Pak Ustadku

Pak Ustadku
Insiden


__ADS_3

Di kantor, Elyas nampak tertegun sambil memegangi ponsel dan menatap layar ponsel itu. San umi baru saja mengiriminya sebuah video.


“ Umi ? Apa – apaan ini ? “ gumamnya masih dengan tatapan menuju ke ponsel. “ Kenapa Selsa jadi ikut - ikutan ? Ngapain dia ? “ ia mengusap kasar dagunya melihat bagaimana istrinya itu mencabut ketela dengan susah payah.


“ Umi ada – ada aja. Kalau sampai tuan Manoj tahu anaknya di perlakukan seperti ini, bisa di pecat ini. Lagian kenapa juga Selsa mesti mau di suruh umi kayak gini ? “ Elyas masih saja berbicara sendiri.


Ia lalu memindah tampilan layar. Dengan cepat jari – jarinya mencari nama sang umi.


Tut


Tut


Tut


“ Assalamu’alaikum, umi. “ sapanya ketika panggilannya sudah di terima sang umi.


“ … “


“ Umi, maksud video yang umi kirim ke Elyas tadi apa ? Kok Selsa bisa ikutan cabut ketela ? “


“ … “


“ Apa ? Dia sendiri yang ngajakin umi ke kebun ? “ suara Elyas sedikit berteriak karena terkejut dengan apa yang di katakan uminya.


Bagaimana bisa, seorang Anjeli Selsa Rakesh, putri dari pemilik perusahaan rumah produksi terbesar di tanah air, mau pergi ke kebun yang kotor, agak becek, panas, belum kalau ada ulat di sana ?


Dahi Elyas semakin mengernyit dalam kala ia memikirkan hal ini. Apa mungkin ?


“ Umi, benarkah yang umi katakan ? Dia sendiri yang berinisiatif ikut menca-but ke-te-la ? “ Elyas kembali bertanya karena ia masih merasa tidak percaya.


“ … “


“ Maaf, umi. “ Elyas memejamkan matanya mendengar cecaran sang umi. “ Elyas pulang sekarang. Elyas susulin ke kebun. “ lanjutnya.


Saat ini ia merasa sangat bersalah sama umi. Karena keegoisannya untuk menghindari istrinya, ia harus melalaikan tanggung jawabnya kepada sang umi.


Umi sudah mengatakan jika ketela di kebun sudah siap di panen dari minggu lalu. Tapi karena dirinya terlalu sibuk menghindari pertemuan dengan sang istri, ia melupakan apa yang di katakan umi.


Saat mengingat apa yang di lakukan sang istri lewat video yang di kirimkan umi tadi, terbersit rasa bersalah di hati Elyas. Kenapa istrinya melakukan hal itu ? Apakah ada niat tersembunyi ?


Ah, Elyas segera menepis pikiran buruk terhadap istrinya itu. Dosa kan, bersu’udzon terhadap orang lain ?


Elyas segera mengantongi ponselnya ketika panggilan dengan umi telah berakhir. Ia merapikan meja kerjanya yang tidak begitu berantakan karena memang tidak ada pekerjaan yang mendesak yang harus ia selesaikan. Ia hanya sengaja menghabiskan waktunya di kantor.


Ia mengambil jaket kulit yang ia sampirkan di sandaran kursi kerjanya, memakainya, lalu menyambar kunci motor yang ada di atas meja kerjanya. Ia segera meninggalkan ruangannya setelah ia menutup rapat ruangannya itu.

__ADS_1


.


.


.


“ Umi !!! “ Elyas sedikit berteriak untuk mencari keberadaan umi di kebun itu. Ia sudah melepas jaketnya dan hanya menyisakan kaos denimnya dan celana jeans yang sudah ia lipat bagian bawahnya hingga sebetis. Tak lupa, ia juga sudah melepas sepatu sneakernya.


“ Umi…. “ panggilnya kembali. Ia sudah berada semakin ke dalam kebun.


“ Di sini, Yas. “ jawab umi dengan berteriak.


Elyas segera mencari asal suara dan menghampirinya.


“ Assalamu’alaikum, umi. “ sapa Elyas ketika ia sudah berada di dekat umi.


“ Tangan umi kotor. “ ucap umi kala Elyas menyodorkan tangannya hendak mencium punggung tangan umi.


“ Nggak pa – pa umi. Kotornya tangan umi itu barokah buat Elyas. “ Elyas memaksa menyalami tangan umi.


Ia lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Nampak sudah separuh kebun sudah kosong. Itu artinya, ketela – ketelanya sudah berhasil di ambil dari dalam tanah. Ia lalu kembali mengedarkan pandangannya mencari sosok istrinya yang tidak terlihat di dekat umi.


“ Istrimu hebat. Umi tidak menyangka dia bisa mencabut ketela. “ kekeh umi.


“ Bahkan dia tadi berkali – kali jatuh kala ketelanya berhasil keluar dari tanah. “ lanjutnya. “ Umi juga tidak pernah menyangka sama sekali, Selsa, anak seorang pemilik perusahaan besar tempat kamu bekerja, mau berkotor – kotoran. “


“ Tadi dia maksa umi buat ke kebun. Dia bilang, kalau kamu memang sedang sibuk dan tidak bisa ikut memanen, maka dia yang akan menggantikan kamu. “ ujar umi sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling.


“ Kamu lihat karung goni itu ? “ tunjuknya ke sebuah karung goni yang sudah hampir berisi ketela penuh. “ Itu hasil istrimu mencabut ketela. Ia sangat bersemangat. Ia tidak mengijinkan umi ikut mencabut ketela sama sekali. “ tutunya dengan bibir yang tak pernah lekang dari senyuman.


“ Terus ketela yang masih ada pohonnya itu. “ tunjuk umi ke beberapa buah ketela yang masih tergabung jadi satu dengan pohonnya tergeletak di dekat karung. “ Itu adalah hasil cabutan pertama istri kamu. Tadi ia minta ijin ke umi, ia ingin membawa ketela itu ke rumahnya. Ia ingin menunjukkan ke bi Rasti sama papanya, jika ia bisa mencabut ketela. “ kekeh umi.


“ Dimana dia, umi ? Kenapa nggak kelihatan ? “ tanya Elyas. Ia baru mengeluarkan suaranya.


“ Dia ada di sana. “ tunjuk umi ke suatu bagian kebun dengan jari telunjuknya. “ Ia mencabut ketela yang di sana. “ lanjutnya. “ Kamu susulin dia gih. “ titahnya.


“ Nih, kasih dia minum sekalian. Dia lupa minum dari tadi jika bukan umi yang nyerewetin dia. “ umi menyodorkan sebotol air mineral ke Elyas.


Menempelkan ke dada Elyas karena Elyas tidak segera mengambil botol itu. Akhirnya Elyas menerima botol itu dan mulai melangkah menjauhi umi kala umi sedikit mendorong tubuhnya.


Elyas berjalan menuju tempat yang tadi di tunjuk oleh umi. Setelah berjalan beberapa langkah, ia melihat sosok yang tadi sempat di pertanyakannya. Ia kini sedang menatap sang istri yang sedang berusaha mencabut ketela dengan susah payah. Bajunya sudah terlihat kotor. Apalagi celananya. Mungkin benar apa yang di katakan umi, jika istrinya itu beberapa kali jatuh tadi.


Elyas mengusap wajahnya kasar kala rasa bersalah itu kembali muncul. Kenapa istrinya mau melakukan hal itu ? Apa sebenarnya yang ia inginkan ? pertanyaan yang timbul dalam otak Elyas. Ia lalu berjalan kembali, mendekati Selsa.


“ Minumlah. “

__ADS_1


Bruk


Suara Elyas yang tiba – tiba membuat Selsa terjatuh terjengkang ke belakang. Ia terkejut karena ia tidak melihat suaminya datang. Bagaimana ia tahu, jika konsentrasinya hanya pada pohon ketela ?


“ AWWW!!!! “ pekiknya karena ia tidak hanya terjatuh, tapi ketela yang ia berusaha dapatkan semenjak tadi, ikut tertarik keluar dari dalam tanah saat ia terjatuh. Dan saat ini, pohon ketela berikut dengan ketelanya, jatuh tepat di atas tubuh Selsa.


Elyas yang juga terkejut, dan panik tentu saja, segera berlari mendekati Selsa. Bahkan ia membuang begitu saja botol air mineral yang ia pegang sedari tadi. Ia mengangkat ketela beserta pohonnya dari atas tubuh Selsa.


“ Ih, nggak epic banget sih jatuhnya. Sssshhh … “ desis Selsa sembari mengusap – usap pan tatnya. “ Kenapa juga, ketelanya baru mau keluar pas gue jatuh ? “ umpatnya.


“ Kamu nggak pa – pa kan ? “ tanya Elyas.


“ Nggak pa – pa gimana ? yakin deh. Pan tatku pasti pada memar kebiruan ini. “ keluhnya tanpa melihat siapa yang bertanya.


“ Ayo, berdiri. “ Elyas mengulurkan tangan kanannya untuk membantu Selsa berdiri.


Masih tanpa melihat siapa yang berbicara bahkan sekarang mengulurkan tangannya, Selsa meraih uluran tangan itu.


Ketika tangan mereka sudah saling bertautan, Elyas menarik tubuh Selsa untuk berdiri. Baru ketika tubuhnya mulai beranjak berdiri karena tarikan seseorang, Selsa menengadahkan wajahnya.


“ Mas Elyas ? “ ucapnya terkejut melihat siapa yang menolongnya. “ Eh …eh …eh …” pekiknya kala tubuhnya kembali terhuyung karena gerakan refleknya yang membuat ia kehilangan keseimbangan.


Elyas segera meraih pinggangnya untuk mencegah supaya istrinya tidak kembali merasakan kerasnya tanah.


Bruk


Tapi naas. Tubuh Selsa terkena tanah kembali. Elyas juga ikut kehilangan keseimbangan karena tanah yang ia pijak tidak rata dan membuatnya malah ikut terjatuh menimpa tubuh sang istri. Dan membuat wajah mereka saling berhadapan dan berdekatan. Jika Elyas tidak mempunyai rem yang pakem, sudah bisa di pastikan kalau bibir mereka akan saling bertubrukan.


Mereka saling bertatapan dengan pandangan saling mengunci. Wajah yang begitu dekat, membuat keduanya bisa merasakan hembusan nafas masing – masing. Detak jantung Selsa sudah berdetak tak terkontrol. Tapi entah dengan Elyas. Hanya Elyas lah yang tahu dan merasakannya.


“ Loh, kok malah jadi mesra – mesraan di sini sih ? “ celetuk umi kala mendapati anak dan menantunya itu malah saling bergelung di tanah dengan tatapan mata yang saling mengunci.


“ Ah, Aww!!! “ suara pekikan dari Selsa kembali terdengar. Karena suara umi, membuat Elyas reflek menarik tangannya yang berada di bawah tubuh Selsa. Dan Selsa pun harus merasakan kerasnya tanah di punggung dan pinggangnya.


“ Dih, mas Elyas ! Niat nolongin nggak sih ? “ ketusnya sambil berusaha berdiri. Badannya terasa remuk redam.


“ Oh, sorry … sorry… “ ucap Elyas.


“ Aduh, nak. Kamu nggak pa – pa ? “ umi segera mendekat ke Selsa.


“ Nggak pa – pa umi. “ jawab Selsa lemah.


“ Bantuin dong Yas. “ titah umi. “ Malah bengong aja. “


“ I-iya umi. “ jawab Elyas gugup. Lalu ia segera membantu Selsa untuk berdiri. Dan kembali kedua tangan mereka saling bertautan.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2