
Halo PTB Lovers jangan lupa pencet tombol Like yah, karna itu akan memberikan semangat untuk para Author untuk terus berkarya, jangan lupa pencet tombol Favorit juga biar kalian dapat notifikasi jika karya ini Update, selamat membaca.
LEADER Mempersembahkan
*Pangeran Tanpa bakat*
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Setelah berlari selama beberapa menit, kami akhirnya sampai ke sebuah desa yang terletak tidak terlalu jauh dari tempat kami menyelamatkan Dian dari kelelawar raksasa.
Dari kejauhan desa terlihat sangat sepi, bahkan tidak terlihat seorangpun berjalan di sana, padahal desa itu cukup besar, walaupun tidak lebih besar dari desa jerami.
Aku dan Erik memilih berhenti di depan gerbang masuk desa yang cukup besar, ke dua sisi gerbang itu terdapat Menara penjaga yang masing masing di lengkapi dengan busur yang cukup besar.
Kami berniat untuk meminta izin pada para penjaga gerbang yang harusnya sedang berjaga di sana, tapi setelah beberapa lama menunggu mereka, tidak seorang pun diantara mereka yang keluar untuk menyambut maupun menghadang kami.
“Dian, apa penjagaan desa memang selalu seperti ini?.” Tanyaku sedikit bingung
“Enggak kok kak, biasanya banyak orang yang berjaga di sini.” Ucap Dian menjawab pertanyaan ku
Karna sudah menunggu cukup lama, kami mengambil resiko untuk masuk tanpa izin, karna gerbangnya terkunci, kami masuk dengan cara terbang dan melewati bagian atas gerbang.
Setelah berjalan menuju alun alun desa, anehnya kami tidak melihat seorang pun di sana.
“Ada apa ini?, kemana para warga desa.” gumam ku dalam hati.
Karena tak kunjung bertemu dengan siapapun di alun alun desa, aku menggunakan pendengaran ku yang tajam untuk mencari keberadaan mereka.
Tak lama setelah aku meningkatkan pendengaranku, Aku berhasil menemukan suara warga yang sedang berkumpul di satu tempat, aku dan erik segera membawa Dian menuju tempat itu.
Setelah sampai ke rumah yang cukup besar, kami melihat sekumpulan warga sedang berbincang di sana.
“Mama.” Teriak Dian setelah melihat Ibunya yang berada di antara keramaian itu
“Dian.” Sahut salah seorang diantara mereka, matanya terlihat lebam karna menangis
Dian lalu turun dari pundak ku dan segera menghampiri mamanya
__ADS_1
Air mata keduanya pun berjatuhan karna rasa takut dan rasa senang bercampur aduk
“Mama, aku takut,” Ucap Dian memeluk ibunya
“Syukurlah,” ucap ibu Dian memeluk erat dian dan menangis bahagia melihat putrinya baik baik saja
Tak lama setelah mereka berpelukan, seorang pria muncul di antara kerumunan lalu ikut memeluk mereka berdua.
“kakak kakak itu yang menolongku mama, papa.” Lanjut Dian lalu menhapus air matanya
Aku yang melihat kejadian itu menjadi teringat akan kebaikan mama, dia selalu menyemangatiku dan mendorongku dari belakang agar aku terus berjuang dan melangkah maju. Dia juga memeluk dan menghiburku ketika aku terjatuh dan gagal.
Pria yang tadi memeluk Dian dan ibunya lalu mendekati ku dan Erik.
“Aku adalah Ayahnya Dian, namaku Ardan, terimakasih telah menolong putriku.” Ucap pria itu sambil membungkuk.
Melihat Ayah Dian membungkuk membuatku langsung memegang pundaknya dan mengatakan agar dia mengangkat kepalanya.
“Angkat kepalamu paman, Kami juga senang bisa menyelamatkan Dian.” Ucapku pada ayah Dian
Kepala desa cemara adalah seorang pria yang tidak terlalu tua, dia memiliki badan kekar dan Dia mengingatkanku pada kakek Roy.
“Jadi kalian yang menyelamatkan warga ku yah, aku adalah kepala desa di sini, aku ingin mengucapkan terima kasih banyak.” Ucap kepala desa Cemara setelah berada di depan kami
“Iya paman, sama sama, kami juga senang bisa menolong Dian.” Ucapku pada kepala desa
“Oh iya, aku tidak pernah melihat kalian sebelumnya, kalian datang dari mana?.” Tanya kepala desa pada kami
“Eh iya paman, kami memang tinggal jauh dari sini, kami sedang menuju ibu kota kerajaan. Namaku AL, dan ini temanku Erik.” Ucapku memperkenalkan nama kami.
“Oh, jadi kalian sedang menuju ibu kota yah. karna sudah malam tinggallah di desa ini, aku akan menyiapkan kamar untuk kalian sebagai tanda terimakasih dari ku.” Lanjut Kepala desa
Aku dan Erik pun saling memandang senang karna mendapatkan tempat istirahat. karna memang kami sedang butuh tempat istirahat, kami langsung menerima kebaikan kepala desa Cemara.
“Terimakasih paman, kami sangat tertolong.” Ucapku sangat senang
Kepala desa Cemara membiarkan kami menginap di rumahnya malam ini. Setelah makan malam, kami sempat berbincang tentang kejadian tadi sore dengan kepala desa.
__ADS_1
“Paman, sebenarnya apa yang terjadi?, kenapa Dian bisa di bawah Oleh Kelelawar raksasa?.” Tanyaku penasaran.
Kepala desa pun menjelaskan bahwa sebenarnya kelelawar raksasa itu memang sering muncul di desa itu selama sebulan terakhir, awalnya mereka hanya mencuri dan memakan ternak warga dan peristiwa tadi sore baru kali ini terjadi.
Biasanya para warga akan berjaga di malam hari, karna mereka memang biasanya datang di malam hari dan memakan ternak warga.
Entah kenapa tadi sore seekor kelelawar raksasa tiba tiba muncul sebelum matahari terbenam dan berhasil membawa Dian yang sedang bermain dengan dengan teman temannya.
Para warga berkumpul di rumah kepala desa untuk menyusun rencana dan membentuk Tim penyelamat untuk menyelamatkan Dian, tapi akhirnya kami tiba dan membawa dian dengan selamat.
“Menurut informasi dari beberapa warga desa, Jumlah mereka berkisar ratusan ekor dan mereka di pimpin oleh mahluk aneh yang lebih besar dari kelelawar itu.” lanjut kepala desa menjelaskan
Menurut informasi dari kepala desa, kawanan kelelawar raksasa pernah terlihat oleh dua orang warga yang berangkat ke gunung untuk mencari ternak mereka yang di ambil oleh Kelelawar raksasa, tapi sialnya mereka malah melihat sekawanan kelelawar raksasa yang di pimpin oleh seekor mahluk besar yang jauh lebih mengerikan dari kelelawar itu.
Untunglah kedua warga itu sempat menjauh tanpa ketahuan oleh mereka dan berhasil selamat sampai ke desa ini
“Mungkin aku sedikit tidak sopan pada penyelamat Warga ku, tapi aku ingin meminta tolong pada kalian agar membantu kami membasmi monster monster itu.” Ucap kepala desa sambil membungkuk
Aku dan Erik saling memandang, sepertinya pikiran kami sama dan akhirnya kami sama sama mengangguk tanda setuju.
Karna kami juga tidak terlalu buru buru untuk berangkat ke ibu kota, aku memutuskan untuk ikut serta dalam pembasmian monster monster itu terlebih dahulu.
“Angkat kepalamu paman, kami dengan senang hati akan membantumu.” Ucapku menyetujui permintaan kepala desa
“Terima kasih.” Ucap kepala desa
Setelah percakapan kami berakhir, kami kembali ke kamar untuk istirahat dan bersiap untuk pembasmian yang akan di laksanakan besok.
-Bersambung...
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Yo halo kalian para Readers apa kabar semua, jangan lupa untuk selalu menjaga kesehatan oke, dan jangan lupa bahagia :D
See You
-Leader
__ADS_1