
" Masih sakit? " tanya Elyas kala memasuki kamarnya sepulang kerja dan mendapati sang istri tengah duduk berselonjor di ranjang dengan bersandar di head board ranjang, sambil membaca novel online.
Selsa menoleh dan langsung tersenyum melihat suaminya pulang bekerja.
" Eh, udah pulang. Kok masih siangan udah pulang? Nggak ada kerjaan lembur? " sahut Selsa sambil mengulurkan tangannya untuk menyalami suaminya dan mengecup punggung tangan suaminya.
" Nyindir nih ceritanya? " canda Elyas.
" Ya syukur kalau ngerasa. " canda Selsa juga sambil terkekeh.
" Kamu bisa aja. " sahut Elyas sambil menaikkan satu kakinya ke atas ranjang guna mengecup kening Selsa.
" Hehehe... Maaf, kamu pulang, aku nggak jemput di depan. " ucap Selsa.
" Nggak papa. Itu kamu gimana? Masih sakit? " tanya Elyas sambil merogoh sesuatu dari saku celananya.
" Udah mendingan sih. Cuma ya... itu... kalau di pakai buat jalan, terus kegesek masih agak perih ... sama rasanya kayak bengkak... berasa tebel... memble kayak bibir . " sahut Selsa.
" Maaf ya. " kembali Elyas merasa bersalah. " Ini tadi aku beliin salep. Kata umi, kalau di salep ini pasti cepet baikan. " ucapnya sambil menyodorkan salep yang ia simpan di saku celananya tadi.
" Umi ? " beo Elyas. " Ah, jangan bilang, kamu kasih tahu umi kalau semalam kita .... " sungguh Selsa merasa malu sekarang.
" Aku nggak bilang kok. Umi aja yang terlalu peka. Beliau melihat cara berjalan kamu yang kalau kata umi kayak aku pas habis su nat dulu. " kekeh Elyas.
" Ihhhh... jadi malu kan??? " ujar Selsa cemberut.
" Kenapa mesti malu? Umi tahu kan umi juga udah pernah ngalamin. " sahut Elyas santai. " Udah sholat ashar? "
Selsa mengangguk. " Ya udah, pakein salep dulu aja itu nya. " Elyas kembali menyodorkan salep tadi. " Apa mau aku aja yang pakein? " ucap Elyas sambil menaik turunkan kedua alisnya.
Selsa lekas menyerobot salep dari tangan Elyas. " Ternyata pas ustadz bisa mesum juga. " gerutu Selsa sambil beranjak turun dari tempat tidur.
" Ustadz juga manusia, Sa. Apalagi udah ngerasain indahnya surga dunia." sahut Elyas terkekeh dan membuat Selsa mencebik sambil terus berjalan ke kamar mandi dengan langkah yang tidak terlalu seperti pagi tadi. Ia sudah tidak terlalu mengang kang.
Makan malam kali ini, terasa berbeda. Lebih hangat. Karena antara Selsa dan Elyas sesekali terlibat perdebatan lucu nan menggemaskan. Umi selalu berucap syukur dalam hati memperhatikan keduanya.
__ADS_1
" Alhamdulillah Yas. Umi seneng banget lihat kamu sama istri kamu akur. Akhirnya kamu bisa menjadi seorang suami seperti yang di perintahkan Allah kepada umatnya. Abi kamu juga pasti akan bahagia di sana. " ucap umi sembari menepuk punggung tangan Elyas.
Kini keduanya tengah berada di sofa ruang TV. Sedangkan Selsa telah berpamitan masuk ke dalam kamar terlebih dahulu.
" Maaf, umi. Elyas sudah membuat umi banyak pikiran. " sahut Elyas sambil menunduk.
" Tak apa. Yang penting kamu berubah nak. " jawab umi. Dan Elyas pun mengangguk.
" Ya sudah, karena udah malam, umi mau istirahat dulu di kamar. " Umi bangkit dari duduknya. " Kamu juga. Cepatlah masuk ke kamar. Siapa tahu istri kamu sudah menunggu. Untuk malam kedua kalian. " kekeh umi sambil berjalan.
" Umi bisa aja. " kekeh Elyas. " Aku mana tega mi. Dia aja masih kesakitan gitu. " lanjutnya lirih.
Tapi tak urung, ia bangkit duduknya dan berjalan menuju ke kamarnya.
Ceklek
Elyas membuka pintu kamar dan menutupnya kembali. Terlihat Selsa masih duduk bersandar pada headboard ranjang sambil mengotak-atik ponselnya.
" Belum tidur? " tanya Elyas.
Elyas menoleh ke arah meja dan menghentikan langkahnya yang hendak berjalan menuju ke almari.
" Makasih. " ucapnya yang di jawabi anggukan dari Selsa.
Lalu Elyas masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengganti bajunya.
Keluar dari dalam kamar mandi, Elyas mendapati Selsa yang sudah berbaring membelakangi pintu kamar mandi.
Perlahan Elyas menyibak selimut yang berada di sisinya, lalu ia naik ke atas ranjang dan masuk ke dalam selimut. Ia berbaring miring menghadap ke istrinya yang membelakanginya. Menempelkan tubuhnya ke tubuh sang istri dan melingkarkan tangan kanannya ke perut sang istri.
Elyas mengendus tengkuk Selsa dan sesekali mengecup pundak Selsa yang terbuka karena Selsa mengenakan kaos tanpa lengan.
" Mas, libur dulu aja lah. Besok lagi. Aku udah ngantuk. " gumam Selsa yang sudah memejamkan matanya.
Elyas tersenyum. Ia mengangkat sedikit kepalanya hingga ia bisa melihat wajah Selsa dari samping.
__ADS_1
Cup. Elyas mengecup pipi kanan Selsa. " Aku ngerti kok. Kamu istirahat aja. Aku nggak mau ngajakin untuk itu malam ini. Lagian mana aku tega, itu kamu masih sakit juga. " ucap Elyas.
Selsa tersenyum dalam keadaan mata yang terpejam. " Makasih. " sahutnya.
Elyas kembali berbaring. Lalu ia mengeratkan pelukannya di perut Selsa. " Aku yang harusnya bilang makasih sama kamu. Karena kamu sudah menjadi istri terbaik buat aku. Kamu melakukan semua kewajiban seorang istri. Meskipun aku selalu berbuat semauku sama kamu. Aku selalu menghindari kamu. " bisik Elyas. Ia mengatakan itu dengan suara yang berat. Sungguh ia sangat menyesal.
" Aku tidak pernah menganggap kamu istri. Aku selalu berbuat seolah kita tidak ada hubungan apa-apa . " suara Elyas kian berat. Terasa jika dirinya memang sangat menyesal.
Selsa membuka kedua matanya. Lalu ia menarik tangan Elyas yang melingkar di perutnya. Ia berbalik, hingga ia menghadap ke Elyas. Lalu ia kembali menarik tangan Elyas hingga melingkar di pinggangnya.
Tangannya terulur untuk mengelus rahang hingga pipi sang suami. Kedua mata dua insan itu saling bertemu dan mengunci.
" Jangan mengatakan hal seperti itu. Buatku, kamu adalah lelaki terbaik yang di kirimkan Tuhan buatku. Untuk mengembalikanku menjadi sosok seperti yang di inginkan oleh mama. Untuk membawaku kembali ke jalan yang benar. Aku yang seharusnya berterima kasih. " ucap Selsa.
" Tapi tetap saja aku yang paling banyak salahnya. " ujar Elyas.
Selsa tersenyum. " Kita sama-sama belajar kan? Mulai sekarang, ayo kita belajar membangun rumah tangga kita. Menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, warahmah. " ucapnya.
Lalu Selsa sedikit mendongakkan wajahnya, dan mengecup sekilas bibir sang suami yang langsung di sambut sebuah lu matan oleh Elyas.
" Ck! Katanya malam ini libur. " dengus Selsa kala ia berhasil menghentikan pa gutan mereka.
" Kan cuma ciuman aja. Nggak yang lain. " sahut Elyas sambil menoel hidung Selsa.
" Tapi yang bawah udah bangun aja. " jawab Selsa.
" Biarin aja bangun. Nanti juga tidur lagi. Yang penting tangan aku masih diem aja kan? Nggak merambah kemana-mana. Artinya, imanku masih kuat. " Elyas membawa Selsa ke pelukannya. Ia mendekap erat tubuh Selsa di dada bidangnya.
" Tidurlah. " ujarnya setelah mengecup kening Selsa lama. Selsa mengangguk, lalu ia memejamkan matanya sambil tersenyum tipis.
" Terima kasih juga. Kamu sudah menjaganya dan menjadikanku yang pertama. " ucap Elyas sambil memejamkan matanya.
Masih sambil mata yang terpejam, Selsa menjawab, " Karena kamu adalah suamiku. Dan aku menjaganya selama ini untuk ku berikan pada laki-laki yang menjadi suamiku. Aku memang perempuan yang suka kelayapan setiap malam. Tapi untuk yang satu itu, aku selalu menjaganya. Bahkan bibirku pun aku menjaganya hanya untuk suamiku. "
Elyas tersenyum bahagia. Lalu masih dengan mata terpejam, ia mendaratkan kembali sebuah kecupan lembut di kening sang istri. Sebagai ucapan terima kasih dan sebagai penghantar tidur. Hal baru yang akan selalu ia sematkan saat akan tidur dengan sang istri.
__ADS_1
bersambung