Pak Ustadku

Pak Ustadku
Lupa adalah solusi terbaik


__ADS_3

Tring


Sebuah pesan masuk di ponsel Selsa. Selsa yang sedang membicarakan tentang kerjaan baru yang baru saja masuk dengan teman – teman satu timnya, menoleh ke arah ponselnya berada.


Dahinya mengernyit kala melihat pengirim pesan. Sebuah nama terlihat karena lampu di ponselnya masih menyala. Ia lalu mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja, dan mengusap layar ponselnya hingga terlihat wajah dirinya yang sedang tersenyum sebagai wallpaper.


‘ Mas Elyas ? Tumben. ‘ tanyanya dalam hati. Ia lalu mengklik aplikasi hijau di layar ponselnya hingga pesan itu terbuka.


Jam makan siang, kita ketemu di lobby. Ada yang harus kita bahas. Tulis Elyas dalam pesannya.


‘ Mau bahas apa dia ? Ah, jangan – jangan mau bahas soal pernikahan ? Duh, bagaimana dong ini ? Gue belum siap buat bahas. Kalau dia malah jadi nyalahin gue gimana ? Papa sih ah, malah kasih gue masalah. Padahal semuanya juga baik – baik aja. ‘ keluh Selsa dalam hati.


Ia lalu meletakkan kembali ponselnya di atas meja tanpa membalas pesan dari Elyas meski hanya sekedar kata ‘ iya ‘. Ia malah kembali berbicara dengan teman – temannya.


Sedangkan dari dalam ruangan, seseorang tengah menahan kesal karena merasa di acuhkan.


“ Kok nggak di bales ? “ gumam Elyas sambil melirik ke arah ponselnya dan menengok ke arah Selsa yang kembali sibuk dengan teman – temannya.


“ Ck ! “ ia berdecak kesal. Lalu menarik nafas panjang supaya ia tidak terbawa emosi. Entah kenapa, segala sesuatu yang menyangkut sosok Selsa, selalu saja membuatnya kesal. Ia lalu meletakkan kembali ponselnya ke dalam saku celana, dan ia kembali melakukan pekerjaannya.


.


.


.


Elyas berjalan mondar mandir di lobby kantor menunggu seseorang yang entah akan datang apa tidak.


“ Mas Elyas, nggak makan siang ? Tumben. Udah lewat setengah jam loh. “ tanya salah satu pegawai.


“ Oh, iya. Nanti sebentar lagi. “ jawab Elyas sambil mengulas senyumannya.


“ Kamu ini. Mas Elyas pasti lagi nungguin calon istrinya. Makan siang bareng calon istri pasti lebih enak, ya mas ? “ sahut karyawan yang lain. Elyas hanya menjawabnya dengan senyumannya.


‘ Calon istri ? ‘ mengingat kata itu saja sudah membuat Elyas kesal meskipun ia selalu berusaha untuk iklas menerima semuanya.


Semenjak gosip yang beredar dua hari yang lalu, tuan Manoj segera mengklarifikasi bahwa sebenarnya, Elyas dan Selsa adalah calon pengantin. Mereka memang ada hubungan spesial dan mereka akan segera menikah. Jadi wajar, jika mereka sedikit bermesraan.

__ADS_1


Kira – kira seperti itulah yang di sampaikan tuan Manoj untuk meredam gosip supaya tidak keluar kantor. Dan Elyas, mau tidak mau, harus memaklumi hal ini karena memang sekarang dirinya dan Selsa adalah calon pengantin.


Tring. Bunyi lift terbuka. Elyas, dan dua orang karyawan yang sedang berbicara dengan Elyas tadi sama – sama menoleh.


“ Nah, bener kan ? Mas Elyas lagi nungguin calon istri. “ goda karyawan itu kala melihat Selsa berada di dalam lift yang baru saja terbuka itu.


“ Maaf, permisi. “ ucap Elyas karena ia harus menghampiri Selsa. Ia melihat Selsa hendak berjalan ke arah yang berseberangan dengan dirinya berada.


Ia segera mengejar langkah Selsa. “ Selsa ! “ panggilnya.


Selsa yang mendengar suara Elyas memanggil, ia berpura – pura tidak mendengar dan terus melangkah tanpa berniat menoleh atau hanya sekedar melirik.


“ Selsa ! “ panggil Elyas lagi sambil memegang lengan Selsa yang kulitnya terasa halus. Mau tidak mau, kali ini Selsa harus menghentikan langkahnya.


Selsa berhenti dan menoleh, lalu melirik ke arah lengannya yang masih di pegang oleh Elyas. Elyas yang memperhatikan arah pandang Selsa, sontak melepas pegangannya.


“ Bukan muhrim. “ ucap Selsa.


Mendengar ucapan Selsa, mampu membuat Elyas salah tingkah. ‘ Nggak dosa kali ya. Megang tangan calon istri. ‘ batin Elyas. ‘ Ahh, apa yang aku pikirkan !!! “ jeritnya dalam hati. Ia lalu megusap wajahnya.


Selsa menarik nafas dalam – dalam lalu menghembuskannya perlahan. “ Ada apa mas Elyas manggil aku ? “ tanyanya. Berpura – pura tidak tahu mungkin lebih baik. Pikir Selsa.


“ Kamu mau kemana ? “


“ Makan siang. Kan udah waktunya. “ jawab Selsa sambil melihat jam di pergelangan tangannya.


“ Kamu sudah membaca pesanku kan ? Aku bilang, saat makan siang, kita akan pergi bersama karena ada yang harus kita bahas. “ tandas Elyas.


“ Ah, i- iya. Aku lupa. “ ucap Selsa sambil tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya yang putih. Lupa, adalah solusi terbaik. Ah, belum juga menjadi istrinya. Kenapa aku udah parnoan gini sama dia. Umpat Selsa dalam hati.


“ Ya sudah. Ayo kita berangkat sekarang. “ Elyas melangkah mendahului Selsa.


“ Loh, katanya mau ada yang di bahas. Kita mau kemana ini ? Bahas di sini aja bisa kan ? Aku mau makan siang. Sumpah perutku sudah sangat lapar. Kasihan cacing – cacing di perutku kalau tidak segera aku kasih makan. “ cerocos Selsa sambil mengikuti langkah lebar Elyas yang membuatnya harus berjalan dengan langkah cepat.


Elyas menghentikan langkahnya secara mendadak, hingga membuat Selsa yang tidak bersiap, membentur tubuhnya.


“ Au … Au … Au … Truk gandengan aja kalau mau berhenti kasih tanda loh. “ sungut Selsa karena badannya menubruk badan Elyas cukup keras.

__ADS_1


“ Untung aja muka kita nggak saling nubruk. Bisa gawat nanti. Bisa – bisa muncul gosip baru lagi. “ lanjutnya masih dengan dumelannya.


“ Habisnya kamu bicara terus nggak berhenti – berhenti. Udah kayak truk gandengan. “ sahut Elyas.


“ Ya kan mas Elyas sendiri yang yang nggak kasih tahu dengan jelas maksud dan tujuan kenapa ngajakin aku. Kalau Cuma mau bicara, kenapa nggak di sini aja ? Keburu waktu makan siang habis. “ kesal Selsa.


“ Kita akan bicara nanti kalau sudah sampai tempatnya. Dan itu, tidak di sini. Soal makan, kamu tenang aja. Kita bakalan makan siang dulu sebelum ke tempat yang akan kita tuju. “ jawab Elyas.


“ Mas Elyas mau nyulik aku ? “ Selsa membolakan matanya.


“ Ck ! Ngapain juga aku nyulik kamu. Nggak ada untungnya juga. “ sahut Elyas. Ia langsung melangkah kembali.


“ Ya kali aja biar nggak jadi harus nikahin aku. “ gumam Selsa.


“ Bukan nggak ajdi nikahin kamu. Yang ada, aku di masukin penjara sama papa kamu. “ sahut Elyas yang ternyata mendengar gumaman Elyas.


“ Dih! “ Selsa agak terkejut.padahal ia tadi berbicara sangat pelan. Tapi ternyata Elyas mendengarnya.


“ Kayak Superman aja. Pendengarannya pakai infra red. Kira – kira kalau aku kasih batu crypton, terus lemes nggak ya ? “ gumamnya sambil terus mengikuti langkah Elyas.


Sedangkan Elyas memilih diam daripada harus meladeni Selsa. Yang suka bicara nggak jelas.


“ Mobil aku di sana. “ tunjuk Selsa saat Elyas berjalan ke arah yang berlawanan dengan letak mobilnya.


“ Naik motor aku. “ jawab Elyas tanpa menoleh. Entah sejak kapan dia yang biasanya masih menggunakan bahasa baku dengan mengucap ‘saya’ kini ia nyaman dengan memakai kata ‘aku’.


“ Yang bener dong !” pekik Selsa. “ Mas Elyas “ panggilnya. “ Aku pakai rok mini loh. Masak iya, pa ha aku mau di jadiin konsumsi umum. Udah kayak angkot aja. “ gerutunya.


“ Bukankah setiap hari kamu memang suka mamerin tubuh kamu ? “ ucapan mematikan yang di ucapkan elyas.


“ Ya udah. Mas Elyas naik motor aja. Aku bawa mobil aku sendiri. “ kesal Selsa lalu ia berbalik dan berjalan menuju ke mobilnya yang terparkir indah di sebelah mobil sang papa.


“ Siniin kuncinya. Biar aku yang bawa. “ suara Elyas mengangetkan Selsa. Ia menoleh ke samping. Elyas mengangkat tangannya untuk meminta kunci mobil ke Selsa tanpa menoleh ke Selsa tentu saja.


“ Dari tadi kek. Pakai bikin Selsa teriak – teriak. Kan haus jadinya. “ ucap Selsa sambil mengambil kunci mobil dari dalam tasnya, lalu menaruhnya di atas telapak tangan Elyas.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2