Pak Ustadku

Pak Ustadku
Tahu sesuatu


__ADS_3

Elyas pulang dari kantor lebih awal. Ia mengkhawatirkan keadaan sang istri. Di kantor ia selalu teringat Selsa. Di tambah lagi, istrinya itu tidak mau mengangkat panggilannya ataupun membalas pesannya.


" Assalamualaikum... " Elyas sampai lebih cepat dari biasanya. Biasanya, jarak kantor ke rumahnya akan ia tempuh selama hampir setengah jam lamanya dengan membawa motor trailnya. Dan hari ini, ia hanya butuh waktu hampir dua puluh menit.


" Waalaikum salam... " jawab umi. Umi keluar menuju ruang tamu.


Elyas yang melihat sang umi, ia lalu menyalami sang umi.


" Tumben jam segini udah pulang Yas? " tanya umi.


" Iya umi. Elyas tadi minta ijin pulang duluan. Elyas kepikiran Selsa terus umi. Dia tadi pagi Elyas tinggalin kan lagi tidak baik-baik saja. " jawab Elyas.


" Dia... "


Ucapan umi tak umi lanjutkan karena Elyas keburu masuk ke dalam untuk mencari sang istri. Padahal umi berniat memberitahu jika Selsa tidak ada di rumah.


" Sa... " panggil Elyas ketika ia membuka pintu kamar. Lalu ia segera masuk ke dalam kamar setelah menutup kembali pintu kamarnya.


" Sayang.... " panggilnya kembali saat ia tak menemukan Selsa di atas tempat tidur.


" Selsa... "


Tok ... Tok ... Tok ...


Elyas mengetuk pintu kamar mandi. Ia menebak istrinya sedang ada di kamar mandi.


Ceklek


Pintu kamar mandi terbuka sendiri kala Elyas sedikit menyandarkan tubuhnya di pintu, karena ternyata pintu kamar mandi itu tidak tertutup rapat.


" Selsa ... " panggilnya sambil mendorong pintu kamar mandi supaya terbuka lebih lebar.


Matanya mengernyit saat ia melihat ternyata kamar mandi kosong. Artinya, istrinya tidak ada di sana.


" Kemana dia? " gumamnya. Lalu tanpa banyak berpikir, ia kembali keluar dari dalam kamar.


" Selsa ... " teriaknya memanggil nama sang istri. Ia menelusuri tiap sisi rumahnya. Berharap sang istri ada di salah satu sisi itu.


" Sa.... Selsa ... Kamu di mana sayang?? Aku udah pulang ... " teriaknya kembali kala ia tak menemukan istrinya di manapun.


" Kamu kenapa teriak-teriak Yas? Nanti tetangga pada dateng ke rumah loh kalau kamu teriak-teriak kayak gitu. " ucap umi yang mendengar putranya terus berteriak.


" Umi? Umi pasti tahu di mana istri Elyas. Selsa di mana umi? " tanyanya buru ke umi.

__ADS_1


" Istri kamu lagi ke rumah papanya. " jawab umi.


" Ke rumah papa? Ngapain umi? Kenapa? " tanya Elyas beruntun.


" Mana umi tahu. " sahut umi.


" Biasanya Selsa selalu meminta ijin Elyas jika mau kemanapun. Bahkan ke rumah orang tuanya sekalipun. Tapi ini .. Selsa bahkan mengabaikan semua panggilan Elyas, juga pesan-pesan dari Elyas umi. " ujar Elyas mengusap wajahnya kasar.


Ia berdiri sambil berkacak pinggang, mencoba mengingat kejadian demi kejadian beberapa hari terakhir ini. Apa dia melakukan kesalahan terhadap sang istri?


Ah, rasanya tidak. Seingat Elyas. Tapi perasaannya sungguh kacau saat ini. Ia lalu kembali ke kamarnya. Sampai di kamar, ia langsung membuka pintu almari di mana biasanya Selsa menaruh baju-bajunya.


Matanya mengernyit, dengan tangan mengepal. Hanya tersisa beberapa baju Selsa di sana. Dan itu adalah baju-baju yang sudah tidak Selsa pakai.


" Ada apa ini? Kenapa kamu pergi Sa? " gumamnya.


Ia lalu segera keluar kembali.


" Umi, Selsa tidak hanya sekedar main ke rumah papa. Dia membawa semua baju-baju yang biasanya ia pakai. " Elyas berkata ke umi sambil meraih jaketnya dan mengenakannya.


" Mau kemana kamu? Kamu baru pulang kerja. " tanya umi. Sebenarnya umi yakin, putranya pasti akan ke rumah mertuanya. Ia membiarkannya. Ia ingin melihat, sampai di mana perjuangan putranya mempertahankan istrinya.


" Elyas mau susul Selsa umi. Pasti ada sesuatu yang telah terjadi. Elyas harus segera bicara sama dia. Jangan sampai kalau ada masalah, sampai berlarut-larut. " jawab Elyas.


.


.


.


Elyas kembali menjalankan motornya dengan kecepatan tinggi. Ia ingin segera sampai di kediaman Rakesh.


" Mas Elyas. " sapa satpam penjaga rumah mewah Rakesh kala Elyas berhenti di depan gerbang dan membuka kaca helmnya.


" Assalamualaikum pak. " sapa Elyas .


" Eh, waalaikum salam. " jawab satpam.


" Maaf pak, bisa minta tolong buka gerbangnya? " pinta Elyas.


" Oh iya, mas. Maaf, sampai lupa. " ucap pak satpam sambil segera keluar dari pos dan membuka gerbang.


" Terima kasih, pak. " ucap Elyas.

__ADS_1


Bruumm


Elyas kembali menghidupkan mesin motornya dan menggebernya masuk ke perkara rumah keluarga Rakesh.


Elyas berjalan menuju rumah dengan terburu-buru. Tanpa mengetuk pintu, ia langsung membuka pintu utama rumah mewah itu. Baru setelah sampai di dalam rumah, ia mengucapkan salam.


" Assalamualaikum... " ucap Elyas.


" Waalaikum salam. " jawab Ruby yang ketika itu kebetulan beliau sedang berada di ruang tengah, sedang menunggu kepulangan suami juga putranya.


" Selamat sore ma. " sapa Elyas sambil meraih tangan Ruby dan menyalaminya.


" Sore, Yas. Tumben. " sahut Ruby.


Pandangan mata Elyas menelisik ke seisi ruangan. Berharap tiba-tiba sang istri muncul di sana.


" Maaf, mama. " ucap Elyas dengan canggung.


" Duduk dulu nak. Biar mama minta bibi buatkan minum dulu. " ucap Ruby.


" Tidak usah ma. Elyas ... "


" Sebentar saja. " potong Ruby. Ia lalu masuk ke dalam meninggalkan Elyas sebentar.


Pandangan Elyas kembali mengedar. Ia melongok ke lantai atas yang terlihat dari posisinya saat ini. Kamar sang istri tertutup rapat. Jika tidak merasa tidak enak terhadap keluarga sang istri, sudah pasti Elyas akan langsung masuk ke kamar sang istri.


Elyas bergerak tak nyaman juga tak sabar di sofa empuk keluarga Rakesh.


" Minum dulu nak. " ucap Ruby sembari menaruh secangkir teh hangat di atas meja. Rupanya Ruby membuat sendiri teh itu.


" Terima kasih, ma. Maaf merepotkan. " sahut Elyas.


Ruby duduk di sofa single yang ada di ruangan itu.


" Ada apa, kok tumben kamu sore-sore kesini. " ucap Ruby setelah dirinya duduk.


" Mm.. Maaf, ma. " Elyas terlihat sangat canggung. Ia merasa ibu mertuanya itu mengetahui sesuatu. Entah apa itu.


" Ma, sebelumnya Elyas minta maaf. " lanjutnya sembari menunduk sebentar, kalau kembali mendongak. " Apa Selsa ada di sini? " tanyanya.


Terdengar hembusan nafas panjang dan berat dari Ruby. Ia lalu mengangguk, tanpa mengeluarkan suara. Dari raut wajahnya, nampak ada kekecewaan saat memandang Elyas.


Sepertinya mama tahu sesuatu

__ADS_1


__ADS_2