
Elyas terbangun ketika mendengar suara adzan berkumandang. Uh, baru kali ini Elyas kesiangan begini. Gimana tidak kesiangan, jika ia terlelap kala jam di dinding sudah menunjukkan pukul 1 lebih. Bahkan sholat malam saja terlewat begitu saja.
Elyas mengerjab-ngerjabkan kedua kelopak matanya untuk menyesuaikan netra dengan cahaya lampu di kamarnya. Ia lalu menggeliat. Tiba-tiba, dirinya teringat akan kejadian semalam. Senyum simpul tercipta dari kedua sudut bibirnya.
Oh, akhirnya Elyas bisa melepas keperjakaannya dengan istrinya. Istri yang sesuai dengan keinginannya selama ini. Ada rasa sesal yang mendalam dalam hati Elyas ketika dirinya kembali mengingat bagaimana dirinya menjudge Selsa tidak bisa menjaga marwahnya dan membuatnya enggan untuk menyentuh Selsa.
Tapi untung saja dirinya tidak terlalu lama bergelut dengan dosa itu. Hingga kini dirinya tahu jika istrinya ternyata masih perawan dan dirinya lah yang mengambil keperawanan itu. Ah, kenapa tidak dari dulu saja? batin Elyas. Coba saja dirinya tahu jika rasanya sedahsyat ini menjalani hubungan suami istri. Maka sudah dari awal dirinya akan memenuhi kebutuhan batin istrinya.
Elyas menoleh ke samping. Ia memiringkan tubuhnya, mengangkat kepalanya dan menopangnya dengan tangannya. Ia menatap lekat wajah polos sang istri yang masih tertidur pulas.
Elyas mengulurkan tangannya, menyingkirkan beberapa anak rambut yang menutupi pipi Selsa. Lalu di belainya lembut pipi gadis yang semalam telah ia rubah menjadi wanita.
Elyas kembali tersenyum. Tiba-tiba ia ingin memastikan apakah yang semalam itu hanya mimpinya atau bukan. Mimpi ba sah yang seolah seperti kenyataan. Ia menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya. Tubuh bagian atasnya masih telan jang, sedangkan bawah, ia memakai boxernya.
Lalu, apakah sang istri juga sama? Elyas kini mengintip kondisi sang istri dari balik selimut yang ia angkat perlahan.
Wow, ternyata istrinya masih dalam keadaan na ked. Benar-benar na ked, kecuali selimut yang menutupinya. Dan di kulit Selsa terlihat ruam berwarna merah maroon. Dan itu adalah hasil karyanya.
Bibir Elyas tersungging kian lebar. Jadi yang semalam adalah benar. Dirinya ternyata bisa meng-unboxing seorang gadis. Ia terkekeh geli mendapati pemikiran seperti itu.
Elyas kembali menutup tubuh Selsa dengan selimut. Ia bahkan meninggikan selimut itu hingga menutup leher Selsa. Lalu ia bangkit. Sudah masuk waktu Subuh. Ia segera ke kamar mandi untuk mengambil wudhu. Jangan di tanya soal mandi wajib. Tentu saja ia sudah melakukannya semalam.
Elyas kembali keluar dari dalam kamar mandi dengan handuk melilit di bagian tubuh bawahnya. Ia kembali tersenyum kala netranya mampir ke atas ranjang. Istrinya masih tertidur nyenyak.
Elyas segera memakai baju koko juga sarungnya. Tak lupa, peci ia sematkan di kepalanya. Karena adzan Subuh sudah tadi, Elyas akhirnya memutuskan untuk sholat Subuh di rumah. Karena percuma ia ke masjid. Yang ada, dirinya hanya akan menjadi bahan pertanyaan warga masjid.
Elyas membentangkan sajadah di lantai dimana dirinya biasa membentangkan kasur lantai. Setelah sajadah terbentang rapi, Elyas mulai mengucap niat sholat subuh.
Selepas sholat Subuh, Elyas melipas kembali sajadahnya. Ia lalu mendekati ranjang dan duduk di sisi ranjang. Ia kembali memandang wajah polos sang istri yang akan selalu membuat bibirnya tersungging mulai saat ini.
Cup
Sebuah kecupan lembut ia daratkan di kening Selsa, lalu turun ke mata, lalu ke pipi, dan terakhir, kecupan itu turun ke bibir. Membuat si empunya menggeliat tapi masih dengan mata terpejam.
" Sayang... " panggilnya lirih di dekat telinga Selsa.
" Mmhh... " Selsa hanya bergumam tanpa mau membuka matanya.
Elyas tersenyum melihat sang istri tak kunjung membuka mata. Ia lalu menoel-noel hidung Selsa dan membuat si empunya mengangkat tangannya untuk menyingkirkan tangan jahil itu. Tapi tetap dengan mata terpejam.
Kembali Elyas menjahili Selsa dan membuat Selsa kini mengalihkan posisinya menjadi miring membelakangi Elyas.
Semakin gemas saja si Elyas. Baru kali ini ia membangunkan istrinya. Biasanya, istrinya itu akan bangun dengan sendirinya ketika mendengar adzan Subuh.
__ADS_1
" Bangun.... " Elyas kini sedikit menggoyang - goyangkan bahu Selsa.
" Bentar lagi, bibi. Masih ngantuk. Sepuluh menit lagi. " ucap Selsa dengan suara parau bahkan hampir mirip gumaman. Ia mengatakan sepuluh menit, tapi ia mengangkat tiga jarinya. Membuat Elyas terkekeh.
" Tapi itu bukan sepuluh. Itu tiga. " ucap Elyas di dekat telinga Selsa.
" Sejak kapan suara bibi jadi ngebas gitu ?? " ujar Selsa dan berhasil membuat Elyas tertawa agak keras.
Suara tawa Elyas membuat kelopak mata Selsa mulai terbuka sedikit demi sedikit. Ia sedikit menoleh ke belakang untuk melihat suara siapakah barusan yang tertawa dengan mata yang masih berat.
" Aku bukan bi Rasti. " ujar Elyas sambil memencet hidung Selsa.
" Mas?? Kamu yang bangunin aku ? " tanya Selsa sambil menguap.
" Kalau menguap, di tutup tuh gerbangnya. Takut ada tamu tak di undang masuk. " kelakar Elyas.
Selsa menggeliat. Mengangkat kedua tangannya ke atas. Ah, kenapa badannya terasa remuk begini? Perasaan dirinya kemarin hanya menjadi model dadakan saja. batin Selsa.
Tanpa ia sadari, selimut yang menutupi tubuhnya merosot hingga memperlihatkan gunung kembarnya yang menyeruak keluar.
" Hei, jangan tinggi-tinggi ngangkat tangannya. Waktunya sholat subuh. Keburu habis waktunya. Jadi jangan memancingku kembali. " ucap Elyas sambil tersenyum.
Selsa mengernyit. Maksudnya? Ia bertanya dalam hati. Baru setelah beberapa detik kemudian, ia merasa ada yang aneh dengan tubuhnya. Kenapa tubuhnya terasa semriwing?
Selsa memejamkan matanya erat kala ia mengingat kejadian semalam. Kenapa dirinya bisa senekat itu menggoda Elyas. Ah, bagaimana pandangan suaminya terhadap dirinya saat ini? Pasti lebih buruk lagi.
" Hei, kenapa malah di tutup gitu mukanya? Kalau nggak bisa nafas gimana? " tanya Elyas sambil menarik selimut yang i pegang erat oleh Selsa.
" Udah hampir jam 5 loh. Nggak mau sholat Subuh dulu? Sholat dulu, nanti habis sholat, kamu tidur aja lagi. " lanjutnya.
Terlihat Selsa mengintip kecil di balik selimut guna melihat jam di dinding.
" Astaghfirullah... Udah jam 5. Belum sholat. Belum siap-siap bikin sarapan juga. " Selsa terperanjat. Ia lalu buru-buru bangun dari tidurnya sambil menggulung selimut itu ke tubuhnya.
Tapi tiba-tiba ia kembali terduduk kala ia hendak berjalan. " Auu... Ssshhh.. " desisnya dengan tangan berada di atas tubuh bagian bawahnya.
" Kenapa? " tanya Elyas panik, sedari tadi pandangannya tak lekang dari sang istri.
" Sakit ini. Perih perih gimana gitu. " jawab Selsa sambil menggigit bibir bawahnya.
" Maaf. " ucap Elyas dan kini ia telah berpindah tempat hendak mengangkat tubuh Selsa.
" Eh, mau ngapain? " tanya Selsa.
__ADS_1
" Mau gendong kamu ke kamar mandi. Katanya sakit kan? Aku bantu ke kamar mandi. " jawab Elyas.
Selsa menggeleng. " Makasih. Kalau di gendong berasa kayak anak kecil. "
Dengan perlahan, ia kembali berdiri. Lalu ia melonggarkan gulungan selimutnya, hingga ia bisa berjalan dengan sedikit mengangkang. Paling tidak, dengan cara berjalan seperti ini, tidak terasa begitu perih. Karena tidak terjadi gesekan di bawah sana.
" Jangan lupa, mandi junub dulu baru wudhu. " teriak Elyas dari luar kamar mandi karena Selsa sudah menutup pintunya.
Ceklek
Pintu kembali terbuka, tapi hanya sedikit. Selsa melongokkan kepalanya keluar.
" Mandi junub, apa? " tanyanya.
" Mandi junub itu, mandi besar. Untuk mensucikan diri kita dari hadas besar, karena semalam kita melakukan hubungan suami istri. Hampir sama seperti ketika kamu selesai ha id. " jelas Elyas.
Selsa menggaruk kepalanya sambil berpikir. " Mandi keramas gitu ? " tanyanya.
Elyas mengangguk. " Harusnya, semalam kamu langsung mandi. Tapi karena semalam kamu sepertinya capek banget, ya udah, mandi junub nya sekarang nggak pa-pa. Yang penting jangan sampai melewati waktu subuh. " lanjutnya menjelaskan.
" Gimana nggak capek. Kalau di ajakin kerja rodi. Pak ustadz ternyata garang juga. " gumam Selsa sambil menutup pintu kamar mandi.
Gumaman yang masih bisa terdengar di telinga Elyas. Elyas kini yang menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Iya, dirinya memang sedikit keterlaluan semalam. Entah karena ia baru merasakan surga dunia dan membuatnya ingin mengulang dan mengulang lagi sampai-sampai ia tidak memikirkan istrinya yang sudah lelah.
Tok ... Tok ... Tok ...
" Sa? " panggil Elyas dari luar. " Sudah tahu niatnya? Niatnya nggak sama loh sama kalau kamu habis ha id." ucapnya.
Ceklek
" Beda? " tanya Selsa yang melongokkan kembali kepalanya. Terlihat, rambutnya sudah agak basah.
" Beda. " Elyas mengangguk. " Sedikit berbeda. " lanjutnya.
" Gimana? " tanya Selsa.
" Nawaitul gushla lirof'il hadatsil akbari fardhol lillahi ta'ala. " Elyas mengajari niat untuk Selsa. " Bisa? " tanyanya.
Selsa mengangguk. " Cuma beda di haidill kan? Di ganti sama akbari? "
Kali ini Elyas yang mengangguk. Selsa kembali menutup pintu. Elyas kembali tersenyum dan bersyukur. Ternyata benar apa yang di katakan umi. Tidak sulit mengajari Selsa sesuatu.
Bersambung
__ADS_1
*Semriwing \= terasa dingin dingin gimana gitu