Terlihat Selsa menuruni anak tangga dengan di gandeng oleh sahabatnya Aleta.


Selsa terlihat anggun dan karismatik dalam balutan kebaya putih juga riasan adat Jawanya. Meskipun wajah cantiknya itu masih tersamarkan oleh kerudung putih yang menutupi sebagian wajahnya, tapi Elyas bisa melihat jika calon istrinya itu terlihat cantik.


Astagfirullahaladzim. Ucap Elyas dalam hati kala hatinya tiba – tiba mengagumi kecantikan Selsa.


Ia segera kembali menghadap depan dan Selsa di dudukkan di kursi di belakang. Sengaja Selsa di bawa turun dari lantai dua, dengan pertimbangan supaya nanti tidak kelamaan jika harus di pertemukan dengan suaminya.


Elyas sedikit menunduk. Ia tidak ingin menikmati sesuatu yang belum halal baginya. Dan entah apakah sosok Selsa akan benar – benar menjadi halal untuknya atau tidak. Iapun masih meragukannya.


Meragukan nasibnya, meragukan keputusannya. Ia masih belum yakin jika wanita yang akan menghabiskan waktu seumur hidup dengannya adalah Selsa. Perempuan yang bebas di mata Elyas.


“ Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri saya yang bernama Anjeli Selsa Rakesh binti Manoj Jyotis Rakesh dengan mas kawin seperangkat alat sholat, Al-Qur’an, dan hafalan juz amma di bayar tunai. “ semua keraguan Elyas sirna ketika tangannya di jabat erat oleh tuan Manoj seraya mengucap akad.


“ Saya terima nikah dan kawinnya Anjeli Selsa Rakesh dengan mas kawin tersebut tunai. “ dalam satu kali tarikan nafas, Elyas mengucap ijab atas Selsa dengan lancar.


“ Bagaimana, para saksi ? Sah ? “ suara penghulu bertanya.

__ADS_1


“ Sah. “ semua yang hadir di kediaman tuan Manoj mengucapkan kata sah secara bersama – sama.


Kemudian Selsa di bawa ke depan, di dudukkan di samping Elyas, dan menandatangani buku nikah bersamaan. Lalu mereka bersama – sama menghadap kameramen dengan saling memegang buku nikah masing – masing. Doapun di lantunkan seiring gemuruh ucapan amiin dari para hadirin.


Lalu umi membawa kotak perhiasan berisi sepasang cincin kawin ke dekat Selsa dan Elyas dan meminta mereka memasangkan cincin itu ke jari pasangannya. Elyas mengambil cincin itu terlebih dahulu, baru setelahnya Selsa yang mengambil.


Umi meminta Selsa mengulurkan tangan kanannya supaya Elyas bisa memasangkan cincin kawin di jari manisnya. Dengan tangan gemetar, Elyas memegang jemari tangan Selsa. Bisa Elyas rasakan jika tangan Selsa pun sama dinginnya dengan tangannya.


Dengan perlahan, Elyas memasukkan cincin yang ia bawa ke jari manis Selsa. Perempuan yang sekarang telah resmi menjadi istrinya.


Setelah cincin tersemat, kameramen meminta Elyas mengecup kening Selsa. Dengan agak terpaksa, karena di sana banyak anggota keluarga tuan Manoj, Elyas menaikkan kerudung yang sedari tadi menutupi sebagian wajah Selsa.


Subhanallah. Begitu cantik ciptaanmu Ya Allah. Batin Elyas kala menatap perempuan yang kini sudah halal untuknya itu. Sejenak, ia lupa akan kehadiran Ratna Renggalih di dalam hatinya. Tapi tak lama kemudian, ia kembali tersadar.


“ Mas Elyas, ayo di cium keningnya. “ ucap kameramen kembali karena Elyas masih saja terdiam.


Bismillahirrohmanirrohim. Ucap Elyas dalam hati. Dan sambil menahan nafasnya, ia mengecup sekilas puncak kepala Selsa.


Cekrek


Kameramen berhasil mendapatkan angle yang cantik dari momen itu. Kini gantian Selsa yang menyematkan cincin ke jari manis Elyas.


Dengan degub jantung yang bertalu – talu, Selsa mengangkat tangan kirinya untuk memegangi tangan kanan Elyas, lalu ia sematkan cincin kawin yang sedari tadi di pegangnya.


Tanpa di suruh, Elyas menggenggam tangan kanan Elyas untuk ia salami, dan ia cium punggung tangannya. Sesuatu yang sama sekali tidak pernah terlintas dalam pikiran Elyas. Selsa melakukan hal itu tanpa di suruh oleh siapapun.


Cekrek


Cekrek


Kembali kameramen mendapatkan momen menarik dalam prosesi akad nikah itu. Setelah kedua cincin tersemat, kembali kameramen meminta Elyas dan Selsa menghadap kamera sambil menunjukkan cincin kawin mereka.


Setelah itu, pak penghulu meminta Elyas melafalkan bacaan juz amma tanpa membaca. Elyas mengangguk, lalu ia meraih mikrophone yang sedari tadi ada di depannya.

__ADS_1


Suaranya yang merdu saat melafalkan ayat – ayat suci Al-Qur’an membuat para hadirin terdiam dan terpaku. Bahkan Selsa sampai mengeluarkan air matanya. Entah mengapa, hatinya begitu terasa damai saat mendengar lantunan ayat suci dari mulut laki – laki yang sekarang telah resmi menjadi suaminya.


“ Shadaqallahul adzim. “ Elyas mengakhiri lantunan ayat – ayat juz amma dengan sangat apik.


“ Subhanallah. “ ucap para hadirin yang di buat terpana oleh suara Elyas.


Selsa menyeka air mata yang mengalir dari sudut matanya dengan tisu yang di pegangnya. Lalu ia melirik sekilas laki – laki tampan nan karismatik yang berada di sampingnya sambil tersenyum.


Tapi sayang, laki – laki itu sama sekali tidak melirik ke arahnya. Dan Selsa memahami hal itu, karena memang bukan dirinya yang diinginkan oleh lelaki itu untuk menjadi pendamping hidupnya.


Setelah acara akad nikah dan pelafalan ayat – ayat dalam juz amma yang di jadikan mahar untuk sang mempelai wanita, pak penghulu berpamitan meninggalkan kediaman tuan Manoj.


Acara yang selanjutnya, adalah sungkeman yang di lakukan oleh kedua memperlai terhadap kedua orang tua. Karena sang abi yang telah tiada, Selsa dan Elyas melakukan sungkeman hanya kepada umi. Dan itu mereka lakukan bersamaan.


“ Semoga bahagia nak. “ ucap umi dalam doanya sambil mengusap punggung Elyas dan selsa bersamaan.


“ Semoga kalian menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah. Apapun yang terjadi dalam kehidupan keluarga kalian nanti, yakinlah, jika itu adalah cobaan dari Allah untuk meninggikan derajad kalian. Selalu saling menjaga, mencintai, menghargai, dan menghormati. “ lanjut umi.


“ Insyaa allah, umi. “ jawab elyas.


Dan kini, mereka beralih meminta restu ke tuan Manoj sebagai orang tua Selsa. Ruby yang sadar diri jika sang putri tidak akan nyaman jika harus melakukan sungkeman terhadapnya, menolak halus ajakan sang suami.


“ Papa, Selsa mohon restu dari papa. “ ucap Selsa kala ia dan Elyas sudah berada di depan tuan Manoj.


“ Iya nak. Berbahagialah kalian. Selsa, putri papa, jadilah istri yang baik untuk suamimu. Jadilah dewasa, dan cintailah suamimu. “ ucap tuan Manoj, dan Selsa mengangguk.


“ Dan engkau, anakku Elyas, aku titip putriku. Bahagiakanlah dia. Sayangilah dia. Jika suatu saat kamu sudah tidak menginginkannya, maka jangan sia – siakan dia. Cukup kau kembalikan dia ke rumah ini. “ lanjutnya ke Elyas dan tanpa ia kehendaki, air matanya menetes dari kedua sudut matanya.


“ Insya allah, tuan. “ jawab Elyas.


“ Papa. Panggil aku papa. Karena sekarang, kau adalah putraku. “ sahut tuan Manoj sambil menepuk pundak Elyas.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2