Pak Ustadku

Pak Ustadku
Sederhana


__ADS_3

” Maaf semuanya. Saya minta ijin ingin menyampaikan sesuatu. “ ucap Elyas kala semua anggota keluarga sudah berkumpul di ruang tengah setelah acara makan malam.


“ Ada apa, nak ? “ tanya Ruby mewakili suaminya.


“ Mmmm, maaf sebelumnya. Mungkin yang saya katakan sekarang kurang berkenan di hati papa, mama, juga kak Roy. Tapi saya tetap harus menyampaikannya. “ ucap Elyas perlahan. Bahkan Selsa pun di buat penasaran dengan apa yang hendak Elyas utarakan.


“ Katakanlah. “ sahut tuan Manoj.


“ Saya ingin meminta ijin sama papa, mama, juga kak Roy untuk mengajak Selsa tinggal di rumah saya. “ ujar Elyas. Semuanya masih diam.


“ Rumah saya memang tidak sebesar rumah ini. Tapi bagaimanapun juga, Selsa sudah menjadi istri saya. Tanggung jawab saya. Jadi kemanapun saya pergi, saya ingin mengajaknya. “ lanjutnya.


“ Kenapa harus pergi ? Kenapa tidak tinggal di sini saja ? “ tanya tuan Manoj dengan suara datarnya. Berat tentu saja bagi seorang Manoj Rakesh membiarkan anak satu – satunya pergi dari rumah. Meninggalkan segala kemewahan yang selama ini ia rasakan dan dapatkan.


“ Maaf, pa. Saya tidak bisa meninggalkan umi tinggal sendirian. Umi sudah tua. Kalau ada apa – apa sama umi, saya akan sangat menyesal. “ sahut Elyas.


“ Tapi nak Elyas. Selsa adalah putri kami satu – satunya. Dia tidak pernah pergi dari rumah kecuali saat ia kuliah di luar negeri kemarin. “ ucap Ruby keberatan. Meskipun Selsa tidak pernah menganggapnya, tapi ia tetap menyayangi Selsa seperti anak kandungnya sendiri.


“ Dia tidak pernah pergi dari kami. Selsa … “


“ Aku akan ikut mas Elyas. “ potong Selsa dengan cepat membuat elyas terhenyak. Ia tidak menyangka jika selsa akan mau ikut bersamanya.


“ Papa sudah menikahkanku dengan mas Elyas. Aku seorang istri sekarang. Benar apa yang di katakan mas Elyas, jika aku harus ikut kemanapun ia akan pergi. “ lanjutnya mantap.


Tuan Manoj nampak menghela nafas berat. “ Baiklah jika kamu juga menginginkannya. Pergilah, dan berbahagialah. “ ucapnya dengan nada suara berat.

__ADS_1


“ Kalau begitu, ijinkan kami … “


“ Tapi bukan sekarang kan ? “ potong Ruby ketika Elyas hendak berpamitan. “ Setidaknya, pergilah besok siang. Malam ini, tidurlah di rumah ini lagi. “ pintanya dengan sungguh – sungguh.


“ I-iya. “ meskipun tidak sesuai dengan rencananya, tapi Elyas tetap mengiyakan. Yang penting, dia bisa tinggal bersama uminya. Dengan istrinya sekarang.


Ia berharap, jika Selsa tinggal bersama umi, istrinya itu bisa berubah menjadi perempuan baik – baik. Meskipun satu hal yang tidak akan pernah bisa di rubah menurut Elyas.


Hari semakin malam. Selsa sudah masuk ke kamarnya semenjak tadi. Suaminya yang mengajaknya tinggal di rumahnya secara mendadak, mengharuskan dirinya harus segera mengemas barang – barangnya. Baju, sepatu, tas, dan yang lainnya lagi.


Sedangkan Elyas, seperti malam – malam sebelumnya, ia akan menghabiskan malamnya di halaman belakang rumah mewah keluarga Manoj. Bosan sebenarnya hari – hari yang ia lalui beberapa hari belakangan ini. Hanya duduk diam di halaman belakang rumah. Cutinya masih dua hari lagi. Menyesap kopi panas dari cangkir yang masih mengeluarkan kebulnya.


.


.


.


“ Selamat datang, nak. “ sambut umi ketika melihat Selsa turun dari dalam mobil. Tuan Manoj tadi memaksa Elyas untuk membawa mobil milik Selsa. Padahal Selsa juga tidak hendak membawanya. Ia siap menanggalkan semua kemewahan yang ia punya untuk hidup bersama dengan suaminya.


Selsa sedikit membungkukkan tubuhnya. Ia masih merasa canggung dengan mertuanya. Bagaimanapun juga, mereka baru bertemu sebanyak tiga kali. Yaitu malam ketika Elyas datang untuk menerima perjodohan dengannya, lalu ketika akad nikah, dan yang ketiga adalah saat resepsi pernikahan.


“ Masuklah. Umi sudah menunggumu. “ ujar Elyas karena sedari tadi, Selsa nampak menyembunyikan tubuhnya di belakangnya.


“ Aku masuk ? Sendiri ? “ tanyanya gugup sambil menunjuk wajahnya. “ Kamu ? “

__ADS_1


Terlihat jelas sekali jika Selsa merasa gugup dan canggung. Elyas mengangguk. “ Aku akan menurunkan koper- kopermu dulu. Di sini tidak ada mang Braja yang akan membantumu membawa koper – kopermu yang entah apa isinya. Atau kau mau membawanya sendiri ? “


“ Aku tidak bisa membawanya sendiri. Tapi aku bisa membantumu. “ tawar Selsa.


“ Tidak perlu. Kamu masuklah dulu. Sapa umi sana. Bagaimanapun, beliau adalah mertua kamu sekarang. “ titah Elyas.


Selsa akhirnya mengangguk dengan ragu. Ia lalu meninggalkan Elyas dan berjalan masuk ke dalam rumah, di mana umi sudah menunggu dari tadi.


“ Assalamu’alaikum, umi. “ sapa Selsa ketika sudah berada di dekat umi. Ia lalu meraih tangan umi dan mencium punggung tangannya. Jika hanya mengucap salam, tentu saja Selsa mengetahuinya. Tapi entah dengan yang lainnya.


“ Waalaikum salam. “ sahut umi. Sungguh di luar dugaan selsa. Umi menarik tubuhnya, lalu memeluk tubuhnya sambil mengusap punggungnya hangat. Hingga tanpa sadar, Selsa meneteskan air matanya. Ia tidak menyangka jika mertuanya ternyata bersikap hangat kepadanya. Tidak seperti sikap Elyas yang terasa dingin. Ia mengira, sang umi akan bersikap tak acuh terhadapnya.


“ Hey, kenapa menangis, nak ? “ tanya umi sambil mengerutkan dahinya. Beliau melihat mata sang menantu yang basah ketika ia merenggangkan pelukannya.


Selsa menggeleng sambil tersenyum. “ Selsa bahagia, umi. Terima kasih. Umi mau menerima Selsa di rumah ini. “ ucapnya dengan tulus.


Umi menangkup kedua pipi Selsa. “ Umi juga bahagia kamu mau tinggal di rumah ini. Umi bahagia, akhirnya umi bisa merasakan mempunyai seorang putri. “ ucap beliau.


“ Terima kasih, umi. “ ucap Selsa, lali ia kembali memeluk tubuh umi. Entah kenapa, ia merasa mempunyai seorang ibu sekarang. Ia berjanji dalam hati, jika ia akan ikut membahagiakan umi seperti yang Elyas lakukan.


“ Kok malah jadi nangis – nangisan gini. “ kekeh umi sambil menyeka sudut matanya yang basah. “ Masuk yuk. Masak di depan rumah terus gini. “ ajak umi dan Selsa pun tersenyum sambil menyeka pipinya yang basah karena air mata. Ia lalu mengamit lengan umi, dan menuntun beliau masuk ke dalam rumah.


“ Beginilah rumah Elyas. Rumah suamimu. Tidak semewah rumah papa kamu. “


Selsa menggeleng. “ Selsa akan betah tinggal di sini. Karena ada umi di sini. Rumah yang mewah, tidak menjamin jika penghuninya pasti akan hidup bahagia, umi. “ ujarnya dan umi pun tersenyum.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2