Pak Ustadku

Pak Ustadku
Syuting


__ADS_3

Malam telah tiba. Keadaan umi berangsur-angsur membaik. Beliau sudah tidak demam. Beliau juga sudah makan nasi bukan lagi bubur waktu ketika makan malam.


Entah mengapa, malam ini terasa aneh buat Elyas juga Selsa. Bagi Elyas, ini adalah malam pertama ketika dirinya memutuskan membuka hatinya untuk sang istri.


Sedangkan Selsa, ia sedang memikirkan apa yang di katakan oleh dokter Pipit pagi tadi. Apakah benar dirinya harus membuat Elyas menidurinya supaya Elyas menerima dirinya?


Tapi bagaimana caranya? Jujur, dirinya memang pernah tinggal di luar negeri. Keluar masuk night club, mabuk, sudah hal biasa. Tapi untuk menjerat lelaki, ia sama sekali nol pengalaman.


Selsa membolak-balikkan tubuhnya di atas ranjang. Memikirkan bagaimana caranya dirinya merayu sang suami supaya suaminya itu mau melakukan kewajiban mereka sebagai suami istri.


" Apakah aku harus memakainya? Lalu berjalan berlenggak lenggok di hadapannya? " gumam Selsa.


Selsa teringat dengan baju jaring ikan yang di pilihkan oleh Aleta beberapa waktu yang lalu.


" Apa aku harus bersikap agresif? Seperti yang ada di drama-drama Thailand yang sering aku lihat ? " gumamnya kembali.


Ah, Selsa jadi pusing sendiri. Hingga tanpa sadar, dirinya terlelap. Ketika Elyas masuk ke dalam kamar, Selsa sudah tertidur. Padahal ini baru jam setengah 9.


Elyas berjalan mendekati ranjang. Ia duduk di tepian ranjang sambil menatap wajah cantik yang terlihat damai dalam tidurnya.


Elyas memberanikan diri untuk menyingkirkan beberapa anak rambut yang menutupi wajah istrinya.


" Kamu pasti capek. Seharian menjaga umi. " ucapnya.


" Terima kasih. " lanjutnya, sambil beralih membelai pipi Selsa lembut.


" Terima kasih, kamu sudah begitu baik terhadapku, juga umi. Terima kasih, kamu sudah bersabar dengan segala sikapku selama ini. Bersabarlah sedikit lagi. Berikanlah aku waktu sedikit lagi untuk menata hatiku supaya aku benar-benar bisa menerimamu. Menerima semua kelebihan juga kekuranganmu. " lanjutnya.


Lalu ia mendekatkan wajahnya, mengecup kening sang istri lembut. Hingga tidak membuat sang terbangun.


Setelahnya, ia bangkit dari duduknya dan segera mengambil kasur lantai, yang mungkin sebentar lagi ia akan menanggalkan kasur lantai dan membelai ranjang yang lebih besar sehingga dirinya bisa membiasakan tidur satu ranjang dengan sang istri.


.


.

__ADS_1


.


" Sa, model ceweknya malah nggak dateng. Tiba-tiba dia sakit. " pekik Amir dari kejauhan. Dia berlari karena waktu sudah mepet.


Sedangkan sang model cowoknya langsung berdecak mendengar omongan Amir tadi. Dirinya bekerja sama dengan model cewek itu sudah berkali-kali. Dan memang model cewek itu suka seenaknya sendiri.


" Selalu buat ulah. " ketusnya sambil menyingkirkan tangan asistennya yang sedang menata wajahnya. Ia berdiri dari tempatnya duduk.


Di sisi lain, Selsa menepuk jidatnya perlahan. Kenapa harus sekarang? pikirnya. Waktu sudah sangat mepet. Sangat tidak mungkin dirinya harus mencari model yang baru lagi.


Proyek ini adalah proyek besar. Proyek dari perusahaan Coler. Proyek yang nantinya, pengambilan gambar iklan ini di ambil di Indonesia juga di Australia.


" Gimana ini mas? Waktunya terlalu mepet untuk mengambil model yang lain. " tanya Selsa panik ke Elyas.


" Kenapa bukan loe aja? " belum juga Elyas menjawab pertanyaan Selsa, sang model cowok sudah menyahut.


" Gue perhatiin, loe punya tubuh yang bagus. Wajah loe juga cantik. " model itu memperhatikan dengan intens sosok Selsa sambil melipat tangannya di depan dada.


" Ha ? " beo Selsa. Ia langsung menggeleng. " Nggak... Nggak ... Gue nggak bisa. " tolaknya. Sebenarnya bukannya tidak bisa berakting. Dulu, waktu masih di luar negeri, dirinya pernah dua kali membintangi iklan. Tapi ia tidak pernah memberitahu keluarganya.


Menjadi model dengan beradu akting dengan laki-laki, tentu saja akan ada adegan yang mengharuskan dirinya beradegan mesra. Ia sudah tahu konsep iklan itu. Karena dirinya lah yang membuat konsep itu.


" Oh, ayolah. Gue nggak punya banyak waktu luang. Gue nggak mungkin bikin jadwal ulang. Kerjaan gue masih banyak. Dan gue nggak mau jika harus nungguin cewek nggak jelas itu. " ucap sang model.


" Masih ada cewek lain di sini. " ucap Elyas.


" No. Hanya dia yang pantas beradu akting sama gue. " sahut sang model cepat. " Oke, kalian tinggal pilih aja. Mau lanjut syuting sekarang dengan dia model ceweknya, atau kita batalkan saja kontrak kerja sama kita? " lanjutnya.


Bingung, tentu saja. Model cowok itu adalah pilihan dari perusahaan Coler. Karena sebagian besar produk perusahaan itu, dialah modelnya. Dan hal itu, membuat sang model agak besar kepala.


" Mungkin ide dia boleh juga. " sahut Amir pelan sambil mencoba bernegosiasi dengan Selsa juga Elyas.


" Tapi ... "


" Yas, aku tahu, Selsa istri kamu. Tapi kalau sampai dia membatalkan kontrak, bisa jadi kita bakalan kena imbasnya. Perusahaan Coler sendiri yang merekomendasikan dia. Tahu sendiri kan, apa yang akan terjadi jika sampai proyek ini gagal ? " potong Amir.

__ADS_1


Elyas berkacak pinggang dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya mengusap wajahnya kasar. Dan Selsa hanya bisa terdiam. Ia juga bingung harus apa.


" Bismillahirrahmanirrahim... " ucap Elyas lirih. Lalu ia mengangguk. Berat memang harus memutuskan ini. Tapi mau bagaimana lagi?


" Mas... Kamu tahu kan, konsep iklannya seperti apa? " tanya Selsa. Ia lalu menggelengkan kepalanya mendengar keputusan suaminya.


Jujur, Selsa kecewa dengan keputusan suaminya. Apa setidak di anggapnya dirinya sebagai istri oleh Elyas, hingga Elyas membiarkan dirinya berdekatan dengan laki-laki lain? Bahkan di hadapannya?


" Kita tidak punya pilihan lain. Tidak mungkin kita membiarkan perusahaan merugi karena harus membayar pinalti untuk proyek ini. " jawab Elyas setelah dirinya menghela nafas panjang. Ia tahu, istrinya kecewa dengan keputusannya. Sangat terlihat dengan jelas di raut wajah Selsa. Tapi ia juga tidak bisa melakukan apa-apa.


Selsa memejamkan matanya sambil menarik nafas dalam-dalam. " Baiklah. Akan aku lakukan. Jika suamiku sudah meridhoi. " ucapnya, dan tanpa menunggu jawaban Elyas, dirinya pergi untuk mengganti bajunya.


" Mbak Ine... " panggil Elyas.


" Iya mas. " jawab Ine. Ine adalah penata busana perusahaan Rakesh.


" Tolong, beri istriku pakaian yang tertutup. Jangan kasih dia baju yang seharusnya di pakai oleh Inggit. " pinta Elyas. Inggit, adalah nama model cewek yang seharusnya membintangi iklan ini.


" Oke mas. " jawab Ine sambil menautkan jari telunjuk dan jempolnya hingga membentuk huruf O.


Tentu saja Elyas tidak akan rela sang istri mengenakan gaun yang terbuka. Apalagi iklan itu akan menjadi konsumsi publik. Mengijinkan istrinya untuk syuting iklan ini saja, hatinya begitu berat. Belum lagi nanti jika sang istri harus beradu akting dengan laki-laki lain. Ah, Elyas tidak bisa membayangkannya.


Sedangkan di ruang ganti, Selsa masih di liputi emosi.


" Mbak, jangan pakai yang itu. " larang Ine ketika Selsa hendak mengambil gaun yang harusnya di pakai oleh Inggit.


" Kenapa? Bukannya gaun ini yang akan di gunakan untuk syuting? " tanya Selsa.


" Akan aku ambilkan gaun yang lain. Mas Elyas melarang mbak Selsa pakai gaun yang itu. Terlalu terbuka katanya. " sahut Ine sambil sibuk memilih gaun yang paling pantas untuk Selsa.


Selsa tersenyum miring mendengar ucapan Ine. Kamu masih peduli mas ? tanyanya dalam hati.


Kita lihat saja nanti. Akan aku buat kamu menyesali keputusan kamu ini. Akan aku buat kamu merasakan bagaimana rasanya cemburu. batin Selsa sambil tersenyum smirk.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2