Pak Ustadku

Pak Ustadku
Menantu


__ADS_3

“ Umi seneng akhirnya umi punya teman di rumah yang sama gendernya. “ ucap umi sambil tersenyum dan menggandeng tangan Selsa ia ajak masuk ke dalam rumah. “ Elyas terlalu kaku jadi orang. Susah memang kalau punya anak laki. “ bisiknya dan di sambut tawa oleh Selsa.


“ Duduklah, anggap rumah sendiri. Umi akan membuatkan minum untuk kalian. “ lanjut umi kala ia sampai di ruang tengah.


“ Umi… Apa umi tidak salah ? Umi menyuruhku menganggap ini seperti rumahku sendiri. Tapi jika umi mau membuatkanku minum, bukankah itu artinya aku seorang tamu di sini ? “ canda Selsa yang lalu membuntuti umi masuk ke dapur.


“ Kamu bisa aja. “ sahut umi tergelak.


“ Umi tunjukkan saja di mana tempatnya, Selsa yang akan membuat minuman buat mas Elyas. “ ucap Selsa dengan gerakan lincahnya.


Ia sadar, di sini, ia tidak bisa mengandalkan bi Ranti. Perempuan tua yang sudah merawatnya dan menjaganya dari kecil. Menyiapkan segala kebutuhannya.


Di sini, ia adalah seorang menantu dan seorang istri. Jadi ia harus terbiasa dengan kehidupan ini. Dan untung saja, beberapa hari terakhir ini sebelum dirinya menikah, ia sempat meminta bi Ranti untuk melakukan pekerjaan rumah kecil - kecilan, juga untuk membuat minuman.


“ Baiklah. Elyas jika jam segini sukanya minum teh hijau panas – panas. Tapi dia tidak suka terlalu manis. “ ucap umi. Selsa mengangguk. Ia akan belajar mulai dari sekarang menyiapkan kebutuhan suaminya. Ia akan menjadi istri seperti yang di harapkan oleh Elyas. Mungkin, ia akan mengambil les memasak juga mulai besok. Selsa tersenyum mendapati ide yang mampir di otaknya.


“ Umi, cangkirnya di sebelah mana ? “ tanyanya.


“ Ada di almari atas, nomer dua dari kiri, nak. “ umi memberi komando. Selsa segera membuka lemari yang di tunjuk umi. Ia tersenyum tipis, lalu mengambil tiga buah cangkir dari dalam almari. Lalu ia mencari di mana umi meletakkan gula. Tanpa harus bertanya, Selsa menemukan yang ia cari.


“ Umi, biasanya, mas Elyas pakai gulanya seberapa ? “ tanya Selsa. “ Maaf, umi jika Selsa terlalu banyak bertanya. Selsa belum begitu mengenal mas Elyas. Dan juga masih banyak hal yang harus Selsa pelajari lagi. “ lanjutnya sedikit sungkan.


Umi tersenyum hangat, lalu mendekati Selsa. “ Suamimu suka jika gulanya setengah sendok teh saja. “ ucapnya.


“ Segini cukup, umi ? “ tanya Selsa sambil menunjukkan takaran gula yang ia ambil dari dalam toples. Umi mengangguk sambil tersenyum. Ia mengelus punggung Selsa dari samping. Umi merasa, Selsa tidak seperti anak orang kaya yang hanya mau ongkang – ongkang kaki saja.


“ Umi, mau gulanya seberapa ? “ tanya Selsa lagi ketika hendak mengambil gula untuk gelas yang selanjutnya.


“ Tidak usah, Selsa. Biar umi buat sendiri. “ sahut umi.


Selsa menggeleng. “ Tidak umi. Selsa ada di sini sekarang. Anak umi juga kan ? “ tanyanya sambil memandang ke arah umi. Umi mengangguk sambil tersenyum. “ Jadi mulai sekarang, ijinkan Selsa merawat umi. “ pintanya, lalu ia meraih tangan kiri umi yang berada di atas meja dapur, lalu mengecup punggung tangannya.


Umi tersenyum dan terharu melihat Selsa. Benar – benar di luar ekspektasi umi. Umi senang, putranya membawakan menantu seperti Selsa. Ia tidak ingin menantu yang lain. Baru bersama beberapa menit saja, umi merasa nyaman bersama menantu barunya ini.


“ Umi satu sendok saja. “ ucap umi dan Selsa mengangguk dan tersenyum. Ia menuang gula sesuai takaran yang di inginkan umi ke dalam gelas umi. Lalu ia menuang sesendok gula lagi di gelas yang ke tiga.

__ADS_1


Mereka bercakap – cakap sambil meminum teh yang Selsa buat tadi. Tak lama kemudian, Elyas ikut bergabung.


“ Assalamu’alaikum, umi. “ sapa Elyas. Ia mencium punggung tangan umi.


“ Waalaikum salam. “ jawab umi. “ Kamu pasti capek. Minum dulu, Yas. “


Elyas duduk di samping umi, dan mengambil teh hijau yang di buat oleh Selsa tadi. “ Teh buatan umi memang selalu bikin Elyas ketagihan. “ ucap Elyas setelah ia menyesap teh yang masih panas itu.


“ Enak Yas ? “ tanya umi sambil tersenyum tipis. “ Apakah rasanya berubah ? “ beliau mengerutkan keningnya.


Elyas menggeleng cepat. “ Rasanya selalu sama dan pas di mulut Elyas. “ jawabnya kembali menyesap the itu.


“ Wah, sepertinya istri kamu bisa di andalkan. “ ucap umi sambil menatap sang menantu yang nampak malu dengan pujiannya. “ Itu teh buatan istri kamu. “


Bruusshhh


Elyas menyemburkan teh yang berada di dalam mulutnya karena terkejut mendapati fakta jika the yang ia kira buatan sang umi adalah buatan istrinya. Rasanya benar – benar sama seperti keinginannya.


“ Ih, mas. Kok jorok sih ! “ kesal Selsa karena teh yang Elyas semburkan pas ke arah roknya.


“ Iya ih. Elyas kamu jorok banget. Nggak sopan ini namanya. “ umi mengingatkan.


“ Di lap dulu nak. Roknya. “ umi memberikan tisu ke Selsa.


“ Iya, umi. Nggak pa pa sih sebenernya. “ Selsa malah menampilkan senyum cengirannya.


“ Oh, umi. Elyas mau ke kamar dulu. Mau siap – siap ke masjid. Udah mau duhur. “ pamit Elyas yang kebetulan memang sudah hampir waktu Duhur. Ia jadi punya alasan untuk segera berlalu dari kondisi itu.


“ Iyakah ? Wah, nggak kerasa ya kalau di rumah ada temen ngobrol yang asyik gini. “ sahut umi. “ Ya udah, kamu siap – siap sana cepetan. Umi mau ngobrol dulu sama istri kamu sebentar lagi. “


Elyas mengangguk dan segera pergi ke kamarnya. Umi dan Selsa melanjutkan obrolan mereka.


Tak berapa lama, Elyas keluar dari dalam kamarnya. “ Umi, Elyas ke masjid sekarang. “ pamit Elyas.


Umi mengangguk.

__ADS_1


“ Selsa, kamu sebaiknya istirahat dulu di kamar. Kamu pasti capek. “ ucap umi. Sebenarnya beliau ingin mengajak Selsa untuk sholat bersama. Tapi beliau belum berani. Takut salah ucap.


Selsa mengangguk lalu berdiri dan melangkah dengan ragu. Ia nampak bingung hendak kemana. Sesekali ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“ Mmm… Umi,,” panggilnya. Umi menoleh. “ Kamar Selsa yang mana ? “ tanyanya.


Umi terkekeh menatap menantunya. “ Maaf, umi lupa. Ayo, umi tunjukkan kamar Elyas. “ ajak beliau.


“ Ka-kamar mas Elyas ? Kok kamar mas Elyas ? “ beo selsa.


“ Ya iya dong. Kamar Elyas kan juga kamar kamu nak. “ jawab umi sambil terus berjalan menuju kamar Elyas.


“ Mmmm…. Umi… Apa tidak ada kamar lain ? Selain kamar mas Elyas ? “ tanya Selsa hati – hati. Apa ia akan tidur satu kamar dengan Elyas selamanya ?


Umi mengerutkan dahinya. “ Kenapa harus kamar yang lain ? “


“ Bu-bukan begitu umi. “ Selsa nampak salah tingkah.


“ Umi hanya punya tiga kamar. Satu kamar Elyas, satu kamar umi, dan satu lagi, kamarnya kotor, nak. Karena tidak pernah di tempati. Jadi lebih baik, masuklah ke kamar suamimu. “ umi tau apa maksud menantunya ini. Ia pasti tidak nyaman tinggal satu kamar dengan suaminya. Tapi umi harus membuat mereka menjadi baik – baik saja. Jangan sampai ada kata pisah atau semacamnya.


Mau tidak mau, akhirnya Selsa mengangguk. Ketika ia hendak membuka kamar Elyas, ia berhenti. “ Umi. “ panggilnya. Umi berbalik badan. “ Apa umi juga akan ke masjid ? “ tanyanya lirih.


“ Kamu mau ikut umi ke masjid ? “ tanya umi berbinar.


Selsa lekas menggeleng. “ Tidak umi. Selsa … Selsa malu untuk ikut sholat di masjid. Selsa … Selsa bertanya, jika umi tidak sholat di masjid, Selsa mau sholat bareng sama umi. “ ucapnya takut.


Kedua sudut bibir umi Titin kembali tertarik ke atas. “ Subhanallah. Umi akan sholat di rumah. Sama kamu. “ ucapnya senang. “ Sekarang, ambillah wudhu. Umi tunggu di mushola belakang ya. “


Bersambung


^^^Hai hai hai .....^^^


^^^Cuma sekedar info dan klarifikasi aja buat readers semua....^^^


^^^Di bab² yang lalu, ada yang komen kalau sifat Elyas nggak banget buat seorang ustadz...^^^

__ADS_1


^^^Jadi di cerita othor ini, sengaja sikap Elyas othor buat seperti itu... othor mau menunjukkan perjuangan seorang Selsa yang notabene nya adalah cewek yang tidak paham agama, bisa berubah.... Perjuangan seorang Selsa untuk menaklukkan sosok Elyas...^^^


^^^Kalau misal sikap Elyas langsung welcome ke Selsa, ceritanya jadi monoton... Lurus aja mirip jalan tol yang nggak berlobang...Lagian, meskipun Elyas seorang ustadz, Elyas juga manusia biasa... bukankah manusia itu ladangnya khilaf ya???^^^


__ADS_2