Pak Ustadku

Pak Ustadku
Panen ketela


__ADS_3

“ Nak, mau kemana ? Kenapa berpakaian seperti itu ? “ tanya umi ketika melihat Selsa memguncir rambut panjangnya, lalu menggunakan topi bundar besar, celana rempel panjang, kaos panjang, kaca mata hitam, dan di tangannya, ia memegang sepatu boot.


“ Loh, umi belum siap – siap ? “ Selsa bukannya menjawab, malah balik bertanya. Ia terlihat kebingungan.


“ Memangnya, kita mau kemana ? “ tanya umi yang balik bingung.


“ Bukannya umi kemarin bilang kalau ketela di kebun kita harus di panen ? “ ujar Selsa. “ Ayo kita panen umi. Mas Elyas kan hari ini ke kantor lagi. “ lanjutnya.


“ Tapi nak… Kalau panen ketela, biasanya Elyas minta tolong Pak Madin buat bantuin. Terus Elyas sama umi juga bantu nyabutnya. Kalau nggak di bantu orang, nggak bakalan bisa selesai dalam sehari. “ jelas umi.


“ Ya udah, umi tunjukin aja rumah pak Madin yang mana. Kita samperin. Kalau nggak di panen, kan sayang sama ketelanya umi. Nggak bisa di makan nanti. “ ucap Selsa penuh semangat. Tapi umi terlihat ragu.


“ Tapi nggak ada Elyas yang bantu. Nanti pasti juga lama. “ ujar umi ragu.


“ Kan masih ada Selsa, umi. Selsa bisa kok bantuin. Percaya deh. “ jawab Selsa yakin. “ Udah, umi mendingan buruan ganti baju. Masak mau ke kebun pakainya gamis gini. “ ia mendorong tubuh umi ke arah kamar umi. Setelah pintu kamar ia buka, ia kembali mendorong umi untuk masuk. Setelah umi masuk, ia menutup pintu kamar umi.


Tak lama, umi sudah berganti baju menggunakan baju kurung serta bawahan kulot, juga kerudung harian. “ Yuk. “ ajak beliau ke Selsa. Selsa yang sedang bengong di sofa, segera menoleh.


“ Yuk, cap cus umi. Kita berangkat sekarang. “ ucapnya girang. Seperti anak kecil yang mau di ajak bermain. Ia menggandeng lengan umi keluar dari dalam rumah. Umi mengunci pintu utama sebelum beliau menaiki motor yang Selsa bawa.


Selsa membawa motor matic milik Elyas yang biasanya Elyas pakai saat pergi ke masjid atau ke tempat yang tidak begitu jauh.


“ Bisa kamu bawa motor, Sa ? “ tanya umi.


“ Bisa dong umi. Selsa biasa kalau di rumah makai motor satpam rumah buat keliling komplek. Umi ragu ya ? Nggak pernah lihat Selsa bawa motor. “ canda Selsa.


“ Sedikit. “ jawab umi.


“ Ih, umi ? Suka jujur deh. “ kesal Selsa.


“ Ya udah, ayok berangkat. Keburu siang. “ umi menepuk pundak Selsa kala sudah naik di belakang Selsa.


“ Okeh, umi… Berangkaaaatt … “ ucap Selsa sambil mulai menjalankan motor maticnya.


Mereka lalu ke rumah Pak Madin terlebih dahulu. Untung saja pak Madin belum ke kebunnya sendiri. Jadi Selsa masih bisa meminta tolong. Dan kebetulan lagi, karena hari ini weekend, putra sulung pak Madin sedang libur sekolah. Jadi ia akan ikut membantu.

__ADS_1


Lalu Selsa kembali membonceng umi, sedangkan pak madin di bonceng oleh putranya. Mereka melajukan motor mereka masing – masing dengan beriringan. Sepanjang jalan, umi menyapa warga yang ia lewati. Membuat Selsa pun ikut tersenyum dan menganggukkan kepalanya menyapa.


“ Yakin kamu mau bantu nyabut ketela ? “ tanya umi ketika mereka sampai di kebun.


“ Yakin umi. “ jawab Selsa mantap. Ia lalu meraih tangan umi untuk segera masuk ke pekarangan kebun karena pak Madin dan anaknya sudah masuk sedari tadi.


“ Sebentar. Umi mau coba telepon Elyas dulu. Kalau tiba – tiba dia pulang, biar nyusulin kesini. Kunci rumah umi bawa. “ ucap umi sambil mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana kulotnya.


“ Halo, Yas. Assalamu’alaikum. “


“ … “


“ Umi lagi di kebun sama istri kamu sama pak Madin juga. Kamu kalau pulang masih siang, mampir ke kebun dulu. Kunci rumah umi bawa. “ ucap umi.


“ … “


“ Ketela di kebun udah siap panen dari minggu lalu. Tapi kamunya sibuk terus sekarang. “ jawab umi.


“ … “


Beliau lalu segera masuk ke pekarangan kebun. Sang menantu sudah lebih dulu masuk. Ia terlihat sedang meminta anak pak Madin mengajari cara mencabut ketela itu. Selsa terkadang terlihat manggut – manggut, kadang tersenyum kecil, lalu terlihat mempraktekkan apa yang putra pak Madin ajarkan.


Umi terlihat tersenyum melihat sang menantu. Ia tidak menyangka jika menantunya di luar ekspektasinya. Selsa mau melakukan apapun tanpa jijik. Tidak seperti anak orang – orang kaya yang sellau bersikap jijik jika melihat dapur, kebun seperti ini.


“ Umi, sini. “ panggil Selsa. Umi mendekat sambil tersenyum.


“ Selsa mau coba nyabut dulu ya umi. Tadi Rozak udah ngajarin. Umi doa’in, biar Selsa bisa nyabut ya. “ pintanya.


Umi mengangguk sambil terus tersenyum. “ Bismillah, Sa. “ ucapnya.


“ Bismillahirrohmanirrohim. “ pekik Selsa. Tapi pada cabutan pertama masih belum berhasil. Wah, ternyata susah juga mencabut ketela. Berat. Batin Selsa. Ia mengusap pelipisnya yang sudah mulai berkeringat.


Ia lalu melirik ke arah Rozak. Anak hampir gede itu sudah berhasil mencabut sebuah pohon ketela. Umi mendekat ke arah Selsa hendak membantu.


“ Umi, lihatin Selsa aja dari situ. “ tolak Selsa kala sang ibu mertua hendak membantunya.

__ADS_1


“ Berat ini, Sa. “ ujar umi.


“ Umi tenang aja. Selsa pasti bisa. “ jawab Selsa.


“ Yakin ? “ tanya umi.


“ Insyaa allah. “ jawab Selsa yakin.


“ Kamu nggak pakai sarung tangan ? “ tanya umi. “ Tangan kamu bisa kasar terus sakit loh kalau lama – lama. “ lanjutnya.


Selsa menggeleng. “ Lupa umi. “ jawabnya enteng. “ Biarin aja lah umi. Kalau kasar, di pakaiin skin care juga bisa halus lagi. “ imbuhnya cuek.


Ia lalu memasang kuda – kuda kembali untuk berusaha mencabut ketela kembali. “ Bismillahirrohmanirrohim.” Teriaknya sambil mengeluarkan seluruh tenaganya untuk mencabut ketela yang ada di hadapannya.


Bruk


Tubuh Selsa terhempas ke belakang. Ia terduduk di atas tanah kala ketela yang ia cabut keluar dari dalam tanah.


“ SELSAAAA !!!! “ pekik umi panik. Beliau segera melempar ponsel yang sedari tadi ia pegang untuk memvideo menantunya.


“ Selsa nggak pa – pa umi. “ ujar Selsa. “ UMIIII ….. “ teriaknya. “ Lihat! Selsa berhasil nyabut ketelanya… “ soraknya girang. Ia lalu segera berdiri masih dengan ketela berikut batang pohonnya di tangan kanannya.


“ Kamu nggak pa – pa, Sa ? “ tanya umi khawatir.


“ Selsa nggak pa – pa umi. Mungkin Selsa terlalu kencang nariknya. Jadi pas ketelanya meluncur ke atas, tubuh Selsa jadi terhempas. “ jawab Selsa sambil membenarkan letak topinya yang miring.


“ Lihat deh umi. Ketelanya gede – gede. Pantesan aja tadi nyabutnya susah. “ lanjutnya masih dengan tatapan berbinarnya. Ia bahkan sudah melupakan kaca mata hitam yang sedari tadi bertengger di hidungnya.


“ Istirahat dulu, gih. Nih, di minum. “ ujar umi sambil menyodorkan botol air mineral yang tadi sempat beliau ambil dari kulkas sebelum berangkat.


“ Terima kasih banyak, umiku sayang. “ ucap Selsa. Ia masih begitu excited ternyata dirinya bisa mencabut ketela dari dalam tanah.


“ Umi, boleh nggak ketela yang ini, Selsa minta buat di bawa ke rumah papa ? Selsa mau kasih tahu bi Rasti sama papa kalau Selsa bisa nyabut ketela. Biar nanti di masak sama bibi di sana. “ pintanya penuh harap.


“ Boleh. “ jawab Umi sambil tersenyum dan mengusap keringat Selsa yang mengalir di pelipisnya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2