Pak Ustadku

Pak Ustadku
Bakso granat


__ADS_3

“ Mas, kita beli makan buat buka di luar aja ya ? Rasanya aku nggak kuat deh kalau harus masak. Mana baunya pasti menggoda iman lagi. Kalau umi yang masak, aku nggak enak. Malah jadi ngerepotin umi. “ pinta Selsa kala dirinya dan suami sudah dalam perjalanan pulang.


Untung saja hari ini Elyas mau pergi bekerja membawa mobil milik Selsa. Jadi ia tidak harus kerepotan dan kesusahan menangani istrinya yang terus merengek seharian ini karena lapar dan haus.


“ Hem. “ jawab Elyas sambil mengangguk. Ia tetap lurus menatap ke arah jalanan yang ada di hadapannya.


“ Mau beli makan apa ? “ tanyanya tanpa menoleh ke arah Selsa.


“ Pengen sushi, bakso granat, nasi padang, ayam krispi, lele geprek, es boba rasa chocholate hazelnut, es kelapa muda, sama puding sruput rasa strawberry. “ jawab Selsa menyebutkan semua jenis makanan yang ingin ia makan dengan wajah berbinar.


Elyas mengerutkan kedua alisnya, melirik ke arah samping sekejab. “ Yakin, mau semua makanan itu ? “ tanyanya.


“ He em. “ Selsa mengangguk pasti.


“ Habis ? “ tanya Elyas lagi. Tapi Selsa malah mengendikkan bahunya.


“ Kalau tidak yakin bisa menghabiskan semua makanan itu, jangan di beli semua. Jatuhnya mubadzir nanti. Pilih saja mana yang paling kamu inginkan. “ ujar Elyas.


“ Pengen semua. “ lirih Selsa.


“ Terus, kalau tidak habis, mau di kemanain makanan sebanyak itu ? “ tanya Elyas. “ Kita berpuasa itu untuk menahan hawa nafsu. Bahkan Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa kita di anjurkan untuk berhenti makan sebelum kita merasa kenyang. “ lanjutnya.


“ Kan ada mas Elyas. Kamu bisa bantu habisin kalau nanti aku nggak habis. “ lirih Selsa.


Elyas menghela nafas panjang. “ Meskipun aku ikut makan pun, makanan itu tidak akan mungkin habis. “ ucapnya sambil menoleh ke arah Selsa yang sedang menunduk.


Tidak tega sebenarnya hati Elyas melihat istrinya seperti itu. Tapi jika ia menuruti kemauan istrinya, dan membeli semua makanan itu, sudah pasti akan mubadzir.


“ Kamu lihat mereka ? “ tunjuk Elyas ke beberapa anak jalanan ketika mobil yang mereka tumpangi berhenti di lampu merah.


Selsa menoleh ke samping. Ia melihat ada 3 anak jalanan yang berusia kurang dari sepuluh tahunan, dengan pakaian yang begitu lusuh, badan yang kurus kering, sedang mengamen.


“ Mereka masih kecil, tapi sudah harus merasakan kejamnya dunia. Seharusnya di usia mereka, mereka masih bermain, bersekolah. Tanpa memikirkan bagaimana mencari uang untuk makan mereka. Dan lihatlah mereka. Mereka melakukannya. Mengamen di jalanan seperti itu hanya untuk mendapatkan uang yang tidak seberapa untuk membeli makanan. Bahkan aku juga yakin, terkadang mereka juga harus menahan lapar seharian ketika mereka tidak mendapatkan uang. “ lanjut Elyas.

__ADS_1


Selsa menitikkan air matanya mendengar ucapan Elyas sambil menatap sendu ke arah anak – anak jalanan itu.


“ Hei, jangan menangis. “ Elyas memegang punggung tangan Selsa kala ia mendengar suara sesenggukan.


Selsa menoleh. Beberapa tetes air mata menetes di pipinya.


“ Puasa tidak boleh menangis. “ Elyas mengulurkan tangan kirinya untuk menghapus air mata Selsa dengan jari telunjuknya.


“ Ah. “ Selsa segera menghapus air matanya. “ Habisnya aku sedih melihat mereka. “ lanjutnya.


“ Ternyata ada kehidupan seperti mereka di luaran sana. Jujur, aku selama ini tidak pernah melihat mereka. Tidak pernah terpikir jika mereka ada. “ lanjutnya dengan nada suara pelan dan menundukkan kepalanya.


Elyas kembali mengulurkan tangannya untuk membelai kepala Selsa. Elyas sekarang lebih sering berinteraksi dengan Selsa. Menyentuhnya, memandangnya. Sudah mulai biasa Elyas lakukan. Ia sudah tidak begitu merasa sungkan.


Hal yang pertama kali ia lakukan terhadap lawan jenisnya. Dan itu hanyalah Selsa seorang. Elyas pun masih belum mengerti mengapa. Atau yang pasti, ia belum menyadari sesuatu yang hadir dalam hatinya.


“ Bisa kita menepi di sana sebentar ? “ tanya Selsa menoleh ke arah Elyas dan jari telunjuknya menunjuk ke arah anak jalanan itu.


Elyas menepikan mobil yang ia kemudikan di dekat anak – anak jalanan itu sedang duduk di trotoar.


“ Mas Elyas di sini aja. Biar aku turun sendiri. “ ucap Selsa sambil menoleh ke arah Elyas dengan tangannya yang sudah memegang handle pintu. Elyas mengangguk dan membiarkan sang istri melakukan apa yang ia inginkan. Elyas hanya mengamatinya dari dalam mobil.


Terlihat dari kedua mata Elyas, istrinya sedang berjongkok di hadapan ketiga anak itu dan mengobrol dengan mereka. Terkadang, ia melihat sang istri juga tersenyum sambil mengusap kepala anak – anak jalanan itu. Lalu sang istri terlihat membuka tasnya, mengambil dompet, dan menyerahkan beberapa uang berwarna merah dan memberikannya ke anak – anak itu.


Dan terlihat, wajah anak – anak jalanan itu menjadi ceria. Mereka bahkan memeluk Selsa dengan erat. Dan Selsa pun menerima pelukan itu sambil tersenyum hangat.


Senyuman itu menjalar ke bibir Elyas. Ikut tersenyum melihat sikap sang istri. Hal baru yang Elyas dapatkan dalam diri sang istri. Ternyata sang istri tidak merasa jijik atau merasa tidak nyaman kala di peluk oleh anak – anak itu. Padahal anak – anak itu terlihat kumuh.


“ Sudah ? “ tanya Elyas ketika Selsa sudah masuk ke dalam mobil.


Selsa mengangguk sambil tersenyum. Elyas lalu menjalankan mobilnya. Ketika mobil mulai berjalan, Selsa menurunkan kaca jendelanya, dan terlihat ketiga anak tadi melambaikan tangan mereka ke Selsa. Elyas menoleh sambil tersenyum. Hatinya tiba – tiba menghangat.


“ Kamu tidak merasa jijik ketika di peluk mereka ? “ tanya Elyas setelah mobil berjalan menjauhi ketiga anak itu.

__ADS_1


“ Tidak. Kenapa harus jijik ? Bukankan mereka sama seperti kita ? Manusia ? Makhluk Tuhan. “ jawab Selsa sambil menggeleng.


Elyas mengangguk dan tersenyum dengan arah pandang tetap ke depan. “ Apa yang kalian bicarakan tadi ? “ tanyanya kembali.


“ Mmmm …. Aku hanya bertanya di mana mereka tinggal dan apakah mereka masih memiliki orang tua apa tidak. “ jawab Selsa. “ Ternyata mereka tidak punya rumah. Mereka tinggal di kolong jembatan di daerah X. Dan tidak hanya mereka. Masih ada beberapa anak lagi. Mereka sama – sama mencari uang, lalu setelah terkumpul, mereka akan menghitungnya jadi satu, dan mereka belikan makanan secukupnya dan mereka makan bersama – sama. “ lanjutnya.


Elyas manggut – manggut. “ Lalu, apa ada orang dewasa yang menyuruh mereka mengamen seperti itu ? “


“ Tidak. Tadi aku tanya, katanya itu inisiatif mereka sendiri. Ada juga yang berjualan koran dan majalah. Ada dua orang dewasa yang tinggal bersama mereka. Dan kedua orang itu juga bekerja menjadi pemulung. Ah, kasihan sekali mereka mas. “ jawab Selsa.


“ Tadi aku berjanji pada mereka, aku akan mengunjungi mereka ke tempat tinggal mereka. “ lanjutnya. “ Kamu mau kan aku ajak kesana ? “ tanyanya sambil menoleh ke arah Elyas.


Elyas menoleh sebentar dan tersenyum, lalu mengangguk. “ In syaa allah. “ jawabnya. Dan Selsa tersenyum mendengarnya.


Hatinya begitu mulia. Batin Elyas.


“ Jadi sekarang, kita mau beli makan apa ? Nasi padang, sushi, ayam geprek, es boba, es kelapa muda ? “ tanya Elyas.


“ Ngeledek ya ? “ sungut Selsa.


Elyas tersenyum. “ Tidak. Aku hanya bertanya. Kamu jadi membeli itu semua, atau berubah pikiran ? “ ucapnya.


“ Umi suka nasi padang tidak ? “ tanya Selsa.


“ Suka. Beliau bukan pemilih makanan. “ jawab Elyas.


“ Kalau kamu, suka nasi padang ? “ tanya Selsa lagi.


“ Aku juga sama. Apapun makanannya, asalkan halal, pasti aku makan. “ jawab Elyas.


“ Oke. Berarti kita beli nasi padang sama es kelapa muda saja. “ sahut Selsa dengan wajah girang.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2