
" Jadi seperti itu cerita yang sebenarnya ma, pa. " setelah pulang dari rumah kepala desa dan meluruskan semuanya, ia segera mengegas motor trailnya menuju kediaman sang mertua. Ia berharap, bisa bertemu dengan sang istri dan menjelaskan semuanya.
Tapi sayang, sampai di kediaman mertua, Elyas kembalj harus menelan kekecewaan karena sang istri sudah terlelap dan tentu saja pasti enggan bertemu dengannya.
" Sebenarnya, kami juga tidak percaya dengan apa yang di katakan mantan calon istrimu. Kami juga sudah berusaha memberikan pengertian kepada istrimu. Tapi sepertinya ia masih enggan melihatmu. " ujar tuan Manoj.
Elyas menarik nafas berat lalu menghembuskannya kasar. Sepertinya sang istri memang sangat keras kepala. Atau memang karena dirinya yang selama ini terlalu banyak melakukan kesalahan dan membuat hati sang istri sakit.
" Istrimu mungkin masih butuh waktu. " imbuh Ruby.
" Bersabarlah sebentar. Papa yakin, Selsa pasti akan memaafkanmu. " lanjut tuan Manoj.
Elyas mengangguk. Sebenarnya berat harus terus berjauhan dengan istrinya. Tapi harus bagaimana lagi jika sang istri maunya seperti itu. Mungkin dirinya memang harus bersabar sedikit lagi.
" Apakah Selsa masih sering muntah-muntah ma? Dia masih mengalami morning sickness? " tanya Elyas.
" Kamu sudah mengetahuinya? Kamu sudah tahu kalau istrimu sedang mengandung? " tanya Ruby sedikit terkejut.
" Iya ma. " Elyas mengangguk. " Umi yang memberitahu tadi. "
Tiba-tiba Elyas terlihat sedih. Ia menunduk dalam.
" Maaf ma, pa. Elyas memang suami yang keterlaluan. Istri hamil saja Elyas tidak tahu. Dan harus tahu dari orang lain. " ucapnya lirih. Mungkin efek kehamilan sang istri, Elyas juga terkena imbasnya. Akhir-akhir ini, ia sering melow.
Tuan Manoj menepuk pundak Elyas perlahan. " Tidak. Wajar jika kamu tidak mengetahuinya. Karena istrimu yang tidak memberitahumu. Yang keterlaluan itu istrimu. Karena dia tidak memberitahumu tentang kehamilannya. "
" Kamu pasti sangat merindukan Selsa. Benarkan? " tanya Ruby. " Dia juga pasti sangat merindukanmu. Apalagi dalam keadaan hamil begitu. Perempuan hamil, biasanya selalu ingin bersama suaminya. Di manja suaminya. Apalagi kalau malam-malam begini. Rasanya akan sangat nyaman tidur dalam pelukan suami. " imbuhnya.
Elyas makin menunduk dalam. Ia memang sangat merindukan sang istri. Ingin memeluknya.
" Pergilah ke kamar istri kamu. Temani dia tidur. " lanjut Ruby.
Elyas langsung mendongakkan kepalanya. Ia terkejut dengan ucapan sang ibu mertua.
" Sayang... " tuan Manoj menatap istrinya.
Lalu Ruby menggenggam erat tangan suaminya. " Everything gonna be fine, dear. " ucapnya dengan senyuman indahnya.
" Are you sure? " tanya tuan Manoj memastikan. Ia tidak ingin putrinya malah mengamuk dan kembali membenci ibu sambungnya itu.
__ADS_1
Ruby semakin melebarkan senyumnya. " Absolutely. " jawabnya penuh keyakinan.
" Pergilah ke kamar istrimu. " titahnya ke Elyas.
" Bo-boleh ma? " tanya Elyas memastikan.
" Boleh. " jawab Ruby sambil tersenyum. " Tapi ada syaratnya. Lakukan dengan diam-diam. Jangan sampai istrimu terkejut dan dia makin marah sama kamu. Masuk perlahan, dan keluarlah besok pagi sebelum istrimu bangun. " lanjutnya.
" Iya ma. Elyas pasti melakukan apa yang mama katakan. " jawab Elyas mantap dan penuh semangat.
" Ya sudah, makan malam dulu. Kamu pasti belum makan. " ucap Ruby seraya berdiri dari duduknya dan hendak berjalan ke ruang makan diikuti sang suami.
" Ma... " panggil Elyas.
Ruby dan tuan Manoj menoleh bersamaan.
" Elyas masih kenyang. Tadi sore habis makan siomay. Elyas mau langsung ke kamar saja. " Elyas meminta ijin.
" Ya sudah, sana susul istrimu. " ujar tuan Manoj.
Elyas tersenyum, lalu sedikit menundukkan kepalanya dan berbalik. Berlari kecil menaiki tangga menuju kamar sang istri dengan wajah berbinar.
" Ke kamar istrinya. " jawab Ruby.
" Udah baikan mereka? " tanya Roy mendekati orang tuanya.
" Sstt!! Udah, kamu diem aja. Kasihan Elyas. Biar dia tidur dengan istrinya dan melepaskan kerinduannya. " jawab Ruby.
" Emang Selsa udah maafin dia? "
" Ck! Biarlah untuk sementara Elyas mendatanginya dengan diam-diam. " jawab Ruby.
" Mama ada-ada aja. " sahut Roy.
.
.
.
__ADS_1
Ceklek
Elyas membuka pintu kamar Selsa dengan perlahan. Ia mengamati kamar yang hanya di terangi oleh lampu tidur yang temaram.
Elyas menutup kembali pintu dengan perlahan juga. Lalu ia melangkah dengan langkah lembut menyusuri lantai marmer kamar sang istri. Bahkan ia melepas sepatu yang sedari tadi di pakainya, dan menentengnya.
Sampai di samping ranjang berukuran king size, Elyas dapat melihat sang istri yang tengah tidur di tengah-tengah ranjang. Elyas menaruh sepatunya di samping ranjang perlahan dengan mata yang tetap menatap sang istri.
Elyas melihat, Selsa seperti tidak nyaman dan nyenyak dalam tidurnya. Ia terlihat gelisah. Apakah mimpi buruk?
Elyas naik ke atas ranjang dengan perlahan supaya tidak menimbulkan gerakan di kasur. Ia menghampiri sang istri. Terlihat sang istri tidur dengan keringat di pelipis.
Perlahan Elyas menyeka keringat dari pelipis dan dahi Selsa dengan jari-jarinya.
" Sayang... " panggilnya lembut dan pelan hingga tidak membuat sang pemilik nama terbangun.
Ingin rasanya Elyas langsung memeluk tubuh sang istri dengan erat dan menyalurkan kerinduannya. Tapi itu tidak mungkin. Ia ingat pesan dari ibu mertuanya tadi.
" Mhhh.. " Selsa kembali bergerak gelisah. Ia bahkan terlihat memegangi perutnya.
Elyas mengernyit. " Kamu kenapa sayang? Apa perutmu sakit? " bisik Elyas.
Sesuai nalurinya, Elyas mengulurkan tangannya masuk ke dalam selimut, lalu mengelus perut sang istri lembut. Elusan tangannya mampu membuat wajah Selsa yang seperti menahan sakit, pudar. Raut wajahnya berangsur membaik.
Elyas tersenyum. " Apa kamu merindukan ayah juga nak? " ucap Elyas sambil menatap ke arah perut Selsa dan tetap mengelusnya.
" Ayah datang, nak. Ayah ada di sini sekarang. " Elyas menegakkan kepalanya, lalu mengecup perut rata Selsa yang tertutup selimut.
Kembali Selsa bergerak. Elyas memasang wajah waspada. Waspada jika kalau istrinya tiba-tiba bangun.
Tapi ternyata tidak. Selsa masih tetap menutup matanya erat. Lalu Elyas ikut merebahkan tubuhnya di samping Selsa. Ia tidur miring, menatap istrinya, menyusuri wajah sang istri dengan netranya.
Meski hanya seperti ini, tapi Elyas bersyukur. Akhirnya ia bisa melihat wajah Selsa dari dekat. Bahkan ia bisa tidur di samping sang istri meskipun dengan diam-diam.
" Selamat tidur, sayang. Semoga kamu tidak terbangun nanti malam. " ucapnya, lalu ia menelusupkan tangan kirinya ke bawah leher sang istri, menarik perlahan tubuhnya hingga tubuh mereka saling berdekatan. Ia lalu menaruh tangan kanannya di atas pinggul Selsa.
Karena mungkin merasakan kenyamanan, Selsa sendiri malah semakin mendekat ke arahnya, dan menempelkan wajahnya ke dada bidang Elyas yang terbalut kaos berwarna putih.
" Apa kamu merindukan pelukanku? Baiklah, aku akan memelukmu. Tidurlah yang nyenyak, sayang. " bisik Elyas. Ia lalu ikut memejamkan matanya dengan senyuman tersungging di kedua sudut bibirnya.
__ADS_1
bersambung