Pak Ustadku

Pak Ustadku
Ciuman pertama


__ADS_3

Selsa memasuki kamar kala Elyas sedang sibuk dengan laptopnya di atas meja kerjanya. Mereka memutuskan untuk pulang terlebih dulu meskipun acara di masjid belum selesai. Sedari tadi Selsa sudah ribut karena ia khawatir dengan umi yang di tinggalkan sendirian di rumah. Alhasil, mau tidak mau, Elyas menurutinya.


“ Kirain udah tidur mas. “ ucap Selsa sambil membuka almari dan mengambil baju ganti untuk ia tidur.


“ Bentar lagi. Masih ada sedikit kerjaan yang belum selesai. “ sahut Elyas dengan masih sibuk pekerjaannya.


Selsa hanya menjawab dengan ber-oh ria. “ Kirain sengaja nungguin aku. Hehehe … “ ucapnya lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan wajah, gosok gigi juga berganti pakaian. Elyas hanya menggelengkan kepalanya mendengar ucapan sang istri.


Ceklek


Pintu kamar mandi di buka dari dalam. Pas di saat itu, Elyas yang telah selesai dengan pekerjaannya, mendorong kursi yang ia duduki ke belakang, lalu meregangkan tangan, leher, juga punggungnya.


“ Capek ya mas ? “ tanya Selsa yang sedang berjalan menuju ke gantungan handuk dan menggantung handuknya di sana. Malam ini, ia kembali mengenakan baju tidur berbahan satin dengan tali spagetti di pundak tapi dengan warna yang berbeda dari yang kemarin.


“ Hem. “ Elyas berdehem untuk menjawab pertanyaan Selsa.


Lagi – lagi Elyas menelan salivanya kasar kala tak sengaja dirinya menoleh dan melihat Selsa yang sedang sedikit menundukkan tubuhnya untuk menggantung handuk. Yang membuat Elyas harus melihat pa ha bagian belakang Selsa yang terlihat putih dan mulus. Karena ketika Selsa menundukkan tubuhnya, maka celana pendek yang ia kenakan terangkat ke atas.


Astagfirullah … ucap Elyas dalam hati. Tapi meskipun hatinya beristigfar, tapi matanya masih enggan beralih dari pemandangan yang menyejukkan mata, tapi membuat tubuhnya memanas. Sampai Selsa berbalik badan, baru Elyas menegakkan kepalanya kembali.


Selsa tersenyum sambil berjalan mendekati Elyas. “ Aku pijitin yah. “ ucapnya sambil dengan kedua tangan memijit pelan pundak dan bahu sang suami.


“ Ap “


“ Udah sih, diem aja. Jangan sampai pijitin aku jadi bikin salah urat kalau mas Elyas nggak mau diem. “ tegas Selsa sambil mengembalikan kepala Elyas kembali menghadap ke depan. Ia tahu, suaminya pasti akan mengelak.


Kini, Elyas terdiam. Ia mulai menikmati pijatan lembut sang istri. Ternyata istrinya itu pintar memijat juga. Lalu tiba – tiba Elyas teringat kejadian beberapa hari yang lalu ketika sang istri hendak ke pasar dengan umi. Ia teringat kembali bagaimana rasa dari bibir berwarna pink yang saat ini ia lihat diam – diam dari kaca rias.


Bibir sang istri berwarna pink. Seperti bukan seorang perokok. Tapi kenapa saat itu Elyas melihat sang istri merokok di balkon rumahnya ? Bukankah seorang perokok akan mempunyai bibir berwarna gelap ? Tapi selama hampir tiga bulan Selsa tinggal bersamanya, ia sama sekali tidak pernah melihat istrinya itu merokok.


“ Sa “ panggilnya.


“ Iya ? “ jawab Selsa.


“ Boleh aku bertanya satu hal ? Tapi kamu jangan tersinggung. “ ucap Elyas penuh kehati – hatian.

__ADS_1


“ Jangankah Cuma satu hal. Banyak hal juga boleh. “ jawab Selsa sembari tersenyum manis dengan tangan tetap memijat tengkuk dan pundak Elyas bergantian.


“ Apa kamu merokok ? Maaf, waktu kita masih tinggal di rumah kamu, tidak sengaja aku melihatmu merokok di balkon. “ tanya Elyas sembari menatap wajah sang istri dari kaca rias.


Selsa mengangguk. “ Pernah. Tapi tidak sering. Aku hanya menghisap niko tin saat aku sedang merasa tidak nyaman terhadap sesuatu. Dan itu pun hanya sebulan sekali, atau bahkan bisa jadi tiga bulan, aku menghisap sebatang aja. “ jawabnya.


“ Apa yang membuatmu tidak nyaman ? Apa hal itu juga yang membuatmu sering menghabiskan malam di club malam ? “ tanya Elyas kembali. Entah kenapa, tiba – tiba ia ingin tahu banyak tentang sang istri.


“ Aku ke club malam, hanya untuk menghilangkan rasa kesal. “ jawab Selsa. Ia menghentikan pijatan untuk sang suami. Kini kedua tangannya melingkar di leher sang suami. Dan Elyas membiarkannya. Rasanya nyaman saat istrinya melakukan hal itu. Tidak seperti yang ia bayangkan selama ini. Jika dirinya enggan untuk di sentuh sang istri.


“ Aku akui, dulu aku tidak seperti sekarang. Waktu mama masih ada, mama selalu mengajarkanku tentang agama, dan norma – norma hidup ketimuran. Tapi ketika mamaku meninggal, semenjak hari itu, aku merasa hidupku hampa. Aku marah sama takdir. Dan puncaknya, ketika papa menikah lagi. Aku marah. Tapi aku tidak tahu harus marah sama siapa. “ jelas Selsa dengan mata berkaca – kaca.


“ Aku merasa papa tidak lagi menyayangiku. Dari saat itu, aku mulai berubah. Aku berbuat sesukaku. Berbuat onar di sekolah, sudah menjadi rutinitasku. Aku pikir dengan berbuat seperti itu, papa akan lebih memperhatikanku. Tapi aku salah. Tiap kali aku membuat masalah di sekolah, selalu istri mudanya yang ia suruh datang ke sekolah. “ Selsa menunduk.


“ Sampai akhirnya, aku meminta papa untuk menyekolahkanku di luar negeri. Dan ketika di luar negeri itulah, aku mulai mengenal club malam, juga minuman keras. “ lanjutnya.


“ Apa mama Ruby memperlakukanmu dengan buruk ? Memperlakukanmu seperti anak tiri ? “ tanya Elyas.


Selsa menggeleng pelan. “ Sepertinya tidak pernah. Dia selalu baik terhadapku. Saking baiknya dia, meskipun aku sering mengumpatnya, membuatku makin membencinya. “ lirihnya. Air matapun meluncur begitu saja dari kedua sudut matanya.


Elyas bangkit dari duduknya. Ia berdiri dengan menghadap sang istri.


Entah keberanian dari mana, Elyas merengkuh tubuh sang istri ke dalam pelukannya. Lalu mengusap punggung sang istri yang terlihat bergetar karena tangisan.


“ Mau minta maaf sama beliau ? “ tanya Elyas.


Selsa mengangguk dalam dekapan sang suami. Elyas melepas pelukannya, lalu menatap wajah sang istri yang basah karena air mata.


“ Jangan menangis. Kamu masih punya kesempatan untuk meminta maaf sama mama Ruby dan memperbaiki sikapmu. Menyayanginya, mungkin. “ ucapnya sembari mengangkat tangan kanannya dan menghapus air mata yang membasahi pipi Selsa dengan ibu jarinya.


“ Apa mama mau memaafkanku ? “ Selsa mendongakkan kepalanya dan membalas tatapan Elyas.


Elyas tersenyum, lalu mengangguk. “ In syaa allah. Beliau pasti memaafkanmu. Karena beliau menyayangimu. Dan kebetulan, besok adalah momen yang tepat. Meminta maaf di hari yang fitri. Besok, kita datang ke rumah papa, untuk meminta maaf atas segala kekhilafanmu terhadap mama, papa, juga kak Roy. “ ucapnya.


Selsa tersenyum dan mengangguk sambil menghapus air matanya. “ Terima kasih. “ ucapnya.

__ADS_1


“ Sudah malam. Sebaiknya kita tidur. “ ucap Elyas sambil berjalan menjauh dari Selsa untuk mengambil kasur lipatnya dan memebntangkan kasur itu di bawah samping kasur.


“ Nggak ada niatan gitu mas, beli ranjang yang lebaran terus kita tidur satu ranjang ? “ tanya Selsa entah itu hanya candaan atau serius kala Elyas membentangkan kasurnya.


Elyas menghentikan aktivitasnya sesaat lalu melanjutkan merapikan kasur itu dan menata bantal di atasnya tanpa berniat menjawab pertanyaan sang istri.


Selsa berdecak, lalu berjalan sambil menghentakkan kakinya menuju ke ranjang.


“ Eh …eh …eh … “ pekik Selsa tiba – tiba tubuhnya terhuyung karena kakinya keslimpet kasur lantai sang suami.


Bruk


Selsa terjatuh ke lantai. Bukan ke lantai, tapi di atas tubuh Elyas lebih tepatnya. Kini posisi Selsa menindih tubuh Elyas, dan kedua tangan Elyas melingkar di pinggang ramping sang istri.


” Ma-af . “ ucap Selsa terbata. Jantungnya berdetak sangat kencang. Bukan karena dirinya yang terjatuh. Tapi karena posisinya saat ini. Mata mereka saling bertemu. Jarak wajah mereka begitu dekat.


Dari posisi ini, Elyas bisa melihat iris mata berwarna abu sang istri. Begitu indah. Begitu pun Selsa. Baru kali ini, ia berada di posisi sedekat ini dengan sang Elyas.


Entah dorongan darimana, Selsa makin mengikis jarak wajah mereka. Tak berapa lama, bibirnya sudah menempel di bibir sang suami.


Deg


Kedua mata Elyas membola. Ia tidak menduga apa yang di lakukan sang istri saat ini. Jantungnya berdetak makin kencang. Bahkan ia juga menahan nafasnya kala merasakan benda kenyal nan basah milik sang istri mulai bergerak di atas bibirnya.


Selsa mengecup dan menggigit kecil bibir sang suami agar terbuka karena sang suami tidak jua membalas ciumannya. Ia sedikit kesal.


Ini adalah ciuman pertamanya. Tapi ia sudah banyak belajar dari Aleta juga dari apa yang sering dirinya lihat di club malam. Dan kini, ia mempraktekannya.


Setelah bibir sang suami terbuka sedikit, ia lalu mengu lum bibir bawah juga atas sang suami. Bukannya menolak, tapi Elyas malah menikmatinya. Tapi untuk membalas, ia masih belum siap.


“ Haiss … Kenapa tidak di balas sih ! “ kesal Selsa karena sedari tadi, dirinya yang bekerja. Ia melepas bibirnya dari bibir Elyas, lalu beranjak dari atas tubuh suaminya dan naik ke atas ranjang. Menyelimuti tubuhnya dari leher hingga kaki, dan membelakangi suaminya.


Sedangkan Elyas masih terbengong di bawah sana. Tanpa sadar, dirinya menyentuh bibirnya dengan degup jantung yang masih bertalu – talu. Ciuman pertamanya kenapa seperti ini ?


Beginikah rasanya ciuman ? tanya Elyas dalam hati. Kenapa rasanya begitu manis ? tanyanya kembali. Lalu tiba – tiba senyuman merekah dari bibirnya. Ia melirik ke atas. Ada rasa tak rela dalam hatinya ketika Selsa menyudahi ciumannya.

__ADS_1


“ Tidur mas. Besok harus bangun pagi. Sholat ied. “ ucap Selsa sambil tersenyum penuh arti sambil membelakangi Elyas.


Bersambung


__ADS_2