
Sore hari setelah acara memanen ketela, Selsa berpamitan dengan umi untuk pulang ke rumah keluarga Rakesh untuk mengantarkan ketela yang pertama kali berhasil ia cabut.
Awalnya, Selsa berencana pulang sendiri. Ia sama sekali tidak mengajak Elyas. Bukannya ia tidak mau mengajak, tapi ia hanya merasa tidak enak dan menyusahkan. Apalagi setelah kejadian tadi siang di kebun milik umi, Elyas menjadi semakin diam dan enggan bertatap muka dengan Selsa.
Tapi umi tidak mengijinkan Selsa pulang sendiri. Elyas yang memang tidak pernah membantah ucapan dan perintah uminya, akhirnya ia ikut pulang ke rumah keluarga Rakesh. Bahkan umi meminta mereka untuk menginap saja dan esok, karena hari senin, mereka akan langsung akan berangkat ke kantor.
“ Beneran ini non Selsa sendiri yang nyabut ? “ tanya bi Rasti seolah masih belum yakin dengan apa yang di dengarnya. Ketela yang masih lengkap dengan batangnya, bahkan tanahpun masih melekat di badan ketela, bi Rasti angkat di depan dada.
“ Iya, biii… nggak percaya banget sih ? “ sungut Selsa kesal karena bi Rasti tidak mempercayai ceritanya. “ Nih bi, lihat deh. Pa ha Selsa sampai biru – biru gini. Pan tat juga loh bi. Tadi jatuh berkali – kali. “ kali ini Selsa menunjukkan pa hanya yang membiru di beberapa bagian. Bahkan ia sampai mengangkat tinggi rok pendek yang ia kenakan.
“ Hisshhh … Nona. Jangan tinggi – tinggi ngangkat rok nya. Kalau ada orang lain lihat gimana ? “ protes bi Rasti sambil menurunkan rok Selsa yang terangkat.
“ Nggak ada orang lain bibi…..!!! Cuma ada kita. Bibi kenapa jadi geli gitu sih ? Dari orok juga bibi udah lihat body Selsa kan ? “ oceh Selsa.
“ Tapi nona Selsa sekarang sudah menikah. Sebagai seorang gadis yang sudah di nikahi, tidak seharusnya non Selsa tuh masih pakai baju – baju kurang bahan kayak gini. Namanya mengumbar aurat non. Apalagi suami non Selsa nih seorang ustadz, mantunya bu nyai. Sudah sepatutnya nona ikut menjaga nama baik keluarga mas Elyas dengan berpenampilan yang lebih sopan. “ bi Rasti memberikan masukannya.
Dan hanya bi Rasti yang berani bicara seperti ini kepada Selsa. Dan hanya bi Rasti lah satu – satunya orang yang di percayai dan di dengarkan oleh Selsa. Meskipun sekarang, posisi bi Rasti sudah di duakan dengan umi.
“ Gitu ya bi ? “ sahut Selsa sambil mengamati penampilannya. “ Tapi umi sama mas Elyas nggak pernah komen apa – apa tuh. “
“ Ya mungkin umi masih canggung sama non. Takutnya, kalau umi melarang non Selsa berpakaian terbuka seperti ini, non Selsa bakalan tersinggung. Kalau mas Elyas, mungkin juga sama. Tapi di manapun non, yang namanya suami itu pasti tidak ingin istrinya memperlihatkan auratnya di depan orang lain. “ jawab bi Rasti.
Selsa hanya terdiam. Tapi otaknya berpikir. Menimang dan menimbang apa yang di katakan bi Rasti. Wanita yang sudah menjaga dan merawatnya dari kecil.
“ Non Selsa kerasan, tinggal di rumah mas Elyas ? “ suara bibi memecah keheningan.
__ADS_1
Selsa mengangguk. “ Kerasan banget. Umi baik banget sama Selsa bi. Umi nggak pernah marah, bahkan umi menyayangi Selsa seperti bibi sayang sama Selsa. “ Selsa memeluk tubuh bi Rasti yang hampir renta.
“ Maaf, posisi bibi jadi punya saingan. “ kekehnya.
“ Non Selsa bisa aja. Bibi seneng jika non Selsa bisa dekat sama umi. “ sahut bi Rasti.
“ Ini ada apa nih ? Kayaknya seru banget ? “ suara bariton seorang laki – laki memecah kedekatan Selsa dan pengasuhnya.
“ Papa baru datang ? “ sapa Selsa. Ia mendekat, lalu mengambil tangan kanan papanya, di salaminya dan di cium punggung tangannya. Membuat tuan Manoj mengernyit bingung. Ada apa dengan putrinya ? Kenapa semakin hari, sikap putrinya kian berubah ?
Selsa sekarang semakin terlihat riang. Sikapnya terlihat lebih mencair sama keluarganya. Terkadang, jika sedang datang mengunjungi rumahnya, ia memeluk tubuh papanya yang sudah tidak muda lagi itu.
Apakah langkahnya dan keputusannya menikahkah putrinya dengan Elyas adalah hal yang memang benar ? itulah yang tuan Manoj pikirkan.
“ Pa, lihat deh apa yang Selsa bawa. “ ujar Selsa sambil berjalan mendekati bibi dan mengangkat ketela hasil panenannya. “ Tara …. “ ucapnya dengan wajah berbinar.
“ Selsa metik sendiri lah. “ jawab Selsa bangga. Ia terlihat sangat senang.
Berbeda dengan seseorang yang sedang berada di dekat pintu depan dan mendengarkan percakapan keluarga itu. Ia terlihat miris dan panik.
Bagaimana jika mertuanya tidak terima jika putrinya ikut memanen ketela di kebunnya ? Auto dirinya yang akan kena hukuman. Karena ia mengajak putri seorang tuan Manoj Rakesh yang kaya raya, hidup susah.
“ Dimana kamu metik ? “ tuan Manoj masih penasaran.
“ Dari kebun mas Elyas. Tadi Selsa ke kebunnya. Luas loh pa. Pohon ketelanya banyak banget. Selsa tadi ikutan nyabut. Dan ini, adalah hasil cabutan Selsa yang pertama. Hebat kan ? “ ucapnya bangga.
__ADS_1
Tuan Manoj memelototkan matanya terkejut mendengar cerita sang putri. Putrinya benar – benar berubah.
“ Apa sih kok ramai – ramai di sini ? “ tanya Ruby yang baru datang dari kamarnya.
“ Ma, mama percaya nggak, kalau ketela itu, hasil cabutan Selsa ? “ tanya tuan Manoj ke istrinya karena ia masih tidak begitu percaya.
“ ha ? “ bahkan reaksi sang istri pun sama sepertinya. “ Beneran ? “ ucapnya.
“ Ih, beneran pada nggak percaya. Bentar deh, Selsa kasih buktinya. “ Selsa mengambil ponsel dari saku roknya, lalu memperlihatkan video yang tadi di ambil umi saat ia mencabut ketela itu. Ia tadi meminta video itu ke umi, karena ia yakin, keluarganya pasti tidak akan percaya.
“ Nih, papa lihat sendiri. “ Selsa menyerahkan ponselnya ke papanya. Tuan manoj segera menonton video berdurasi 5 menit itu. Sang istri pun tidak mau ketinggalan. Ia ikut melihat video itu.
“ Bwahahahaha … “ tuan Manoj tertawa dengan kencang.
“ Ih, papa kok malah ketawa sih ? “ sungut Selsa.
“ Lucu banget kamu nak. Ha… ha …ha … “ jawab tuan Manoj sambil kembali tertawa. Bahkan sudut matanya mengeluarkan air mata. Bukan karena terlalu lucu hingga ia mengeluarkan air mata. Tapi ia terharu dan senang dengan perubahan sang putri.
“ Kamu ke kebun, udah kayak mau ke pantai aja. Nih ma, pakai topi gede kayak yang biasanya dia pakai ke pantai. Pakai kaca mata hitam juga. Pakai sepatu boot. “ tuan Manoj masih terkekeh.
“ Selsa nggak pakai bikini, papa !!! “ kesal Selsa. “ Itu namanya protection. Biar wajah Selsa yang cantik glowing ini nggak kena sinar matahari secara langsung. “ imbuhnya.
“ Ah, udah deh ! Papa sama mama sana keluar aja. Selsa bakalan tunjukin kehebatan Selsa yang lain. Tungguin aja sana di luar. “ usir Selsa sambil mendorong papa juga ibu tirinya keluar dari ruangan menuju dapur.
Mama ? Sebuah kata yang pertama kali di dengar oleh Ruby. Dan kata itu meluncur dari mulut Selsa, anak sambungnya, yang selama ini sangat enggak memanggilnya mama dan hanya memanggilnya tante. Sebuah kata yang selama ini selalu ia tunggu – tunggu keluar dari mulut putri sambungnya.
__ADS_1
Ruby berhenti melangkah. Ia memutar tubuhnya, menatap haru punggung Selsa yang sudah berjalan menjauh darinya menuju ke dapur bersama bi Rasti. Tak terasa buliran hangat menetes di pipinya, tapi kedua sudut bibirnya terangkat.
Bersambung