Pak Ustadku

Pak Ustadku
Malam pertama yang tertunda


__ADS_3

Hai wahai para readerku... Part ini, adalah part pembuka part yang paling kalian tunggu-tunggu... Othor yakin dech ... So, silahkan menikmati... Apalagi kalau menikmatinya sama pasangan... Pasti bakalan lebih yahuuuddd.....


___________________________


" Hah ! Capek ! " keluh Selsa sambil menghenyakkan pan tatnya kasar di sofa depan TV. Ia juga mengibas-ngibaskan telapak tangan kanannya di depan wajahnya untuk mengurangi rasa panas karena udara di luar memang lumayan panas.


Apalagi rumah Elyas hanya di beri pendingin berupa kipas angin. Tidak ada AC di sana. Hanya kamar Elyas lah yang baru-baru ini di pasang AC. Itupun karena Elyas tidak tega melihat Selsa yang tiap malah terbangun karena merasakan hawa panas.


Selsa meraih kipas angin yang ada di sampingnya, dan memutar tombol untuk menghidupkannya.


" Uh, sejuknya.... " ucapnya seraya memejamkan matanya menikmati angin yang keluar dari kipas angin. Rambut panjangnya yang tergerai, melambai-lambai tersibak kipas angin.


" Nggak mau bersih-bersih dulu? " tanya Elyas ketika ia sampai di dalam rumah dan melihat istrinya sedang menikmati semilir kipas angin.


" Bentar lagi. Masih panas udaranya. " jawab Selsa masih memejamkan matanya.


" Jangan lama-lama untuk bersih-bersih. Bentar lagi masuk waktu magrib. " ujar Elyas.


" He em. " jawab Selsa.


Selsa membuka matanya ketika mendengar langkah Elyas menjauh. Kenapa tiba-tiba suaminya itu mau berbicara? Apa mode cemburunya udah berakhir? tanya Selsa dalam hati.


" Terserah lah. " ujar Selsa bermonolog. Ia teringat akan umi ketika ia hendak menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.


" Umi kok nggak kelihatan? " gumamnya. Ia lalu mengurungkan niatnya untuk menikmati semilir angin dari kipas angin. Ia bangkit dari duduknya, dan berjalan menuju belakang. Ia yakin, umi pasti ada di dapur.


" Assalamualaikum umi. " sapa Selsa kala menemukan apa yang di carinya.

__ADS_1


" Waalaikum salam. " umi menoleh ke belakang dan tersenyum kala melihat Selsa berada di dekat pintu.


Selsa berjalan mendekat, lalu meraih tangan umi dan mencium punggung tangannya.


" Umi lagi masak ? Kenapa nggak nungguin Selsa ? Kalau umi kecapekan gimana ? " cecar Selsa.


" Nggak papa. Umi nggak capek. Orang cuma bikin sayur asem, bikin sambal, terus sama goreng ini, gimbal udang." jawab umi sambil menunjuk ke arah penggorengan.


" Ya tetep aja umi tuh nggak boleh kecapean. Kalau umi masih capek-capek gini, buat apa ada Selsa ? " protes Selsa sambil memanyunkan bibirnya.


Umi tersenyum hangat. " Umi itu tidak capek sama sekali. Tapi kalau umi diem terus, itu yang justru bikin umi capek. Lagian, setelah kamu ada di sini, umi jarang masak. Jadi, bolehlah, sekali - sekali umi masak buat putri umi yang cantik ini. Kamu kan juga capek, habis kerja. " tuturnya sambil mengelus lengan Selsa.


" Iya, tapi Selsa nggak capek loh umi. Selsa tuh seneng banget bisa masak buat umi, buat mas Elyas. Tapi... karena udah terlanjur, makasih banyak ya umi. " Selsa memeluk tubuh umi dari samping sambil menyandarkan kepalanya di bahu umi.


" Kok umi berasa ada bau asem asem gitu ya. " kekeh umi.


" Ih, umi. Tahu aja. Selsa habis keringetan. Belum mandi juga. " Selsa menyengir kuda mendengar candaan umi.


Selsa mengangguk. " Mau bikin teh buat mas Elyas dulu lah umi. Lagian di kamar mandi masih ada mas Elyas. " ia berjalan menuju almari yang menyimpan perabotan. Ia mengambil sebuah cangkir dari dalam almari itu dan membuatkan teh hijau untuk suaminya. Sedangkan ia sendiri, lebih memilih minum air mineral.


Sedangkan di dalam kamar, Elyas tersenyum melihat ranjang yang ada di sisi kamar. Ranjangnya yang semula berukuran single bed, kini sudah berubah menjadi ukuran queen size. Lumayan besar lah untuk tidur dua orang.


Ranjang itu sudah terlihat rapi. Ada dua bantal dan sebuah guling di tengah ranjang. Juga selimut yang membentang di bagian bawah ranjang. Ia tadi sengaja meminta pihak toko untuk sekalian menata ranjang itu. Memasang sprainya, dan menata selimut nya juga.


Kenapa Elyas tiba-tiba mengganti ranjangnya? Padahal Selsa sudah berkali-kali meminta ranjang itu di ganti yang lebih besar supaya dirinya juga bisa ikut tidur di sana.


Kejadian tadi pagi, membuat Elyas sedikit kalap. Sambil memperhatikan sang istri yang sedang berpose romantis dengan laki-laki lain, dirinya segera menghubungi toko meubel. Ia meminta segera di kirim sebuah ranjang queen size ke rumahnya hari ini juga.

__ADS_1


Dan kini, dirinya bisa tersenyum puas. Mulai malam ini, dirinya akan tidur satu ranjang dengan istrinya untuk pertama kalinya. Tidur bersama? Dalam satu ranjang yang sama? Dengan istri? Tiba-tiba bayangan aneh muncul di otak Elyas.


Apakah malam ini dirinya akan melakukan malam pertama yang tertunda dulu? Malam pertama? Aneh jika mengingatnya. Mereka menikah sudah hampir 4 bulan. Dan apa tadi ia bilang? Malam pertama? Bahkan mereka belum melakukannya.


' Apa yang akan aku lakukan nanti malam ? Ah, aku sama sekali tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Bagaimana aku harus mengawalinya? ' tanya Elyas dalam hati sambil terus memperhatikan ranjang yang di tertutup dengan selimut berwarna peach. Warna kesukaan sang istri.


Oh, benarkah? Benarkah istrinya itu menyukai warna peach? Jawabannya adalah iya. Dan bagaimana seorang Elyas bisa mengetahuinya? Ternyata, diam-diam ia sering memperhatikan istrinya. Ia melihat, banyak sekali barang-barang milik Selsa yang memiliki aksen warna peach.


Tak ingin semakin memikirkan apa yang akan terjadi nanti malam, Elyas segera keluar dari dalam kamar. Ia sudah mengenakan baju Koko, sarung, juga peci hitam.


Tak jauh dari pintu kamarnya, ia bertemu dengan Selsa yang hendak masuk ke dalam kamar.


" Udah ganteng aja suamiku. " goda Selsa sambil tersenyum dan menaikturunkan kedua alisnya. Wajah Elyas bersemu merah mendengar godaan Selsa. Ia lebih memilih menunduk, menyibukkan diri membenahi sarungnya.


Selsa tersenyum. " Tehnya udah aku taruh di meja depan TV." ucapnya. Dan Elyas mengangguk.


" Oh iya. " Selsa menghentikan langkahnya, yang juga diikuti oleh Elyas. " Mmm .. Apa boleh magrib nanti aku sholat di rumah aja? Nggak ke masjid? " tanyanya pelan sambil menggigit kecil bibir bawahnya. Sebenarnya ia sedikit takut untuk meminta ijin Elyas untuk hal - hal yang berbau agama.


" Boleh. " Jawab Elyas sembari mengangguk. Ia tahu, Selsa pasti capek setelah seharian bekerja. Biarlah dia sholat di rumah saja. Toh yang penting, ia tidak meninggalkan sholatnya.


" Makasih. " cicit Selsa, lalu ia kembali berjalan menuju ke kamarnya.


Ceklek


Selsa membuka pintu kamar. Lalu ia nampak terkejut kala ia menoleh dan mendapati ranjangnya sudah berubah.


" Kok, ranjangnya mengembang jadi gede? Perasaan tadi pagi masih kecil nih ranjang. " monolog Selsa sambil memperhatikan ranjang yang kini terbentang di hadapannya. Matanya memicing untuk berpikir.

__ADS_1


" Kapan mas Elyas ganti ranjangnya? Kok dadakan banget? Apa itu artinya, mas Elyas udah mau tidur satu ranjang sama aku? " kembali Selsa bermonolog.


bersambung


__ADS_2