Pak Ustadku

Pak Ustadku
Berantakan


__ADS_3

Beberapa hari telah berlalu. Keadaan masih tetap sama. Elyas masih belum bisa menghubungi Selsa. Semua pesan yang ia kirim, semuanya telah terbaca oleh Selsa. Tapi tak satupun balasan Selsa tulis. Beribu - ribu panggilan Elyas lakukan, tapi Selsa seolah enggan menerimanya.


Semenjak kedatangannya ke rumah keluarga Rakesh sore itu, Elyas selalu mengurung diri. Di kantor ia juga lebih banyak berdiam diri. Ia banyak menggunakan waktunya untuk merenung. Merenungi setiap sikap yang pernah ia berikan terhadap istrinya di waktu yang lalu.


Hanya penyesalan yang hadir di dalam jiwanya saat ini. Ia dulu memang memperlakukan sang istri dengan buruk. Memang dirinya tidak pernah menyakiti fisik sang istri. Tapi ia justru menyakiti hatinya. Dan luka di hati pasti lebih susah untuk di sembuhkan.


Kembali Elyas menulis dalam pesannya untuk sang istri. Saat ini, sudah masuk waktu istirahat. Ia malas untuk keluar. Rasa lapar sudah tidak ia rasakan. Yang hanya di benaknya hanya ingin bertemu sang istri tercinta.


Ia sempat berharap, jika dirinya tidak bisa menemui Selsa di rumahnya, ia bisa bertemu di kantor kala sedang bekerja. Tapi nyatanya, Selsa tidak pernah datang ke kantor semenjak hari itu.


📩 ' Sayang, apa kabar? '


📩 ' Kamu baik-baik aja kan? Aku selalu berdoa semoga kamu selalu dalam lindunganNya. '


📩 ' Apa kamu masih belum mengijinkan aku untuk menemuimu? Meski hanya sebentar saja? '


📩 ' Aku sangat merindukanmu, sayang. Sangat. '


📩 ' Jika memang kamu masih berat untuk bertemu denganku, setidaknya, ijinkan aku untuk sekedar mendengar suaramu. Jadi aku tahu jika kamu baik-baik saja. '


Pesan itu di kirimkan Elyas entah sudah pesan yang ke berapa ratus kali. Bercentang dua. Itu tandanya, sang istri masih memakai nomer yang sama. Tak berselang lama, pesan itu berwarna biru. Menandakan jika sang istri sudah membuka pesan itu. Entah di baca atau tidak, yang penting pesan itu berwarna biru.


Elyas lekas mengklik lambang video call kala melihat pesannya baru saja bercentang biru. Sedari tadi matanya tidak beralih dari layar ponselnya guna melihat pesannya di baca oleh sang istri atau tidak.


Berdering. Itulah tulisan yang tertulis di layar ponselnya. Tapi setelah dua kali berdering, panggilan video nya masih di abaikan oleh sang istri.


Elyas menghela nafas berat kala sang istri masih tidak mau menerima panggilannya hingga layar ponselnya gelap.


Kembali ia membuka layar ponselnya. Lalu kini ia memencet ikon telepon. Mungkin saja sang istri masih enggan melihat dirinya. Jadi ia memutuskan untuk melakukan panggilan suara saja.


Masih tetap sama. Berdering, tapi tidak di angkat. Bahkan kini, terlihat tanda online di nomer sang istri menghilang. Yang artinya, sang istri sudah mematikan ponselnya.


Kembali Elyas menghela nafas berat. Ia mengusap rambutnya kasar hingga membuat rambut yang biasanya tertata rapi itu menjadi makin berantakan. Di tambah, rambutnya juga agak sedikit memanjang.


Penampilan Elyas setelah kepergian Selsa memang berubah drastis. Ia sudah tidak serapi dulu. Ia menjadi suka berpakaian asal. Rambut halus di sekitar dagu, pipi, bawah hidung, ia biarkan makin memanjang.

__ADS_1


Elyas kembali menghidupkan kembali layar ponselnya. Ia tidak lagi menulis pesan. Tapi ia membuat voice note dan mengirimkannya ke Selsa.


" Sayang, tolong... Jika kamu memang masih enggan melihat wajahku, ijinkan aku mendengar suaramu. Sekali saja... Aku mohon... "


" Aku sangat merindukanmu Selsa. "


" Selsa... Sayang .... "


Entah sudah berapa lama ia menunggu balasan. Tapi bahkan pesan voice note itu belum terbaca.


" Aku mencintaimu. " setelah mengatakan itu, Elyas mengakhiri pesannya. Ia meletakkan ponselnya di atas meja, lalu ia menyandarkan punggung serta kepalanya lelah ke sandaran kursinya.


Tok... Tok.. Tok ... Pintu ruangan Elyas di ketuk dari luar.


" Masuk. " jawab Elyas tanpa melihat siapa yang mengetuk pintu. Ia masih tetap bertahan dengan posisinya tadi.


Ceklek. Pintu terbuka.


" Mas Elyas, di panggil pak Roy ke ruangannya. " suara seorang wanita membuat Elyas menegakkan kepalanya.


" Sekarang apa nanti mbak? " Tanya Elyas.


" Sekarang mas. Beliau bilang ada projek baru yang ingin beliau bahas sama mas Elyas. " jawab Wita.


" Baik, mbak Wita. Saya segera kesana. " Elyas bangkit dari duduknya, merapikan sedikit kemejanya yang berantakan. Sedangkan sekretaris Wita sudah meninggalkan ruangannya.


.


.


.


Sampai di ruangan Roy, mereka langsung membahas projek baru yang nilainya mencapai milyaran. Elyas berusaha tetap profesional selama bekerja. Sementara ia mengesampingkan pikiran juga hatinya yang selalu tertuju kepada istrinya.


Ada secercah harapan dalam hati Elyas, karena projek baru ini melibatkan Selsa di dalamnya. Ia mempunyai harapan, jika ketika mereka mulai menggarap projek ini, maka dirinya pasti bisa bertemu dengan Selsa. Tapi kapan itu? Itulah yang menjadi pertanyaannya. Padahal hatinya sudah sangat merindukan istrinya.

__ADS_1


" Sepertinya kamu tidak merawat dirimu dengan baik belakangan ini. Kamu jadi terlihat seperti berandalan jika begini. " ledek Roy.


Elyas menunduk sambil memperhatikan penampilannya yang memang jauh dari kata rapi.


" Maaf. " ucapnya.


" Apa dengan kamu yang seperti ini, Selsa akan kembali kepadamu? " tanya Roy yang membuat Elyas semakin terdiam.


" Sama sekali tidak, Elyas. Yang perlu kamu lakukan adalah mencari akar masalah yang membuat Selsa pergi dari rumah. Cari penyebabnya, lalu selesaikan baik-baik masalah kalian. " lanjutnya.


" Saya benar-benar buntu, kak. Saya tidak tahu apa yang menjadi akar permasalahannya. Saya sudah mengingat apa yang terjadi sebelum hari itu. Dan saya tetap tidak menemukan jawabannya. Hubungan kami baik-baik saja sebelum hari itu. " jawab Elyas. Jika sudah dalam pembicaraan pribadi, Roy selalu memintanya untuk tidak memanggilnya pak, atau tuan.


" Ck! Lemah. " ledek Roy sambil tersenyum miring. " Kamu selalu handal menyelesaikan semua projek di kantor dengan bagus dan rapi. Tapi mencari penyebab memburuknya hubunganmu dengan istrimu saja tidak bisa. " lanjutnya.


Elyas menyandarkan punggungnya di sandaran sofa. " Apa Selsa mengatakan sesuatu sama kakak? " tanyanya.


" Banyak yang dia katakan sama aku. " jawab Roy lantang. Ada rasa bangga dalam hatinya ketika sang adik yang masih bertahta di hatinya itu mencurahkan segala isi hatinya, keluh kesahnya kepadanya.


" Sebaiknya kamu pulang saja sekalian. Carilah penyebab memburuknya hubungan kalian. " saran Roy.


" Saya benar-benar bingung. " jawab Elyas.


" Ck! Masak, masalah seperti ini saja harus aku yang membantu menyelesaikan? " gerutu Roy.


" Cari tahu, apa yang terjadi hari itu selama kamu tidak bersamanya. Kemana dia, siapa saja yang ia temui. " ucap Roy.


Elyas kembali berpikir. Benar juga. Kenapa dirinya tidak mencari tahu dari sana.


" Siapa tahu dia bertemu dengan mantan calon istrimu dan mantan kamu itu berbicara yang tidak - tidak sama Selsa. " lanjut Roy.


Elyas mengernyitkan kedua alisnya. Tidak mungkin sepertinya jika Ratna memperlakukan Selsa dengan tidak baik. Karena setahunya, Ratna adalah gadis yang lembut baik tutur katanya, maupun perilakunya.


Tapi tidak ada salahnya jika ia mencoba bertanya, bukan? pikir Elyas.


" Jangan sampai saya mengambil kembali Selsa dari hidupmu jika kamu terlalu lama memperbaiki rumah tangga kalian. " ancam Roy yang mampu membuat Elyas terkesiap. Apa maksud ucapan kakak iparnya itu?

__ADS_1


bersambung


__ADS_2