Pak Ustadku

Pak Ustadku
Pahit


__ADS_3

Tak terasa kini semua prosesi pernikahan dan resepsi Elyas dan Selsa telah usai sudah. Setelah pagi hingga siang tadi semua penguni rumah keluarga Rakesh di sibukkan dengan acara resepsi yang di laksanakan di sebuah hotel mewah di ibukota, kini mereka semua sudah kembali ke kediaman Rakesh.


Selsa sedang beristirahat di dalam kamarnya karena kakinya juga badannya terasa sangat lelah. Setelah dari hotel, ia langsung masuk ke dalam kamarnya untuk tidur sebentar karena hari juga sudah sore.


Sedangkan Elyas, laki – laki itu memilih menikmati secangkir kopi di halaman rumah keluarga Rakesh ketimbang mengistirahatkan tubuhnya. Rasa kurang nyaman, itulah yang ia rasakan. Apalagi harus kembali berada di kamar yang sama dengan Selsa. Perempuan yang selalu saja membuatnya merasa pening selama tiga hari ini.


Sudah selama tiga hari ini, semenjak dia mengucap ijab kabul atas nama Selsa, Elyas selalu menghindari berduaan dengan istrinya apalagi di dalam kamar dengan posisi mereka yang masih sama – sama sadar.


Selsa yang baru membuka matanya saat merasa kamarnya yang mulai terasa gelap, langsung mendudukkan tubuhnya sambil menyandar pada headboard ranjang dan mengucek kedua matanya yang masih terasa berat.


“ Udah gelap rupanya. “ ujar Selsa. Lalu ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling untuk mencari laki – laki yang telah resmi menjadi suaminya semenjak tiga hari yang lalu.


Kosong. Tidak ada siapapun di ruangan itu kecuali dirinya. Selsa menghela nafas berat sambil menutup kedua matanya. Sudah selama tiga hari pula ia tidak pernah mendapati suaminya berada di kamarnya ketika ia membuka mata.


Bahkan Selsa juga yakin jika sang suami juga tidak pernah tidur di sampingnya selama tiga malam ini juga. Karena ia selalu mendapati tenpat tidur di sampingnya selalu berada di keadaan yang sama ketika ia hendak memejamkan kedua matanya.


“ Rumah tangga macam apa ini ? “ gumamnya.


Tak mau larut dalam pemikiran buruknya, Selsa bangun dari ranjang dan segera menuju ke kamar balkon. Ia menghenyakkan tubuhnya di bangku yang ada di balkon kamarnya. Ia membuka bungkus rokok yang tergeletak di atas meja, lalu mengambil rokok sebatang. Lalu ia memantik korek, dan menghidupkan rokok yang ia ambil tadi.

__ADS_1


Selsa menyandarkan tubuhnya di sandaran bangku sambil menutup kedua matanya dan menyesap rokok itu dalam – dalam. Salah satu kebiasaan Selsa yang mungkin tidak di ketahui oleh Roy maupun papanya. Karena Selsa hanya merokok di balkon kamarnya. Dan itupun tidak setiap saat. Hanya jika pikirannya sedang gundah, ia menyesap niko tin itu.


Ceklek


Terdengar pintu kamarnya terbuka dari luar, Selsa segera menegakkan tubuhnya, menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang membuka pintu kamarnya. Selsa kembali menyesap rokoknya yang tinggal sedikit, lalu mematikannya di dalam asbak. Tapi ia masih tidak berdiri dari duduknya.


Ia tahu, suaminyalah yang memasuki kamarnya. Tapi laki – laki yang telah resmi menjadi suaminya itu langsung masuk ke dalam kamar mandi setelah memasuki kamar, tanpa mau menyapanya lebih dulu. Padahal ia yakin, suaminya pasti melihat dirinya yang berada di balkon kamar karena ia tidak menutup tirainya. Selsa hanya mampu menghela nafas kasar.


Setelah beberapa saat, nampak Elyas keluar dari dalam kamar mandi. Ketika Elyas keluar dari dalam kamar mandi, Selsa gegas hendak masuk ke dalam kamar mandi menggantikan Elyas.


“ Di mana pakaian kotorku ? “ tanya Elyas menghentikan Selsa yang hendak masuk ke dalam kamar mandi.


“ Kamu tidak perlu repot – repot. Aku bisa mencuci bajuku sendiri. Karena aku biasa melakukannya sendiri. “ ucap Elyas dengan nada suara datar.


Selsa sedikit menunduk mendengar ucapan suaminya itu. Ia tahu, dan sadar, jika ia memang tidak pernah mencuci bajunya sendiri. Selsa merasa tersindir dengan ucapan Elyas.


“ Maaf, aku udah lancang. “ hanya itu kata yang mampu Selsa ucapkan. Ia lalu bergegas masuk ke dalam kamar mandi dan segera menutup pintunya.


Di luar kamar mandi Elyas memasukkan baju kotornya itu ke dalam tas. Ia tidak berniat mencuci bajunya di rumah itu. Ia akan membawanya pulang.

__ADS_1


Lalu langkah kakinya mnedekat ke balkon. Selama tiga hari tinggal di rumah itu, sepertinya ia belum mengenal rumah ini. Bahkan kamar istrinya saja, yang ia tahu hanya kamar mandi, sofa, juga tempat tidur. Ia tidak tahu jika ternyata di kamar itu ada balkonnnya. Ia yang selalu masuk kamar larut malam, dan bangun ketika Selsa masih tidur, membuatnya tidak pernah melihat apa yang ada di balik tirai dan jendela.


“ Ternyata ada balkonnya. “ ucapnya. Ia keluar dari kamar lewat pintu balkon.


Sampai di luar, ia mendekat ke pagar pembatas. Dari sana, ia bisa melihat rumah – rumah tetangga, juga kebun di dekat halaman belakang yang berisi berbagai macam bunga yang berwarna - warni tentu saja.


“ Seperti ini ternyata. “ gumamnya. Lalu ia memejamkan matanya sambil menghirup udara bebas di sana. Tapi tiba – tiba saja ia mengernyit. Ada bau yang tidak asing yang masuk ke indra penciumannya.


“ Bau rokok ? “ gumamnya. “ Kenapa ada bau rokok menyengat di sini ? “ lanjutnya, kembali membuka kedua matanya. Ia meneliti keadaan di sekitarnya, lalu pandangannya mendapati sebuah asbak dengan beberapa puntung rokok di sana.


“ Siapa yang merokok di sini ? “ monolognya. Lalu dahinya mengernyit.


“ Tidak mungkin dia kan ? “ tanyanya. Untuk memastikan, Elyas mendekat ke meja, lalu meneliti beberapa puntung rokok yang ada di dalam asbak. Di puntung rokok itu, ia mendapati noda lipstik di sana. Lalu saat ia mengambil salah satu puntung rokok, ia merasa puntung rokok itu masih terasa panas.


“ Hah! Jadi benar, dia juga merokok ? “ umpatnya. “ Ya Tuhan, jodoh seperti apa yang engkau berikan kepada hamba Ya Allah ? “ pekiknya tertahan.


“ Club malam ? Berpakaian sek sy ? Suka menghabiskan malam dengan banyak lelaki ? Dan apa ini ? Rokok ? Bahkan dia juga menghisap niko tin ini ? “ Elyas benar – benar merasa geram dengan nasibnya kini. Ia jadi berpikir, dosa apa yang telah ia lakukan hingga Tuhan memberikannya cobaan dengan memberikan seorang istri seperti Selsa.


Elyas menggenggam erat puntung rokok yang ada di tangannya. Tekadnya sudah bulat. Ia tidak bisa berlama – lama tinggal di rumah ini. Dengan, atau tanpa Selsa. Dan bagi Elyas, tanpa sosok selsa pasti akan lebih baik.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2