Pak Ustadku

Pak Ustadku
Melamar


__ADS_3

“ Mungkin Elyas sudah memberitahu kepada umi, tentang apa yang telah terjadi. “ ucap tuan Manoj to the point. Ia tidak ingin menyia – nyiakan waktu.


“ Iya, tuan. Elyas tadi sudah cerita. Saya minta maaf yang sebesar – besarnya atas kesalahan yang telah putra saya lakukan. “ sahut umi dengan segala kerendahan dirinya.


“ Tidak, umi. Justru seharusnya saya lah yang meminta maaf. “ ucap tuan Manoj. Ruby, sang istri juga Roy hanya duduk diam memperhatikan di sebelah tuan Manoj.


Tuan Manoj nampak menghela nafas berat. “ Memang kejadian yang sebenarnya, tidak ada yang terjadi antara Elyas dan putri saya. Tapi, semua orang tidak beranggapan seperti itu. Bahkan ada yang memviralkan kejadian itu di media sosial. Untung saja putra saya cepat tanggap dan segera menghentikan pemberitaan itu di media sosial. Saya tidak bisa memikirkan penyelesaian lain. Mungkin memang terdengar egois. Karena saya memaksa Elyas untuk menikahi putri saya. Tapi ribuan orang yang saya pertaruhkan. Jika sampai nilai saham perusahaan menurun karena pemberitaan ini, maka otomatis saya harus mengurangi pegawai saya. Dan umi bisa bayangkan, bagaimana nasib mereka jika harus saya phk. “ jelas tuan Manoj panjang lebar.


Umi tersenyum. “ Kami mengerti, tuan. Dan Elyas sudah memutuskan untuk menikahi putri tuan. “


“ Maaf sekali lagi, umi, Elyas. Mungkin kamu jadi kehilangan cinta kamu. “ imbuh Ruby.


“ Oh, tidak mengapa nyonya. Manusia memang hanya bisa mencintai. Tapi Jodoh, tetap ada di tangan Tuhan. Jika memang jodoh putra saya adalah putri nyonya, maka kami iklhas menjalani dan menerimanya. Masalah cinta, in syaa allah cinta itu akan hadir seiring dengan waktu atas seijin Allah. Jika Allah sudah menjodohkan insannya, maka Ia juga akan menhadirkan cinta di antara keduanya. “ sahut Umi membuat tuan Manoj dan Ruby tersenyum lebar. Mereka merasa tidak salah membuat keputusan.


“ Tapi tuan dan nyonya, beginilah keadaan kami. Elyas sudah tidak memiliki orang tua yang lengkap. Dia hanya memiliki saya. Dan abi nya Elyas, tidak meninggalkan harta yang banyak untuk Elyas. Jadi tuan, nyonya, kami tidak memiliki apa – apa. Dan seperti yang tuan ketahui, sumber biaya untuk kehidupan kami adalah dari perusahaan anda. “ imbuh umi yang ia selingi dengan sedikit candaan.


Ruby tersenyum. Ia lalu mencondongkan tubuhnya ke depan. Ia menggenggam tangan umi erat. “ Harta hanyalah titipan dari Allah. Dan kapanpun, Allah bisa mengambilnya kembali. Dan harta yang kami miliki saat ini, sebetulnya bukan hanya milik kami. Tapi milik orang banyak. Dan kita sebagai manusia, tetap mempunyai martabat yang sama di mata Allah. “ ucapnya membuat Umi ikut tersenyum.


Ternyata keluarga tuan Manoj tidak kaku dan arogan seperti yang di bayangkan umi tadi. Mereka sangat welcome.


“ Mmmm, ngomong – ngomong … Putri tuan dan nyonya di mana ? Saya kok jadi pengen ketemu. “ tanya Umi sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling. “ Wajar ya tuan, nyonya, saya pengen lihat calon mantu saya seperti apa. Apa dia secantik ibunya ? “ canda Umi.


“ Pastinya umi. Anda bisa lihat, papanya saja ganteng kayak begini. Hahaha… “ sahut Ruby yang langsung di iringi tawa menggema di ruangan itu. Hanya Elyas dan Roy yang hanya tersenyum. Senyuman terpaksa tentu saja.


“ Mungkin sebentar lagi, ia akan sampai rumah. Tadi ia bilang, jika akan mampir ke rumah teman dulu. “ lanjut Ruby.


“ Umi, sebelumnya saya minta maaf. Sebenarnya, perjodohan ini, kami belum sempat mengatakannya kepada Selsa, putri kami. Jadi, dia belum tahu. Karena yah, kejadian tadi sangat mendadak jadi saya belum sempat berbicara dengan putri saya. “ ucap tuan Manoj.


“ Oh … Tapi … “ umi nampak bingung.

__ADS_1


“ Tapi umi tenang saja. Putri kami pasti tidak akan menolak perjodohan ini. Kami yakin itu. “ potong tuan Manoj.


“ Oh, begitu ya. “ umi memaksakan senyumnya dengan wajah yang masih nampak bingung.


“ Mari silahkan di minum. “ Ruby memepersilahkan umi dan Elyas untuk menikmati minuman dan beberapa camilan yang sudah terhidang. Ia berusaha memecah kecanggungan dari umi yang terlihat semenjak tuan Manoj mengatakan jika Selsa belum tahu tentang pernikahan ini.


“ Dari tadi malah Cuma di anggurin. Ayo Elyas, umi. Silahkan. “ ucapnya lagi.


“ Iya, terima kasih nyonya. “ jawab Elyas, lalu ia mengambil cangkir yang berisi teh hangat dari atas meja. Begitupun umi.


“ Bagaimana kalau kita langsung saja membicarakan tentang pernikahan anak – anak kita, umi ? “ tanya tuan Manoj setelah mereka rehat sejenak menikmati minuman dan camilan yang sudah di sediakan.


“ Kami terserah tuan saja. “ bukan umi yang menjawab, melainkan Elyas.


“ Baiklah. Kami ingin pernikahannya kita adakan secepatnya. Bagaimana jika bulan depan ? “ usul tuan Manoj.


“ Bulan depan ? Bukankah itu terlalu cepat tuan ? “ sahut Elyas dengan cepat. Bagaimana mungkin dalam dua minggu ia harus menikahi Selsa. “ Oh, maaf. “ imbuhnya setelah menyadari akan sikapnya barusan. “ Maksud saya, kami juga butuh persiapan. Meskipun maaf, mungkin kami tidak akan mengadakan pesta yang meriah, tapi tetap kami butuh persiapan. Kami butuh mempersiapkan seserahan juga. “ lanjutnya dengan tidak enak hati.


“ Tapi tuan … “


“ Sudah, jangan memikirkan apapun. “ potong tuan Manoj. “ Kami tetap akan merayakan pernikahan kalian. Bagaimanapun juga, kolega bisnis, karyawan di kantor harus tahu tentang pernikahan kalian. Kamu tidak keberatan kan Yas ? “ lanjutnya.


“ Selsa adalah buah hati kami. Putri satu satunya di rumah ini. Pernikahan hanya terjadi sekali hidup atas ijin Allah. Kami ingin memberikan yang terbaik untuknya. Jadi saya harap, kamu jangan tersinggung atau merasa berkecil hati. “ imbuh Ruby karena ia melihat wajah Elyas yang nampak tidak enak hati.


“ I-iya, nyonya. “ jawab Elyas terbata.


“ Jadi bagaimana umi ? Apa umi setuju jika pernikahan mereka kita adakan awal bulan depan ? “ tanya Ruby ke umi.


“ In syaa allah. Saya setuju. Niat baik memang harus di segerakan, biar tidak jadi maksiat. “ jawab umi dan membuat tuan manoj dan istrinya tersenyum lega.

__ADS_1


Tak lama terdengar mobil berhenti di depan rumah. Seorang maid segera keluar untuk menyambut.


“ Sri, apa Selsa yang pulang ? “ tanya Roy.


“ Iya, mas Roy. “ jawab Sri yang hendak kembali ke belakang.


“ Sri, suruh Selsa kesini dulu sebentar. Katakan, ada tamu yang ingin bertemu dengannya. “ ujar tuan Manoj.


“ Baik tuan. Permisi. “ jawab Sri.


Tak lama, Selsa menuruni tangga. Ia masih mengenakan pakaian kerjanya. Ia memasuki ruang keluarga sambil menggerutu, “ Siapa sih tamunya ? awas aja kalau sampai Datuk maringgih yang datang. “


“ Selsa, sini. “ panggil tuan Manoj. Selsa berjalan mendekat. Ia lalu menoleh ke samping ke tamu yang berada di sana. Ia sedikit membungkukkan tubuhnya sambil tersenyum ke arah Umi, lalu pandangannya berpindah ke Elyas sambil dahinya berkerut.


Ngapain dia kesini ? tanya Selsa dalam hati.


“ Selsa, kenalin, ini umi nya nak Elyas. “ ucap Ruby lembut sambil tersenyum.


Selsa tidak menanggapi ucapan Ruby. Tapi ia sontak menoleh kembali ke arah umi nya Elyas. Uminya Elyas ? Ngapain dia datang kesini sama uminya ? tanya Selsa dalam hati. Tapi tak urung, ia mendekat ke arah umi dan menyalaminya, lalu mencium punggung tangannya.


Ketika membungkukkan tubuhnya sedikit, Selsa menutupi da danya dengan tangan kirinya. Ia sadar jika ia menunduk, pasti da danya akan terlihat dari sisi Elyas duduk.


“ Duduk, Sa. “ titah tuan Manoj.


Selsa melihat ke sofa yang masih kosong. Dan sofa yang masih kosong berada tepat di depan Elyas. Dengan canggung, ia berputar, lalu duduk di sofa itu. Sebelum duduk, ia membenarkan roknya. Menariknya lebih ke bawah supaya saat ia duduk nanti pa hanya tidak terekspos secara bebas.


Tumben si India ini jaga image. Biasanya, duduk tinggal duduk aja. Batin Elyas dan Roy.


“ Cantik ya nyonya, putrinya. Sepertinya saya akan betah. “ kelakar umi ke ruby yang terlihat tersenyum bahagia. Sedangkan Selsa masih bingung dengan keadaan yang terjadi.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2