Pak Ustadku

Pak Ustadku
Cenut - cenut


__ADS_3

Elyas masuk ke dalam kamar mengikuti Selsa dari belakang. Malam ini, dirinya akan kembali tidur di rumah sang mertua setelah terakhir ia tidur di sana setelah menikah dulu.


Sampai di dalam kamar, pandangan Elyas mengedar. Ia merasa ada yang berubah di dalam kamar itu. Ah, kenapa sofa nya tidak ada ? tanya dalam hati.


“ Ada apa mas ? Kok diem aja di situ ? Katanya mau ganti baju. “ tanya Selsa yang melihat sang suami seperti sedang termenung.


“ Ah, oh ..i-iya. “ jawab Elyas tergagu.


“ Aku ambilkan baju gantinya dulu sama handuknya. “ ujar Selsa sambil ia berjalan menuju wardrobe nya. Elyas sengaja dulu meninggalkan beberapa bajunya di sana hanya untuk jaga – jaga siapa tahu dirinya akan kembali menginap di rumah itu.


“ Sa, sofanya kok tidak ada ? “ tanya Elyas sedikit kencang karena Selsa berada di ruangan khusus baju – bajunya.


Tak lama Selsa keluar dari ruangan itu dengan baju ganti untuk dirinya juga sang suami di tangan berikut handuknya.


Selsa mengendikkan bahunya menjawab pertanyaan suaminya. Ia nampak acuh. “ Kamu tahu sendiri kan mas. Aku juga lama nggak kesini. Jadi mana aku tahu sofanya di pindah kemana. “ ujarnya.


“ Nih, baju gantinya juga handuknya. “ ia menyerahkan baju juga handuk ke tangan Elyas.


“ Terus kalau sofanya tidak ada, aku harus tidur di mana ? “ pertanyaan aneh menurut Selsa.


“ Kan ada kasur. Tuh ! gede ! “ jawab Selsa sambil menunjuk ke ranjang king size nya dengan dagunya. “ Kenapa mesti bingung soal tidur sih. “ gumamnya.


“ Atau aku tidur aja di kamar tamu ? “ tanya Elyas yang membuat Selsa langsung mendelik.


“ Kamu lupa, baru tadi pagi loh kita bicara dan ngobrol baik – baik sama keluarga ini. Mereka tidak tahu bagaimana kondisi rumah tangga kita yang sebenarnya. Kalau kamu tidur di kamar tamu, terus mereka nanya, apa yang bakalan kamu jawab ? “ ketus Selsa.

__ADS_1


“ Iyaaaa … “ Elyas terlihat bingung. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“ Ya udah sih. Tidur tinggal tidur aja. Ribet banget. Mas Elyas nggak usah khawatir. Aku kalau tidur tuh nggak pernah rusuh. Jangan khawatir juga aku bakalan ngapa – ngapain kamu. Lagian kalau aku mau ngapa – ngapain juga sah – sah aja kan ? Sama suami sendiri. “ ujar Selsa sambil menahan tawanya.


Sebenarnya Selsa memang sengaja menyuruh pembantu di rumah ini untuk menyingkirkan sofa yang ada di kamarnya. Ia menghubungi rumah beberapa hari yang lalu. Sengaja ia lakukan, hanya untuk membuat Elyas terbiasa tidur satu ranjang dengannya.


“ Ya udah sana buruan ganti bajunya. Entar gantian. Aku juga udah ngantuk. Biasanya kalau di rumah umi, jam segini aku udah bocan. Bobok cantik. “ Selsa mendorong Elyas masuk ke dalam kamar mandi.


Sepuluh menit kemudian, Elyas keluar dari dalam kamar mandi dan Selsa segera menggantikan. Elyas menghela nafas berat sambil berjalan menuju ke tempat tidur.


Apa benar malam ini dirinya harus tidur di kasur yang sama dengan sang istri ? Lalu tiba – tiba bayangan malam kemarin hadir. Elyas menyentuh bibirnya dengan bibir itu yang tiba – tiba melengkung.


Dan di saat bayangan itu hadir, jantungnya kembali berdetak kencang. Elyas segera menyingkirkan tangannya dari bibirnya sambil mengibas – ngibaskan kepalanya untuk menyingkirkan bayangan lucknut yang mampir di otaknya. Bohong jika dia tidak ingin menyentuh sang istri. Dan keinginan itu menjadi makin besar setelah malam kemarin. Setelah ia merasakan betapa lembutnya bibir sang istri.


Tak lama, Selsa keluar dari dalam kamar mandi. Lagi – lagi Elyas harus menelan salivanya dengan susah payah. Celana hotpants yang di kenakan Selsa terlalu pendek. Hingga pa ha putihnya terekspos dengan jelas. Dan jangan lupa kaos singlet yang ia kenakan juga press body dengan belahan dada rendah.


Selsa naik ke atas ranjang dari sisi sebelah dimana Elyas masih duduk di tepian. Ia membuka selimut, lalu masuk ke dalam selimut.


“ Ayok tidur. Hoooammm …. Ngantuk banget. “ ujar Selsa berpura – pura. Entah apa yang ada di pikirannya. Akal bulus apa yang ada di otaknya.


Elyas masih tidak bergeming. Ia masih tetap duduk memunggungi sang istri. Setelah beberapa saat, tak terdengar lagi suara sang istri. Hanya ada dengkuran halus yang terdengar merdu. Apakah istrinya sudah tidur ?


“ Sa … Selsa … “ panggilnya. Tidak ada jawaban. Elyas memberanikan dirinya untuk menoleh ke belakang. Terlihat sang istri yang sudah memejamkan matanya rapat – rapat dengan posisi telentang.


Elyas menaikkan salah satu kakinya. “ Selsa … “ panggilnya lagi. Masih tidak ada jawaban. Berarti sang istri sudah tertidur lelap. Ia lalu menaikkan kedua kakinya, dan masuk ke dalam selimut yang dengan sang istri.

__ADS_1


Ketika ia hendak merebahkan tubuhnya, tiba – tiba sang istri berpindah posisi menjadi miring menghadap dirinya. Nafas Elyas tercekat kala wajahnya berhadapan dengan wajah sang istri dan karena istrinya itu tidur agak ke tengah, membuat posisi mereka lumayan dekat dan Elyas bisa merasakan hembusan nafas Selsa.


Entah se tan darimana yang mendorong Elyas, kini tangannya terulur untuk menjelajahi wajah sang istri. Elyas menyentuh wajah sang istri mulai dari rambutnya, lalu turun ke kening, turun lagi ke mata, lalau ke pelipis, turun ke pipi, hidung, dan berakhir di bibir. Bibir yang malam kemarin dengan berani mencium bibirnya.


Kembali Elyas mengingat rasa itu. Dan entah dorongan darimana, Elyas memajukan wajahnya hingga mendekat ke wajah sang istri. Mendekat dan terus mendekat hingga bibir mereka saling menempel. Hanya menempel di awal.


Elyas memejamkan matanya. Tapi tidak dengan Selsa. Ia yang lumayan terkejut, langsung membuka kedua matanya lebar – lebar. Ia tidak menyangka jika suaminya berani melakukan itu.


Pucuk di cinta, ulampun tiba. Inilah yang diinginkan Selsa sejak tadi. Sampai ia rela pura – pura tidur karena ingin tahu apa yang akan di lakukan suaminya ketika ia sudah tertidur.


Selsa kembali menutup matanya. Sedangkan Elyas membuka matanya sesaat lalu memejamkannya lagi. Melihat sang istri yang sepertinya tidak terganggu dengan aktivitasnya, Elyas melu mat kecil bibir sek si milik sang istri. Menyesapnya, kala rasa menginginkan itu hadir di dalam hatinya.


Elyas menikmati apa yang ia lakukan. Ia me ***** dan menyesap bibir sang istri makin dalam. Bahkan tangannya kini tidak mau diam. Tangan itu mengikuti nalurinya. Meraba dan menyentuh apapun yang bisa ia sentuh hingga terdengarlah sebuah lenguhan merdu dari sang istri kala tangannya tak sengaja meraih dua gunung kembar sintal sang istri.


“ Engggghhh …. “ seketika itu, Elyas langsung tersadar. Ia segera melepas bibir sang istri dan menjauh dari istrinya.


Ya Tuhan, apa yang aku lakukan. Astagfirullahaladzim. Batin Elyas sambil kembali memandang ke arah Selsa yang sepertinya masih tertidur. Mungkin tadi istrinya itu melenguh karena apa yang ia lakukan itu masuk ke dalam mimpi sang istri.


Oh, thank goodness. He's just dreaming. Ucap Elyas. Lalu ia merebahkan tubuhnya di tempatnya tadi perlahan. Lalu ia memegang dadanya yang bergemuruh. Lalu menatap ke bagian bawahnya yang tertutup selimut.


“ Kenapa dia ikut bangun ? Harusnya dia tetap tidur aja. “ gumamnya. Lalu ia mengangkat tangan kanannya yang tadi sempat menyentuh dada sang istri. “ Ya Tuhan, apa yang di lakukan tanganku. Kenapa dia nakal sekali. Tapi … kenapa rasanya aneh ? “ lanjutnya, lalu ia menoleh ke arah dada sang istri


“ Astagfirullah… “ ucapnya. Ia lalu membalikkan tubuhnya memunggungi sang istri yang sedang membuka matanya sedikit sambil tersenyum geli.


“ Bisa bahaya jika aku harus menginap di rumah ini dua malam. “ keluhnya sambil menghela nafas beratnya. “ Sssshhh ? “ ia mendesis kala bagian bawahnya terasa cenut – cenut dan terjepit karena ia tidur dalam posisi miring.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2