
" Jahat!!!! Mas Elyas jahat!!!! " pekik Selsa di sela-sela tangisannya. " Hiks... Hiks .... "
Elyas tercengang. Ia terdiam. Dirinya sudah mengatakan kalau mau keluar dari kamar. Tapi kenapa istrinya malah makin histeris?
" Iya, aku keluar sekarang. Kamu jangan nangis terus. Aku akan pulang. " ucap Elyas.
" Tuh kan... Huaaaaa.... Kamu emang tega sama aku!! "
" Sayang, aku beneran bingung sekarang." sahut Elyas.
" Mas Elyas jahat.... Huaaa... Kenapa kamu malah mau pergi?? Kamu mau ninggalin aku? Iya? " ujar Selsa di tengah deraian air matanya.
Elyas kini semakin bingung. " Bukankah kamu menangis karena aku ada di sini? Jadi, aku akan pergi biar kamu nggak nangis lagi. "
" Tega!!! " teriak Selsa sambil melempar bantal ke arah suaminya. Dengan sigap, Elyas menangkap bantal itu hingga tidak sampai mengenai wajahnya.
" Sayang, ... " lirih Elyas. " Aku harus bagaimana biar kamu nggak nangis lagi? "
" Jangan pergi!! Nggak peka banget sih!! " pekik Selsa marah-marah. Elyas benar-benar di buat bingung. Istrinya itu tidak pernah marah-marah begini kepadanya. Kenapa sekarang istrinya itu juga berteriak kepadanya?
" Oke. Aku nggak jadi pergi. Tapi kamu jangan nangis lagi ya.." pinta Elyas. Ia masih sibuk berpikir, apa yang sebenarnya di inginkan istrinya itu.
Sudah lebih dari satu minggu sang istri enggan bertemu dengannya. Sekarang tiba-tiba melarangnya pergi. Ada apa sebenarnya?
Elyas menaruh bantal yang tadi di lempar kepadanya dengan perlahan ke atas ranjang.
" Pengen di peluk. " ujar Selsa lirih. Ia masih menyisakan sesenggukannya.
" Ha? " beo Elyas. Ia tidak begitu mendengar suara Selsa. " Kamu bilang apa tadi sayang? Maaf, aku tidak mendengar. "
" Ishh!! Nggak peka ah. " ujar Selsa cemberut. Ia membalikkan badannya. " Minta peluk aja susahhh!!! " gerutunya dengan suara sedikit keras. Hingga Elyas mendengarnya.
Kini Elyas mengerti apa yang di mau istrinya. Ia tersenyum, lalu naik kembali ke atas ranjang dan segera memeluk tubuh istrinya dari belakang.
Tubuh Selsa kembali bergetar. Ia kembali sesenggukan. Elyas panik kembali. Ia langsung melepas pelukannya.
Dan seketika itu juga Selsa berbalik, dan kini menatap tajam ke arah Elyas hingga membuat Elyas meneguk salivanya dengan susah payah.
" Sa....sayang... "
" Kenapa di lepas!!! " ucap Selsa tajam.
" Maaf. Kamu menangis. Jadi aku pikir kamu nggak suka aku peluk. " ucap Elyas penuh kehati-hatian.
__ADS_1
" Aku nangis karena aku merasa .... " tiba-tiba Selsa menghentikan ucapannya dan berpikir. Ia sendiri juga bingung kenapa dirinya kembali menangis.
" Ah, nggak tahu lah. Anak kamu kali mas yang bikin aku nangis. " ujarnya asal.
Alias Elyas mengernyit. " Anak aku? Kok bisa? "
Selsa mengendikkan bahunya. " Mungkin sama pas tadi aku tiba-tiba ingin mas Elyas peluk. " jawabnya ala kadarnya.
Elyas tersenyum hangat. " Masih pengen di peluk nggak? " tanyanya. Dan Selsa lalu merentangkan kedua tangannya untuk menerima pelukan dari suaminya.
Bibir Elyas makin melebar. Ia segera memeluk erat istrinya. Ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang sangat mahal ini. Sudah dari minggu kemarin dirinya sangat merindukan kehadiran sang istri di sampingnya.
Mereka saling berpelukan dalam waktu yang cukup lama seakan enggan untuk di pisahkan.
" Aku sangat merindukanmu. " bisik Elyas.
Selsa tersenyum. " Aku ju... " ucapannya terpotong, senyumannya pun langsung sirna setelah ia teringat sesuatu. Bahkan ia langsung melepas pelukannya kasar.
" Ada apa? " tanya Elyas kala sang istri mendorongnya seolah enggan untuk ia peluk.
Selsa bersidekap, menatap tajam ke arah Selsa.
" Kenapa mas Elyas peluk-peluk? " cerca Selsa.
" Moduss!! " sengit Selsa. " Bilang aja cari kesempatan dalam kesempitan. "
Elyas makin di buat bingung. Ada apa dengan istrinya? Kenapa sang istri bisa berubah pikiran hanya dalam hitungan detik. Semakin Elyas berpikir, semakin ia di buat makin bingung.
" Aku tuh masih marah ya, sama mas. Marah pakai banget! " lanjutnya masih dengan nada bicara yang sama.
" Tap... "
" Stop! Mas Elyas jangan bicara dulu. Aku yang akan bicara. " potong Selsa sambil mengangkat telapak tangannya di depan Elyas.
" Aku tuh masih marah banget sama kamu mas. Marah banget. Aku kecewa. " suara Selsa kini sudah tidak setajam tadi. Malah justru terkesan sendu.
" Aku tahu, aku bukan sosok istri seperti yang kamu harapkan. Tapi aku sudah berusaha semampuku untuk menjadi seorang istri seperti harapan kamu. " air mata Selsa mulai menitik.
" Aku tahu, masa laluku terlalu buruk untuk di terima menjadi istri seorang ahli agama seperti kamu mas. Aku terlalu banyak berbuat dosa di masa lalu. Tapi aku.... Hiks ... Aku ... Aku hanya pernah menyerahkan diriku seutuhnya kepadamu. Bahkan untuk berciuman saja, kamulah yang pertama. First kiss nya aku, aku kasih ke kamu mas. " kini Selsa berbicara sambil mengusap pipinya, mengusap ingusnya, mengusap ujung matanya.
Elyas makin di buat merasa bersalah. Ingin sekali ia memeluk sang istri saat ini. Tapi ia pendam. Ia takut jika sang istri kembali emosi.
" Selsa, aku minta maaf atas semua hal buruk yang sudah aku lakukan. Aku yang bodoh sayang. Aku yang sengaja menutup diri aku untuk menerima gadis sebaik dirimu. Maafkan aku. " ujar Elyas sambil memandang lekat wajah sang istri.
__ADS_1
" Tapi untuk apa yang di katakan Ratna kepadamu, itu fitnah. Aku berani bersumpah atas nama Allah, aku tidak pernah mengatakan hal setabu itu kepadanya. Kamu adalah istriku, marwahku yang harus aku jaga. Tidak mungkin aku membicarakan hal buruk tentang kamu kepada orang lain. " lanjutnya serius.
" Aku punya buktinya. " Elyas segera merogoh ponselnya. Mengambilnya dari dalam kantung celananya. " Ini aku merekam semua omongan Ratna. Dia hanya ingin mengadu domba kita dan membuat kita saling salah paham. " Elyas mengotak atik ponselnya dan menghidupkan hasil rekamannya.
Elyas terdiam kala rekaman itu mulai berputar. Selsa terlihat serius mendengarkannya.
" Kamu dengar sendiri kan? Apa yang dia bilang? Dia yang sengaja membuat kita salah paham. " ujar Elyas kala rekaman itu habis. " Jika kamu masih belum percaya dengan rekaman ini, Ratna bersedia bertemu langsung denganmu dan mengatakan hal yang sebenarnya. "
Selsa langsung menggeleng. " Nggak. Aku nggak mau lagi bertemu dengannya. Jadi mas Elyas jangan pernah menyuruhku bertemu dengannya atau tetap menjalin silahturahmi dengannya. "
" Tidak. Aku tidak akan menyuruhmu berbaik hati kepadanya. " jawab Elyas tegas. " Sekarang, buat aku, kamu adalah yang terpenting dalam hidupku. Juga anak kita. Kalian adalah segalanya. "
Selsa masih diam. Ia hanya membalas tatapan mata Elyas. Hanya keseriusan yang ada dalam mata Elyas.
" Aku benar-benar minta maaf karena pernah mengabaikanmu. Aku berjanji, mulai saat ini, kamulah yang utama dan satu-satunya. Tidak akan pernah ada orang lain lagi. Selamanya. " Elyas memberanikan diri menggenggam tangan Selsa.
Selsa tak menolak. Tapi ia malah semakin mengencangkan tangisnya.
" Maaf. " ucap Elyas kembali.
" Hiks... Jangan terus minta maaf. Nanti pas lebaran, mas Elyas mau minta maaf soal apa kalau semuanya sudah di maafkan hari ini. " sahutnya.
Elyas tersenyum lalu menarik Selsa untuk kembali ia peluk. Selsa tidak menolak.
" Seberapa banyakpun aku meminta maaf, berucap kata maaf, aku merasa itu tidak akan cukup untuk semua kesalahan dan kebodohan yang pernah aku lakukan padamu. " ucap Elyas lirih.
" Aku sangat mencintaimu, sayang. Hari ini, esok, lusa, dan selamanya. " ucap Elyas.
Selsa tersenyum, lalu ia membalas pelukan Elyas. " Aku juga mencintaimu. "
Mereka berpelukan untuk beberapa saat,hingga akhirnya Elyas melepas pelukannya. Ia menangkup kedua pipi Selsa, menatap lekat netranya, lalu turun hingga ke bibir ranum sang istri.
Tak ingin berlama-lama, dan memang karena ia juga sangat merindukan bibir itu, Elyas langsung menyambar bibir itu. Nak gayung bersambut, ternyata Selsa pun membalas ciumannya.
Tak dapat di pungkiri, Selsa pun sangat merindukan sentuhan bibir Elyas. Mereka saling berpagutan cukup lama, hingga akhirnya tangan Elyas ikut melanglang buana. Hingga terdengar lah suara indah Selsa yang sangat Elyas rindukan.
" Ahhh... " suara de sahan Selsa msngakum seiring dengan tangan Elyas yang sudah masuk ke dalam piyamanya.
" Aku sangat merindukanmu sayang. Dan aku sangat menginginkanmu. ""
" Lakukanhh..Tapihh.. pelan-pelan... Ahhh... Adah si kechilllhhh... "
" Pasti. "
__ADS_1
bersambung