
“ Bagaimana Sa ? Udah loe lakuin saran gue ? “ tanya Aleta ketika mereka bertemu. Selsa menggeleng lemah.
“ Why ? Ini tuh salah satu cara buat milikin laki loe seutuhnya. “ geram Aleta.
“ Gue bingung. “ lirih selsa.
“ Bingung ??? “ Aleta mengernyitkan keningnya. Ia menghembuskan nafasnya kesal, menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi, melipat kedua tangannya di depan dada.
“ Sa, loe tuh tinggal di luar negeri hampir empat tahun. Empat tahun, Sa!! “ Aleta menunjukkan empat jarinya di depan muka Selsa. “ Harusnya loe udah kebiasa dengan kehidupan sana. Loe harusnya udah belajar gimana caranya mendekati cowok. “ ia mendengus kesal.
“ Ck ! Gue bukan loe ! “ sarkas Selsa. Ia memalingkan wajahnya ke samping.
“ Ya iyalah gue bukan e loe. Tapi loe sahabat gue. Loe harusnya sama pinternya kayak gue. Pinter gimana caranya ngegoda cowok. Apalagi Elyas tuh udah halal buat loe. Lebih gampang kan ? “ ujar Aleta. “ Loe telan jang di depan dia juga halal. “ lanjutnya makin frontal.
Selsa mendelik kesal ke arah Aleta. “ Iya. Gue bisa. Gue pinter. Karena loe udah ngajarin gue lewat praktek kerja lapang. Langsung. Live streaming. “ ketusnya.
“ Dan asal loe tahu ya, gue sekarang juga lagi dalam mode pedekate. Biar nggak kelihat kek wanita penjaja se** di luaran sana. Nggak ada angin, nggak ada hujan, tiba – tiba gue telan jang di hadapan dia. “ lanjutnya.
Memang setelah mendengar usulan yang di lontarkan sahabatnya itu minggu yang lalu, Selsa mulai mencoba mendekati sang suami. Ia selalu mencoba untuk dekat dan lebih intens berada di dekat Elyas.
Dulu, dirinya iya iya aja ketika Elyas menyuruhnya berangkat kerja terpisah dengan alasan supaya dirinya tidak kepanasan dan kehujanan karena naik mobil.
Tapi kini, sudah satu minggu ini, setiap pagi dan sore ia akan nemplok bak cicak di punggung sang suami. Ia selalu meminta berangkat dan pulang kerja dengan membonceng di motor trail sang suami. Dan ia memarkirkan mobilnya manis di garasi rumah Elyas.
.
.
__ADS_1
.
Malam pun tiba. Selsa yang biasanya tidur saat jarum pendek menunjukkan angka sembilan, kini ia masih sibuk mempersiapkan diri menyambut sang suami di kamar. Bukan baju kurang bahan yang ia beli minggu kemarin bersama Aleta yang Selsa pakai.
Tapi ia memilih memakai atasan tangtop dan celana hotpant. Bukan tanpa alasan dirinya tidak jadi memakai baju jaring ikan itu. Ia hanya mengantisipasi, jika dirinya mengenakan baju jaring ikan itu, dan suaminya justru jatuh pingsan karena terkejut. Dan lebih buruk lagi, suaminya bisa saja langsung stroke mendadak.
Ceklek
Pintu kamar di buka dari luar. Selsa terjingkat kaget. Dirinya yang sedang mondar mandir tak jelas di dalam kamar, membalikkan tubuhnya seketika. Meskipun ia sering ke night club dengan berpakaian minim, entah kenapa, di saat ia mengenakan baju yang terbuka di hadapan suaminya, ia merasa gugup.
Tak beda dengan Elyas. Ia pun terkejut mendapati Selsa masih belum terlelap padahal jam di dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Dan yang lebih membuatnya terkejut lagi, ketika matanya melihat pemandangan yang menyesakkan. Tapi bukan dadanya. Melainkan bagian bawah tubuhnya.
“ E khem!! “ Elyas berdehem sambil memalingkan wajahnya ke samping ketika ia telah sadar. Dosa nggak sih, aku tadi memandangi tubuhnya yang indah ? batin Elyas. Tapi ia segera memukul kepalanya sendiri kala ia menyadari jika ia baru saja memuji tubuh indah sang istri.
Selsa berdiri dengan kikuk sambil meremas kedua tangannya yang saling bertautan. Sambil sesekali ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Bukan seperti ini rencananya tadi. Ia tadi berencana, jika suaminya masuk, ia akan langsung pasang badan sek sy dan menggoda sang suami. Tapi nyatanya, nyalinya tiba – tiba menciut ketika berhadapan dengan sang suami.
“ Ha ? “ Selsa justru terkejut. Ia kembali menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “ I-iya. A-aku … Mmm…” ia pun tak kalah gugup. Matanya bahkan ikut mengedar ke sekeliling sambil memikirkan jawaban apa yang harus ia berikan.
“ Tadi baru habis dari belakang. Habis pup. Hehehe ….. “ alasan aneh yang justru keluar dari mulut Selsa. Ketika sadar, ia langsung merutuki mulutnya sendiri. Alasan yang sama sekali tidak elegan. Tapi justru terkesan menjijikkan.
“ Lalu kenapa malah mondar – mandir kayak setrikaan ? “ tanya Elyas kembali. Entah kenapa, ia justru ingin mengajak Selsa ngobrol. Harusnya ia diam saja, jadi sang istri bisa segera tidur dan ia bisa terlepas dari rasa canggung yang tiba – tiba mendera.
Bukan rasa canggung sebenarnya. Tapi lebih ke rasa sesak dan panas. Elyas berjalan ragu ke ranjang untuk mengambil baju ganti yang sudah di siapkan oleh Selsa. Dengan susah payah ia bersikap setenang dan sebiasa mungkin.
“ Itu … Anu … “ Selsa kembali bingung harus menjawab apa. Lagi – lagi kepalanya yang menjadi sasaran. Udah kayak melihara kutu aja gue. Umpat Selsa dalam hati.
“ Kenapa kamu berpakaian seperti itu ? “ tanya Elyas kembali setelah ia mengambil dan emmegang baju gantinya.
__ADS_1
“ Ha ? “ beo Selsa kembali. Ia lalu menunduk, melihat penampilannya saat ini. Dan ia justru makin bingung harus menjawab apa. Kenapa mulutnya susah sekali untuk sekedar mengatakan jika ‘ aku hanya ingin menggodamu, suamiku ‘.
“ Panas. Malam ini udaranya lumayan panas. “ jawabnya cepat. Lalu dengan segera, ia naik ke atas ranjang, dan menutup tubuhnya dengan selimut dari leher hingga ujung kaki.
Gerakan dan ucapan salah tingkah Selsa, tak luput dari perhatian Elyas. Elyas mengulas senyum tipis di balik wajah datarnya.
‘ Lucu. Kenapa malam ini dia terlihat begitu menggemaskan ? Panas, dia bilang ? Bagaimana bisa, kamar ini sudah ku pasangi AC. Dan Ac nya juga menyala. ‘ batin Elyas sambil melirik ke arah Selsa yang sudah menutupi tubuhnya dengan selimut dengan mata terpejam.
“ Kalau panas, kenapa malah menutup tubuhmu dengan selimut begitu ? Bukankah akan bertambah panas ? “ goda Elyas sembari berjalan ke arah kamar mandi.
Selsa membulatkan matanya dan menatap punggung Elyas kala mendengar candaan sang suami. Malu, sudah pasti. Ingin rasanya Selsa menutup seluruh tubuhnya hingga kepala. Tapi ia takut tak bisa bernafas.
“ Kamu tadi habis pup ? Apa sekarang kalau aku masuk ke kamar mandi, baunya masih bersisa ? “ goda Elyas kembali sambil tangannya memegang handle pintu dan kepalanya berbalik menoleh ke belakang, ke arah Selsa yang ternyata tengah menatap dirinya juga.
Entahlah, malam ini ia ingin menggoda istrinya. rasanya begitu lucu melihat raut wajah kesal campur malu dari sang istri. Elyas memang tidak pernah dekat dengan perempuan. Tapi ia juga tidak terlalu bodoh mengartikan kelakuan Selsa malam ini.
Ceklek
Pintu kamar mandi tertutup.
“ Kenapa jantungku berdetak kencang? Dan kenapa juga, adik kecilku harus merespon godaan duniawi itu ? “ keluh Elyas kala sudah berada di balik pintu yang tertutup.
“ Maaf Sa. Aku belum bisa menjadi suami kamu seutuhnya. Jujur, rasanya sangat berat untuk melakukannya. Hah ! “ desahnya.
Sedangkan di dalam kamar, Selsa mendesah berat. “ Gagal total!!! “ pekiknya tertahan.
Bersambung
__ADS_1