Pak Ustadku

Pak Ustadku
Menyelesaikan


__ADS_3

" Elyas, mereka keluarga terpandang. Bapaknya kepala desa di desa kita nak. " umi khawatir Elyas berbuat yang berbahaya. " Lebih baik kamu temui istri kamu. Dia pasti juga merindukan kamu. Apalagi ada calon anak kamu di sana. "


" Apa umi? Anak ? " Elyas mengendurkan kepalan tangannya.


" Iya nak. " umi mengangguk. " Istrimu sedang mengandung anak kalian. " beliau tersenyum. Elyas hanya diam. Tubuhnya membatu. Ada rasa bahagia yang tak terkira, tapi juga ada rasa sedih juga rasa bersalah yang cukup besar.


" Kamu ingat, istri kamu hari itu muntah-muntah? Itu karena dia sedang hamil, nak. " ucap umi.


Elyas tersadar. " Alhamdulillah, Ya Allah.... " Elyas menutup mukanya, lalu mengusapnya. " Terima kasih atas nikmat dan kepercayaan yang engkau berikan. " ucapnya dengan air mata yang tanpa ia sadari menetes dari kedua ujung matanya.


" Lebih baik sekarang kamu pergi ke rumah mertua kamu. Termui istri kamu. Dia pasti juga sangat merindukanmu. " ucap umi.


Elyas menggeleng. " Tidak umi. Elyas tetap harus berbicara dengan Ratna juga orang tuanya. Baru setelah itu, Elyas akan menemui Selsa. " ucapnya.


" Tapi nak... "


" Elyas pamit dulu, umi. Assalamualaikum. " pamit Elyas yang segera berlalu membawa motornya menuju ke rumah Ratna.


.


.


.


" Assalamualaikum... " sapa Elyas. Setelah menempuh perjalanan sepanjang kurang lebih 500m, akhirnya ia sampai di rumah kepala desa.


" Waalaikum salam. " jawab bu kades dari ruang tengah.


" Eh, nak Elyas. " sapa Bu kades setelah melihat siapa yang bertamu. " Mari masuk, nak. " ajak nya.


" Terima kasih, Bu kades. " jawab Elyas sembari masuk ke dalam rumah mengikuti langkah Bu kades. " Pak kades ada, bu? " tanya Elyas tanpa mengulur waktu.


" Oh ada. Sebentar, ibu panggilkan bapak dulu. " sahut Bu kades. " Duduk dulu, nak. "


" Iya Bu, terima kasih. " jawabnya sopan sambil menundukkan kepala sebentar.


Lalu Bu kades masuk ke dalam untuk memanggil suaminya. Tak berselang lama, muncullah Ratna dari luar.


" Assalamualaikum,... " sapanya. " Eh, ada mas Elyas. Tumben. " lanjutnya kala melihat sosok lelaki yang selalu mengisi hari- harinya.


" Waalaikum salam. " sahut Elyas sembari menoleh ke belakang sebentar. Raut wajahnya sudah tidak seperti sore tadi ketika bertemu Ratna. Ratna pun bisa merasakannya.


Ratna masuk ke dalam rumah dengan senyuman yang tak pernah meninggalkan bibirnya. Tanpa di minta, ia mendudukkan dirinya di sofa di depan Elyas.


" Mas Elyas kok tumben sore-sore datang kesini? Mau ketemu siapa? " Ratna berinisiatif untuk bertanya.


" Saya mau bertemu kamu, juga pak kades. " jawab Elyas datar.

__ADS_1


Ada rasa berbunga di sudut hati Ratna. Apakah mas Elyas mau melanjutkan niatnya dulu? Apa dia memutuskan untuk meninggalkan istrinya? tanya Ratna dalam benaknya.


" Ada apa ya mas Elyas? Kok tumben. " ucap Ratna dengan jantung berdebar.


" Nanti saja nunggu pak kades. " jawab Elyas.


Suasana tiba-tiba sunyi. Baik Ratna maupun Elyas tidak ada yang hendak membuka pembicaraan. Sampai pak kades juga Bu kades muncul dari dalam.


" Nak Elyas. " sapa pak kades. Elyas lalu berdiri guna menyalami pak kades.


" Kok tumben nak Elyas sore-sore kemari. Ada perlu apa. " tanya pak kades sambil duduk di sofa yang masih kosong.


" Sebelumnya, saya minta maaf sekali kepada keluarga pak kades. " ucap Elyas.


Pak kades mengernyit. " Ada apa ini? " tanyanya.


" Jadi begini pak kades. Saya mau minta maaf sama pak kades dan keluarga, terutama Ratna.. " Elyas memandang satu-satu anggota keluarga itu. " Jika saya sudah mengecewakan keluarga ini sebelumnya. "


Pak kades, Bu kades, juga Ratna tidak menyela ucapan Elyas.


" Maaf, jika niat saya dulu yang hendak mengkhitbah Ratna, harus gagal. Sungguh, semua sudah takdir dan jalan yang di berikan oleh Allah kepada saya. " ucap Elyas sungguh-sungguh.


" Memang saya dan Ratna tidak berjodoh. Saya punya jodoh lain, begitupun dengan Ratna. Ratna pasti mendapatkan jodoh yang jauh lebih baik dari saya. " lanjutnya.


" Iya, nak Elyas. Kami memahami dan memaklumi hal itu. Manusia hanya bisa menjalani takdir Allah. Kami sekeluarga tidak pernah merasa bagaimana-bagaimana. Kami ikhlas. " jawab pak kades yang memang nampak legowo. Tapi tidak dengan Ratna. Ia terlihat geram.


" Dan kini, saya minta maaf sekali lagi sama Ratna. " lanjut Elyas yang kini menghadap ke Ratna. " Maaf, Ratna. Kita memang tidak berjodoh. "


Ratna nampak menunduk dalam. Hatinya terasa perih.


" Saya mencintai istri saya. Jadi, saya mohon sama kamu, ikhlaskan saya, dan ijinkan saya untuk hidup bahagia bersama istri saya. Jangan pernah mengatakan hal yang akan menimbulkan fitnah. Dan saya mohon, berhentilah mencoba merusak rumah tangga saya. " pinta Elyas dengan sungguh-sungguh.


Tes


Air mata Ratna menetes dalam diam.


" Maaf, nak Elyas. Maksudnya apa ya? " tanya Bu kades.


" Jadi begini, pak kades, Bu kades. " Elyas mengalihkan perhatiannya ke pak kades dan Bu kades.


" Entah sikap apa, atau ucapan apa yang telah Ratna berikan ke istri saya, hingga terjadi kesalahpahaman dalam rumah tangga kami. " jawab Elyas.


Ratna masih setia menunduk. Hatinya berdebar. Ia bingung harus bersikap seperti apa sekarang.


" Kenapa sore tadi saat saya bertemu denganmu, dan aku bertanya baik-baik, kamu mengatakan jika kamu tidak pernah bertemu dengan istri saya akhir-akhir ini? " tanya Elyas dengan nada suara datar. Tatapannya tajam. Hatinya mendidih.


" Apa yang sudah kamu katakan kepada istri saya, Ratna? " tanya Elyas.

__ADS_1


Ratna masih tak bergeming. Elyas makin di buat geram.


" Ratna.. " panggil Bu kades.


" Ratna tidak mengatakan apa-apa, bu. Kami hanya bicara hal biasa. " jawab Ratna dengan raut wajah ketakutannya.


" Jangan berbohong, Ratna. " ucap Elyas. " Kamu ... " Elyas memejamkan matanya menghela nafas beratnya. " Kamu tega mengadu domba saya dengan Selsa. " lanjut Elyas dengan berat.


" Apa maksud kamu, nak? Apa sebenarnya yang telah di lakukan Ratna? " tanya Bu kades cemas.


Elyas menghela nafas beratnya. Ia diam, menunggu Ratna mengatakan sesuatu. Tapi ternyata tak kunjung Ratna mengeluarkan suaranya.


" Kenapa kamu harus mengatakan sesuatu yang sama sekali tidak pernah saya mengatakannya kepadamu? Karena perbuatan kamu, istri saya pergi dari rumah dengan membawa calon anak kami. " ucap Elyas datar.


" Astaghfirullah Ratna.... Apa yang sudah kamu lakukan, nak? " tanya Bu kades terkejut.


Air mata kembali turun begitu saja dari kedua sudut mata Ratna.


" Ibu dan bapak tidak pernah mengajarkan hal yang buruk kepadamu. " ungkap Bu kades lirih.


" Maaf. " ucap Ratna lirih. " Maaf. " ucapnya kembali dengan deraian air mata.


" Jadi benar kamu melakukan sesuatu terhadap mereka, nak ? Kamu sengaja ingin merusak rumah tangga mereka? " kali ini pak kades yang bertanya.


" Maaf, bapak. Maafkan Ratna. " sahut Ratna dengan suara bergetar. " Ratna hanya ingin membuat mas Elyas bahagia. Karena Ratna sangat mencintai mas Elyas."


Pak kades mengusap wajahnya kasar. " Apa maksud kamu, Ratna? "


" Mas Elyas tidak mencintai istrinya, pak. Mas Elyas mencintai Ratna. Jadi Ratna hanya membantu mas Elyas supaya istrinya meninggalkan mas Elyas. Ratna hanya ingin membantu mas Elyas untuk mendapatkan kebebasannya. Karena Ratna yakin, mas Elyas tidak bisa meninggalkan istrinya. " Ratna mendongakkan kepalanya. Ia tidak lagi menunduk.


" Kamu salah, Ratna. Saya sangat mencintai istri saya. Dan sampai kapanpun saya tidak akan pernah meninggalkan istrinya. Meskipun dia yang memintanya. Apapun akan saya lakukan untuk tetap bersama dengan Selsa. Apalagi sekarang ada calon bayi saya dalam rahimnya. " tegas Elyas.


" Hiks... Hiks ... Hiks ... " tangis Ratna kian terdengar. " Tapi Ratna sangat mencintai mas Elyas. " ucapnya.


" Saya minta maaf, Ratna. " ucap Elyas tulus.


" Ratna, jangan seperti ini nak. " Bu kades meraih tubuh sang putri yang bergetar karena tangis. Ia memeluk bahu sang putri.


" Ibu sudah pernah mengatakan sama kamu, jangan pernah mencintai seseorang melebihi rasa cintamu sama pencipta Mu. Karena jika itu terjadi, maka kamu pasti akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya. Dan sepertinya hal ini benar, kan? Kamu tega memisahkan nak Elyas dengan istri juga calon anak mereka. Nak Elyas pasti sangat menderita sekarang. " ucap Bu kades


" Huhuhu.... Maafkan Ratna, Bu. Maafkan Ratna... " Ratna membalas pelukan ibunya.


" Jangan meminta maaf ke ibu. Minta maaf lah ke nak Elyas dan istrinya yang telah kamu lukai hatinya. " ujar sang ibu.


Ratna sedikit mendongak. " Maafkan Ratna, mas. Maafkan Ratna. " ucap Ratna ke Elyas. " Ijinkan Ratna meminta maaf dan menjelaskan semuanya ke istri mas Elyas. "


" Tidak perlu. Saya rasa, rekaman ini sudah cukup untuk membuat kesalahpahaman di antara kami usai. " jawab Elyas sambil mengangkat ponselnya.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2