Pangeran Tanpa Bakat

Pangeran Tanpa Bakat
BAB 07 PERKEMBANGAN


__ADS_3

(*Beberapa Menit Yang Lalu)


Ketika aku memejamkan mataku, kakek roy terus mengawasi perubahan yang terjadi apda tubuhku.


Tak lama kemudian lingkaran sihir yang sama ketika roh angin memegang tanganku, muncul bersamaan ketika aku membuat kontrak dengan roh angin.


Tak Lama setelah itu aku membuka mataku, kakek roy berkata.


“luar biasa,” ucap kakek yang takjub melihatku di kelilingi energi sihir yang sangat hebat.


“jadi inikah kekuatan roh angin.” Gumamku yang merasakan energi yang sangat besar.


Tiba tiba aku mendengar suara roh angin, dia berkata “yap betul sekali, enak bukan.?”


“heeeeeh.”


Betapa terkejutnya aku, ketika melihat roh angin sedang duduk di pundakku, dia memiliki bentuk yang sangat imut, layaknya peri peri dalam cerita dongeng.


“k,kenapa wujudmu seperti itu roh angin,?” tanyaku yang masih kaget.


"Heeeh, jadi dia toh angin yah," Sahut Kakek Roy sambil memandangi Roh angin.


“aku bisa mengubah wujudku jadi sebesar kalian loh, tapi aku lebih suka wujud kecil ini hehe.” Ucap roh angin dengan santai.


“ngomong-ngomong, kau harus belajar menekan aura itu loh.


Jika tidak, angin akan terus berhembus di sekitarmu dan mengelilingimu, kemudian kau akan cepat lelah.” Lanjut roh angin.


“tapi bagaimana caranya,” ucapku yang kebingungan.


Roh angin pun menjelaskan cara menekan sihir yang keluar dari tubuhku tanpa henti itu.


“ kau harus bisa mengendalikan aliran sihirmu,” ucap roh angin


“ tenangkan pikiranmu, kemudian pejamkan matamu. Rasakan aliran sihir yang ada dalam tubuhmu.” Lanjut roh angin.


Aku pun mulai memjamkan mataku, perlahan aku mulai bisa merasakan aliran sihir yang ada dalam tubuhku.


beberapa saat kemudian, akupun bisa mengendalikan aliran sihir itu.


“ aku sudah lumayan bisa mengendalikannya, sekarang bagaimana cara menekannya.” Tanyaku yang masih memjamkan mata.


“gampang lah, tinggal simpan saja dalam inti roh mu.” Ucap roh angin.


Meskipun penjelasannya agak simple, tapi entah mengapa aku bisa mengerti apa yang dikatakan roh angin.


Perlahan energi sihir yang meluap luap itu menghilang sedikit demi sedikit. Dan akhirnya keadaan di sekitarku menjadi normal kembali.

__ADS_1


“Oh iya, aku sudah bisa menekan sihirku, apa aku juga bisa mengeluarkannya dengan cara yang sama?”


“yap benar sekali,” ucap roh angin.


“yooooooshhh”


Aku pun mencoba mengeluarkan energi sihir itu kembali.


Tapi karena belum menguasainya, aku tidak bisa mengendalikan energi sihir yang ku keluarkan. Sihir itu membuat angin yang sangat besar, dan membuat keadaan di sekitarku jadi berantakan.


“e’ kok bisa?.” Ucapku yang sedang kebingungan.


Setelah aku mengatakan itu, tiba tiba aku merasa kelelahan dan pingsan.


(*beberapa menit kemudian)


“apa yang terjadi,” tanyaku yang baru bangun.


“kau mengeluarkan terlalu banyak sihir, itu menguras banyak sekali tenagamu. Karna tubuhmu belum terbiasa, kau pun jatuh pingsan.” Ucap kakek roy yang terlihat sedang kesal.


“baiklah karna kau sudah bangun, aku akan memberimu hukuman.” Lanjut kakek roy


“Hah.? Hukuman,? Tapi kenapa.?”


“Kau mengeluarkan energi sihir se-enakmu dan membuat berantakan seluruh halaman, dan kau masih bertanya mengapa.?” Ucap kakek roy dengan nada geram.


“hukumannya adalah, kau harus membersihkan halaman, tapi kau tidak boleh menggunakan sihir. Itu akan melatih tubuhmu agar kau tidak pingsan lagi setelah mengeluarkan energi sihir yang besar.”


“baiklah kek,” jawabku sambil bangun dari tempat tidur


Setelah aku membersihkan halaman rumah, kakek roy dan roh angin mengajariku cara mengendalikan penggunaan energi sihir, setelah berlatih selama beberapa jam, aku pun bisa mengeluarkan sihir kecil.


Setelah bisa mengendalikan energi sihirku sedikit demi sedikit, roh angin pun mengajariku sihir dasar elemen angin.


(* sihir dasarnya adalah Wind cutter/pemotong angin.)


Setelah banyak berlatih, aku pun menguasai sihir itu.


Keesokan harinya, kakek menyuruhku mengumpulkan kayu bakar, dengan catatan sambil berlatih menggunakan sihir angin.


Sebelum pergi, kakek memberiku sebuah gelang yang sangat berat.


“ oh iya AL, agar latihanmu lebih efisien, kau harus berlatih sihir sambil melatih staminamu sekaligus. Gunakanlah gelang ini, ini adalah gelang yang sudah dilapisi sihir gravitasi, beratnya masing masing 10 kilo gram. Ingat jangan menggunakan sihir penguat.” Pesan kakek roy sebelum aku pergi mencari kayu bakar.


Aku pun memakai gelang itu, tidak ku sangka, gelang itu sangat berat, Padahal beratnya hanya 10 kilo gram.


Aku sangat kesulitan menggunakan Wind Cutter ketika menggunakan gelang itu, tidak ku sangka, aku membutuhkan dua jam hanya untuk mengumpulkan kayu bakar yang biasanya hanya membutuhkan waktu 30 menit.

__ADS_1


(* sihir Wind Cutter memerlukan kibasan tangan saat mengaktifkannya)


Aku melakukan latihan itu setiap hari selama dua pekan, walaupun sudah terbiasa, gelang itu masih terasa berat menurutku.


Setelah menyelesaikan pekerjaanku, aku pun berlatih kembali dengan kakek.


“baiklah AL, kau boleh melepaskan gelang itu.” Ucap kakek roy


Aku pun melepaskan gelangnya, aku bisa merasakan perbedaan pada staminaku. Aku merasa jauh lebih kuat dari sebelumnya.


“ AL, Coba gunakan sihir penguat, lalu angkat bola besi itu.” Ucap kakek roy.


Setelah menggunakan sihir penguat, aku pun mencoba mengankat bola besi itu.


Sungguh mengejutkan, aku merasa bola besi itu tidak terlalu berat lagi.


“sekarang latihanmu adalah melepar bola itu, sama seperti yang aku lakukan.” Lanjut kakek roy yang sedang melatihku.


Aku pun mencoba melemparkan bola itu, dalam percobaanku yang pertama, aku hanya bisa melempar sejauh tiga meter saja.


“ternyata jauh lebih sulit dari yang ku bayangkan.” Gumamku sambil mengambil kembali bola itu.


Aku pun kembali mencobanya, Dan hasilnya masih sama.


“kau harus meningkatkan konsumsi sihirmu AL.” teriak kakek roy dari kejauhan,


Aku pun mencoba meningkatkan kekuatan sihirku, kemudian Aku kembali mencoba melemparkan bola besi itu. Dan akhirnya aku berhasil melemparkan bola itu sejauh sepuluh meter.


“whoaaa, Keren gak tuh.” Ucapku yang kegirangan karna berhasil melemparkannya.


“baiklah, sekarang coba robohkan pohon itu dengan satu pukulan,” ucap kakek roy sambil mendekat padaku,


“sama halnya ketika melemparkan bola itu, kau harus meningkatkan penggunaan sihirmu, sampai cukup untuk merobohkan pohon itu dalam satu pukulan.” Lanjut kakek roy menjelaskan latihannya


Aku pun mengumpulkan sihir di kepalan tanganku, ketika aku merasa sihir yang terkumpul sudh cukup banyak, aku pun memukul pohon itu dan berhasil menumbangkannya.


“Whoaaa, keren banget loh.” Ucapku yang kegirangan.


Tapi karna belum terbiasa, aku pun merasa sangat kelelahan.


aku pun berbaring ke tanah, kali ini aku tidak pingsan lagi.


“sepertinya kau sudah berkembang AL. tapi kau harus banyak melatih tubuhmu, agar tubuhmu tidak terlalu terbebani ketika mengeluarkan banyak sihir.” Ucap kakek roy yang berdiri di sampingku.


“baik kek.” Jawabku sambil berbaring di tanah.


Karna sudah hampir malam, aku dan kakek kembali ke rumah dan istirahat.

__ADS_1


Keesokan harinya kakek menyuruhku agar menggunakan gelang gravitasi itu saat melakukan aktifitas sehari hari, berkatnya kekuatan fisikku pun meningkat dan aku sudah bisa menggunakan sihir yang cukup kuat untuk waktu yang lama.


__ADS_2