Pak Ustadku

Pak Ustadku
Ibadah rumah tangga


__ADS_3

^^^Area 21++++^^^


^^^Bocil skip aja yah.... Jangan di lanjut... Langsung capcus episode selanjutnya...☺️☺️^^^


____________________


Usai acara menonton TV bersama umi, Selsa masuk ke dalam kamar. Ia butuh waktu untuk melancarkan rencananya.


Sedangkan Elyas, pulang dari masjid sudah agak malam. Biasane ia akan pulang setelah jamaah isya. Tapi malam ini, ia pulang agak malam, yaitu saat jam di dinding menunjukkan pukul 9 malam. Malam ini, ada pertemuan rutin pemuda masjid. Dan Elyas adalah ketuanya.


" Assalamualaikum umi. " sapa Elyas ketika ia masuk ke dalam rumah dan melihat umi hendak masuk ke dalam kamar.


" Waalaikum salam. Udah pulang Yas? " tanya umi. Karena biasanya jika ada pertemuan, Elyas akan pulang minimal jam 10.


" Iya umi. Tidak terlalu banyak yang di bahas. " jawab Elyas. " Umi udah mau tidur? " tanyanya.


" Iya lah. Udah malam. Udah hampir jam setengah 10 ini. Istri kamu juga udah ngandang. " sahut umi.


Elyas mengangguk. " Ya udah, selamat istirahat umi. " ucap Elyas lalu ia mengecup punggung tangan umi.


" Kamu juga cepetan istirahat. Atau, kalau belum pengen istirahat, mendingan buatin umi cucu. " kekeh umi.


" Ha? " beo Elyas. Ia lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Menandakan jika dirinya tengah salah tingkah.


Umi terkekeh geli lalu masuk ke dalam kamar sambil geleng-geleng kepala. Meninggalkan Elyas yang masih di liputi rasa salah tingkah.


Memang niatnya, malam ini dirinya ingin menunaikan ibadah sebagai suami. Ibadah yang seharusnya sudah ia jalankan dari beberapa bulan yang lalu.


Tapi entah mengapa, rasanya begitu berdebar. Tiba-tiba keyakinannya, rasa percaya dirinya anjlok begitu saja. Ia tidak tahu yang bagaimana memulainya. Bahkan untuk berciuman saja, jika Selsa dulu tidak memulainya, ia juga tidak akan mengerti.


Ia melangkah menuju ke kamarnya perlahan, sambil terus menimbang dan menimang, apakah ia akan bisa melakukannya malam ini? Memberikan nafkah batin untuk sang istri.


Sebenarnya bukan hanya sekedar memberikan nafkah batin. Tapi lebih ke rasa ingin memiliki dan takut kehilangan. Setelah kejadian pagi menjelang siang tadi, hatinya merasa takut kehilangan istrinya. Istrinya begitu memukau di setiap kesempatan. Banyak lelaki di luaran sana yang pastinya menginginkan istrinya.


" Bismillahirrahmanirrahim... " dengan mengucap basmallah, Elyas membuka kenop pintu perlahan. Ia kembali menutup daun pintu dengan perlahan juga kala tubuhnya telah masuk sempurna ke dalam kamar.


Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Sepi. Ia juga tidak mendapati istrinya di atas ranjang. Kemana dia? tanya Elyas dalam hati.


Ia lalu melepas pecinya, dan ia taruh di atas meja. Setelahnya, ia berjalan menuju ke ranjang, dan mendudukkan tubuhnya di tepian ranjang.


Kembali pikirannya melayang. Melayang membayangkan dan memikirkan apa yang akan ia lakukan malam ini. Yang pasti, mulai malam ini, dirinya akan tidur di atas ranjang itu. Sudah tidak ada lagi kasur lantai yang menemani dinginnya malam.


Saking asyiknya Elyas dengan pikirannya, ia sampai tidak mendengar pintu kamar mandi terbuka dari dalam.

__ADS_1


Selsa keluar dari dalam kamar mandi dengan mengenakan baju dinas malam. Iya, Selsa memutuskan untuk melakukannya malam ini. Ia mengenakan baju jaring ikan yang ia beli bersama Aleta beberapa waktu yang lalu. Harusnya sudah dari kemarin dirinya memakai baju itu. Tapi ia masih tidak PD.


Dan malam ini, akhirnya dirinya bisa mengenakan baju itu juga. Setelah tadi banyak mempersiapkan diri di dalam kamar mandi. Mulai dari membersihkan wajahnya, menggosok giginya, bahkan ia tadi sempat mandi dengan sabun aroma terapi. Aroma strawberry menguar dari tubuhnya.


Selsa menggigit bibir bawahnya kecil kala melihat Elyas tengah duduk di tepian ranjang. Ia menarik nafasnya dalam. Meraup udara sebanyak-banyaknya untuk mengisi rongga dadanya yang terasa berdebar tak karuan.


Selsa melangkah perlahan menuju suaminya. Gaun malam berwarna merah terang melambai-lambai menyibak, seiring langkahnya. Gaun malam tipis berwarna merah menyala, yang mampu memperlihatkan kulit putihnya dari sela-sela kain yang memang sangat tipis.


" E khem. " Selsa berdehem bukan hanya untuk memberitahu Elyas tentang keberadaannya, tapi juga untuk menghilangkan rasa groginya.


Elyas tersadar. Ia menengok ke samping. Ke arah suara. Tanpa sadar ia membulatkan matanya sambil menelan salivanya susah payah melihat penampilan Selsa, istrinya yang begitu sek sy dan tentu saja bisa membangkitkan apapun.


Saat tersadar dari kebo dohannya, Elyas kembali menatap ke depan. Berniat menghindari penampakan yang menggangu hatinya.


" Mas.. " panggil Selsa. Panggilan yang sangat syahdu di telinga Elyas. Suara itu terdengar sangat dekat.


" E khem. " Elyas berdehem untuk menetralkan detak jantungnya yang berlarian. " I-iya... A-" lanjutnya terbata sambil menoleh ke samping. Bahkan ucapannya terpotong kala melihat istrinya begitu dekat dengannya. Ia sampai berangsur mundur dengan tangan yang mencengkeram spray. Duh, apa salah sprainya hingga Elyas membuatnya terkoyak.


" Mas... " kembali suara Selsa mendayu-dayu.


Jleb


Jantung Elyas terasa berhenti berdetak. Ia menahan nafasnya kala Selsa malah duduk di atas pangkuannya. Elyas memang berniat menunaikan ibadahnya malam ini. Tapi ketika di sajikan hal seperti ini di hadapannya, tiba-tiba saja otaknya oleng. Tidak bisa berpikir apapun.


Selsa mengalungkan kedua tangannya ke leher Elyas. Sedangkan Elyas, tangannya makin mencengkeram erat tepian spray hingga spray yang tadinya rapi itu, menjadi kusut.


Elyas memejamkan matanya erat demi tidak melihat apa yang tersaji di depannya ini. Suguhan yang harusnya membuat lelaki manapun enggan untuk menolak.


Kesempatan ini, Selsa pergunakan dengan baik. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Elyas. Lalu ia mengecup lembut bibir Elyas, membuat Elyas terperanjat kaget dan membuka matanya. Tapi hanya sebentar, ia kembali menutup matanya. Meresapi setiap rasa yang di berikan oleh sang istri.


Kecupan itu berubah menjadi ciuman dan lu matan yang menuntut. Bahkan kini, Elyas sudah membalas semua perlakuan Selsa. Semua yang awalnya lembut, kini menjadi semakin menuntut.


Selsa meraih tangan kiri Elyas yang masih setia mencengkeram sprai. Ia membawa tangan suaminya itu ke da danya. Awalnya, Elyas terkejut dan menghentikan ciumannya. Tapi Selsa tidak membiarkan apa yang sudah susah payah ia rencanakan, gagal begitu saja.


Selsa kembali maraup bibir suaminya menuntut. Tangannya juga masih setia menuntun tangan suaminya untuk beraktivitas di da danya.


Tangan Elyas terasa dingin di kulit Selsa yang terbalut kain tipis itu. Menandakan jika Elyas memang sangat grogi. Tapi tak urung, akhirnya Elyas memberanikan diri untuk menyentuh istrinya.


Melanjutkan apa yang tadi sudah di mulai oleh istrinya. Kini tangan Elyas sudah bisa menyentuh, meraba apapun yang ada di hadapannya.


Sebuah lengu han terdengar keluar dari bibir Selsa kala jari jemari Elyas menyentuh puncak da danya. Meskipun gaun malam itu masih melekat di tubuhnya, tapi karena kainnya begitu tipis, maka sentuhan Elyas terasa langsung ke kulitnya.


Suara lengu han yang di ucapkan Selsa membuat Elyas makin menggila. Rasa grogi yang tadi menjeratnya, kini hilang bak di telan bumi. Tangannya makin bersemangat untuk menyentuh apapun yang ingin di sentuhnya.

__ADS_1


Dan kini, Elyas telah membalikkan keadaan. Yang tadinya Selsa berada di atasnya, kini Selsa sudah berada di bawah kungkungannya. Mereka kini sudah saling menindih di atas ranjang. Baju koko Elyas sudah terbuka semua kancingnya. Siapa lagi pelakunya jika bukan Selsa.


Lengu han kini keluar dari mulut Elyas kala tangan Selsa menari-nari di atas perut bagian bawahnya. Meskipun masih terhalang oleh sarung dan boxer, tapi sentuhan tangan Selsa tepat pada sasaran.


" Ahhh... " the sahan keluar dari mulut Selsa saat jari jemari Elyas meremas da danya. Bahkan menggesek-gesekkannya di puncak gunung kembarnya. Tentu saja tangan Elyas sudah masuk ke dalam gaun malam Selsa. Gaun malam itu sudah tidak serapi tadi.


Tali spaghetti yang melintang di pundak, kini sudah melorot hingga da da Selsa menyembul sempurna. Karena kacamata penutupnya juga sudah lepas pengaitnya.


Entah karena hasrat yang terpendam terlalu lama, atau karena Elyas yang mempunyai dendam kesumat akan surga dunia yang Allah berikan, Elyas sangat beringas. Ia menyentuh, mencium, melu mat, memilin, apapun yang ia temui.


Suara lengu han dan the sahan mengalun menemani malam yang semakin larut dan dingin. Kini, dua anak manusia itu sudah dalam keadaan sama-sama polos. Dengan hasrat yang sudah tak tertahan, Elyas mengarahkan senjata laras panjangnya ke dalam hutan belantara.


Setelah berulang kali mencari dan mencoba untuk masuk, akhirnya Elyas berhasil memasukkan kepala laras panjangnya diiringi jeritan kecil dan cengkeraman tangan Selsa di punggungnya.


" Kenapa? " tanya Elyas menghentikan aktivitasnya, tapi tak melepas yang di bawah sana. Ia menatap intens wajah sang istri yang terpejam matanya menahan suatu rasa.


" Sakit. " lirih Selsa sambil menggigit bibir bawahnya.


" Sakit? " Elyas membeo. Kenapa bisa sakit? Bukankah dirinya bukan yang pertama? tanyanya dalam hati sambil melihat ke bawah.


" Pelan-pelan. " pinta Selsa.


Elyas kembali memandang wajah Selsa. Memang terlihat Selsa sedang menahan rasa sakit. Tapi tak urung, ia mengangguk.


Elyas memang baru pertama kali melakukan hal seperti ini. Tapi ia tidak bo doh. Ia tahu, bagaimana jika seorang perempuan itu sudah tidak virgin melakukan kegiatan ini. Pasti tidak ada rasa sakit kan?


Karena masih di liputi rasa penasaran, Elyas ingin membuktikan sendiri. Apakah saat di masuki seutuhnya nanti jalannya akan sempit? Atau sudah seperti jalan tol?


Dengan perlahan, Elyas kembali menekan bagian bawahnya untuk semakin masuk.


" Mmmphhtt... " Selsa menjerit tertahan kala laras panjang milik suaminya semakin memasukinya.


' Ah, kenapa rasanya begitu menjepit begini? ' ucap Elyas sambil memejamkan matanya guna meresapi rasa menjepit yang membuat miliknya terasa berdenyut.


Lalu tiba-tiba ia merasa seperti ada sedikit air yang mengalir di bawahnya. Ia membuka matanya, lalu menegakkan tubuhnya untuk melihat ada apa di bawah sana.


' Darah ? ' beo Elyas dalam hati. Lalu ia menatap wajah istrinya yang masih memejamkan matanya.


' Ada darah ? Apa ini artinya, dia masih bersegel? Oh, Ya Allah... Jika memang ini benar, maafkan hambamu ini yang sudah berprasangka buruk terhadap istri hamba selama ini. ' ucapnya dengan perasaan mencelos.


Tangannya terulur untuk mengelus wajah sang istri. Seketika, Selsa membuka matanya. Kedua mata meraka saling berpandangan. Elyas lalu mendekatkan wajahnya dan mengecup kening Selsa lama dan dalam.


" Terima kasih. " gumamnya. " Mau di lanjut? " tanyanya sambil kembali menatap kedua mata Selsa. Terlihat Selsa mengangguk. Rasa sakit itu sudah tidak begitu terasa.

__ADS_1


Akhirnya, malam ini mereka melakukan ibadah dalam rumah tangga yang tertunda. Bahkan Elyas seperti seorang anak kecil yang mempunyai mainan baru. Ia mengajak Selsa melakukannya hingga tengah malam saja terlewati begitu saja.


bersambung


__ADS_2