Pak Ustadku

Pak Ustadku
Positif


__ADS_3

Detak jantung Selsa berdetak lebih kencang dari tadi. Menunggu hasil laboratorium karena tadi Selsa hendak di cek menggunakan USG, ia menolak. Tiba-tiba ia merasa tidak siap ketika menginjakkan kakinya di lobby rumah sakit.


" Kenapa tangan loe dingin gini? Jangan bilang loe nervous. " ujar Aleta yang duduk di bangku di samping Selsa. Ia menggenggam erat tangan Selsa.


" Bukankah loe sangat ingin hamil? Lalu kenapa sekarang kayaknya loe ... Aneh ... " ujar Aleta.


" Gue tau Ta. Nggak seharusnya gue kek gini. Tapi kondisi rumah tangga gue sekarang yang bikin gue... Ah, entahlah! " sahut Selsa, lalu ia menyandarkan kepalanya di dinding yang ada di belakangnya.


" Nyonya Anjeli Selsa Rakesh " panggil seorang perawat.


" Di panggil tuh. " ucap Aleta.


Selsa menoleh ke arah perawat yang baru keluar dari ruangan.


" Iya sus. Saya. " ucap Selsa, sambil ia berdiri dari duduknya.


" Silahkan masuk nyonya. Dokter Kiki sudah menunggu. " ujar perawat dengan senyum manisnya. Selsa mengangguk, lalu ia menarik tangan Aleta.


" Loe temenin gue masuk. " ucapnya.


Aleta mengangguk, lalu ia mengikuti Selsa memasuki ruangan dokter.


" Nyonya Anjeli ya? " sapa dokter Kiki dengan menampilkan senyumannya.


" Iya dok. " jawab Selsa.


" Silahkan duduk. " dokter Kiki mempersilahkan. Lalu ia juga duduk di kursinya. Dokter Kiki kemudian mengambil sebuah amplop putih yang masih tersegel.


" Hasil laboratorium nyonya Anjeli sudah jadi. Jadi, mari kita lihat hasilnya sama-sama. " ujarnya masih dengan senyumannya. Selsa mengangguk lalu ia mengambil tangan Aleta untuk ia genggam.


Sejenak kemudian, Dokter Kiki kembali tersenyum setelah melihat hasil laboratorium.


" Wah, selamat nyonya Anjeli. Hasilnya positif. Anda akan segera menjadi seorang ibu. " dokter Kiki berucap setelah melihat hasilnya.


" Sa-saya hamil, dok ? " tanya Selsa memastikan.


Dokter Kiki tersenyum dan mengangguk, " Iya. "


Selsa memandang Aleta dengan entah seperti apa. Ia pun bingung harus bagaimana mengekspresikan berita ini. Apakah harus bahagia, atau bersedih? Tapi yang pasti, Selsa tetap berucap syukur.


" Mau melihat si kecil sudah sebesar apa? " tanya dokter Kiki. " Kita USG sekarang."


Aleta mengangguk. " Biar loe tahu, kandungan loe sekarang berusia berapa. " ia menepuk pelan punggung tangan Selsa sambil tersenyum menguatkan.


" I-iya dok. " jawab Selsa dengan nada suara bergetar.


" Mari nyonya. " perawat yang tadi membimbing Selsa menuju ke ranjang pasien yang sudah di siapkan. Selsa mengikuti, lalu naik ke atas ranjang.

__ADS_1


" Maaf nyonya. Bajunya saya buka sebentar. " ujar perawat setelah ia menyelimuti tubuh Selsa bagian bawah.


Selsa mengangguk mempersilahkan. Lalu perawat itu membuka separuh kemeja yang Selsa kenakan, dan mengoleskan gel di atas perut Selsa.


Dokter Kiki mendekat, lalu duduk di kursi yang di hadapannya sudah ada alat USG. Ia mengambil transducer, lalu meletakkan dan menggerakkan secara perlahan di atas perut Selsa.


" Ini dia kantung janinnya. Dan janinnya masih kecil ya nyonya. " ucap dokter Kiki. Selsa memperhatikan secara seksama.


" Janinnya yang mana dok ? " tanyanya.


" Anda lihat, ini ada bulatan kecil berwarna gelap. Ini adalah janin anda. " jelas dokter Kiki.


Hati Selsa tiba-tiba menjadi melow. Ia melihat calon anaknya masih sangat begitu kecil. Dan calon anaknya itu sekarang ada di dalam perutnya, menyatu dengan dirinya. Tak terasa setetes air mata tapi dengan lengkungan di bibir mampir di wajah cantik Selsa.


" Itu anak saya, dok ? " tanyanya.


Dokter Kiki tersenyum dan mengangguk.


" Berapa kira-kira usianya dok ? " tanyanya kembali. " Kalau di hitung mulai saya tidak berhalangan, sepertinya sudah hampir bulan kedua. " imbuhnya.


" Sebentar " jawab dokter Kiki sambil tangannya memencet entah tombol apa. " Hmmm... Kalau menurut alat ini, usia kandungan nyonya Anjeli sudah 6 minggu. "


" Wahh, 6 minggu dok ? Sudah satu bulan lebih? " tanya Selsa kembali.


" Iya. " dokter Kiki tersenyum. Lalu mereka saling berbincang. Dokter Kiki memberitahukan apa saja yang boleh di lakukan dan apa saja yang tidak boleh di lakukan.


Sedangkan Selsa juga banyak bertanya. Seperti makanan yang bagus untuk di konsumsi untuk ibu hamil. Karena ia ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya.


" Loe yakin, mau pulang kesini? " tanya Aleta ketika mereka sampai di depan rumah keluarga Rakesh. Selsa mengangguk.


" Gue butuh waktu menyendiri. " ucapnya sambil memijat pelipisnya. " Gue juga butuh waktu bersama keluarga gue. Keluarga yang mungkin lama gue lupain keberadaannya. "


Selsa menatap keluar ke arah rumahnya yang mewah menjulang.


" Lagian, sepertinya anak gue juga males deket-deket sama bapaknya. " imbuhnya.


" Kok gitu? " Aleta mengernyit.


Selsa tertawa sumbang. " Iya. Secara tadi pagi, tiap dia deket-deket ke gue, atau nyentuh gue dikit aja, gue langsung mual bawaannya pengen muntah. " jelasnya.


" Sa ae anak loe Sa. " sahut Aleta terkekeh sambil mengelus pelan perut rata Selsa. " Gue cuma berharap, loe baik-baik ya? Kalau ada apa-apa, I always behind you, dear. " ucapnya, lalu ia merengkuh tubuh Selsa dan mereka berpelukan.


" Lalu, kalau orang rumah loe tanya, loe mau jawab gimana? Secara, jika loe bilang jujur apa adanya, udah bisa di pastikan, laki loe bakalan drop out dari kantor. Dan mungkin aja juga babak belur. " ucap Aleta setelah mereka usai berpelukan.


" Hah! " Selsa menghembuskan nafas lelahnya. " Gue belum mikirin itu. Yang pasti sekarang, gue butuh ketenangan. Gue butuh keluarga gue. "


" Oke. Ya udah, jangan pikirin apapun. Loe pikirin aja, calon debay loe. Jaga dia baik-baik. " Aleta menepuk pelan punggung tangan Selsa. " Turun yuk. " ajaknya dan Selsa pun mengangguk.

__ADS_1


Mereka turun dari dalam mobil, dengan Aleta yang membawakan tas pakaian Selsa yang berisi beberapa barang pentingnya. Ia tidak membiarkan Selsa membawanya sendiri.


" Malah jadi ngerepotin loe Ta. " ucap Selsa menjadi tidak enak.


" Loe ini. Kayak sama siapa. Kan udah biasa kita begini. Jangan suka baper deh ih. " sahut Aleta sambil berjalan duluan mendahului Selsa yang masih berdiri di tempatnya.


" Assalamualaikum... " sapa Aleta ketika memasuki rumah megah Selsa. Sudah biasa bagi Aleta keluar masuk rumah itu. Sudah dari kecil ia bersahabat dengan Selsa.


Keluarga Selsa juga sudah seperti keluarganya. Bahkan papa Selsa pernah berniat menjodohkan Roy dengannya. Tapi ia menolak dengan tegas. Bukan karena sok atau bagaimana. Ia cukup tahu diri dan sadar diri. Dirinya bukan calon yang baik buat seorang Roy.


" Waalaikum salam. " sapa Ruby yang datang dari dalam.


" Tante.. " sapa Aleta. Ia lalu memeluk tubuh Ruby.


" Kok tumben. " ujar Ruby kala belum melihat Selsa.


" Nganterin itu... " ucap Aleta terpotong sambil menoleh ke arah Selsa yang baru masuk ke dalam rumah.


" Selsa... Kamu kenapa nak ? " Ruby langsung mendekati Selsa dan panik karena melihat Selsa terlihat pucat.


Ketika Ruby sampai di dekatnya, Selsa langsung memeluk tubuh ibu tirinya itu dengan erat. " Mama.... " tak terasa air matanya menetes.


" Dia kenapa? " tanya Ruby tanpa suara ke Aleta. Dan Aleta hanya menjawab dengan gelengan.


" Kamu sakit, nak ? " tanya Ruby kembali setelah Selsa melepas pelukannya.


" Selsa mau istirahat ma. Selsa mau menginap di sini. Boleh kan? " tanya Selsa.


" Tentu saja boleh, nak. Karena ini adalah rumah kamu. Mama justru seneng banget kalau kamu mau menginap di sini. Kamar kamu juga selalu di bersihkan sama bi Rasti. " jawab Ruby.


" Ya udah, Selsa mau ke kamar dulu ya ma. " pamit Selsa.


" Sayang.. kamu... "


" Nanti Selsa pasti cerita sama mama. Tapi nggak sekarang. Selsa mau tidur dulu bentar. " potong Selsa.


" Iya. Baiklah. Tidurlah nak. " Ruby membelai rambut Selsa. Selsa mengangguk dan segera berlalu menuju ke kamarnya.


" Ada apa dengannya? Apa sudah terjadi sesuatu? " tanya Ruby ke Aleta setelah Selsa berlalu.


" Biar Selsa sendiri yang cerita, Tante. " sahut Aleta. " Oh, tas Selsa masih sama gue. " gumamnya.


" Biar Tante aja yang bawain nanti. " ucap Ruby.


Aleta tersenyum dan mengulurkan tas Selsa ke Ruby. " Jadi ngerepotin. " ujarnya.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2