Pak Ustadku

Pak Ustadku
Takut khilaf


__ADS_3

Selsa masuk ke dalam kamar Elyas karena memang hari sudah malam. Ia membuka pintu kamar dengan ragu – ragu. Setelah pintu terbuka terdengar suara sang suami yang sedang mengaji. Sejenak ia urungkan niatnya untuk masuk. Ia lebih emmilih menunggu sang suami selesai mengaji di depan kamar.


“ Shadaqallahul-‘adzim …. “ Elyas mengakhiri bacaan Al-Qur’an. Selsa sedari tadi mendengarkan suara merdu sang suami saat mengaji. Suara yang sama yang telah membacakan Juz amma sebagai mahar pernikahannya.


Selsa masuk kedalam kamar perlahan dengan penuh keraguan.


Srak


Srak


Srak


Suara sandal rumahan yang di pakai Selsa sampai ke telinga Elyas. Elyas yang sedang melipat sajadah, menoleh ke arah Selsa sesaat lalu kembali fokus melipat sajadah juga sarungnya.


“ Assalamu’alaikum, mas. “ sapa Selsa dengan suara pelan. Bahkan begitu pelan hingga hampir tak terdengar. Jantungnya berdetak dengan cepat. Kali ini adalah pertama kalinya ia merasakan satu kamar bersama sang suami setelah beberapa hari lalu menikah.


“ Waalaikum salam. “ jawab Elyas tanpa mau melihat ke arah Selsa. “ Kenapa kamu tidak mengeluarkan baju – bajumu dari dalam koper ? “ tanya Elyas sambil berjalan menuju meja untuk menaruh sajadah dan sarungnya.


“ Ha ? Oh- “ beo Selsa bingung sekaligus gugup harus menjawab apa. Karena ia memang tidak tahu harus menaruh baju – bajunya di mana makanya, ia tidak berniat membongkar kopernya.


“ Itu … Mmmm … “ selsa terlihat salah tingkah. “ Aku tidak tahu dimana aku harus meletakkan baju – bajuku. “ ucapnya cepat. Lalu ia kembali menutup rapat mulutnya setelah berkata seperti itu.


“ Taruhlah di almari. Aku sudah memindahkan sebagian bajuku. Jadi kamu bisa memakai yang sebelah kanan itu. “ tunjuk Elyas ke almari tiga pintu yang berada di kamarnya.

__ADS_1


Selsa mengangguk. Ia hendak meraih koper ketika suara Elyas kembali terdengar. “ Di tata besok saja. Sudah malam. Istirahat saja dulu. “ kembali Selsa mengangguk. Ia mengurungkan niatnya meraih koper.


Kini ia kembali di buat bingung. Harus tidur di mana dirinya? Jika di rumahnya, ia tidak akan ambil pusing. Karena ranjangnya sangat besar. Tapi melihat ranjang Elyas yang hanya single bed, ia bingung. Ia menggaruk kepalanya berulang kali.


“ Kenapa masih berdiri saja di sana ? Tidurlah. “ tanya Elyas.


“ Di mana ? “ tanya Selsa polos.


“ Ya di ranjang lah. Apa mau tidur di lantai ? “ tawar Elyas dan Selsa langsung menggelengkan kepalanya cepat.


“ Ya sudah cepat tidur. Tunggu apa lagi ? “ ujar Elyas dengan nada datarnya.


Selsa masih tidak bergeming. “ Mmmm… Apa ranjangnya cukup untuk kita tidur berdua ? “ tanya Selsa dengan polosnya.


“ Kenapa ? “ tanya Selsa sambil menatap ke arah punggung Elyas. Elyas yang sedang hendak meraih kaos, sontak terhenti mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut Selsa.


“ Kenapa kamu menghindariku ? Aku tahu, selama berada di rumahku kemarin, kamu juga tidak mau tidur di ranjang yang sama denganku. Kamu juga seolah selalu menghindar bertemu denganku. Bukankah kita adalah suami istri ? Pernikahan macam apa yang sedang kita jalani ini ? “ lanjut Selsa panjang lebar. Sedangkan Elyas masih terdiam.


Selsa menarik nafas panjang. “ Aku sadar, pernikahan kita memang karena perjodohan. Tapi bagaimanapun juga, kita tetaplah suami istri sah di mata hukum juga agama. Bukankah seharusnya kita saling mendekat ? Menumbuhkan rasa yang mungkin belum ada di hati kamu. Kalau hatiku, tidak perlu kau tanyakan. Karena sejak lama, aku sudah menyukaimu. “ lanjut Selsa kembali.


Elyas melanjutkan untuk menarik sebuah kaos dari tumpukan kaos yang ada di almari. Ia menutup pintu almari, lalu membalikkan badannya.


“ Maaf, aku belum bisa. Rasanya terlalu aneh untuk tidur di ranjang yang sama. “ hanya itu yang bisa Elyas ucapkan.

__ADS_1


Karena tidak mungkin ia berkata jika dirinya enggan tidur dengan Selsa karena ia masih tidak terima menjadi yang entah ke berapa saat mendaki gunung dan melewati lembahan. Menjadikan dirinya suami seutuhnya untuk seorang Selsa. Elyas hanya ingin menjaga perasaan Selsa.


“ Jadi, apakah hubungan kita akan terus seperti ini ? Apa … Apa ki-kita tidak akan melakukan malam pertama ? “ tanya Selsa masih dengan polosnya tapi juga ia merasa sangat gugup saat menanyakannya.


Elyas di buat terkejut untuk pertanyaan Selsa yang barusan. Malam pertama ? Yang benar saja. Mungkin akan menjadi malam pertama untukku. Tapi tidak denganmu, wahai nona muda. Jawab Elyas dalam hati.


“ Maaf. “ hanya satu kata yang terucap dari bibir Selsa. Ia lalu masuk ke kamar mandi untuk mengganti baju kokonya dengan kaos rumahannya.


Selsa mengendikkan bahunya meskipun hatinya terasa sakit dengan penolakan suaminya. Ia memilih masa bo doh dan naik ke atas ranjang untuk segera beristirahat karena besok ia harus sudah kembali bekerja.


Elyas keluar dari dalam kamar mandi, dan mendapati Selsa yang sudah berada di balik selimut tipis. Yah, sepertinya Selsa memilih menggunakan selimut tipis yang tadi di pinjamnya dari umi. Rumah Elyas tidak mempunyai AC. Hanya ada kipas angin yang berdiri di pojok ruangan. Jadi dirinya tidak ingin tidurnya terusik karena kepanasan jika ia menggunakan selimut tebal.


Elyas sengaja berada di dalam kamar mandi cukup lama. Ia berharap, saat dirinya keluar, sang istri sudah terlelap. Dan benar saja, Selsa sudah masuk ke alam mimpi ketika ia keluar dari dalam kamar mandi.


Ia lalu berjalan menuju ke gantungan yang berada di sebelah almari. Ia menggantungkan baju kokonya di sana, lalu ia mengambil kasur kecil dari atas almari, dan membentangkannya di lantai di tempat kosong di samping ranjang. Ia lalu mengambil bed cover untuk ia bentangkan di atas kasur lantai tadi supaya tubuhnya tidak merasa terlalu dingin karena lantai keramik.


Ia lalu mengambil sarung yang biasa ia pakai ketika tidur. Sebelum ia merebahkan tubuhnya di atas kasur lantai tadi, ia menoleh ke arah Selsa yang sudah terlelap dengan posisi telentang dan selimut yang hanya menutupi bagian perut hingga kakinya.


Tanpa sengaja mata perjaka Elyas menatap bagian da da istrinya. Tiba – tiba jantungnya berdetak kencang kala menyadari ada biji kacang yang menyembul dari balik piyama tidur sang istri. Selsa yang memang terbiasa tidur tanpa memakai kacamatanya, membuat biji kacang itu terlihat menonjol di antara tingginya gunung kembar.


Elyas menelan salivanya dengan susah payah, lalu kemudian ia beristigfar. “ Astagfirullahaladzim … Ya Allah, kuatkanlah imanku. “ doa Elyas seraya mengusap kasar wajahnya.


Ia lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur lantai. Ia tidur membelakangi ranjang karena ia tidak ingin sampai khilaf. Bagaimana ia bisa khilaf, jika yang ada di hadapannya itu adalah istrinya. Wanita yang sah dan halal untuk ia sentuh, untuk ia jamah. Elyas segera memejamkam kedua matanya untuk menghilangkan pikiran aneh yang ada di otaknya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2