
Tak terasa, usia pernikahan Selsa dan Elyas hampir menginjak 10 bulan. Hubungan keduanya juga makin dekat dan harmonis. Umi sangat bahagia melihat anak-anaknya bahagia.
" Mas, nanti aku mau ikut umi ke pasar boleh? " tanya Selsa sambil merapikan tempat tidurnya. Sedangkan Elyas sedang fokus mengerjakan sesuatu di layar laptopnya. Karena hari ini weekend, ketika jam di dinding masih menunjukkan pukul 7 pagi, mereka masih bersantai di rumah.
" Boleh. Aku antar ya? " jawab Elyas.
" Hiss... Nggak usah lah. Mau naik angkot aja. Asyik tau naik angkot tuh. " sahut Selsa.
" Naik angkot harus berdesak-desakan loh sayang. Belum lagi bau badan mereka yang beraneka ragam. Ada asemnya, ada kecutnya. " cerocos Elyas. Makin hari, Elyas makin posesif terhadap Selsa. Kalau bisa, ia ingin kekepi aja di rumah.
" Asem sama kecut apa bedanya mas? " sahut Selsa. " Aku juga udah tahu resiko naik angkot. Mesti barengan orang banyak. Tapi nggak masalah. Bisa pakai masker. Sampai rumah terus mandi. Bersih deh. " lanjutnya.
" Lagian, aku juga udah pernah kok naik angkot sama umi. Pas ke pasar waktu dulu itu. Eh, asyik banget loh belanja di pasar itu mas. Murah-murah, mana sayurannya masih seger-seger. " imbuh Selsa.
Elyas mengangguk. " Ya udah terserah kamu aja. Yang penting hati-hati. " ucapnya.
" Kamu tenang aja. Aku kan jago taekwondo. " jawab Selsa.
" Ck. Bukan masalah yang itu juga. Kamu harus bisa jaga diri. Menjaga marwah perempuan. Menjaga diri dari mata laki-laki yang haram buatmu. " titah Elyas.
" Iya, aku tahu. Kamu tenang aja. Aku akan selalu menjaga pandangan, menjaga diri aku dari mata laki-laki lain, selain suamiku yang tampan ini. " Selsa mengalungkan kedua tangannya ke leher Elyas. Dan tentu saja Elyas menerimanya dengan senang hati. Ia melingkarkan kedua tangannya di pinggang ramping sang istri.
Bahkan kini ia sudah lupa dengan laptopnya yang masih menyala dan meratap karena di abaikan.
" Kalau mau menjaga diri, kenapa tidak mencoba untuk menutup aurat dengan berjilbab? " tanya Elyas sambil menatap intens manik mata abu milik Selsa.
Selsa menggeleng. " Bukannya aku nggak mau mas. Tapi aku belum siap. Aku takut jika nantinya malah bakalan menodai baju muslimah itu. " ucapnya sendu. " Ijinkan aku benar-benar memperbaiki diri dulu. Aku janji, setelah aku siap, aku pasti akan berhijab. " lanjutnya.
Elyas mengangguk lalu tersenyum. Ia menarik kepala Selsa dan mengecup keningnya lembut.
" Aku pasti akan menunggu saat itu tiba. " ucap Elyas selesai mengecup kening Selsa.
Selsa tersenyum terharu sambil mengangguk. Lalu ia menyarangkan sebuah kecupan di bi bir Elyas.
" Jangan suka memancing di air keruh, sayang. Karena jika itu terjadi, bisa aku pastikan, kamu tidak jadi ke pasar. " ucap Elyas sambil tersenyum smirk.
" Haiss. " Selsa memukul dada bidang Elyas perlahan, dan melepas tautan tangannya di leher Elyas. " Pak ustadz mesumnya nggak ketulungan. " omelnya, lalu menjauh dari Elyas.
Elyas terkekeh. Ia sangat senang menggoda istrinya. Meskipun mereka sudah beromantis-romantisan selama beberapa bulan, tapi sang istri masih saja merona jika dirinya menggodanya. Padahal ia pun merasakan hal yang sama. Ia terkadang tidak habis pikir, bagaimana bisa dirinya menjadi segombal dan seme sum ini jika bersama sang istri.
.
__ADS_1
.
.
" Sa, umi ke toilet dulu bentar ya. " ijin umi ke Selsa kala mereka usai berbelanja.
" Selsa temenin umi? " tawar Selsa.
Umi menggelengkan kepalanya. " Tidak usah. Kamu tunggu aja di sini. "
" Tapi toiletnya di dalam kan umi? " ucap Selsa khawatir.
" Tidak apa-apa. Umi masuk sendiri aja. Kamu tunggu aja di sini. Lagian bawaan kamu banyak gitu. Kalau kamu ikut masuk lagi, capek nanti kamunya. " ujar umi.
Akhirnya Selsa mengikuti kemauan umi. Ia mengangguk dan membiarkan umi masuk kembali ke dalam pasar untuk ke toilet.
Selsa menatap punggung umi hingga punggung umi tak terlihat.
" Eh, ada pelakor di sini. " suara seseorang membuat Selsa sontak membalikkan badannya. Ia mengernyit ketika melihat sosok yang pernah ia temui beberapa kali.
Selsa memutar bola matanya jengah tiap kali bertemu dengan seorang gadis yang mengaku-ngaku calon istri Elyas tapi di rebut olehnya.
" Pelakor tak tahu diri yang bisanya hanya mencari muka di depan mertua juga suami. Heh! " Ratna mengejek Selsa dengan nada remehnya.
" Kenapa loe harus mempermasalahkan hal itu? Toh, gue mencari muka juga di depan mertua dan suami gue sendiri. Bukan di depan mertua dan suami perempuan lain. " jawab Selsa enteng.
Ratna mengeratkan giginya menahan kesal. Ia lalu berjalan mendekat ke arah Selsa dan mendorong tubuh Selsa hingga Selsa sedikit terhuyung ke belakang karena mendapatkan perlakuan yang tiba-tiba.
" Dengar pelakor! Aku tidak akan membiarkan mas Elyas jatuh ke tangan perempuan seperti kamu. " geram Ratna sambil menekankan di setiap katanya.
" Perempuan seperti apa maksud loe? " Selsa sudah mulai terpantik.
" Perempuan murahan. Ja lang. Perempuan yang menghalalkan segala cara hanya untuk merebut calon suami orang. " ucap Ratna dengan suara sedikit keras hingga memicu perhatian beberapa orang di sekitar.
" Hati-hati kalau bicara! " Selsa pun tak kalah mengeratkan rahangnya.
" Hahahaha.... " Ratna malah tertawa dengan keras. " Harus di sebut apa perempuan seperti kamu.. " Ia menunjuk ke arah muka Selsa dengan jari telunjuknya. " Perempuan yang suka keluar masuk klub malam. Perempuan yang selalu bergelut dengan kehidupan malam. Di sebut apa perempuan seperti itu jika bukan ja lang? Hah!! " sentak Ratna.
Kali ini, omongan Ratna memicu para netijen berbisik-bisik kanan dan kiri. Selsa melirik ke samping kala mendengar selentingan orang berbicara.
" Bahkan kamu menggunakan cara licik kamu yang seorang perempuan murahan untuk menjebak calon suamiku supaya mau menikahimu. " lanjut Ratna.
__ADS_1
" Gue nggak pernah menjebak siapapun. Camkan itu! " Selsa juga menunjuk ke arah Ratna dengan jari telunjuknya.
" Hahahah... " Ratna kembali tertawa. " Mas Elyas bahkan mengatakan sesuatu yang pasti akan membuatmu sangat malu. " ucapnya yang membuat Selsa mengernyit dalam.
Apalagi ini? tanya Selsa dalam hati.
Ratna sedikit maju ke depan hingga kini, jaraknya hanya tinggal beberapa jengkal dari Selsa. Ia lalu mencondongkan tubuhnya ke samping Selsa dan mengatakan sesuatu hal sambil setengah berbisik yang membuat hati Selsa teriris.
" Mas Elyas tidak akan bakalan mau menyentuhmu wahai ja lang. Karena dia tahu, perempuan macam kamu ini. Dia yang seorang ustadz dengan pengalaman agama mumpuni, pernah mengatakan kepadaku jika dia tidak akan pernah sudi menyentuhmu karena kamu telah ternodai banyak lelaki. " ucap Ratna yang membuat Selsa meremang. Hatinya terasa berdenyut sakit.
" Kamu lihat kan? Betapa mas Elyas dekat denganku. Hingga hal seperti itupun dia mengatakannya kepadaku. Padahal harusnya hal itu adalah rahasia rumah tangga kalian. "
Jadi selama ini, suaminya selalu menolaknya dan enggan menyentuhnya karena berpikir jika dirinya sudah tidak pera wan. Dan lebih parahnya lagi, suaminya mengatakan hal itu ke orang lain. Ah, tiba-tiba kepala Selsa terasa pusing. Pandangannya menjadi gelap.
Ia terpaku di tempatnya. Hingga Ratna menendang tubuhnya sedikit keras melewatinya, hingga membuat tubuhnya terjengkang. Selsa jatuh di dalam kubangan air yang berlumpur. Tubuhnya limbung. Ia seperti tidak punya pijakan di bumi ini.
Sedangkan Ratna langsung meninggalannya sambil tertawa penuh ejekan.
" Selsa!! " pekik umi kala melihat menantunya terduduk di atas kubangan air.
Beliau segera berlari menghampiri Selsa. Selsa yang melihat umi mendekat, segera menghapus air mata yang menetes tanpa ia sadari.
" Kamu kenapa nak ? " umi bertanya seraya membantu Selsa untuk berdiri.
Selsa tersenyum, " Tidak apa-apa umi. Selsa hanya tadi kehilangan keseimbangan, terus oleng, jadinya jatuh gini. " ucapnya.
" Kenapa kamu berbohong sama umi? " tanya umi setelah Selsa berdiri. " Kenapa kamu tidak mengatakan sama umi, jika Ratna yang melakukan ini? " lanjutnya. Umi yang biasanya selalu bersabar, kali ini beliau merasa emosi dengan ulah Ratna.
Beliau mengetahui semuanya. Beliau tahu apa yang di katakan Ratna. Beliau sengaja bersembunyi dan mendengarkan semuanya untuk memastikan bagaimana seorang Ratna sebenarnya.
Mendengar umi berkata seperti itu, Selsa langsung memeluk tubuh umi dan melepas semua plastik belanjaannya. Ia menangis dalam pelukan umi.
Hati umi pun ikut sakit mendengar ucapan Ratna. Kenapa putranya bisa menceritakan hal yang seharusnya cukup dirinya sendiri yang tahu terhadap perempuan lain. Terlepas dari bagaimana kenyataan yang ada, tidak seharusnya Elyas mengumbar aib istrinya sendiri.
Umi memeluk erat tubuh Selsa sembari mengelus punggungnya. Berusaha memberikan ketenangan dan mengatakan jika umi selalu bersamamu nak.
" Umi, jangan mengatakan apapun sama mas Elyas. Selsa mohon. " ucap Selsa penuh harap setelah ia melepas pelukannya dari umi.
Umi tersenyum dan mengangguk, tapi di hati beliau mengatakan ' umi tidak berjanji nak '.
bersambung
__ADS_1